Temu Pendidik Nusantara XII

Select Language

Bupati Murung Raya Harap Peserta TPN XII jadi Agen Perubahan Pendidikan

Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Murung Raya sukses menggelar kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII Kabupaten Murung Raya (Kab. Mura), Sabtu (19/7/2025). Kegiatan ini diselenggarakan di halaman SMP Negeri 1 Murung. Selain 205 pendidik dari berbagai jenjang, TPN XII di Kab. Mura juga dihadiri oleh Rahmanto Muhidin (Wakil Bupati Mura), Sarwo Mintarjo (Plt. Sekda Mura), dan Riawan Ma’rif (perwakilan PT Alam Tri Resources). Bupati Mura melalui Wabup Mura, Rahmanto Muhidin menyampaikan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah tingginya angka pengangguran, bahkan diisi oleh lulusan sarjana. Rahmanto juga menegaskan bahwa para guru harus terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam hal teknologi, metode pengajaran dan pemahaman terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim. “Melalui kegiatan ini, kami berharap peran para guru semakin meningkat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam menyikapi tema kegiatan ini: ‘Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim’. Para guru diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” ujarnya. Salah satu sorotan utama dalam TPN XII di Kab. Mura adalah Pameran Karya Murid, yang menjadi ruang apresiasi dan inspirasi bagi murid dan pendidik. Pameran ini akan menampilkan hasil inovasi pembelajaran serta proyek murid yang telah diimplementasikan di dalam kelas maupun komunitas belajar masing-masing. Koordinator Pameran Karya, Duma E. Ginting, menjelaskan bahwa kegiatan ini akan menjadi ajang saling berbagi praktik baik dan strategi pembelajaran yang berdampak. “Melalui pameran ini, para pendidik dapat berdiskusi, bertukar ide, dan memperluas wawasan mengenai pembelajaran kontekstual. Setiap karya akan dipresentasikan dalam bentuk visual dan portofolio, serta dipamerkan langsung di lokasi acara,” ungkapnya. Selain Pameran Karya Murid, TPN XII di Kab. Mura meriah dengan beragam kegiatan belajar lainnya. Diantaranya Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Talkshow Pendidikan, dan Cerdas Cermat Guru. Penulis: Komunitas Guru Belajar Nusantara Kab. Murung RayaEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Kelas Pendidik & Pemimpin di Kota Makassar: Ruang Kolaborasi Antar Pendidik

Temu Pendidik Nusantara XII di Kota Makassar sukses terselenggara di Sekolah Islam Athirah pada Sabtu (21/06). Kegiatan yang diadakan oleh Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kota Makassar ini melibatkan ratusan pendidik sebagai pembicara, peserta, hingga pendamping murid di sesi Pameran Karya. Selain Pameran Karya, peserta disuguhkan berbagai sesi belajar yakni Talkshow Pendidikan, Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, dan Cerdas Cermat Guru. Sebanyak 18 pembicara dari berbagai latar belakang dan sekolah mengisi satu Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin. Mereka membagikan praktik baik dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini, baik level kelas, sekolah/madrasah, komunitas, maupun daerah. Adelia Octoryta, panitia TPN XII di Kota Makassar, mengatakan, “kita tidak sedang mencari guru terbaik, tapi menyuarakan praktik baik. Karena yang kita perlukan hari ini bukan sekadar prestasi, tapi kolaborasi dan refleksi yang menular.” “Kita ingin menunjukkan bahwa pembelajaran terbaik seringkali lahir dari guru untuk guru, dari sekolah untuk sekolah,” lanjutnya. Sarwinah dan Muhammad Agus mengisi Kelas Pemimpin dengan praktik kepemimpinan yang menggugah. Sarwinah menjalankan inisiatif yang tidak sekadar menjaga kebersihan lingkungan sekolah, melainkan juga menanamkan kesadaran lingkungan di kalangan warga sekolah. Sementara itu, Muhammad Agus, berbagi pengalaman dalam memimpin sekolah di wilayah pinggiran melalui topik “Sekolah Pinggiran, Mimpi Besar: Perjalanan Menuju Sekolah Bermakna”. Kisahnya menunjukkan bahwa keterbatasan geografis dan sumber daya bukanlah penghalang untuk membangun sekolah yang berdampak dan bermakna. Lalu di Kelas Pendidik, tampil para pendidik dengan sejumlah praktik inspiratif, seperti membangun kepercayaan murid lewat asesmen transparan, cara menggali potensi murid, serta pembelajaran yang mendukung nalar kritis serta keberanian berpendapat. Buri Prahastyo, Penggerak KGBN Kota Makassar menyebutkan, Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin sebagai ruang aman dan kolaboratif antar pendidik. “Kita ingin guru tumbuh bukan karena kompetisi, tapi karena kolaborasi, inspirasi, dan keberanian membagikan prosesnya,” jelasnya. TPN XII di Kota Makassar telah membuka banyak ruang belajar dan menjadi katalis kolaborasi lintas komunitas. Dalam satu jam kelas, peserta menyerap pengalaman panjang yang lahir dari keberanian mencoba, jatuh bangun, hingga akhirnya menemukan praktik terbaik yang berdampak nyata. “Di tengah kompleksitas tantangan pendidikan saat ini, Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin menjadi bukti bahwa perubahan pendidikan tidak harus menunggu. Ia bisa dimulai sekarang, dari ruang kelas, dan dari guru-guru yang berani berbagi,” tutup Buri. Penulis: Buri Prahastyo / Komunitas Guru Belajar Nusantara Kota MakassarEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

TPN XII di Kota Bogor: Pendidikan Iklim dan Adab Jadi Sorotan Utama

Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kota Bogor sukses digelar di SMPN 2 Kota Bogor pada Sabtu-Minggu, 14–15 Juni 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation bersama Ikatan Guru Indonesia Kota Bogor. Dalam sesi talkshow, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan pesan penting mengenai peran guru dalam membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan dan beradab. Dedie, yang juga mantan direktur di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berbagi pengalamannya saat kunjungan dinas ke Korea Selatan. Ia menceritakan perbandingan antara perjalanan pembangunan Indonesia dan Korea Selatan yang pernah disampaikan oleh seorang pejabat di negeri Ginseng tersebut. “Pada tahun 1973, Indonesia dan Korea Selatan sama-sama masih dikategorikan negara miskin oleh PBB. Tapi sekarang, Korea Selatan sudah menjadi negara maju dan makmur, sementara kita masih dalam kategori negara berkembang,” kata Dedie. Dedie menekankan, syarat nomor 1 hingga 100 adalah soal infrastruktur, sementara syarat 101 hingga 400 menyangkut adab dan perilaku manusia, seperti kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, dan ketertiban. “Dan syarat nomor 101–400 ini yang belum kita miliki. Maka dari itu, saya mengajak kita semua, termasuk para guru, untuk menanamkan nilai-nilai adab dan menjaga lingkungan. Itu juga bagian dari sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya. Cerdas Cermat Guru: Cara Baru dan Seru untuk Belajar Selain talkshow, rangkaian TPN XII di Kota Bogor juga dimeriahkan oleh berbagai kegiatan belajar lainnya, yakni Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Pameran Karya Murid, Cerdas Cermat Guru (CCG), dan Pasar Solusi Pendidikan. CCG adalah tantangan belajar menyenangkan bagi guru dan calon guru untuk merefleksikan kompetensi sesuai Perdirjen GTK No. 2626 tahun 2023 tentang Model Kompetensi Guru.  Melalui CCG, peserta dapat mengetahui level kompetensinya lengkap dengan umpan balik agar mengetahui kompetensi apa yang sudah bagus maupun yang perlu ditingkatkan. “CCG merupakan program yang muncul dari refleksi kami, Guru Belajar, mengenai kompetensi guru. Kompetensi guru ini belum menjadi bahan perbincangan keseharian guru,” jelas Rahayu, Koordinator TPN XII di Kota Bogor. “Harapannya, CCG yang dirancang secara kontekstual, sesuai dengan keseharian guru, dapat menjadi ruang diskusi terkait kompetensi guru, yang akhirnya memicu dibukanya ruang diskusi serupa di kesempatan-kesempatan lain,” lanjutnya. Selain itu, selama ini masih kurang keberagaman upaya peningkatan kompetensi guru. Umumnya terbatas pada kegiatan seperti seminar atau workshop. “Banyak program pengembangan kompetensi guru tapi minim yang membantu guru mengetahui level kompetensinya atau minim umpan balik,” terang  Rahayu. Kegiatan yang membantu guru mengetahui level kompetensi juga biasanya bersifat high-stakes seperti uji kompetensi guru (ujikom), yang hasilnya mempengaruhi masa depan karier guru. Akibatnya, guru tidak bebas merefleksikan kekuatan maupun area yang masih perlu dikembangkan. Namun melalui CCG, guru bisa mengetahui level kompetensinya tanpa rasa khawatir seperti gagal ujikom.  CCG berlangsung riuh. Peserta heboh setiap kali mengetahui jawaban dari setiap soal. Terlihat tidak ada beban meskipun jawaban tidak sesuai. Mereka justru terlihat penasaran dan ingin mendiskusikan lebih lanjut mengapa jawaban mereka kurang tepat. Penulis: Dewi Yosina Batuwael / Ikatan Guru Indonesia Kota BogorEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

PW Pergunu DIY Sukses Gelar Temu Pendidik Nusantara XII di Kab. Sleman

Sekitar 150 pendidik dari berbagai lembaga pendidikan di Sleman dan sekitarnya berkumpul dalam forum Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII di Kab. Sleman yang bertema “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim”. Forum ini diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation bersama Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan didukung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman serta Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY. Kegiatan yang diikuti oleh guru madrasah, sekolah umum, dan pesantren ini berlangsung di Afkaaruna Primary School, Sleman, pada Senin (16/6). Ketua PW Pergunu DIY, KH Samsul Maarif Mujiharto menegaskan komitmen pihaknya dalam mendorong para guru agar tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. “Guru harus menjadi pelopor perubahan perilaku baik di sekolah maupun masyarakat. Budaya menjaga lingkungan harus menjadi kebiasaan positif sehari-hari,” tegasnya. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas batas. Pergunu DIY membuka ruang partisipasi bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang organisasi, afiliasi, maupun keyakinan. Sejumlah guru dari kalangan Muhammadiyah dan beberapa peserta non-Muslim hadir aktif dalam kegiatan ini. “Semangat kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama untuk memajukan pendidikan dan merespons krisis iklim secara kolektif,” katanya. Kiai Samsul berharap, kegiatan ini menjadi awal dari lahirnya gerakan pendidikan lingkungan di Sleman yang melibatkan berbagai elemen guru, demi mencetak generasi yang peduli dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, yang hadir mewakili Bupati Sleman, menyampaikan pentingnya peran guru sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini. “Guru adalah ujung tombak pembentukan karakter peserta didik. Jika sejak dini siswa dibiasakan peduli lingkungan, maka akan lahir generasi tangguh yang mampu menghadapi dampak perubahan iklim,” ujarnya. Ia juga mendorong sekolah-sekolah di Sleman untuk menjadi contoh dalam menerapkan praktik ramah lingkungan, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, penghematan energi, dan konservasi air. Koordinator TPN XII di Kab. Sleman, Ahmad Faozi berharap, kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya mitigasi krisis iklim. “Melalui kegiatan ini, kami ingin para guru tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga menjadi motor penggerak kesadaran iklim di tengah masyarakat” tuturnya. “Inilah wujud nyata kolaborasi pendidikan lintas batas untuk kemajuan Indonesia yang lebih hijau dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” lanjutnya.   Selain di Kab. Sleman, Temu Pendidik Nusantara XII di Daerah juga diselenggarakan di 44 kota/kabupaten lainnya sepanjang bulan Juni-Agustus. Lalu pada 11-12 Oktober, akan diselenggarakan puncak Temu Pendidik Nusantara XII di Sekolah Cikal Lebak Bulus. Penulis: Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)Editor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Ratusan ‘Guru Belajar’ Diskusikan Pendidikan Iklim di Mojokerto

Guru Belajar

Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Mojokerto sukses terselenggara pada Sabtu (14/06) di SDI Asy Syarif Mojokerto. Ratusan pendidik dari berbagai jenjang dan latar belakang memadati tempat penyelenggaraan hingga acara usai di sore hari. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Mojokerto ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Rizal Octavian beserta pejabat pemerintahan dari Disdik Kab. dan Kota Mojokerto, Kementerian Agama Kab. Mojokerto, dan Dinas Lingkungan Hidup Kab. Mojokerto. “Iklim pendidikan yang sehat dimulai dari guru yang terus belajar dan saling menguatkan. Melalui TPN XII, kita melihat semangat itu tumbuh di Mojokerto,” ujar Rizal Octavian menyoroti tema TPN XII “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim”. “Pendidikan iklim bukan sekadar soal lingkungan, tapi juga membentuk generasi yang sadar akan keberlanjutan hidup. Guru punya peran penting dalam hal ini,” tambahnya. TPN XII di Mojokerto menghadirkan empat rangkaian belajar yaitu empat Kelas Pendidik, tujuh Kelas Pemimpin, Talkshow Pendidikan, dan Pameran Karya Murid. Semua aktivitas dirancang untuk memberikan ruang bagi guru dan pemimpin sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif. Belajar dari Sesama Pendidik, Bukan Pakar Berbeda dengan pelatihan guru konvensional, di Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin, peserta memiliki otonomi untuk memilih kelas yang sesuai minat dan kebutuhannya. Selain itu, kelas ini memberikan ruang untuk guru belajar dari sesama guru, bukan dari pakar. “TPN XII adalah panggung untuk para guru yang bergerak. Kita belajar dari sesama, bukan dari menara gading. Saya pun belajar banyak dari praktik rekan guru yang menghadirkan pembelajaran bermakna meskipun dengan sumber daya terbatas,” tutur Kasiadi, Koordinator TPN XII Mojokerto. Kasiadi menerangkan, topik TPN XII juga membawa misi transformasi peran guru. Guru memiliki peran untuk memastikan murid tidak hanya tidak lulus dengan nilai tinggi, tapi tapi juga tumbuh sebagai individu kompeten yang siap menghadapi dunia. “Dengan mendukung murid memiliki kompetensi menghadapi krisis iklim berarti kita membekali mereka dengan banyak kompetensi sehingga mereka siap menghadapi berbagai tantangan hidup,” katanya. Antusiasme peserta tampak sejak pagi hingga sore hari. Suasana kelas ramai dengan diskusi aktif dan semangat kolaborasi. Banyak peserta yang datang sebagai individu, namun pulang sebagai bagian dari komunitas pembelajar. “Saya akan sangat merekomendasikan guru lain untuk ikut TPN tahun depan, karena TPN bukan hanya pelatihan, tapi pergerakan guru untuk tumbuh bersama,” kata Nugroho, salah satu peserta. TPN XII tak hanya berlangsung di Mojokerto, tetapi juga serentak di 44 daerah lain di seluruh Indonesia sepanjang Juni-Agustus. Terpilihnya KGBN Mojokerto sebagai penyelenggara berarti telah menunjukkan keberdayaannya memimpin perubahan di daerah. Penulis: Rian Fauziah / Komunitas Guru Belajar Nusantara MojokertoEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Kabupaten Landak Siap Jadi Tuan Rumah TPN XII

Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Landak akan menyelenggarakan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII di Kabupaten Landak. Kegiatan akan berlangsung di SMP Negeri 2 Ngabang pada Sabtu (19/07) mendatang. Mengusung tema Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim, TPN XII akan menghadirkan pendidik yang telah berhasil menerapkan pembelajaran untuk menumbuhkan anak yang kompeten menghadapi serta menyelesaikan permasalahan masa kini dan masa depan. Ketua KGBN Kab. Landak, Andry Steven Manogga, mengatakan tema ini diangkat untuk mendorong perubahan pendidikan sesuai dengan zaman, pendidikan yang dibutuhkan oleh murid yakni yang kontekstual, menjadikan anak sebagai manusia yang siap hidup dengan segala tantangannya. “Di TPN XII nanti seluruh pendidik di Kabupaten Landak diundang untuk hadir. Rangkaian belajar yang dapat diikuti yaitu Misi Belajar, Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, dan Talkshow Pendidikan,” jelas Andry. Dengan menyelesaikan Misi Belajar sebelum pelaksanaan kegiatan, pendidik mendapat kesempatan menjadi pembicara di TPN XII di Kabupaten Landak. Selain itu juga pembicara di Puncak TPN XII bulan Oktober mendatang di Jakarta, serta mendapat penghargaan tingkat nusantara. “Di TPN XII, kita tidak belajar dari pakar tapi dari sesama pendidik yang punya praktik baik. Oleh karenanya, saya mengundang pendidik yang punya pengalaman mengatasi tantangan di kelas, ikut Misi Belajar dan jadi pembicara di TPN XII di Landak,” ujarnya. Melalui praktik baik yang sudah dikurasi, peserta akan diajak untuk merefleksikan bagaimana anak tidak hanya cukup lulus dengan nilai tinggi. Namun, bagaimana ekosistem pendidikan memastikan mereka belajar dalam iklim pendidikan yang aman, inklusif, adil, dan kolaboratif, untuk mewujudkan anak yang kompeten tersebut. Selain di Kabupaten Landak, TPN XII juga diselenggarakan di 44 daerah lainnya yang tersebar di berbagai provinsi selama bulan Juni-Juli. KGBN Kab. Landak yang terpilih menjadi salah satu penyelenggara berarti telah membuktikkan keberdayaannya memimpin perubahan pendidikan di daerah. Penulis: Heni Pranita / Komunitas Guru Belajar Nusantara Kabupaten LandakEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Kabupaten Sijunjung Siap Gelar TPN XII, Ajak Seluruh Pendidik Terlibat

Kabupaten Sijunjung tengah bersiap menjadi tuan rumah perhelatan nasional Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) yang akan diselenggarakan pada Sabtu (19/7) mendatang. Kegiatan ini akan dihelat di Balairung Lansek Manih, Kantor Bupati Sijunjung. yang mengusung tema Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim. Kegiatan yang diselenggarakan Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kab. Sijunjung ini mempertemukan para pendidik, pemimpin pendidikan, dan pemerhati sekolah dari berbagai jenjang dalam semangat kolaborasi dan perubahan. TPN XII mengajak para pendidik tidak hanya menciptakan ekosistem pembelajaran yang sehat dan menumbuhkan, tetapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya pendidikan lingkungan hidup dan krisis iklim global yang semakin nyata. Ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Sijunjung, Novi Edmawita, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kehormatan sekaligus peluang besar bagi Sijunjung untuk memperkuat budaya belajar kolaboratif. “Kami ingin menunjukkan bahwa guru-guru di daerah juga mampu menjadi pionir perubahan. TPN ini adalah ruang untuk tumbuh bersama, belajar dari satu sama lain, dan membawa praktik baik ke kelas masing-masing,” terangnya. TPN XII akan dipenuhi dengan sesi berbasis pengalaman nyata dan praktik baik. Topik yang dibahas sesuai dengan kebutuhan guru terkini seperti pendidikan iklim, disiplin positif, pembelajaran berdiferensiasi, deep learning, koding, hingga kecerdasan artifisial. “Melalui kegiatan ini, kami ingin memantik percakapan tentang bagaimana iklim sekolah yang sehat dapat melahirkan murid-murid yang peduli pada lingkungan dan masa depan,” katanya. Panitia membuka pendaftaran secara daring melalui tautan: bit.ly/DaftarTPNXIISijunjung , dan menyediakan kontak narahubung Dewi di nomor 085274043369 bagi peserta yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut. Dengan sinergi yang kuat, kegiatan ini diharapkan mampu membawa dampak nyata bagi pendidikan di Sijunjung dan Indonesia secara luas. Penulis: Dedy Safputra / Komunitas Guru Belajar Nusantara Kab. SijunjungEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Kadisdakmen Kab. Enrekang Dukung Penuh TPN XII

Komunitas Guru Belajar Nusantara Kabupaten Enrekang (KGBN Enrekang) melaksanakan pertemuan resmi dengan Kepala Dinas Dasar dan Menengah (Dikdasmen) setempat, Erik. Langkah penting untuk memperkenalkan gerakan KGBN Enrekang ini dilaksanakan usai upacara Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5). Dalam pertemuan ini, Arsiah, ketua KGBN Enrekang, menjelaskan, KGBN merupakan organisasi profesi independen yang memberikan wadah bagi guru-guru di Kab. Enrekang untuk belajar bersama, berkolaborasi, dan berbagi praktik baik. Melalui fasilitasi ini, Arsiah yakin KGBN Enrekang dapat mendukung transformasi pendidikan di kabupaten tersebut. Arsiah juga menyampaikan program terdekat yakni Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kab. Enrekang yang akan digelar pada Juli mendatang di Gedung Halal Center. “Agar kegiatan ini dapat berdampak luas, maka perlu sinergi dengan pemerintah daerah,” tuturnya. “Kehadiran Bapak tidak hanya akan memotivasi para peserta, tetapi juga memperkuat legitimasi dan gaung acara ini,” ujar Arsiah pada Erik. Lebih lanjut, dia menjelaskan, KGBN Enrekang terpilih sebagai penyelenggara TPN XII bersama 44 daerah lainnya di seluruh wilayah nusantara. Di TPN XII, guru akan saling berbagi solusi pendidikan melalaui serangkaian acaranya yakni Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, dan Talkshow Pendidikan. Pada Kelas Pendidik, narasumber akan berbagi praktik baik untuk mengatasi permasalahan di kelas. Diantaranya, mengatasi murid yang tidak disiplin, merancang pembelajaran untuk murid yang beragam kompetensinya, dan lain sebagainya. Lalu di Kelas Pemimpin, peserta akan mendapat inspirasi bagaimana menghadapi tantangan melakukan perubahan di ekosistem pendidikan. “Sedangkan di Talkshow Pendidikan, para narasumber akan membahas tema TPN XII yakni Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim,” terang Arsiah. Kepala Dikdasmen menyambut antusias rencana tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh TPN XII. “Saya siap hadir sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah. Saya juga bersedia menjadi motivator bagi guru-guru di Kabupaten Enrekang untuk turut belajar dan bergerak bersama dalam forum ini,” ujar Erik. Dukungan konkret dari Dinas Pendidikan tak berhenti di situ. Dalam pertemuan lanjutan pada Senin, 5 Mei 2025, Arsiah hadir bersama Bendahara KGBN Enrekang, Hadijah, Ketua Panitia TPN XII di Kab. Enrekang, Risma Khalik, dan Pengurus, Yenny Herman. Pertemuan membahas dua langkah strategis: fasilitasi audiensi dengan Bupati dan Wakil Bupati Enrekang, serta distribusi surat resmi ke satuan pendidikan untuk mendorong partisipasi aktif dalam TPN XII. “Panitia sudah menunjukkan keseriusan dan kerja nyata. Kami siap menjembatani komunikasi dengan pemerintah kabupaten demi kelancaran acara berskala nasional ini,” tegas Erik. Dia juga mengapresiasi upaya panitia dalam menyusun konsep acara, sasaran peserta, serta rangkaian kegiatan yang terstruktur dan inklusif. Pertemuan ditutup dengan diskusi terbuka mengenai arah dan masa depan pendidikan di Kabupaten Enrekang. Kedua pihak berkomitmen untuk menjaga koordinasi intensif agar TPN XII dapat menjadi momentum perubahan yang nyata dan berkelanjutan. Temu Pendidik Nusantara XII di Kab. Enrekang tidak sekadar agenda seremoni, melainkan ajang pembuktian bahwa sinergi antara guru, komunitas, dan pemerintah daerah mampu melahirkan ekosistem pendidikan yang hidup, kolaboratif, dan berorientasi pada perubahan nyata. Penulis: Darmawati / Komunitas Guru Belajar Nusantara Kabupaten EnrekangEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Jember Terpilih Penyelenggara TPN XII, Diskusikan Perubahan Pendidikan

Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara Kab. Jember akan kembali menyelenggarakan Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kab. Jember. Kegiatan yang ke – 5 kalinya ini akan berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kab. Jember pada 5 Juli 2025.  Mengusung tema “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim”, TPN XII akan menghadirkan pendidik yang telah berhasil menerapkan pembelajaran untuk menumbuhkan anak yang kompeten menghadapi serta menyelesaikan permasalahan masa kini dan masa depan. Tema ini diangkat untuk untuk mendorong perubahan pendidikan sesuai dengan zaman, pendidikan yang dibutuhkan oleh murid yakni yang kontekstual, menjadikan anak sebagai manusia yang siap hidup dengan segala tantangannya,” terang Abdulaziz, ketua TPN XII. Krisis iklim adalah tantangan kita bersama, yang seharusnya sudah menjadi urgensi dalam ekosistem pendidikan. Kita perlu memastikan bahwa murid sadar, terampil, dan mampu mengambil aksi nyata untuk mengatasinya lanjutnya. Seluruh pendidik di Jember dan sekitarnya diundang untuk hadir dan mempercakapkan bersama topik ini. Rangkaian belajar yang dapat diikuti yaitu Misi Belajar, Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Talkshow Pendidikan, Cerdas Cermat Guru, dan Pameran Karya Murid. “Kita akan merefleksikan bagaimana anak tidak hanya cukup lulus dengan nilai tinggi. Namun, bagaimana ekosistem pendidikan memastikan mereka belajar dalam iklim pendidikan yang aman, inklusif, adil, dan kolaboratif, untuk mewujudkan anak yang kompeten tersebut” kata Aziz, sapaan akrab ketua TPN XII. Reni Nurhapsari, Koordinator TPN XII di Jember mengungkapkan, kesempatan menjadi pembicara terbuka untuk seluruh pendidik di Jember dan sekitarnya yang menyelesaikan Misi Belajar. Di TPN XII, kita tidak belajar dari pakar tapi dari sesama pendidik yang punya praktik baik”. Oleh karenanya, saya mengundang pendidik yang punya pengalaman mengatasi tantangan di kelas, ikut Misi Belajar dan jadi pembicara di TPN XII di Jember. Pendidik yang menyelesaikan Misi Belajar tidak hanya mendapat kesempatan menjadi pembicara di TPN XII di Jember, tapi juga pembicara di Puncak TPN XII bulan Oktober mendatang di Jakarta, serta mendapat penghargaan tingkat nusantara. Nantinya, pembicara terpilih akan berbagi praktik baik secara paralel dengan pendidik yang lain. Peserta akan secara merdeka memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhannya. Kami menerapkan otonomi dalam belajar,” jelas Reni Nurhapsari. Selain Jember , TPN XII juga diselenggarakan di 44 daerah lainnya selama bulan Juni-Juli. KGBN Jember yang terpilih menjadi penyelenggara di Jember berarti telah membuktikkan keberdayaannya memimpin perubahan pendidikan di daerah. Penulis: Trinani Iswahyuningtyas / Komunitas Guru Belajar Nusantara Kabupaten JemberEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

TPN XII di Kota Serang: Perkuat Semangat Kolaborasi Guru

Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Serang bersama Guru Belajar Foundation sukses menyelenggarakan Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kota Serang pada Selasa (17/06), bertempat di Aula FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Kota Serang.  Mengusung tema ‘Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim’, TPN XII menjadi ruang refleksi sekaligus kolaborasi para pendidik dalam merespons tantangan pendidikan masa kini. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif IGI Kota Serang yang terus konsisten mendorong peningkatan kualitas guru melalui berbagai kegiatan. “Kehadiran TPN menjadi bukti bahwa guru-guru kita tidak hanya mengajar, tetapi juga terus belajar dan berkolaborasi,” ujarnya.  Dirinya berharap, TPN XII dapat melahirkan gagasan dan praktik baik untuk dapat memperkuat iklim pendidikan yang tanggap terhadap perubahan zaman.  “Saya berharap, dari kegiatan ini lahir gagasan dan praktik baik untuk memperkuat iklim pendidikan yang sehat dan berkelanjutan, terutama dalam konteks tantangan lingkungan dan perubahan zaman,” tambahnya.  Seratus lebih peserta yang hadir antusias mengikuti beragam rangkaian kegiatan, yakni Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, dan Talkshow Pendidikan. Salah satu narasumber yang berbagai praktik baik di Kelas Pendidik adalah Wahyu Fatihah, guru kimia SMA Negeri 4 Cilegon. Ayu, panggilan akrab Wahyu Fatihah, bercerita tentang beberapa murid di kelasnya yang terlihat tertinggal dan tidak menunjukkan minat dalam pembelajaran.  “Saya kadang merasa sedih ketika melihat beberapa murid yang potensinya tidak tergali hanya karena pendekatan pembelajaran yang kurang tepat,” ungkapnya. Menindaklanjuti kondisi tersebut Ayu mulai mencari informasi dan melakukan refleksi diri guna menggali strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Salah satu konsep yang ia mulai tekankan adalah konsep kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences. Menurutnya, konsep kecerdasan majemuk meyakini bahwa tidak ada anak yang bodoh, sebab setiap anak adalah unik dan minimal memiliki satu kelebihan, bahkan ada yang memiliki beberapa macam kecerdasan dasar (multi talenta). Dalam pelaksanaan proses pembelajaran dan pendidikan, melakukan penilaian dan menstimulasi kecerdasan anak harus dilakukan secara jeli dan cermat, dengan cara merancang sebuah metode khusus, sehingga anak bisa menjadi lebih terampil dan berkembang sesuai kecerdasan yang dimilikinya. “Selanjutnya, saya mencoba melakukan proses pembelajaran dengan berbagai metoda dan pendekatan,” ujar Wahyu. Ia mencoba menjadikan pembelajaran lebih kontekstual dalam berbagai materinya sehingga pembelajaran lebih bermakna, serta menampung berbagai inspirasi dan masukan dari murid. “Untuk mendukung proses tersebut, saya juga membuat media pembelajaran dengan berbagai kriteria berupa gambar, teknologi, visual, nyanyian, bahkan puisi,” terang Ayu. Wahyu menambahkan bahwa pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang perlu dikelola dengan bijak. Dengan pendekatan yang tepat, setiap murid memiliki peluang untuk berkembang dan menunjukkan potensi terbaiknya. “Tidak lupa juga berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Dukungan dari rekan sejawat dan diskusi dalam komunitas guru juga membantu saya mengembangkan strategi yang lebih inklusif. Perlahan, saya mulai melihat perubahan. Murid menjadi lebih aktif, percaya diri, dan menunjukkan perkembangan belajar yang signifikan,” pungkasnya. Penulis: Ikatan Guru Indonesia Kota SerangEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.