Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Kota Bogor sukses digelar di SMPN 2 Kota Bogor pada Sabtu-Minggu, 14–15 Juni 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation bersama Ikatan Guru Indonesia Kota Bogor.

Dalam sesi talkshow, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan pesan penting mengenai peran guru dalam membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan dan beradab.

Dedie, yang juga mantan direktur di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berbagi pengalamannya saat kunjungan dinas ke Korea Selatan. Ia menceritakan perbandingan antara perjalanan pembangunan Indonesia dan Korea Selatan yang pernah disampaikan oleh seorang pejabat di negeri Ginseng tersebut.

“Pada tahun 1973, Indonesia dan Korea Selatan sama-sama masih dikategorikan negara miskin oleh PBB. Tapi sekarang, Korea Selatan sudah menjadi negara maju dan makmur, sementara kita masih dalam kategori negara berkembang,” kata Dedie.

Dedie menekankan, syarat nomor 1 hingga 100 adalah soal infrastruktur, sementara syarat 101 hingga 400 menyangkut adab dan perilaku manusia, seperti kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, dan ketertiban.

“Dan syarat nomor 101–400 ini yang belum kita miliki. Maka dari itu, saya mengajak kita semua, termasuk para guru, untuk menanamkan nilai-nilai adab dan menjaga lingkungan. Itu juga bagian dari sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya.

Cerdas Cermat Guru: Cara Baru dan Seru untuk Belajar

Selain talkshow, rangkaian TPN XII di Kota Bogor juga dimeriahkan oleh berbagai kegiatan belajar lainnya, yakni Kelas Pendidik, Kelas Pemimpin, Pameran Karya Murid, Cerdas Cermat Guru (CCG), dan Pasar Solusi Pendidikan.

CCG adalah tantangan belajar menyenangkan bagi guru dan calon guru untuk merefleksikan kompetensi sesuai Perdirjen GTK No. 2626 tahun 2023 tentang Model Kompetensi Guru. 

Melalui CCG, peserta dapat mengetahui level kompetensinya lengkap dengan umpan balik agar mengetahui kompetensi apa yang sudah bagus maupun yang perlu ditingkatkan.

“CCG merupakan program yang muncul dari refleksi kami, Guru Belajar, mengenai kompetensi guru. Kompetensi guru ini belum menjadi bahan perbincangan keseharian guru,” jelas Rahayu, Koordinator TPN XII di Kota Bogor.

“Harapannya, CCG yang dirancang secara kontekstual, sesuai dengan keseharian guru, dapat menjadi ruang diskusi terkait kompetensi guru, yang akhirnya memicu dibukanya ruang diskusi serupa di kesempatan-kesempatan lain,” lanjutnya.

Selain itu, selama ini masih kurang keberagaman upaya peningkatan kompetensi guru. Umumnya terbatas pada kegiatan seperti seminar atau workshop. “Banyak program pengembangan kompetensi guru tapi minim yang membantu guru mengetahui level kompetensinya atau minim umpan balik,” terang  Rahayu.

Kegiatan yang membantu guru mengetahui level kompetensi juga biasanya bersifat high-stakes seperti uji kompetensi guru (ujikom), yang hasilnya mempengaruhi masa depan karier guru.

Akibatnya, guru tidak bebas merefleksikan kekuatan maupun area yang masih perlu dikembangkan. Namun melalui CCG, guru bisa mengetahui level kompetensinya tanpa rasa khawatir seperti gagal ujikom. 

CCG berlangsung riuh. Peserta heboh setiap kali mengetahui jawaban dari setiap soal. Terlihat tidak ada beban meskipun jawaban tidak sesuai. Mereka justru terlihat penasaran dan ingin mendiskusikan lebih lanjut mengapa jawaban mereka kurang tepat.


Penulis: Dewi Yosina Batuwael / Ikatan Guru Indonesia Kota Bogor
Editor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.