Anda bisa mengerjakan lebih dari 1 Misi Belajar.
Segera kerjakan misi belajar untuk menjadi pembicara.
Pengumuman pembicara akan dilakukan secara berkala sejak September-Oktober 2026.
Batas akhir untuk mengerjakan misi belajar adalah:
30 September 2026
Di awal tahun ajaran, Pak Rahmat tidak langsung membuka rapat dengan target nilai. Sebagai kepala sekolah, ia justru membawa satu peta wilayah dan beberapa catatan dari pertemuan warga.
“Kalau kita jujur,” katanya kepada para guru, “persoalan apa yang paling dirasakan warga di sekitar sekolah ini?”
Ruang rapat hening sejenak. Lalu muncul jawaban yang beragam: anak putus sekolah karena harus bekerja, akses kesehatan yang jauh, sampah yang tidak terkelola, orang tua yang kesulitan pekerjaan tetap.
Pak Rahmat tidak meminta solusi cepat. Ia mengajak tim melihat perbedaan antara target administratif dan tantangan publik. Target bisa dikejar dengan program singkat. Tantangan warga membutuhkan keberpihakan, waktu, dan konsistensi.
“Kalau sekolah kita memilih satu persoalan ini sebagai arah,” lanjutnya, “apa yang perlu kita ubah dalam cara kita merancang pembelajaran, bermitra, dan menilai keberhasilan?”
Sejak itu, sekolah mulai membuka ruang dialog secara rutin, tidak hanya dengan guru, tetapi juga bersama orang tua, warga sekitar, dan kepala desa. Dialog ini tidak diposisikan sebagai sosialisasi satu arah, melainkan sebagai cara sekolah terus membaca perubahan kebutuhan warga dan menguji relevansi arah pembelajarannya.
Dari proses itu, orientasi sekolah perlahan bergeser. Proyek belajar dirancang bukan untuk sekadar memenuhi indikator, tetapi untuk memahami persoalan nyata warga. Kemitraan dibangun bukan demi nama, melainkan agar murid dan guru belajar hadir dalam proses sosial yang sedang berlangsung.
Keberhasilan sekolah pun tidak lagi hanya dibaca dari angka, tetapi dari pertanyaan yang lebih jujur: apakah sekolah ini membantu warga memahami masalahnya, memperkuat suara mereka, dan membuka kemungkinan perubahan?
Bagi Pak Rahmat, kepemimpinan pendidikan berarti berani memilih: menjadikan tantangan publik sebagai kompas sekolah, meski jalannya tidak selalu rapi, cepat, atau mudah dilaporkan.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Rahmat?
Bila YA, yuk bantu Pak Rahmat, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Rahmat?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Setelah beberapa kali membuka ruang dialog dengan orang tua dan warga, Bu Ratna menyadari satu hal. Persoalan yang muncul tidak berdiri sendiri. Masalah kesehatan anak, pengelolaan sampah, hingga minimnya ruang aman untuk remaja saling berkaitan dan menjadi tantangan bersama desa.
Ia lalu mengajak kepala desa, perwakilan puskesmas, pengelola bank sampah, dan tokoh pemuda duduk satu meja. Bukan untuk meminta dukungan program sekolah, tetapi untuk bertanya, “Persoalan apa yang sedang paling mendesak bagi warga dan bisa kita pelajari bersama lewat sekolah?”
Dari percakapan itu mengerucut satu tantangan publik: pengelolaan lingkungan desa yang berdampak pada kesehatan dan penghidupan warga. Tantangan ini tidak diserahkan ke satu pihak. Sekolah, pemerintah desa, dan komunitas sepakat menjadikannya agenda bersama.
Sekolah kemudian menerjemahkan tantangan warga itu ke dalam pembelajaran berbasis projek lintas mata pelajaran. Murid melakukan riset lapangan, berdialog dengan pedagang dan petugas kesehatan, serta mendokumentasikan praktik yang sudah berjalan di desa. Pemerintah desa membuka data dan akses. Komunitas mendampingi di lapangan.
Hasil belajar murid tidak berhenti di kelas. Temuan mereka dibahas kembali bersama warga dan perangkat desa sebagai bahan memperbaiki program yang sedang berjalan. Beberapa rekomendasi bahkan masuk ke rencana kerja desa tahun berikutnya.
Dalam proses ini, sekolah tidak lagi berdiri sebagai institusi yang sibuk dengan target internal. Ia berfungsi sebagai ruang warga belajar, tempat tantangan publik dibaca bersama, pengetahuan dikumpulkan lintas sektor, dan pembelajaran diarahkan untuk memperkuat kehidupan bersama.
Bu Ratna merangkum arah ini dalam satu kalimat sederhana di rapat sekolah, “Kalau sekolah memilih berpihak pada tantangan warga, maka belajar tidak pernah terpisah dari hidup.”
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Ratna?
Bila YA, yuk bantu Bu Ratna, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Ratna?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Bu Siti, kepala sekolah menengah di wilayah pesisir, sangat resah. Selama ini murid-muridnya pintar mengerjakan tugas dan meraih nilai ujian tinggi, tetapi kurang peka terhadap persoalan masyarakat. Mereka cakap menjawab soal, namun belum tumbuh kesadaran untuk membangun daerahnya sendiri—padahal desanya menyimpan begitu banyak potensi.
Keresahan itu ia bawa ke rapat bersama guru-guru. Mereka lalu membaca dan mendiskusikan arah pembangunan daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yang menekankan ketahanan pangan dan penguatan ekonomi lokal. Pertanyaannya sederhana: bagaimana sekolah bisa ikut menyiapkan murid untuk terlibat di dalamnya?
Guru lintas mata pelajaran kemudian merancang kurikulum dan strategi pembelajaran berbasis projek. Murid memetakan rantai produksi pangan lokal, mewawancarai pelaku usaha kecil, serta menyusun temuan dan rekomendasi sederhana dari hasil belajar mereka.
Dengan rancangan itu, Bu Siti melakukan audiensi dengan Dinas Pendidikan dan kepala daerah. Ia menawarkan satu MoU: sekolah menjadi mitra belajar daerah melalui projek berbasis isu pangan lokal, sementara pemerintah membuka akses data, narasumber, dan ruang dialog kebijakan.
Sekolah tak lagi sekadar tempat mengejar nilai, tetapi ruang menumbuhkan kepedulian dan kontribusi nyata bagi daerah.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Siti?
Bila YA, yuk bantu Bu Siti, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Siti?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Di awal semester, Pak Togar tidak meminta guru menyerahkan rencana pembelajaran yang rapi dan seragam. Sebagai kepala sekolah, ia justru mengundang mereka datang dengan satu pertanyaan yang belum mereka tahu jawabannya.
“Apa yang ingin kalian coba di kelas tahun ini,” katanya lugas, “meski hasilnya belum tentu langsung kelihatan?”
Beberapa guru tampak ragu. Selama ini mereka terbiasa dinilai dari kepatuhan, bukan dari keberanian mencoba hal baru. Pak Togar menegaskan sikapnya. Mencoba boleh, gagal juga boleh, asal tidak berhenti dipelajari.
Sekolah kemudian menyiapkan ruang pendampingan sederhana. Guru yang mencoba pendekatan baru diminta mencatat prosesnya, mulai dari rencana awal, apa yang benar-benar terjadi di kelas, hingga perubahan yang muncul pada murid. Catatan ini dibahas bersama dalam forum guru, bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memahami pilihan yang diambil.
Ketika satu proyek belajar tidak berjalan seperti harapan, tidak ada teguran sepihak. Yang ada justru diskusi terbuka tentang bagian mana yang perlu diperbaiki, dukungan apa yang masih kurang, dan apa yang layak dicoba ulang.
Pelan-pelan, guru menjadi lebih berani mengambil inisiatif. Murid pun belajar bahwa proses belajar bukan soal selalu benar, melainkan soal bertanggung jawab atas pilihan dan usaha yang dilakukan.
Bagi Pak Togar, kepercayaan bukan berarti tanpa arah. Kepercayaan berarti memberi ruang untuk mencoba, disertai refleksi, pendampingan, dan keberanian belajar dari kegagalan sebagai fondasi kepemimpinan sekolah.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Togar?
Bila YA, yuk bantu Pak Togar, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Togar?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Ketika sekolah menerapkan kebijakan baru tentang proyek pembelajaran lintas mata pelajaran, Bu Andi tidak buru-buru menetapkannya sebagai aturan baku. Sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum, ia justru mengajak guru memandang kebijakan itu sebagai ikhtiar bersama yang perlu dijalani dan diuji.
“Ini bukan kebijakan yang langsung kita kunci,” ujarnya dalam rapat guru. “Kita jalankan dulu dengan baik, lalu kita lihat bersama apakah benar membantu murid.”
Selama tiga bulan pertama, guru menjalankan proyek lintas mata pelajaran dengan cara yang beragam. Sekolah tidak hanya meminta laporan administrasi, tetapi juga catatan pengalaman: bagaimana respons murid, kapan mereka tampak lebih hidup, dan di bagian mana guru menemui kesulitan di kelas.
Setelah itu, guru berkumpul dalam forum refleksi. Beberapa menyampaikan bahwa koordinasi antarmata pelajaran masih terasa berat. Yang lain berbagi temuan bahwa murid jauh lebih terlibat ketika proyek dikaitkan dengan persoalan nyata di sekitar mereka, seperti lingkungan, keluarga, dan kehidupan sehari-hari warga.
Dari musyawarah itu, sekolah menyesuaikan kebijakan. Waktu kolaborasi guru diperjelas, panduan proyek diringankan, dan ruang berbagi praktik dibuat lebih teratur agar guru bisa saling belajar.
Bagi Bu Andi, kebijakan bukan sekadar dokumen yang harus dipatuhi. Ia adalah proses belajar kolektif yang dijalani dengan saling percaya, diperbaiki bersama, dan selalu diarahkan pada pengalaman belajar murid yang lebih bermakna.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi Bu Andi?
Bila YA, yuk bantu Bu Andi, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Andi?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Di awal tahun ajaran, Pak La Ode tidak datang ke rapat membawa daftar program baru. Ia justru meminta Wakaur Kesiswaan melakukan survei sederhana kepada seluruh murid tentang pengalaman belajar yang paling bermakna, hal-hal yang paling memberatkan, dan kekhawatiran mereka tentang masa depan setelah lulus.
Hasil survei dipetakan dan dibahas bersama guru. Terlihat jelas bahwa murid yang paling terdampak oleh padatnya agenda sekolah adalah mereka yang sudah rentan, seperti murid dari keluarga miskin, yang harus membantu orang tua bekerja, atau yang hampir putus sekolah. Banyak dari mereka merasa sekolah sibuk, tetapi tidak selalu membantu mereka siap hidup dan bekerja.
Dari suara murid itu, sekolah menyepakati satu hal penting. Pembelajaran perlu memberi pengalaman langsung di lapangan, bersama masyarakat, yang berguna secara nyata, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.
Pak La Ode lalu mengajak guru, orang tua, tokoh masyarakat, dan perangkat desa duduk bersama. Mereka tidak membahas daftar program sekolah, melainkan persoalan bersama yang dihadapi warga, seperti hutan yang mulai rusak, anak-anak yang tidak memiliki ruang belajar setelah pulang sekolah, dan minimnya peluang kerja bagi lulusan muda.
Dari dialog itu lahir beberapa pilihan konkret. Sekolah membangun taman baca desa yang dikelola bersama murid dan warga, mengembangkan kebun pangan dan olahan sederhana sebagai ruang belajar tentang gizi dan ekonomi keluarga, serta merancang proyek kewirausahaan sosial kecil yang memberi murid pengalaman kerja dan peluang penghasilan setelah lulus.
Untuk memberi ruang pada pilihan ini, sekolah berani melepas beberapa program lama yang menyita waktu belajar dan membebani guru tanpa dampak yang jelas. Anggaran dialihkan untuk kegiatan yang bisa dijalankan lintas angkatan dan tidak bergantung pada satu orang saja.
Guru-guru kemudian menyusun strategi pembelajaran dan teknis pelaksanaan, lalu mengajukan proposal kepada pemerintah daerah dan mitra swasta dengan satu batas tegas. Kemitraan tidak boleh mengorbankan kebutuhan murid atau martabat guru.
Bagi Pak La Ode, keberpihakan pada anak dan masa depan bukan soal menambah sebanyak mungkin program baik. Ia adalah soal keberanian memilih, melindungi waktu belajar, mengutamakan yang paling rentan, dan memastikan keputusan hari ini tidak merampas masa depan murid, lingkungan, dan kehidupan warga di tahun-tahun mendatang.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak La Ode?
Bila YA, yuk bantu Pak Laode, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Laode?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Pak Yusuf rutin mendampingi sebuah sekolah yang terlihat berjalan baik. Administrasi rapi, program lengkap, dan supervisi internal berjalan.
Namun setiap kali kembali, ia merasa tidak banyak yang benar-benar berubah.
Suatu hari, ia tidak langsung membuka instrumen supervisi. Ia justru duduk bersama kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
“Menurut Bapak/Ibu,” tanyanya, “bagian mana dari pembelajaran di sekolah ini yang paling perlu diperkuat saat ini?”
Pertanyaan itu membuat ruang menjadi hening.
Setelah beberapa saat, wakil kepala sekolah mulai berbicara tentang guru yang masih kesulitan mengaktifkan murid. Kepala sekolah menambahkan bahwa selama ini mereka lebih fokus memastikan program berjalan, bukan melihat dampaknya di kelas.
Pak Yusuf tidak langsung memberi arahan. Ia mengajak mereka memilih satu fokus kecil untuk didampingi bersama. Ia juga mendorong kepala sekolah dan wakilnya untuk mulai membuka ruang diskusi dengan guru, bukan hanya menyampaikan instruksi.
Di kunjungan berikutnya, yang dibahas bukan lagi kelengkapan program, tetapi proses yang sedang berjalan: apa yang sudah dicoba, apa yang berubah, dan apa yang masih menjadi tantangan.
Perubahan tidak langsung besar. Namun perlahan, kepala sekolah dan timnya mulai lebih aktif memimpin proses belajar di sekolahnya. Diskusi dengan guru mulai hidup, refleksi guru tentang perbaikan pembelajaran jadi kebiasaan, dan inisiatif tidak lagi selalu menunggu dari luar.
Beberapa bulan kemudian, kepala sekolah berkata, “Kami mulai lebih paham bagaimana mendampingi guru, bukan hanya mengarahkan.”
Dari situ, Pak Yusuf menyadari: peran pengawas sekolah bukan mengambil alih perubahan, tetapi menguatkan kepemimpinan di dalam sekolah agar perubahan bisa tumbuh dan bertahan.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Yusuf?
Bila YA, yuk bantu Pak Yusuf, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Yusuf?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Pak Jati, seorang pengawas sekolah, menerima arahan dari Dinas Pendidikan tentang prioritas daerah: penguatan ketahanan pangan lokal. Program itu perlu segera berjalan di sekolah-sekolah.
Namun saat mengunjungi sekolah dampingan, ia melihat hal yang berbeda. Pembelajaran masih banyak berlangsung di kelas, dan belum terhubung dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Pak Jati melihat jarak di antara keduanya. Program daerah berjalan dengan targetnya. Sekolah berjalan dengan rutinitasnya.
Ia tidak langsung menyampaikan instruksi. Ia mengajak kepala sekolah dan wakil kepala sekolah berdiskusi.
“Kalau ketahanan pangan ini menjadi arah daerah,” tanyanya, “apa yang bisa berubah dalam cara sekolah merancang pembelajaran?”
Pertanyaan itu membuka percakapan baru.
Sekolah mulai melihat bahwa isu pangan bukan sekadar program, tetapi bisa menjadi konteks belajar. Dari situ, Pak Firman mengajak mereka memilih satu langkah awal: mengembangkan pembelajaran berbasis projek yang melibatkan murid belajar langsung bersama petani di sekitar sekolah.
Pak Firman kemudian menjembatani komunikasi dengan dinas terkait dan kelompok petani, agar sekolah tidak berjalan sendiri. Ia juga mendampingi kepala sekolah dan timnya untuk merancang pembelajaran yang tetap sesuai dengan kondisi sekolah.
Perubahan tidak langsung besar. Namun mulai terlihat arah yang berbeda. Sekolah tidak lagi terpisah dari kebutuhan daerah. Dan program daerah tidak lagi terasa sebagai beban tambahan.
Beberapa waktu kemudian, kepala sekolah berkata, “Sekarang kami mulai melihat arah daerah itu bisa jadi bagian dari pembelajaran, bukan sesuatu yang harus kami jalankan terpisah.”
Dari situ, Pak Firman menyadari: peran pengawas sekolah bukan hanya memastikan program dijalankan, tetapi menjembatani agar arah pembangunan daerah menjadi bagian dari proses belajar di sekolah.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Jati?
Bila YA, yuk bantu Pak Jati, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Jati?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Ajak & tantang rekan guru!
Sebarkan!
klik tombol di bawah ini
Masing-masing challenge bisa dikerjakan lebih dari satu kali dengan jawaban yang berbeda-beda
Untuk mengerjakan Misi Belajar, Anda tidak harus memiliki kondisi yang sama persis dengan masalah yang diangkat dalam soal misi. Selama substansi masalah/tantangannya serupa (ada kesamaan kata kunci) dan pengalaman Anda relevan substansi masalahnya, Anda bisa mengerjakan Misi Belajar.
Jawaban yang Anda tulis adalah menceritakan pengalaman nyata yang pernah Anda alami ketika menghadapi masalah serupa, bukan seperti memberi saran yang normatif dan abstrak.
Cari soal Misi Belajar yang paling mendekati. Misalnya, pengalaman Anda tentang Disiplin Positif, tetapi Anda tidak menemukan soal spesifik tentang tema tersebut, Anda bisa mengambil misi tentang Manajemen Kelas. Perlu menjadi catatan, soal Misi Belajar umumnya dibuat lebih general sehingga dapat mencakup berbagai pengalaman dan situasi yang dialami guru.
Anda bisa menggunakan bantuan Panduan Rencana Aksi jika pengalaman belum sesuai misi.
Untuk keperluan sebagai pembicara TPN XI, panitia TPN akan melaporkan data misi yang lolos kepada panitia daerah. Jadi, panitia daerah akan menghubungi penulis misi yang lolos, apakah bersedia menjadi pembicara di TPN XI daerah atau tidak. Untuk keperluan publikasi di Surat Kabar Guru Belajar, tim redaksi akan mengirim undangan ke penulis misi yang lolos untuk menulis cerita lebih lengkap sesuai ketentuan redaksi. Namun, ke depan tim kami akan memberikan keterangan LOLOS atau TIDAK pada website Misi Belajar.
1. Lakukan registrasi di portal tpn.gurubelajar.org
2. Klik Misi (maka akan tertampil beragam pilihan misi).
3. Pilih misi yang sesuai atau relevan dengan tantangan yang pernah Anda alami.
4. Ceritakan pengalaman Anda maksimal 200 kata.
5. Jika cerita Anda pernah dipublikasikan di media tertentu, Anda juga bisa menyertakan tautan publikasinya.
Ketika Anda mengerjakan Misi Belajar, Anda berkesempatan untuk menjadi narasumber di Temu Pendidik Nusantara, baik di salah satu dari 50 Daerah pada Juni-Juli dan atau di Puncak pada 2-3 November 2024 di Jakarta.
Selain itu, Anda juga berkesempatan diundang untuk menulis di Surat Kabar Guru Belajar. Tim kurator akan menghubungi Anda untuk menulis cerita yang lebih utuh.
Jika praktik baik Anda dapat memberi solusi bagi banyak orang, Anda juga berkesempatan untuk berbagi praktik baik di banyak forum-forum pendidikan, mengembangkan karier, dan memperluas dampak bagi komunitas pendidik yang lebih luas.
Boleh, apabila Anda pernah mengalami situasi tersebut berkali-kali dan mengatasinya dengan cara berbeda, Anda dapat mengirim tulisan secara terpisah untuk masing-masing cara yang sudah dilakukan.
Papan poin menampilkan 600 guru, 120 guru berkarier, 120 pemimpin pendidikan yang teraktif mengerjakan misi. Yuk, kerjakan lagi Misi Belajar, untuk mendapat kesempatan muncul di papan poin.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.