Kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia pada kelas XI sebelum pemberangkatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di SMK tidak selalu ditempuh selama dua semester, seringkali pembelajaran dipadatkan menjadi satu semester atau maksimal 7 bulan di sekolah, karena sisanya digunakan untuk praktek kerja lapangan di dunia industri. Dengan waktu yang singkat dan padat tersebut akhirnya pendidik perlu menyiapkan strategi pembelajaran efektif dan bermakna.
Belajar dari pengalaman mengajar kelas XI sebelumnya, dengan waktu yang singkat dan padat. Ternyata siswa tidak bisa jika diberikan pembelajaran yang monoton dan konservatif. Siswa membutuhkan pembelajaran yang bermakna sebagai bekal sebelum berangkat PKL. Setelah melakukan analisis kebutuhan di kelas XI dan dengan bekal pengalaman mengajar di kelas XI sebelumnya. Ditemukan hasil yakni pembelajaran siswa SMK menyukai pembelajaran praktek ketimbang teori.
Pembelajaran bahasa Indonesia kelas XI ada enam materi yang harus dikuasai siswa, agar satu semester bisa selesai dan saat PKL siswa fokus pada kegiatan PKL serta tidak ada tanggungan tugas di sekolah. Beberapa materi jika diberikan hanya mencatat keseluruhan materi maka siswa akan mudah bosan, dan mengeluh tangannya kram karena tugasnya hanya mencatat materi saja. Selain itu kegiatan mencatat menjadi momok dan beban bagi siswa yang tidak menyukai pembelajaran teori akibatnya kegiatan mencatat dihindari siswa dan memilih tidur atau melanjutkan bermain FF. Kemudian, melihat kondisi tersebut, saya mengatur strategi agar pembelajaran efektif, bermakna, dan siswa tidak bosan saat mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Di sisi lain, saya mengamati siswa kelas XI SMK sebenarnya membutuhkan latihan keterampilan lain sebagai bekal persiapan PKL. Salah satunya adalah keterampilan kerjasama dan membuat networking, serta mampu berkomunikasi dengan baik sehingga pembelajaran bahasa Indonesia benar-benar diaplikasikan langsung ke dalam masyarakat saat menggunakan bahasa Indonesia yang sopan dan baik saat terjun di masyarakat.
Berdasarkan pengalaman di atas, saya mempunyai ide untuk mengkolaborasikan kemampuan mereka di bidang teknik dengan aspek keterampilan berbicara di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, dan terjun ke sekolah dasar untuk memberikan motivasi kepada anak-anak SD agar mempunyai cita-cita yang jelas bagi masa depannya. Sebenarnya, program ini terinspirasi dari kelas inspirasi dan komunitas ruang belajar aqil yang setiap tahun mengirimkan mahasiswanya untuk terjun membuat pameran sains ke anak SD. Dari situ saya mulai berpikir, kenapa harus mahasiswa yang terjun ke sekolah SD, padahal jika saya lihat kemampuan mereka saat di bengkel jurusan mereka kompeten dalam merancang, memperbaiki dan membuat alat.
Dari situlah saya mulai membuat metode kencan buat si fatya (berkelompok, merancang, membuat, berkolaborasi, bermanfaat, berkarya) pertama yang dilakukan adalah anak-anak berkelompok sesuai dengan peminatan mereka. Kedua, anak-anak merancang alat sains apa yang ingin dipresentasikan ke anak SD sesuai dengan teks eksplanasi, seperti alat simulasi gunung meletus, peristiwa banjir, dll. Ketiga, membuat alat yang telah mereka rancang, keempat berkolaborasi dengan komunitas lain dan juga menjalin kerjasama dengan instansi seperti sekolah SD pinggiran Singosari tepatnya di pinggir lereng Gunung Arjuno yang belum pernah anak SD perlu dibina agar mereka mempunyai cita-cita melanjutkan sekolahnya hingga 12 tahun, karena banyak sekolah pinggiran yang angka putus sekolah lebih tinggi dan memilih untuk menikah di usia dini setelah lulus SD. Kelima, bermanfaat dan berkarya. Siswa SMK yang dating ke SD memberikan manfaat berupa ilmu, dan motivasi belajar, serta memberikan hibah media pembelajaran dan buku yang telah mereka praktekkan di depan siswa SD.
Pada saat dipraktekkan dan terjun langsung ke lapangan. Anak SMK benar-benar di luar dugaan saya, mereka berkolaborasi dengan adek kelas mereka, dan Alhamdulillah guru jurusan mendukung kegiatan tersebut dengan memberikan sumbangan dana yang cukup untuk pelaksaan kegiatan. Bukan hanya itu, siswa SMK juga disambut hangat dengan guru SD yang didatangi, dan berharap tahun depan sekolah mereka dikunjungi kembali ( untuk mengadakan sesi pameran sains lagi). Bukan hanya itu, setelah kegiatan berlangsung ada kegiatan evaluasi kegiatan, dan ditutup dengan kegiatan mengungkapkan perasaan masing-masing siswa setelah mengikuti kegiatan ini. Sebagian besar merasakan seperti belajar bahasa Indonesia yang sebenarnya, dan mereka merasa belajar bahasa Indonesia menjadi menyenangkan dan menimbulkan kesan yang mendalam. Pada saat mereka menjelaskan ke anak sd terkait dengan peristiwa gempa bumi, ada siswa yang menuliskan menjadi guru tidaklah mudah harus ekstra sabar, karena siswa itu sendiri yang merasakan menjelaskan peristiwa gempa bumi secara berulang kali jadi membutuhkan kesabaran yang besar, hingga pada akhirnya mereka paham menjadi makna tugas guru itu seperti apa. Karena mereka mempresentasikan alat mereka di depan anak-anak SD dengan bahasa yang mudah dipahami. Kepala sekolah dan beserta guru-guru sangat berterima kasih dan menyambut baik kegiatan pameran sains yang dilakukan oleh siswa SMK.