Kasus perundungan sering terjadi. Korban yang merasa dendam akan membalas dengan lebih buruk. Karena itu, guru harus mencegah agar hal itu tidak terjadi di sekolah
Kasus perundungan sering terjadi. Korban yang merasa dendam akan membalas dengan lebih buruk. Karena itu, guru harus mencegah agar hal itu tidak terjadi di sekolah
Usia saya sudah menginjak setengah abad. Perjalanan saya sebagai seorang guru sangat panjang dan penuh rintangan serta hikmah pelajaran. Awal masuk di UPT SPF SDN MAWAS, saya melaksanakan tugas mengajar di kelas 4. Di sini lingkungan masyarakatnya agak keras. Anak-anak terbiasa berteriak sampai adu mulut. Sering juga terjadi perkelahian walaupun hanya dipicu oleh hal yang tidak seberapa.
Suatu hari saya menemukan beberapa siswa berperilaku tidak biasa. Pelajaran hari itu terasa tidak kondusif karena siswa tampak gelisah. Mereka saling lirik dan berbisik satu sama lain. Mereka kelihatan ketakutan karena merasa seperti ada bahaya yang mengancam mereka. Saya kemudian menghentikan aktivitas pembelajaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Tidak ada satu pun yang mau menceritakan hal yang sebenarnya. Mereka benar-benar merasa terancam.
Saya lalu mendekati salah seorang anak dan mengajaknya berbicara empat mata. Setelah dirasa aman, anak tersebut akhirnya berkata jujur. Ia berbisik sambil melirik ke kanan dan ke kiri, takut ada yang mendengar. Ia mengatakan bahwa salah satu murid, sebut saja namanya Duri. Duri adalah teman sekelasnya yang sangat pendiam. Tetapi pada hari itu Duri tidak kelihatan di tempat duduknya, padahal teman-temannya tadi melihat Duri datang. Duri mulanya masuk di kelas dengan wajah penuh dendam. Teman-temannya mungkin juga ketakutan sehingga memilih menyingkir.
Duri mendekati bangkunya, lalu mengatakan pada teman sebangkunya. Hari itu ia berniat balas dendam pada seorang kakak kelas yang duduk di bangku kelas 6. Duri menyatakan alasannya, lantaran sering mendapat tindakan perundungan. Ia kerap diganggu sampai dipukul oleh kakak kelas tersebut. Duri lalu menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebelum ia membuka tas, ia menoleh kea rah sekeliling kelas untuk memastikan bahwa tidak ada satupun yang melihat tas tersebut kecuali mereka berdua. Duri juga meminta teman sebangkunya itu tidak menceritakan kepada siapapun. Ia pun menyanggupinya dengan menganggukkan kepala tanda setuju.
Perlahan Duri membuka tasnya. Si teman sebangkunya seketika kelihatan pucat, terperanjat, takut, dan menutup matanya lalu mundur. Duri lalu mengatakan bahwa dia akan menggunakan benda tersebut untuk membalaskan dendamnya. Sebilah badik tajam tampak mengintip dari balik tas. Benda itu tampak mengkilat mengerikan. Konon, Duri sudah mempersiapkan dari rumah beberapa hari sebelumnya. Melihat temannya ketakutan, Duri pun menutup Kembali tasnya lalu pergi entah kemana. Ia sempat mengatakan berencana akan menikam kakak kelas itu sepulang sekolah.
Mendengar cerita teman sebangku Duri, saya segera mencari Duri. Saya merasa sangat khawatir apabila ia telah melancarkan aksinya. Saya berkeliling dari satu kelas ke kelas yang lainnya. Tapi Duri tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Saya putar haluan di belakang sekolah. Tempat sepi yang biasa digunakan oleh anak-anak berkelahi. Saya akhirnya menemukan Duri. Dia ternyata sedang memegang badiknya. Tapi saya langsung mengamankan badik tersebut. Saya lalu menyerahkan kepada kepala sekolah dan menyampaikan duduk permasalahannya. Beliau langsung memanggil orang tua dari siswa tersebut untuk penyelesaian masalah yang terjadi.
Alhamdulillah orang tua dan nenek Duri datang menemui Kepala Sekolah. Diselesaikanlah masalah ini secara kekeluargaan dengan siswa kelas 6. Kami menyampaikan bahwa tindak perundungan tidaklah dibenarkan. Kami juga menasehati agar saling memaafkan. Kami menyampaikan bahwa di lingkungan sekolah juga harus berperilaku seperti saudara. Kelas 6 harus memperlakukan anak kelas 4 seperti adiknya. Begitu juga sebaliknya. Mereka kelihatan sangat terharu. Mereka kembali menyadari bahwa kejahatan adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Duri pun kembali jadi anak yang baik dan tidak lagi merasa dendam kepada siswa lain yang ada di lingkungan SD Negeri mawas.
Kasus perundungan sering terjadi. Korban yang merasa dendam akan membalas dengan lebih buruk. Karena itu, guru harus mencegah agar hal itu tidak terjadi di sekolah
Usia saya sudah menginjak setengah abad. Perjalanan saya sebagai seorang guru sangat panjang dan penuh rintangan serta hikmah pelajaran. Awal masuk di UPT SPF SDN MAWAS, saya melaksanakan tugas mengajar di kelas 4. Di sini lingkungan masyarakatnya agak keras. Anak-anak terbiasa berteriak sampai adu mulut. Sering juga terjadi perkelahian walaupun hanya dipicu oleh hal yang tidak seberapa.
Suatu hari saya menemukan beberapa siswa berperilaku tidak biasa. Pelajaran hari itu terasa tidak kondusif karena siswa tampak gelisah. Mereka saling lirik dan berbisik satu sama lain. Mereka kelihatan ketakutan karena merasa seperti ada bahaya yang mengancam mereka. Saya kemudian menghentikan aktivitas pembelajaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Tidak ada satu pun yang mau menceritakan hal yang sebenarnya. Mereka benar-benar merasa terancam.
Saya lalu mendekati salah seorang anak dan mengajaknya berbicara empat mata. Setelah dirasa aman, anak tersebut akhirnya berkata jujur. Ia berbisik sambil melirik ke kanan dan ke kiri, takut ada yang mendengar. Ia mengatakan bahwa salah satu murid, sebut saja namanya Duri. Duri adalah teman sekelasnya yang sangat pendiam. Tetapi pada hari itu Duri tidak kelihatan di tempat duduknya, padahal teman-temannya tadi melihat Duri datang. Duri mulanya masuk di kelas dengan wajah penuh dendam. Teman-temannya mungkin juga ketakutan sehingga memilih menyingkir.
Duri mendekati bangkunya, lalu mengatakan pada teman sebangkunya. Hari itu ia berniat balas dendam pada seorang kakak kelas yang duduk di bangku kelas 6. Duri menyatakan alasannya, lantaran sering mendapat tindakan perundungan. Ia kerap diganggu sampai dipukul oleh kakak kelas tersebut. Duri lalu menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebelum ia membuka tas, ia menoleh kea rah sekeliling kelas untuk memastikan bahwa tidak ada satupun yang melihat tas tersebut kecuali mereka berdua. Duri juga meminta teman sebangkunya itu tidak menceritakan kepada siapapun. Ia pun menyanggupinya dengan menganggukkan kepala tanda setuju.
Perlahan Duri membuka tasnya. Si teman sebangkunya seketika kelihatan pucat, terperanjat, takut, dan menutup matanya lalu mundur. Duri lalu mengatakan bahwa dia akan menggunakan benda tersebut untuk membalaskan dendamnya. Sebilah badik tajam tampak mengintip dari balik tas. Benda itu tampak mengkilat mengerikan. Konon, Duri sudah mempersiapkan dari rumah beberapa hari sebelumnya. Melihat temannya ketakutan, Duri pun menutup Kembali tasnya lalu pergi entah kemana. Ia sempat mengatakan berencana akan menikam kakak kelas itu sepulang sekolah.
Mendengar cerita teman sebangku Duri, saya segera mencari Duri. Saya merasa sangat khawatir apabila ia telah melancarkan aksinya. Saya berkeliling dari satu kelas ke kelas yang lainnya. Tapi Duri tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Saya putar haluan di belakang sekolah. Tempat sepi yang biasa digunakan oleh anak-anak berkelahi. Saya akhirnya menemukan Duri. Dia ternyata sedang memegang badiknya. Tapi saya langsung mengamankan badik tersebut. Saya lalu menyerahkan kepada kepala sekolah dan menyampaikan duduk permasalahannya. Beliau langsung memanggil orang tua dari siswa tersebut untuk penyelesaian masalah yang terjadi.
Alhamdulillah orang tua dan nenek Duri datang menemui Kepala Sekolah. Diselesaikanlah masalah ini secara kekeluargaan dengan siswa kelas 6. Kami menyampaikan bahwa tindak perundungan tidaklah dibenarkan. Kami juga menasehati agar saling memaafkan. Kami menyampaikan bahwa di lingkungan sekolah juga harus berperilaku seperti saudara. Kelas 6 harus memperlakukan anak kelas 4 seperti adiknya. Begitu juga sebaliknya. Mereka kelihatan sangat terharu. Mereka kembali menyadari bahwa kejahatan adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Duri pun kembali jadi anak yang baik dan tidak lagi merasa dendam kepada siswa lain yang ada di lingkungan SD Negeri mawas.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Usia saya sudah menginjak setengah abad. Perjalanan saya sebagai seorang guru sangat panjang dan penuh rintangan serta hikmah pelajaran. Awal masuk di UPT SPF SDN MAWAS, saya melaksanakan tugas mengajar di kelas 4. Di sini lingkungan masyarakatnya agak keras. Anak-anak terbiasa berteriak sampai adu mulut. Sering juga terjadi perkelahian walaupun hanya dipicu oleh hal yang tidak seberapa.
Suatu hari saya menemukan beberapa siswa berperilaku tidak biasa. Pelajaran hari itu terasa tidak kondusif karena siswa tampak gelisah. Mereka saling lirik dan berbisik satu sama lain. Mereka kelihatan ketakutan karena merasa seperti ada bahaya yang mengancam mereka. Saya kemudian menghentikan aktivitas pembelajaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Tidak ada satu pun yang mau menceritakan hal yang sebenarnya. Mereka benar-benar merasa terancam.
Saya lalu mendekati salah seorang anak dan mengajaknya berbicara empat mata. Setelah dirasa aman, anak tersebut akhirnya berkata jujur. Ia berbisik sambil melirik ke kanan dan ke kiri, takut ada yang mendengar. Ia mengatakan bahwa salah satu murid, sebut saja namanya Duri. Duri adalah teman sekelasnya yang sangat pendiam. Tetapi pada hari itu Duri tidak kelihatan di tempat duduknya, padahal teman-temannya tadi melihat Duri datang. Duri mulanya masuk di kelas dengan wajah penuh dendam. Teman-temannya mungkin juga ketakutan sehingga memilih menyingkir.
Duri mendekati bangkunya, lalu mengatakan pada teman sebangkunya. Hari itu ia berniat balas dendam pada seorang kakak kelas yang duduk di bangku kelas 6. Duri menyatakan alasannya, lantaran sering mendapat tindakan perundungan. Ia kerap diganggu sampai dipukul oleh kakak kelas tersebut. Duri lalu menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebelum ia membuka tas, ia menoleh kea rah sekeliling kelas untuk memastikan bahwa tidak ada satupun yang melihat tas tersebut kecuali mereka berdua. Duri juga meminta teman sebangkunya itu tidak menceritakan kepada siapapun. Ia pun menyanggupinya dengan menganggukkan kepala tanda setuju.
Perlahan Duri membuka tasnya. Si teman sebangkunya seketika kelihatan pucat, terperanjat, takut, dan menutup matanya lalu mundur. Duri lalu mengatakan bahwa dia akan menggunakan benda tersebut untuk membalaskan dendamnya. Sebilah badik tajam tampak mengintip dari balik tas. Benda itu tampak mengkilat mengerikan. Konon, Duri sudah mempersiapkan dari rumah beberapa hari sebelumnya. Melihat temannya ketakutan, Duri pun menutup Kembali tasnya lalu pergi entah kemana. Ia sempat mengatakan berencana akan menikam kakak kelas itu sepulang sekolah.
Mendengar cerita teman sebangku Duri, saya segera mencari Duri. Saya merasa sangat khawatir apabila ia telah melancarkan aksinya. Saya berkeliling dari satu kelas ke kelas yang lainnya. Tapi Duri tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Saya putar haluan di belakang sekolah. Tempat sepi yang biasa digunakan oleh anak-anak berkelahi. Saya akhirnya menemukan Duri. Dia ternyata sedang memegang badiknya. Tapi saya langsung mengamankan badik tersebut. Saya lalu menyerahkan kepada kepala sekolah dan menyampaikan duduk permasalahannya. Beliau langsung memanggil orang tua dari siswa tersebut untuk penyelesaian masalah yang terjadi.
Alhamdulillah orang tua dan nenek Duri datang menemui Kepala Sekolah. Diselesaikanlah masalah ini secara kekeluargaan dengan siswa kelas 6. Kami menyampaikan bahwa tindak perundungan tidaklah dibenarkan. Kami juga menasehati agar saling memaafkan. Kami menyampaikan bahwa di lingkungan sekolah juga harus berperilaku seperti saudara. Kelas 6 harus memperlakukan anak kelas 4 seperti adiknya. Begitu juga sebaliknya. Mereka kelihatan sangat terharu. Mereka kembali menyadari bahwa kejahatan adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Duri pun kembali jadi anak yang baik dan tidak lagi merasa dendam kepada siswa lain yang ada di lingkungan SD Negeri mawas.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.