Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Meningkatkan partisipasi aktif pembelajaran kimia dengan menggunakan LKPD berbasis Model Pembelajaran Problem Based Learning di lingkungan Pesantren

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Meningkatkan partisipasi aktif pembelajaran kimia dengan menggunakan LKPD berbasis Model Pembelajaran Problem Based Learning di lingkungan Pesantren

Di sekolah yang saya ampu, merupakan lingkungan pesantren yang banyak berfokus pada kegiatan pendidikan karakter islam. Selain itu, peserta didik diberikan beban dan fokus untuk bisa menyelesaikan seluruh target capaian kurikulum Daarut Tauhiid baik dari hafalan qur’an, pembiasaan ibadah, penilaian karakter dan aqidah juga penilaian akademik. Lingkungan peserta didik merupakan pesantren, dimana ada keterbatasan seperti tidak menggunakan handphone, atau keterbatasan ruang dan waktu untuk bereksplorasi. Namun hal itu menjadi tantangan guru dalam merencanakan pembelajaran. Selain itu Daarut Tauhiid memiliki kurikulum tersendiri dalam membina dan menanamkan nilai-nilai Daarut Tauhiid, dimana setiap guru harus bisa menyisipkan nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran. Dalam konteks mata pelajaran, masih ada anggapan dari peserta didik bahwa kimia dianggap pelajaran yang sulit. Anggapan sulit tersebut dibuktikan dengan pendapat peserta didik bahwa pelajaran kimia itu terlalu banyak rumus, membosankan, dan tidak mudah menguasai pelajaran kimia. Pada kenyataannya dalam proses pembelajaran kimia yang guru ampu, selama ini masih didominasi oleh guru, yakni peserta didik mendapatkan pemahaman mengenai konsep kimia masih dari penjelasan guru (teacher centred). Ketidaktahuan peserta didik mengenai kegunaan kimia dalam kehidupan sehari-hari menjadi penyebab mereka cepat bosan dan tidak tertarik pada pelajaran kimia. Pelaksanaan pembelajaran kimia melibatkan proses sains dalam memperoleh suatu konsep. Inti dari pembelajaran kimia itu sendiri meliputi proses–proses sains yang dalam pembelajarannya memerlukan interaksi dengan obyek nyata serta interaksi dengan lingkungan belajarnya. Bagi saya menjadi tantangan dalam mencapai tujuan ini adalah diantaranya ;

  1. Pemahaman konsep peserta didik pada tahap sebelumnya. Karena sebelum memahami sistem periodik unsur, peserta didik harus memahami konsep atom. Sedangkan pada materi sebelumnya peserta didik tidak mendapatkan materi atom secara utuh dalam kurikulum merdeka. Guru harus melakukan pembelajaran secara kontekstual agar peserta didik dapat lebih mudah dalam menangkap konsep di mata pelajaran kimia.
  2. Guru terbiasa dengan pembelajaran teacher centred (berpusat pada guru).
  3. Waktu terbatas bagi peserta didik untuk literasi di perpustakaan atau melalui laptop karena peraturan boarding.

Dalam melakukan pembelajaran pun saya melibatkan guru sejawat sebagai observer dan peserta didik kelas X-2 di tahun ajaran 2022-2023.

Di Proses aksi yang akan dilakukan, guru melakukan persiapan seperti mencari literatur pendukung dan berdiskusi bersama beberapa rekan guru. Berdasarkan tantangan yang sudah dituangkan dalam poin sebelumnya, maka berikut beberapa aksi yang guru lakukan;

  1. Menjawab tantangan nomor satu, mengenai bagaimana kimia secara konsep merasa dekat dengan keseharian kita (menjadi kontekstual) adalah dengan guru melalukan analogi dan pertanyaan pemantik mengenai supermarket. “Apakah kalian sering ke supermarket? Bagaimana kondisi di supermarket? Bagaimana barang-barang yang ada di supermarket disusun? Apakah susunan barang-barang di supermarket disusun secara sembarang?
    Yang kemudian dari pertanyaan tersebut, guru coba menganalogikan dengan sistem periodik unsur yang berada di mata pelajaran kimia. Dimana setiap Unsur dalam Sistem Periodik Unsur disusun berdasarkan kesamaan sifat, kecenderungan wujud dan kereaktifannya. Layaknya barang atau makanan di supermarket disusun juga berdasarkan kesamaan fungsi, dan bentuknya.

 

  1. Dalam menjawab tantangan nomor dua dan tiga pada poin tantangan, guru mencari literatur, merefleksikan dan berdiskusi dengan guru lainnya. Agar peserta didik ikut terlibat aktif serta dapat memperoleh pengetahuannya secara mandiri, maka dibutuhkan bantuan sumber–sumber belajar yang dapat meminimalkan peran guru namun lebih mengaktifkan peserta didik. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembar–lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk–petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai, sehingga dalam pembelajarannya, peserta didik mendapatkan pengetahuan dengan melakukan kegiatan sesuai petunjuk LKPD, bukan dari penjelasan guru.

 

Guru menyimpulkan bahwa untuk mengatasi pembelajaran teacher centred dan kurangnya waktu literasi di sekolah boarding maka guru membuat modul ajar atau LKPD berbasis masalah (Problem Based Learning). LKPD disusun berdasarkan sintaks yang ada dalam proses pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Guru berharap dengan adanya LKPD yang sesuai sintaks Problem Based Learning menjadi solusi dari beberapa tantangan nomor dua dan tiga yang sudah dituliskan pada poin sebelumnya. Dalam melakukan aksi yang akan dilakukan, guru melakukan persiapan seperti mencari literatur pendukung dan berdiskusi bersama beberapa rekan guru. Berdasarkan tantangan yang sudah dituangkan dalam poin sebelumnya, maka berikut beberapa aksi yang guru lakukan;

  1. Menjawab tantangan nomor satu, mengenai bagaimana kimia secara konsep merasa dekat dengan keseharian kita (menjadi kontekstual) adalah dengan guru melalukan analogi dan pertanyaan pemantik mengenai supermarket. “Apakah kalian sering ke supermarket? Bagaimana kondisi di supermarket? Bagaimana barang-barang yang ada di supermarket disusun? Apakah susunan barang-barang di supermarket disusun secara sembarang?
    Yang kemudian dari pertanyaan tersebut, guru coba menganalogikan dengan sistem periodik unsur yang berada di mata pelajaran kimia. Dimana setiap Unsur dalam Sistem Periodik Unsur disusun berdasarkan kesamaan sifat, kecenderungan wujud dan kereaktifannya. Layaknya barang atau makanan di supermarket disusun juga berdasarkan kesamaan fungsi, dan bentuknya.

 

  1. Menjawab tantangan nomor dua dan tiga pada poin tantangan, guru mencari literatur, merefleksikan dan berdiskusi dengan guru lainnya. Agar peserta didik ikut terlibat aktif serta dapat memperoleh pengetahuannya secara mandiri, maka dibutuhkan bantuan sumber–sumber belajar yang dapat meminimalkan peran guru namun lebih mengaktifkan peserta didik. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembar–lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk–petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai, sehingga dalam pembelajarannya, peserta didik mendapatkan pengetahuan dengan melakukan kegiatan sesuai petunjuk LKPD, bukan dari penjelasan guru.

 

Guru menyimpulkan bahwa untuk mengatasi pembelajaran teacher centred dan kurangnya waktu literasi di sekolah boarding maka guru membuat modul ajar atau LKPD berbasis masalah (Problem Based Learning). LKPD disusun berdasarkan sintaks yang ada dalam proses pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Guru berharap dengan adanya LKPD yang sesuai sintaks Problem Based Learning menjadi solusi dari beberapa tantangan nomor dua dan tiga yang sudah dituliskan pada poin sebelumnya.

LKPD sudah terdapat pertanyaan pemantik dan bagian awal yang harus di literasi. Kemudian langkah demi langkah dalam LKPD mengikuti sintaks Problem Based Learning, dari Overview hingga Reporting. Yang dirasakan oleh guru, LKPD yang berbasis Problem Based Learning ini, sangat membantu guru dalam aktifitas peserta didik dalam pembelajaran. Selain itu, dengan adanya LKPD tersebut meningkatkan daya semangat peserta didik dalam berliterasi ketika pembelajaran.

Kontekstual dalam pembelajaran kimia dengan materi Sistem Periodik Unsur kali ini, bisa ditangkap oleh peserta didik. Analogi materi pembelajaran Sistem periodik unsur dan susunan di supermarket cukup memahamkan siswa bagaimana sesuatu itu lebih baik dibuat secara teratur dan sistematis. Dalam hal ini, guru memang ingin memberikan pemahaman bahwa pembelajaran tidak selalu dengan buku paket, atau hal lain yang terikat dengan teks. Akan tetapi kimia merupakan mata pelajaran yang sangat dekat dan berada di kehidupan sehari-hari. Selain itu, ketika bagian refleksi guru memancing peserta didik untuk mengungkapkan yang dirasakan dan apakah ada hubungan materi yang disampaikan dengan konsep ketuhanan (ketauhiid-an). Maka setelah semua peserta didik mengemukakan pendapatnya, guru memberikan penguatan bahwa “Semua yang ada di alam raya ini adalah bukti ketersusunan dan keteraturan yang Tuhan (Allah SWT) berikan. Bagaimana setiap planet akan berputar pada porosnya, apabila Tuhan tidak menghendaki ? Apa yang terjadi jika Tuhan tidak mengatur sebuah ketersusunan dan keteraturan?”. Keaktifan peserta didik sangat terlihat dalam proses pembelajaran dengan adanya pertanyaan pemantik dan stimulus lainnya, kunci dari pembelajaran aktif adalah guru jangan mudah menjawab setiap pertanyaan yang muncul dari peserta didik tapi diarahkan agar peserta didik dapat menjawab dan menyimpulkan sendiri yang kemudian oleh guru sendiri diluruskan apabila ada yang kurang tepat.

Berdasarkan refleksi pembelajaran yang dilakukan di akhir pembelajaran, mayoritas peserta didik sangat senang dengan adanya proses pembelajaran yang telah dilakukan dan beberapa bisa mengaitkan materi yang disampaikan dengan nilai-nilai Ketauhiid-an (Ketuhanan).

Dampak dari aksi dari langkah-langkah yang telah dilakukan cukup efektif. Dikatakan efektif karena berdasarkan pembelajaran, hasil post-test cukup signifikan dibandingkan dengan hasil pre-test. Nilai post-test (seluruhnya diatas kriteria ketuntasan) cukup signifikan jika dibandingkan dengan pre-test (12 peserta didik diatas kriteria ketuntasan), saat post-test semua memenuhi nilai kriteria. Dapat disimpulkan pembelajaran artinya cukup dipahami oleh peserta didik secara pemahaman atau pengetahuan. Berdasarkan penilaian guru (rekan sejawat dan wakil kepala sekolah bagian kurikulum) menilai pembelajaran LKPD berbasis Problem Based Learning cukup bisa memberikan pengalaman secara keaktifan pembelajaran. Hanya catatan diantaranya adalah perlu ditinjau ulang mengenai materi sistem periodik unsur apakah perlu dijelaskan di tahap fase E atau tidak dan materi perlu diperkuat dalam urutan perkembangan sistem periodik unsur.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.