Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

GELAR KARYA MERDEKA BELAJAR SMA NASIONAL MAROS (GARDA SMANAS)

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

  1. GELAR KARYA MERDEKA BELAJAR SMA NASIONAL MAROS

(GARDA SMANAS)

AWAL

Saya guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Nasional Maros. Selain sebagai guru mata pelajaran, saya juga mendapat kepercayaan sebagai Pembina OSIS. Sebagai seorang guru, saya memiliki banyak harapan untuk mengembangkan potensi dalam diri para murid di sekolah. Namun sayangnya, harapan itu berbanding terbalik dengan kondisi murid yang memiliki semangat belajar yang terbilang sangat rendah. Mereka lebih cenderung bermain hp. Ada yang bermain game, tiktok, bahkan ada juga murid yang melakukan live IG. Hal ini membuat saya merasa gagal sebagai seorang guru. Banyak hal yang rasanya sudah saya lakukan namun ternyata belum memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan.  Saya menyadari bahwa saya perlu menerapkan beberapa proses pembelajaran yang menyenangkan untuk para murid, sayapun menyadari bahwa dalam prosesnya ternyata belum maksimal, dan masih banyak kekurangan sehingga saya membangun kolaborasi bersama rekan sejawat untuk membuat suatu program dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan bakat dan minat murid. Setelah beberapa kali melakukan diskusi, akhirnya kami sepakat untuk membuat Program Gelar Karya Merdeka Belajar SMA Nasional Maros, yang sekarang kami sebut sebagai GARDA SMANAS.

TANTANGAN

Banyak tantangan yang saya temui dalam proses persiapan pelaksanaan program GARDA SMANAS ini. Salah satunya adalah beberapa rekan sejawat termasuk kepala sekolah merasa ragu terkait respon murid pada program ini, Mereka berpikir, apakah murid-murid bisa menunjukkan bakat mereka mengingat selama ini dalam proses pembelajaran mereka biasa-biasa saja. Tidak ada hal menarik dari mereka. Tantangan lainnya adalah masih kurangnya dukungan dari orang tua murid, mereka merasa kegiatan semacam ini tidak penting, sehingga tidak ada untungnya melibatkan anak-anak mereka. Dari semua tantangan tersebut, persoalan dana lah yang menjadi momok utama yang membuat warga sekolah ragu, mereka berpikir bahwa acara seperti ini biasanya membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga sulit untuk mewujudkan program GARDA SMANAS ini. Berdasarkan tantangan-tantangan tersebut. saya harus mengkaji ulang program, kemudian memberikan penjelasan terkait tujuan utama dari program GARDA SMANAS ini adalah untuk menumbuhkembangkan rasa percaya diri pada murid. Artinya bahwa, program ini tidak menuntut  hasil sempurna. Intinya para murid mau berproses. Dan ini yang akan menjadi PR saya, bagaimana cara saya mengajak dan melibatkan murid  untuk mewujudkan program GARDA SMANAS ini tanpa adanya paksaan. Sebagai jawaban dari semua tantangan, saya mulai merangkul para murid, saya mendekati mereka, dan menyampaikan tujuan dari program ini serta meyakinkan mereka bahwa ini tidak menjadi sebuah kewajiban, mereka punya hak untuk bersuara jika ada hal yang tidak sejalan dengan harapan mereka, merekalah pemilik program ini, sehingga mereka berhak mengelola setiap agenda yang akan dilakukan dalam program ini. Beberapa murid mulai bergerak, mereka meminta arahan terkait karya yang akan ditampilkan, mereka mulai berlatih dengan memanfaatkan jam istirahat. Yang awalnya hanya puisi dan tari padduppa, akhirnya dari hari ke hari, satu persatu murid mulai mengajukan diri untuk nyanyi solo, berpantun, kultum, dan tari kreasi. Ada juga murid yang meminta untuk dilibatkan dalam persiapan acara seperti MC, dokumentasi, dekorasi panggung, dan konsumsi. Secara teori, semuanya tampak sudah matang, namun dalam proses latihan benar-benar kacau, H-3 mereka belum menguasai gerak tari dan belum hafal lirik lagu, padahal mereka sendiri yang memilihnya. Saya merasa jengkel dan sangat kecewa, saya sempat berpikir untuk membatalkan program ini. Namun mengingat apa yang menjadi harapan saya, saya kembali memberi kesempatan pada mereka, dengan perasaan “oke apapun hasilnya, saya pasrah. Setidaknya saya sudah berusaha semaksimal mungkin”.

AKSI

Untuk mewujudkan program GARDA SMANAS ini, saya merangkul dan mengajak seluruh warga sekolah untuk berdiskusi, saling berbagi ide, dan berkolaborasi, meski tidak mudah namun dengan semangat kerja yang saya perlihatkan secara langsung, mereka dengan sukarela turut bergabung dan melibatkan diri dalam menyukseskan program ini. Tantangan demi tantangan terjawab melalui diskusi tentang pengelolaan dan pemanfaatan aset sekolah. Keraguan demi keraguan dari warga sekolah mulai berkurang berganti dengan semangat dan optimis. Saya dan rekan sejawat berkolaborasi serta bekerjasama dengan sangat baik, kami berbagi tugas untuk membina, melatih dan mendampingi para murid dalam proses persiapan gelar karya sehingga para murid lebih terarah dan merasa lebih diperhatikan. Selanjutnya, saya menghubungi para orang tua murid baik melalui telpon, chat, ataupun bertemu langsung dengan tujuan untuk meminta izin pada mereka agar kiranya anak-anak mereka diberi kesempatan untuk mengikuti proses latihan yang kadang kami lakukan sampai sore hari, dan untuk meningkatkan dukungan dari para orang tua, kami mengundang mereka untuk hadir dalam kegiatan gelar karya tersebut sesuai dengan undangan yang telah panitia buat.

H-2, saya, panitia, dan seluruh warga sekolah bergotong royong memasang tenda dari bambu untuk mengefisiensikan penggunaan anggaran, aula sekolah kami jadikan panggung untuk gelar karya para murid sehingga kami tidak perlu mengeluarkan biaya sewa, kami menghiasnya menggunakan kain dari alumni yang memiliki usaha dibidang dekorasi pernikahan, lagi-lagi pemanfaatan aset yang tepat, karena alumni meminjamkannya secara cuma-cuma. Untuk musik, kami memanfaatkan sound sistem  sekolah yang meski ukurannya terbilang  kecil tapi cukup untuk mengenalkan GARDA SMANAS di lingkungan sekolah dan warga setempat. Kursi tamu dan penonton kami manfaatkan bangku yang ada di kelas, disesuaikan dengan jumlah tamu undangan dan perkiraan penonton yang datang menyaksikan.

PELAJARAN

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, GARDA SMANAS akhirnya menunjukkan aksinya. Hal yang sangat mendebarkan bagi saya karena ini adalah jawaban dari segala usaha dan kerjasama seluruh warga sekolah. Satu persatu murid tampil mempersembahkan hasil karyanya. Sebagai pembuka acara ada murid yang melakukan aksi “A’ngaru”, yang lanjutkan dengan tari padduppa untuk menyambut seluruh tamu yang sempat hadir. Kemudian MC mengambil alih acara agar lebih terarah, para murid mulai menunjukkan penampilannya, termasuk beberapa guru dan staff berkolaborasi mempersembahkan senam profil pelajar pancasila sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras para murid selama ini. Tepuk tangan gemuruh dari para tamu undangan riuh memberi semangat untuk semua yang terlibat. Bahkan, ketua yayasan kamipun secara bisik-bisik kepada MC memberi kejutan dengan mempersembahkan sebuah puisi ciptaannya sendiri yang digaungkan di atas pentas. Sangat luar biasa suasana yang diciptakan pada program GARDA SMANAS ini. Setelah rangkaian acara selesai, seluruh warga sekolah dan para tamu undangan (orang tua murid) melakukan sesi foto bersama sebagai dokumentasi atas terlaksananya program ini melebihi ekspektasi awal saya. Acara berakhir dan alhamdulillah mendapat respon yang baik dari pihak sekolah, terutama kepala sekolah yang mengizinkan program ini menjadi agenda semester genap sebagai kegiatan ko-kurikuler sekolah. Tentu saja ini menjadi angin segar bagi kami semua, atas segala usaha dan perjuangan selama kurun waktu 10 hari untuk mempersiapkan pelaksanaan program ini. Artinya bahwa pada semester genap berikutnya, saya sudah harus lebih siap lagi dalam mematangkan konsep, merangkul semua warga sekolah untuk bekerja sama, dan terus menuntun para murid agar mereka selalu bersemangat dalam mengembangkan bakat dan minatnya dalam berbagai kesempatan yang ada di sekolah, dengan harapan agar dalam lingkungan bermasyarakat mereka lebih percaya diri lagi. Melalui program ini, saya mendapat pembelajaran bahwa untuk menumbuhkembangkan potensi dalam diri murid, banyak cara yang  bisa dilakukan, salah satunya adalah melalui kegiatan atau program yang sesuai dengan bakat dan minat para murid. Dalam prosesnya, para murid belajar tentang tanggung jawab, gotong royong, bekerjasama, menyuarakan pendapat,serta belajar untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

“Ayo bergerak secara inovatif untuk mewujudkan kepemimpinan murid yang lebih berkarakter”

Maros, 27 Juli 2023

Penulis

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.