Oleh: Rizki Dwi Heryadi
Pada era global seperti sekarang ini, lahir dan berkembang variasi pekerjaan dan profesi yang banyak sekali jumlahnya. Bahkan, banyak dari profesi ataupun pekerjaan tersebut yang belum terakomodir oleh dunia pendidikan (belum terdapat jurusan maupun mapel keahliannya) namun memiliki peluang dan minat yang cukup banyak. Misalnya, konsultan media sosial, konten creator dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, ketatnya persaingan di dunia usaha dan di dunia kerja mengharuskan para murid memiliki skill dan pengalaman yang mumpuni agar dapat bersaing dan bertahan hidup di masyarakat.
Di sekolah tempat saya mengajar yaitu SMKN 2 Pacet, mayoritas masyarakatnya adalah buruh tani yang hidup dengan tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah. Keadaan demikian membuat para murid enggan untuk melanjutkan profesi sebagai buruh tani dan lebih memilih untuk melakukan pekerjaan lain yang dianggap dapat memberikan perubahan terhadap tingkat ekonomi keluarga. Namun demikian, banyak dari para murid yang berakhir kembali menjadi buruh tani karena ketika lulus tidak memiliki kompetensi yang cukup sesuai dengan keperluan dunia industri dan dunia usaha. Bahkan, banyak pula yang berakhir menjadi pengangguran karena enggan bekerja menjadi buruh tani dan tidak memiliki cukup wawasan terkait jenis pekerjaan/profesi/usaha yang cocok dengan bakat/minat/kemampuan mereka yang dapat mereka lakukan setelah lulus sekolah.
Dipercaya sebagai perencana P5 di sekolah, saya tergerak untuk setidaknya mengurangi masalah diatas. Kemudian saya bekerja sama dengan semua guru dibawah binaan kepala sekolah. Saya berkoordinasi dengan guru PKK, P5, BKK sekolah dan DUDI untuk menganalisis dan mencari tahu terkait ragam profesi/pekerjaan/jenis usaha yang marak pada saat ini termasuk mempelajari pula untuk memproyeksikan kemungkinan pekerjaan/profesi/usaha yang mungkin potensial dimasa depan. Saya sangat bersyukur karena dukungan dari pihak sekolah yaitu Kepala Sekolah dan para guru yang sangat positif ditambah mitra dari DUDI yang berkenan untuk membantu saya dalam melakukan riset.
Tantangan yang saya hadapi kala itu yaitu, mengenai cara untuk memfasilitasi para murid dalam mengembangkan bakat/minat/dan kemampuannya dengan dana yang minim. Selain itu saya juga merasa agak kesulitan mensingkronkan pelaksanaan kegiatan dengan pembelajaran apalagi bagi kelas XI dan XII yang belum kurmer karena tidak terdapat mata pelajaran P5 pada struktur kurikulumnya. Kemudian bentuk kegiatan apa yang paling tepat dalam mengembangkan bakat, minat dan kemampuan murid sehingga para murid dapat memiliki kemampuan untuk memilih pekerjaan/profesi/usaha yang tepat menurut mereka pribadi agar kelak ketika lulus para murid tidak menganggur dan dapat memperbaiki taraf kehidupan keluarganya.
Akhirnya saya mencoba mengemas kegiatan dengan konsep simulasi kerja. Kegiatan simulasi kerja/profesi ini merupakan wadah bagi para murid dalam mempromosikan dan mengembangkan bakat minat serta kemampuannya dalam berbagai bidang. Selain sebagai upaya dalam mengenalkan berbagai jenis pekerjaan dan profesi kepada murid kegiatan ini pula bertujuan untuk membekali para murid dengan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja/industri maupun dunia usaha. kegiatan ini tidak terbatas pada pengenalan dan pembekalan yang berkaitan dengan pekerjaan di industri dan usaha saja namun termasuk berbagai profesi pada bidang seni seperti pelukis, seniman kriya, penari, penyanyi dll. dipayungi mapel P5 dengan tema kebekerjaan (untuk kelas X dengan kurmer) dan PKK (untuk kelas XI, XII untuk k13) di mana selama kurang lebih satu bulan para murid akan diberikan informasi dan diberikan kesempatan untuk memilih ragam profesi/pekerjaan/usaha yang menarik perhatian para murid. Selanjutnya pada akhir rangkaian pembelajaran diadakan sebuah festival dimana para murid pada hari festival berperan dan menjalankan profesi/pekerjaan/usaha yang diminatinya selama 3 hari. Selama 3 hari tersebut para murid diberikan kesempatan untuk menunjukan kompetensi mereka dengan berbagai cara sesuai dengan profesi/pekerjaan/usaha yang dipilihnya entah mengurus keamanan bagi para murid yang ingin menjadi apparat keamanan, berperan sebagai waitress/waiter dan koki bahkan berperan sebagai manager sebuah restoran dengan membuka café yang dapat dikunjungi para murid maupun pengunjung festival dari luar sekolah. Menjalankan sebuah mini bioskop dimana para murid berperan sebagai staff/pekerja bioskop, sebagai teknisi dll. Memajang hasil karya di galeri yang disediakan oleh sekolah, menyanyi, menari atau bahkan membuka lapak dan berjualan atau membuka jaringan suplai produk sendiri yang di salurkan ke berbagai kelas yang dibutuhkan.
Selain anemo yang positif dari para murid yang meminta untuk melaksanakan kembali program simulasi pada kesempatan berikutnya. Cukup banyak perubahan yang terjadi setelah dilaksanakannya proses simulasi kerja/profesi ini. Jika pada awalnya para murid kurang semangat dengan pembelajaran dengan metode yang biasa maka, selama melaksanakan pembelajaran melalui simulasi ini para murid menunjukan semangat, antusiasme dan tanggung jawab serta etos kerja yang tinggi dalam melaksanakan pembelajaran. Kemudian hasil dari pelaksanaan simulasi ini para murid menjadi lebih memahami ragam profesi/pekerjaan/usaha yang mungkin dapat mereka pilih di masa depan ketika telah lulus sekolah kelak. Tidak hanya itu, setelah melaksanakan pembelajaran tersebut kreatifitas, kemampuan berfikir kritis, dan gotong royong para murid juga semakin meningkat. Selain itu tidak jarang para murid terus menekuni peran yang dipilihnya selama bersekolah entah dengan tetap berjualan disekolah ataupun melakukan bisnis dan magang di luar sekolah serta mempelajari dan mendalami dan mengasah lebih jauh bakat dan minat sesuai kebutuhan dan pilihannya.