Bupati Lembata Siap Hadiri Temu Pendidik Nusantara XII, Komitmen Majukan Kualitas Guru

Pertemuan antara Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Lembata dan Bupati Lembata, P. Kanisius Tuak, S.P., pada Selasa(27/05) di Ruang Kerja Bupati membuahkan hasil positif. Dalam pertemuan tersebut, Bupati menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) di Lembata. Dalam pernyataannya, Bupati Kanisius Tuak menyampaikan komitmennya untuk hadir langsung dalam kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Juni 2025 di Aula St. Don Bosco Lewoleba. “Saya siap hadir di TPN untuk bertemu dengan semua guru Kabupaten Lembata. Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk merefleksikan arah pendidikan, bukan hanya secara akademik, tetapi juga dalam kepedulian terhadap lingkungan, kemanusiaan, dan masa depan bumi,” ujar Kanisius. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Lembata, Wenseslaus Ose, S.Sos., M.AP, yang menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif IGI. Ia juga menyatakan kesiapan pihak dinas untuk mendukung logistik acara, termasuk penyediaan konsumsi berbasis pangan lokal, sejalan dengan visi misi Bupati terkait kekuatan pangan lokal dan pendidikan iklim. “Kami bersyukur dengan kegiatan ini. Ini merupakan lonjakan besar dalam pengembangan guru. Kami berharap hasil dari kegiatan ini bisa diimplementasikan di sekolah masing-masing,” ungkap Wens, sapaan akrab Kadisdik Kabupaten Lembata itu. Sementara itu, Ketua IGI Kabupaten Lembata, Feldin Rano Kelen, S.Pd, menjelaskan bahwa TPN XII di Kabupaten Lembata akan menghadirkan berbagai ragam kegiatan belajar yakni kelas pendidik, kelas pemimpin, talkshow pendidikan, pameran karya, hingga simulasi Cerdas Cermat Guru. “Akan ada guru-guru berbagi praktik baik. Guru belajar dari guru. Guru belajar dari murid di pameran karya. Untuk yang terpilih menjadi narasumber di kelas pendidik dan kelas pemimpin, mereka juga memiliki kesempatan untuk menjadi narasumber Puncak TPN XII di Jakarta bukan Oktober,” jelas Feldin. Pendidik yang ingin menjadi narasumber di TPN XII harus menyelesaikan Misi Belajar. Dalam misi tersebut, pendidik ditantang untuk berbagi praktik baik sesuai dengan konteks yang ada. Lebih lanjut, Feldin menyatakan harapannya agar TPN menjadi momentum penting bagi guru-guru untuk meningkatkan wawasan dan profesionalisme. “Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga kontribusi nyata bagi dunia pendidikan Indonesia,” tutupnya. Penulis: Maria Imaculata / Ikatan Guru Indonesia Kabupaten LembataEditor: Yosinta Maharani Here / Guru Belajar Foundation
Wakil Bupati Bantaeng Memberi Dukungan Penuh pada TPN XII Bantaeng

Wakil Bupati Bantaeng, Drs. H. Sahabuddin, menyatakan dukungan penuhnya terhadap pelaksanaan Temu Pendidik Nusantara XII (TPN XII) yang diselenggarakan oleh Guru Belajar Foundation dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Bantaeng. Drs. H. Sahabuddin menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang berpihak pada murid. Hal ini disampaikan saat KGBN Kabupaten Bantaeng menemuinya untuk audiensi pada Selasa (20/05). “Saya berharap kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan sukses memberikan kontribusi yang besar untuk peningkatan kompetensi para guru di Kabupaten Bantaeng,” katanya. Dia juga berharap praktik baik dan inspirasi dari TPN XII di Kabupaten Bantaeng dapat membersamai guru untuk bertumbuh agar dapat mendidik sesuai dengan perkembangan zaman. “Kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi guru seperti ini terus diperkuat. Bersama-sama, kita bisa menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih adil, inklusif, dan berpihak pada tumbuh kembang anak-anak di Kabupaten Bantaeng,” lanjutnya. Kegiatan yang akan berlangsung di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Bantaeng pada Senin (16/06) dan Selasa (17/06) ini mengangkat tema Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim. TPN XII di Kabupaten Bantaeng terbuka seluruh pendidik dari berbagai jenjang yang ingin belajar bersama. Peserta TPN XII di Kabupaten Bantaeng akan dapat mengikuti beragam aktivitas pembelajaran, diantaranya kelas pendidik, kelas pemimpin, talkshow pendidikan, Cerdas Cermat Guru, pameran karya, dan Pasar Solusi Pendidikan. Di kelas pendidik dan pemimpin, narasumbernya akan dikurasi melalui Misi Belajar. Misi Belajar adalah wadah bagi para pendidik untuk berbagi kisah inspiratif tentang pengalaman, tantangan, dan keberhasilan mereka dalam menciptakan perubahan di kelas, sekolah, atau komunitas. Selain mendapat kesempatan menjadi narasumber di TPN XII di Kabupaten Bantaeng, pendidik yang ikut Misi Belajar juga berkesempatan tampil di Puncak TPN XII di Jakarta serta mendapat penghargaan bulan Oktober mendatang. “Saya yakin setiap guru punya praktik baik yang menginspirasi dan perlu dibagikan. Dengan ikut Misi Belajar, kita menjadi teman belajar untuk sesama guru,” kata Rifal selaku Koordinator Daerah TPN XII Kabupaten Bantaeng “Dari saling berbagi inilah tumbuh kekuatan kolektif. Kita belajar bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar—cukup dari keberanian satu guru yang mencoba, merefleksi, dan mengajak yang lain bergerak bersama,” lanjut Rifal. Beberapa topik Misi Belajar yakni bagaimana mengatasi murid yang kurang disiplin, mengatasi kelas dengan kemampuan murid yang beragam, cara menggerakkan sesama guru untuk mau berkolaborasi demi pembelajaran bermakna, dan masih banyak lainnya. Perlu diketahui, TPN XII juga akan berlangsung di 44 daerah lainnya sepanjang bulan Juni-Juli. Dari pembukaan hingga puncaknya di bulan Oktober, TPN XII diperkirakan akan diikuti oleh 10.000 pendidik. Penulis: Komunitas Guru Belajar Nusantara Kabupaten BantaengEditor: Yosinta/Guru Belajar Fountaion
Kami Tidak Menunggu Superman, Kami Menunggu Guru Belajar

Dulu kami kira masalah terbesar dalam pendidikan adalah rendahnya kompetensi guru. Tapi makin lama berkawan dengan guru-guru dari seluruh penjuru Indonesia, kami menemukan bahwa masalah utamanya bukan pada kurangnya keterampilan—melainkan pada rasa tidak berdaya. Guru yang merasa tak punya kuasa. Tak berani bersuara. Tak yakin punya ruang untuk belajar. Mereka bukan tidak mampu, tapi terlalu sering disuruh. Disuruh ikut pelatihan ini, wajib ambil program itu, dikirimi modul dari atas sana yang katanya sudah pasti benar. Top-down dan serba seragam, seakan guru hanya pelaksana, bukan perancang. Seakan pembelajaran itu urusan atasan, bukan bagian dari identitas guru itu sendiri. Di titik itulah kami sadar: perubahan tidak akan datang dari satu dua pahlawan pendidikan bersayap. Perubahan datang ketika guru-guru biasa mulai percaya bahwa mereka bisa belajar, dan belajar bisa mengubah segalanya. Dan karena itu, kami tidak menunggu Superman. Kami menunggu Guru Belajar. Guru Belajar bukan gelar, bukan juga jabatan. Guru Belajar adalah mereka yang terus mengasah rasa ingin tahu meski jadwal padat, yang membuka ruang belajar baru meski tak ada perintah. Mereka yang rela saling berbagi praktik baik meski tidak dapat insentif, yang mencoba hal baru di kelas walau belum tentu berhasil. Mereka tidak mengenakan jubah, tapi mereka menolong murid memahami dunia. Mereka tidak punya laser dari mata, tapi mereka menembus batasan dengan kolaborasi. Mereka tidak terbang, tapi mereka mengangkat harapan—harapan bahwa pendidikan bisa manusiawi dan bermakna. Gerakan Temu Pendidik Nusantara membuktikan ini. Dimulai dari satu pertemuan kecil, kini menyebar ke lebih dari 82 daerah. Bukan karena mandat dari atas, tapi karena guru saling mengundang. Bukan karena anggaran besar, tapi karena semangat yang menular. Para guru belajar dari guru lain, bukan dari modul yang dipaksakan. Mereka membangun komunitas belajar, bukan hierarki baru. Mereka menemukan bahwa perubahan tidak harus heroik, cukup konsisten, sederhana, dan dilakukan bersamaBaru – Naskah Pidato UN…. Kami belajar tiga hal dari para Guru Belajar. Pertama, guru butuh kemerdekaan belajar. Bukan kebebasan tanpa arah, tapi ruang untuk memilih jalur belajar yang sesuai konteks mereka. Saat guru mengatur sendiri langkah belajarnya, rasa memiliki tumbuh, motivasi pun menyala. Kedua, guru tak bisa belajar sendirian. Komunitas adalah ekosistem tumbuh yang menjaga semangat tetap hidup. Bukan sekadar kumpul, tapi saling berbagi, saling menguatkan, dan saling mengingatkan: bahwa kita tak sendiri dalam upaya ini. Ketiga, inovasi tidak datang dari poster besar atau jargon baru. Ia tumbuh perlahan dari praktik sederhana yang dibagikan secara sukarela. Inilah bentuk transformasi yang sesungguhnya—pelan tapi mengakar, kolaboratif dan kontekstual. Kami tidak anti kebijakan. Tapi kami tahu, kebijakan terbaik pun akan gagal bila guru tidak dilibatkan. Kami percaya, peran pemerintah adalah menciptakan ruang aman untuk guru belajar. Peran lembaga adalah merancang sistem yang mendukung inisiatif lokal, bukan menindihnya. Dan peran kita semua? Menjaga semangat itu tetap menyala. Mengakui bahwa pendidikan bukan proyek cepat saji, tapi perjalanan panjang membangun manusia. Maka jika Anda bertanya, “Apa strategi terbaik memperbaiki kualitas pendidikan kita?” Jawaban kami: Berikan ruang belajar untuk guru. Kalau Anda bertanya, “Siapa yang harus memimpin perubahan pendidikan?” Jawaban kami: Guru itu sendiri. Dan kalau Anda bertanya, “Apa yang kami tunggu?” Jawaban kami: Kami tidak menunggu Superman. Kami menunggu Guru Belajar. Kami menunggu Anda semua, kami menunggu Guru Belajar untuk hadir pada Temu Pendidik Nusantara. Terima kasih sudah menyimak. Saya Bukik Setiawan, teman Guru Belajar. Mari terus belajar bersama—karena masa depan pendidikan tak datang dari langit, tapi tumbuh dari ruang kelas kita sendiri.

