Anda bisa mengerjakan lebih dari 1 Misi Belajar.
Segera kerjakan misi belajar untuk menjadi pembicara.
Pengumuman pembicara akan dilakukan secara berkala sejak September-Oktober 2026.
Batas akhir untuk mengerjakan misi belajar adalah:
30 September 2026
Pak Ardi adalah guru yang gemar bereksperimen di kelasnya. Ia merasa murid sering bisa menjawab, tetapi belum tentu benar-benar berpikir. Dari kegelisahan itu, ia mulai mencoba inquiry-based learning dengan fokus pada strategi bertanya.
Awalnya tidak berjalan mulus. Pertanyaannya kadang terlalu sulit atau tidak memantik diskusi. Namun, ia tidak berhenti. Ia mencatat, merefleksikan, memperbaiki pertanyaan-pertanyaannya, lalu mencoba lagi di kelas berikutnya.
Perlahan, kelasnya berubah. Murid mulai lebih aktif berpikir dan berdiskusi. Perubahan itu membuatnya semakin yakin dan mendorongnya untuk mulai berbagi dengan guru lain.
Suatu hari, Pak Ardi berbagi praktiknya di komunitas guru. Ia menceritakan bagaimana menyusun pertanyaan pemantik, pertanyaan pendalaman, sampai pertanyaan yang mendorong refleksi. Ia juga bercerita bagaimana menggali pertanyaan murid agar berpikir lebih mendalam serta strategi membangun kebiasaan murid untuk bertanya. Tentu saja, ia juga terbuka tentang apa yang berhasil dan apa yang belum. Ternyata, banyak guru merasa terhubung.
Sejak itu, ia mulai diundang ke berbagai forum untuk berbagi dan memfasilitasi pelatihan. Ia tetap mengajar, tetapi juga berkembang sebagai pelatih. Dari situ, ia mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus memperluas dampaknya ke guru lain.
Di tengah perjalanannya, ia menyadari bahwa kariernya tidak lagi sekadar satu peran.
“Saya tetap guru,” katanya suatu kali, “tapi kini saya juga ingin banyak guru lain di luar sana agar menjadi guru yang lebih baik.”
Pak Ardi tidak menyangka bahwa ia dikenal sebagai pelatih yang memberi dampak yang lebih luas kepada komunitas-komunitas guru di berbagai daerah.
Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Ardi?
Bila YA, yuk bantu Pak Ardi, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi tantangan Pak Ardi?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Suatu waktu, Bu Rina hanya diminta membantu merapikan tulisan untuk majalah sekolah. Tidak ada target besar. Ia sekadar membaca, menghapus kalimat yang berulang, dan memastikan alurnya lebih jelas. Pekerjaan kecil yang sering dianggap sepele.
Namun, dari situ ia mulai menemukan sesuatu yang menarik. Ia menikmati proses menjernihkan tulisan untuk membantu ide orang lain menjadi lebih mudah dipahami tanpa mengubah suaranya.
Ia mulai melakukannya lebih sering. Bukan karena diminta, tetapi karena merasa itu membantu.
Kesempatan berikutnya datang ketika ia terlibat sebagai editor di komunitas guru. Di sana, ia bekerja dengan lebih banyak penulis, menghadapi beragam gaya tulisan, dan mulai memahami bahwa menyunting bukan sekadar memperbaiki bahasa, tetapi merawat gagasan.
Dari pekerjaan yang awalnya kecil dan tidak terlalu terlihat, perlahan perannya berkembang. Orang mulai meminta bantuannya, mulai dari menyunting modul, artikel, hingga buku praktik baik. Awalnya sesekali. Lalu semakin sering. Hingga akhirnya, pekerjaan itu tidak lagi sekadar bantuan, tetapi menjadi kerja profesional yang dihargai dan dibayar.
Ia tetap mengajar di kelas seperti biasa. Namun di luar kelas, ia juga menjalani peran lain sebagai editor yang membantu banyak orang menyampaikan praktik dan pemikirannya dengan lebih jernih.
Suatu kali, seorang rekan bertanya, “Bu Rina ini guru atau editor?”
Ia tersenyum, “Saya guru. Tapi dari hal kecil yang saya coba-coba, ternyata bisa berkembang jadi cara lain untuk berkontribusi.”
Ia tidak pernah merencanakan jalur ini. Tetapi dari kebiasaan sederhana yang ia tekuni, kariernya perlahan terbentuk—bukan sebagai satu peran yang tetap, melainkan sebagai perpaduan peran yang ia bangun dan jalani secara profesional.
Apakah Anda pernah menghadapi tantangan yang dihadapi oleh Bu Rina?
Bila YA, Bila Ya, yuk bantu Bu Rina, tuliskan pengalaman Anda menjadi praktik baik, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Rina?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Nama Pak Bima mulai muncul di berbagai tempat. Awalnya tidak banyak yang memperhatikan. Hanya satu dua tulisan yang dibaca, lalu dibagikan. Ia sendiri tidak terlalu memikirkannya. Menulis baginya hanya kebiasaan kecil setelah mengajar. Cara sederhana untuk merapikan apa yang ia lakukan di kelas.
Ia tidak pernah merencanakan menjadi penulis. Namun tulisan demi tulisan terus muncul. Dibaca lebih banyak orang. Dibahas di komunitas. Digunakan oleh guru lain sebagai referensi praktik.
Suatu kali, dalam sebuah pelatihan, seseorang menyebut tulisannya sebagai rujukan. Bagi Pak Bima, itu terasa aneh. Apa yang ia tulis selama ini hanyalah catatan dari kelasnya sendiri. Tidak dibuat untuk menjadi “contoh”.
Namun dari situ, ia mulai melihat sesuatu yang berbeda. Menulis tidak lagi berhenti sebagai kebiasaan pribadi. Tulisan itu mulai punya kehidupan sendiri. Ia mulai diminta menulis lebih terarah. Bergabung dalam buku antologi. Lalu menyusun buku-bukunya sendiri. Karyanya semakin dikenal, tidak hanya sebagai cerita, tetapi sebagai rujukan belajar bagi guru lain.
Perlahan, apa yang dulu ia lakukan untuk dirinya sendiri berubah menjadi sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Dan pada titik tertentu, itu juga menjadi kerja profesional yang dihargai.
Ia tetap mengajar di kelas. Namun di saat yang sama, ia juga dikenal sebagai penulis yang karyanya dibaca dan digunakan oleh banyak guru.
Suatu kali, seorang peserta bertanya, “Pak Bima ini ternyata guru yang punya bakat menulis, ya.”
Ia menjawab singkat, “Saya guru yang kebetulan tidak berhenti menulis.”
Jawaban itu sederhana. Namun dari kebiasaan kecil yang ia jaga, perannya berkembang jauh melampaui yang pernah ia rencanakan.
Apakah Anda pernah menghadapi tantangan yand dihadapi oleh Pak Bima?
Bila YA, Bila Ya, yuk bantu Pak Bima, tuliskan pengalaman Anda menjadi praktik baik, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Bima?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
“Mas, ini bisa dibuat lebih sederhana tidak? Biar langsung kebayang maksudnya.”
Permintaan seperti itu datang hampir setiap minggu ke Pak Dito.
Biasanya dimulai dari satu file panjang. Modul, laporan, atau materi pelatihan yang penuh teks. Ia membaca sebentar, lalu mulai mengurai. Menghapus yang tidak perlu, menyusun ulang alur, lalu mengubahnya menjadi visual yang lebih mudah dipahami.
Beberapa jam kemudian, hasilnya berbeda jauh. Yang tadinya membingungkan, menjadi jelas.
Lalu suatu hari, ia diminta membantu membuat infografis untuk Surat Kabar Guru Belajar. Dari satu pekerjaan itu, namanya mulai beredar.
Satu orang merekomendasikan ke yang lain. File yang ia kerjakan dibagikan. Hasil desainnya dipakai di berbagai forum. Tanpa ia sadari, permintaan mulai datang dari luar lingkar yang ia kenal.
Awalnya satu dua proyek. Lalu menjadi beberapa dalam satu bulan. Hingga pada titik tertentu, ia mulai menolak sebagian permintaan karena tidak semua bisa ia kerjakan.
Sejak itu, pekerjaannya berubah. Ia tidak lagi sekadar membantu. Ia mulai menerima proyek dengan kesepakatan yang jelas, waktu pengerjaan, dan bayaran profesional.
Ia tetap mengajar di kelas. Namun di luar itu, ia juga mengerjakan desain untuk berbagai kebutuhan. Modul pelatihan, materi program, hingga publikasi pendidikan.
Berangkat dari hobi mendesain, ia tidak menyangka bahwa pekerjaannya kini berkembang jauh lebih luas dari yang pernah ia rencanakan.
Apakah Anda pernah menghadapi tantangan yang dihadapi oleh Pak Dito?
Bila YA, Bila Ya, yuk bantu Pak Dito, tuliskan pengalaman Anda menjadi praktik baik, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Dito?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Bu Fortune awalnya suka membuat desain sederhana untuk kebutuhan sekolah. Namun, ia mulai tertarik lebih jauh, bukan hanya pada tampilan, tetapi pada bagaimana sebuah tulisan disusun agar nyaman dibaca dan mudah dipahami.
Ia mulai belajar mengatur tata letak. Memilih jenis huruf, mengatur jarak, dan menyusun alur halaman. Baginya, desain bukan sekadar menarik, tetapi membantu orang mengikuti ide dengan lebih jelas.
Kesempatan datang ketika ia diminta membantu menata publikasi praktik baik di Surat Kabar Guru Belajar. Dari situ, ia semakin mendalami keterampilan layout, mengolah berbagai tulisan menjadi karya yang rapi dan utuh.
Seiring waktu, ia mulai menerima proyek sebagai layouter untuk modul, laporan, hingga buku. Hasilnya menjadi tambahan penghasilan, sekaligus ruang belajar baru baginya.
Ia tetap mengajar, tetapi perannya berkembang.
Suatu kali, seorang rekan bertanya,
“Bu Fortune ini guru atau layouter?”
Ia tersenyum,
“Saya guru. Tapi sekarang saya juga bekerja sebagai desainer yang memastikan sebuah publikasi benar-benar utuh, dari tulisan, visual, sampai pengalaman membacanya.”
Dari situ, perannya semakin dikenal. Ia tidak lagi sekadar membantu menata, tetapi dipercaya menangani publikasi secara menyeluruh dengan standar profesional.
Ia tetap mengajar di kelas, sekaligus menjalani peran sebagai desainer yang karyanya digunakan di berbagai konteks.
Apakah Anda pernah menghadapi tantangan yang dihadapi oleh Bu Fortune?
Bila YA, Bila Ya, yuk bantu Bu Fortune, tuliskan pengalaman Anda menjadi praktik baik, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Fortune?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Pak Reza awalnya hanya mencoba mendokumentasikan pembelajarannya di kelas. Ia sesekali mengunggah video saat mengajukan pertanyaan ke murid, memfasilitasi diskusi, atau menyusun kesepakatan kelas bersama.
Ia tidak terlalu memikirkan jumlah penonton. Baginya, itu cara untuk merefleksikan praktiknya sendiri.
Namun, perlahan videonya mulai diperhatikan. Banyak guru merasa terbantu karena bisa melihat contoh nyata—bukan hanya teori. Mereka mulai mencoba, lalu kembali berdiskusi di kolom komentar.
Pak Reza pun mulai lebih serius. Ia merencanakan konten, memperbaiki cara penyampaian, dan tetap menjaga agar yang ia bagikan berangkat dari praktik nyata di kelas.
Seiring waktu, ia dikenal lebih luas sebagai konten kreator pendidikan. Ia mendapat berbagai kesempatan kolaborasi dan proyek, yang juga menjadi tambahan penghasilan.
Ia tetap mengajar, tetapi kini juga belajar mengelola konten secara lebih profesional.
Suatu kali, seseorang bertanya,
“Pak Reza ini guru atau kreator konten?”
Ia menjawab,
“Saya guru. Konten ini hanya cara saya berbagi dan belajar bersama lebih banyak orang.”
Sejak itu, ia melihat kariernya bukan sebagai satu jalur tetap, melainkan sebagai perjalanan yang ia bangun sendiri—berangkat dari praktik di kelas, lalu berkembang menjadi dampak yang lebih luas melalui ruang digital.
Apakah Anda pernah menghadapi tantangan yang dihadapi oleh Pak Reza?
Bila YA, Bila Ya, yuk bantu Pak Reza, tuliskan pengalaman Anda menjadi praktik baik, klik 👉 di sini
Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Reza?. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini
Ajak & tantang rekan guru!
Sebarkan!
klik tombol di bawah ini
Masing-masing challenge bisa dikerjakan lebih dari satu kali dengan jawaban yang berbeda-beda
Untuk mengerjakan Misi Belajar, Anda tidak harus memiliki kondisi yang sama persis dengan masalah yang diangkat dalam soal misi. Selama substansi masalah/tantangannya serupa (ada kesamaan kata kunci) dan pengalaman Anda relevan substansi masalahnya, Anda bisa mengerjakan Misi Belajar.
Jawaban yang Anda tulis adalah menceritakan pengalaman nyata yang pernah Anda alami ketika menghadapi masalah serupa, bukan seperti memberi saran yang normatif dan abstrak.
Cari soal Misi Belajar yang paling mendekati. Misalnya, pengalaman Anda tentang Disiplin Positif, tetapi Anda tidak menemukan soal spesifik tentang tema tersebut, Anda bisa mengambil misi tentang Manajemen Kelas. Perlu menjadi catatan, soal Misi Belajar umumnya dibuat lebih general sehingga dapat mencakup berbagai pengalaman dan situasi yang dialami guru.
Anda bisa menggunakan bantuan Panduan Rencana Aksi jika pengalaman belum sesuai misi.
Untuk keperluan sebagai pembicara TPN XI, panitia TPN akan melaporkan data misi yang lolos kepada panitia daerah. Jadi, panitia daerah akan menghubungi penulis misi yang lolos, apakah bersedia menjadi pembicara di TPN XI daerah atau tidak. Untuk keperluan publikasi di Surat Kabar Guru Belajar, tim redaksi akan mengirim undangan ke penulis misi yang lolos untuk menulis cerita lebih lengkap sesuai ketentuan redaksi. Namun, ke depan tim kami akan memberikan keterangan LOLOS atau TIDAK pada website Misi Belajar.
1. Lakukan registrasi di portal tpn.gurubelajar.org
2. Klik Misi (maka akan tertampil beragam pilihan misi).
3. Pilih misi yang sesuai atau relevan dengan tantangan yang pernah Anda alami.
4. Ceritakan pengalaman Anda maksimal 200 kata.
5. Jika cerita Anda pernah dipublikasikan di media tertentu, Anda juga bisa menyertakan tautan publikasinya.
Ketika Anda mengerjakan Misi Belajar, Anda berkesempatan untuk menjadi narasumber di Temu Pendidik Nusantara, baik di salah satu dari 50 Daerah pada Juni-Juli dan atau di Puncak pada 2-3 November 2024 di Jakarta.
Selain itu, Anda juga berkesempatan diundang untuk menulis di Surat Kabar Guru Belajar. Tim kurator akan menghubungi Anda untuk menulis cerita yang lebih utuh.
Jika praktik baik Anda dapat memberi solusi bagi banyak orang, Anda juga berkesempatan untuk berbagi praktik baik di banyak forum-forum pendidikan, mengembangkan karier, dan memperluas dampak bagi komunitas pendidik yang lebih luas.
Boleh, apabila Anda pernah mengalami situasi tersebut berkali-kali dan mengatasinya dengan cara berbeda, Anda dapat mengirim tulisan secara terpisah untuk masing-masing cara yang sudah dilakukan.
Papan poin menampilkan 600 guru, 120 guru berkarier, 120 pemimpin pendidikan yang teraktif mengerjakan misi. Yuk, kerjakan lagi Misi Belajar, untuk mendapat kesempatan muncul di papan poin.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.