Pengalaman istimewa ini bermula dari pembelajaran Bahasa Jawa di kelas 7, dengan materi menulis dongeng. Para murid di kelas saya kurang percaya diri dalam hal kompetensi menulis atau mereka bilang mengarang.
Hasil asesmen diagnostic menunjukkan, bahwa: (1) Tidak semua peserta didik mendapatkan pembelajaran Bahasa Jawa pada level Sekolah Dasar, (2) Latar belakang budaya peserta didik beragam (Madura, Using, Jawa, luar Jawa). Kemampuan pra syarat belum dimiliki oleh sebagian besar peserta didik. Inilah tantangan untuk saya.
Pendekatan pembelajaran yang saya pilih adalah “WASKITHA.” Salah satu pendekatan pembelajaran Bahasa Jawa yang dirumuskan oleh Bapak Supono, S.Pd (Pembina MGMP Bahasa Jawa Kab. Banyuwangi). Tujuan utama pembelajaran WASKITHA membangkitkan motivasi murid agar mau, senang, dan merasakan manfaat baik dari pembelajaran yang dialaminya.
Pertama, murid-murid saya persilakan untuk membentuk kelompok secara mandiri, beranggotakan lima atau enam orang. Setiap kelompok saya berikan satu link Canva kolaborasi menulis dongeng. Contoh satu link terdiri dari lima layar (kelompok dengan anggota lima murid). Halaman pertama untuk sampul dongeng (desain cover). Halaman kedua, ketiga, keempat untuk isi dongeng, kelima untuk amanat dongeng (writer). Nama anggota kelompok dapat dituliskan pada halaman sampul, atau menambah satu halaman terakhir. Setiap anggota memilih satu layar sesuai minat. Pada saat mendekati batas waktu yang telah disepakati, adakah di antara mereka yang bersikeras membatasi diri pada tugasnya saja, tidak mau tahu terhadap tugas kelompok sendiri yang belum selesai, atau mereka mengajak teman-teman kelompoknya, ambil peran menyelesaikan Bersama.
Refleksi pelaksanaan pembelajaran Bahasa Jawa : (1) menyatakan senang sekali 11%, (2) menyatakan senang 52%, (3) menyatakan biasa saja 33%, (4) menyatakan tidak senang 4%.