A. KONDISI AWAL
Praktik baik ini bermula dari sebagian besar peserta didik yang masih mengalami kesulitan dalam menulis cerita pendek. Peserta didik tidak bersemangat saat pembelajaran menulis cerpen berlangsung. Peserta didik merasa kesulitan dalam mencari ide cerita yang akan ditulis. Peserta didik kesulitan memulai kalimat awal cerita, peserta didik kesulitan memunculkan konflik dalam ceritanya, sehingga peserta didik cenderung mencari jalan pintas untuk mengunduh cerita dari laman-laman internet dan masih sangat memungkinkan peserta didik tidak menulis cerita pendek hasil karyanya sendiri. Peserta didik membutuhkan bahan ajar baru yang dapat mendukung keterampilan dalam menulis cerpen sesuai tahapan-tahapan menulis cerpen yang memungkinkan peserta didik untuk menulis cerpennya sendiri tanpa harus mencontoh dari internet.
B. TANTANGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM MENULIS CERPEN
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hal yang mudah. Guru harus dapat menyiapkan beberapa materi dan instrumen penilaian sekaligus. Demikian halnya dengan pembelajaran berdiferensiasi dalam menulis cerpen. Meskipun penerapannya bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi guru tetap berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menerapkannya dalam pembelajaran menulis cerpen dengan tujuan semata-mata untuk memfasilitasi setiap kebutuhan siswa dalam pembelajaran menullis cerpen. Berdasarkan hal tersebut, penulis merencanakan untuk membuat karya berupa bahan ajar menulis cerpen yang berjudul “Tebak Gambar Jadi Cerita”.
C. AKSI PENGGUNAAN BAHAN AJAR “TEBAK GAMBAR JADI CERITA” DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN BERDIFERENSIASI
Bahan ajar menulis cerpen yang berjudul “Tebak Gambar Jadi Cerita” berawal dari adanya permainan teka-teki tebak gambar yang banyak bertebaran di laman-laman internet. Teka-teki tebak gambar adalah sebuah teka-teki unik yang berasal dari kombinasi gambar yang dapat membentuk kata atau frasa (gabungan kata) yang kemudian menjadi ide awal peserta didik dalam menyusun kalimat awal dalam cerpen yang akan ditulis. Penerapan diferensiasi terletak pada pemilihan gambar yang berbeda-beda dari masing-masing peserta didik sesuai minat dan kegemaran, jumlah gambar yang dipilih peserta didik untuk ditebak kata atau frasa pada gambar tersebut dan dijadikan kalimat untuk mengawali cerpen, serta hasil akhir cerpen peserta didik yang dipublikasikan ke media sosial sesuai minat dan keinginan peserta didik masing-masing.
Adapun bagian-bagian bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita” sebagai berikut.
- Halaman sampul bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita”. Pada halaman sampul terdapat tulisan judul dan gambar teka-teki tebak gambar yang membuat peserta didik menarik dalam mengawali pembelajaran menulis cerpen.
- Petunjuk penggunaan LKPD di dalam bahan ajar. Selain petunjuk penggunaan LKPD, pada halaman 2 juga terdapat tempat untuk menempel gambar teka-teki tebak gambar serta jawaban kata atau frasa yang ditemukan pada teka-teki tebak gambar.
- Halaman 3 berisi tahapan menulis kerangka cerpen. Pada halaman menyusun kerangka terdapat tempat untuk menyusun kalimat berdasar kata atau frasa yang ditemukan dari teka-teki tebak gambar. Selain itu, pada halaman tersebut juga terdapat tempat untuk menentukan tokoh dan penokohan, latar/setting, serta konflik yang akan dibangun dalam cerita pendek karya peserta didik.
- Halaman selanjutnya berisi tahapan menulis cerpen secara utuh berdasar kerangka yang telah dibuat pada halaman sebelumnya. Pada halaman ini juga terdapat tautan video pembelajaran yang mengingatkan kembali tentang struktur isi cerpen dan juga aspek kebahasaan cerpen meliputi pola pengembangan cerpen, serta bagaimana peserta didik memulai untuk menulis cerpennya.
- Halaman selanjutnya berisi rubrik penilaian teman sejawat yang langsung dapat digunakan oleh teman dalam kelompok untuk menilai cerpen antar anggota kelompok.
- Halaman terakhir berisi contoh publikasi cerpen hasil karya peserta didik pada media sosial yang mereka miliki. Peserta didik dapat mengunggahnya pada instagram, tiktok, twitter, youtube, facebook, dll.
Bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita” dapat diakses pada tautan berikut https://bit.ly/tbkgambar .
Bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita” yang telah tersusun secara sistematis tersebut kemudian diterapkan atau diimplementasikan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran menulis cerita pendek. Adapun langkah-langkah implementasinya adalah sebagai berikut.
- Peserta didik menulis cerita pendek sebisanya berdasarkan kemampuan awal masing-masing. Guru memberikan penilaian(tanpa diketahui peserta didik). Kemudian peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan penilaian keterampilan menulis cerpen tersebut (kelompok high level, medium level, low level).
- Peserta didik mengamati kartu tebak gambar secara berkelompok dan berdiskusi untuk menemukan kata atau frasa apa yang dihasilkan dari masing-masing kombinasi gambar.
- Kelompok peserta didik high level memilih tiga frasa berdasar kartu tebak gambar kemudian menuliskan 4-5 kalimat berdasar tiga frasa tersebut.
- Kelompok peserta didik medium level memilih dua frasa berdasar kartu tebak gambar kemudian menuliskan 4-5 kalimat berdasar tiga frasa tersebut.
- Kelompok peserta didik low level memilih satu frasa berdasar kartu tebak gambar kemudian menuliskan 4-5 kalimat berdasar tiga frasa tersebut.
- Guru tetap memfasilitasi apabila ada peserta didik dari kelompok low level atau medium level yang ingin memilih 2 atau 3 frasa dalam menyusun kalimatnya.
- Masing-masing peserta didik menulis kerangka cerpennya mulai dari tokoh dan penokohan, latar/setting, dan konflik yang akan dibangun dalam cerita. Peserta didik dapat membaca buku teks, menonton video, atau menerima penjelasan dari guru untuk mengingat kembali tentang apa saja yang harus ditulis dalam unsur-unsur intrinsik cerpen yang akan ditulisnya.
- Peserta didik menulis cerita pendek secara utuh sesuai struktur isi dan aspek kebahasaan. Peserta didik dibebaskan dalam memulai ceritanya. Peserta didik bebas memilih dan dapat memulai cerpennya dari bagian apa saja. Bisa dari pengenalan tokoh, pengenalan latar, atau bahkan memulai cerita dengan konflik antartokoh di dalam cerita.
- Peserta didik saling bertukar cerita dengan teman kelompoknya untuk saling mengapresiasi hasil karya teman dengan menggunakan rubrik penilaian teman sejawat.
- Peserta didik memperbaiki cerpen hasil karya masing-masing berdasarkan masukan dari teman kelompoknya.
- Peserta didik memublikasikan cerpen karya masing-masing ke media sosial yang dimilikinya. Peserta didik dapat mengunggah karya mereka berupa video, teks, atau slide presentasi ke media sosial instagram, tiktok, youtube, facebook, twitter, Peserta didik lain memberikan komentar positif maupun negatif seperti netizen pada umumnya, tentunya dengan menggunakan bahasa yang sopan.
D. PERUBAHAN (REFLEKSI DAN TINDAK LANJUT)
Refleksi Terkait Hasil Dan Dampak
Implementasi bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita” ini memiliki dampak yang signifikan dalam pembelajaran menulis cerpen. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus menjadi evaluasi. Adapun evaluasi pembelajaran menulis cerpen menggunakan bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita” ini dapat dijabarkan sebagai berikut.
- Beberapa peserta didik masih ada saja yang tidak antusias dalam melaksanakan kegiatan menulis cerpen.
- Beberapa peserta didik merasa kesulitan dalam menulis kalimat berdasarkan frasa yang ditemukan pada permainan tebak gambar.
Tindak Lanjut
Tindak lanjut penggunaan bahan ajar “Tebak Gambar Jadi Cerita” dalam pembelajaran menulis cerpen dapat dipaparkan sebagai berikut.
- Guru melakukan pendekatan personal untuk menanyakan kepada peserta didik tentang apa penyebab tidak antusias dalam melaksanakan kegiatan menulis cerpen.
- Guru mengoptimalkan tutor teman sebaya untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut.