Pembelajaran cerpen (Cerita Pendek) di jenjang SMP merupakan hal yang tidak mudah diajarkan kepada peserta didik. Hal ini terdampak dari rendahnya minat membaca mereka. Ketika anak menulis maka pengetahuan, wawasan dan kemampuan anak sangat berkontribusi terhadap tulisannya. Semakin sering dan banyaknya buku yang dibaca, maka banyak pula bahan atau ide yang akan mereka tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Selain itu pengalaman yang mereka peroleh dalam keseharian akan memantik mereka untuk menyusun sebuah cerita. Untuk memudahkan mereka dalam penulisan sebuah cerpen maka saya melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Dengan pembelajaran ini maka potensi peserta didik akan tergali secara optimal dan kebutuhan peserta didik akan terpenuhi.
Dalam melakukan suatu perubahan tentunya tidak lepas dari tantangan dan hambatan. Tantangan timbul dari dalam diri penulis sendiri dan dari luar. Secara pribadi bahwa tantangan yang penulis hadapi adalah butuh keihklasan, kesabaran, dan keyakinan bahwa melalui pembelajaran diferensiasi, tujuan pembelajaran akan tercapai optimal. Penulis pun harus menyiapkan bahan ajar dan strategi yang diperlukan untuk memfasilitasi perbedaan setiap individu, seperti kesiapan belajar (rediness), bakat dan minat anak, serta profil belajar peserta didik. Faktor tantangan lain yaitu kurangnya motivasi peserta didik untuk menulis cerpen.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran maka penulis menerapkan strategi dengan menerapkan diferensiasi konten dan proses pada pembelajaran menulis cerpen di SMP Negeri 2 Cianjur melalui “Menulis CERDAS dan CANTIK” (Menulis Cerita Pendek Asik, Calakan, dan Tentu Menarik ). Pada tahap konten penulis menyiapkan materi yang dapat didengar oleh siswa melalui sebuah penjelasan dan menyimak video terkait cerpen (untuk anak auditori). Guru juga menyiapkan gambar terkait tema teks cerpen (untuk anak berlatar visual) dan menyiapkan presentasi dan beberapa informasi yang ada di sekitar lingkungan sekolah terkait teks cerpen (untuk anak berlatar kinestetik). Pada tahap proses, peserta didik diajak berkeliling di lingkungan sekolah agar mereka mandapatkan ide dan pengalaman langsung sehingga mendapatkan tema sesuai peristiwa yang terjadi.
Selain itu, mereka pun diberi kebebasan untuk menulis cerpen sesuai dengan minatnya masing-masing. Ada yang menulis terkait olah raga, seni, seperti seni tari, seni suara, seni lukis, seni sastra, bidang matematika, IPA, IPS, keagamaan, atau tema lain yang telah disepakati dengan guru. Pada proses penulisan peserta didik diberikan kebebasan menggunakan media sesuai kemampuannya. Selanjutnya cerpen yang sudah tersusun secara rapi dan terstruktur, dipresentasikan di muka kelas dan hasilnya dikumpulkan dan dikirimkan melalui google drive. Pada tahap akhir, hasil tulisannya dibuat antologi cerpen dengan judul “Cerita Kita di Kampus Putih Biru”.
Pelajaran yang diperoleh dari pembelajaran menulis cerpen melalui pembelajaran diferensiasi ini antara lain sebagai berikut. Peserta didik menjadi lebih antusias dan percaya diri dalam menulis cerpen, Banyak ide dan gagasan yang muncul dari pserta didik untuk menentukan temanya. Peserta didik menjadi lebih kreatif dalam menulis cerpen karena mereka menulis berdasarkan minatnya masing-masing. Perbedaan kemampuan peserta didik dalam menulis dapat terfasilitasi sesuai bakat, minat, konten, dan proses pembelajaran masing-masing. Selain itu, mereka menjadi senang menulis dan memiliki buku antologi cerpen. Mungkin suatu saat nanti mereka akan mengenang tulisannya ketika menulis cerpen di SMP.