Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

SMARTPHONE BUKANLAH MOMOK

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

SMARTPHONE BUKANLAH MOMOK

Dwi Prapminingrum

Awal

            Saya bertugas di   SMPN 1 Mojoagung yang terletak di batas timur kabupaten Jombang. Sebagai sekolah berangka satu, maka menjadi sekolah yang diminati di setiap tahunnya. Sekolah kami mempunyai 27 rombel dengan 9 kelas paralel setiap jenjang. Jumlah murid kami  864.

Praktik baik dengan menerapkan media padlet dilakukan di kelas VII-B dengan tujuan meningkatkan minat belajar IPA pada murid. Tahun pelajaran 2022/2023 SMPN 1 Mojoagung memperbolehkan murid membawa smartphone ke sekolah untuk digunakan media pembelajaran dan alat komunikasi. Ketika pembelajaran tidak menggunakan smartphone maka smartphone diletakkan di tempat yang disediakan. 

            Membawa smartphone ke sekolah membawa dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya bisa sebagai media pembelajaran meskipun belum maksimal. Dampak negatifnya digunakan bermain pada jam pelajaran, membuka media sosial, browsing dan minat belajar murid rendah dikarenakan besarnya pengaruh smartphone. Sehingga TP tidak tercapai.

            Saya mengangkat permasalahan ini menjadi sebuah kejadian yang tidak bisa dibiarkan. Saya mempunyai ide bagaimana diperbolehkannya membawa smartphone ke sekolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi murid, guru dan sekolah. Saya mencoba menggunakan  smartphone sebagai media pembelajaran yang berpusat pada murid dan sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu menuntun murid sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Maka saya mengangkat permasalahan ini agar kodrat alam dan kodrat zaman tetap terpenuhi. Media padlet merupakan aplikasi sederhana untuk media pembelajaran interaktif dan inovatif. Guru memunculkan ide kreatif agar murid terpenuhi kebutuhannya sesuai dengan kodrat alamnya dan penggunaan smartphone merupakan aplikasi dari kodrat zaman sekarang. Penggunaan padlet dalam  pembelajaran bisa saya manfaatkan untuk memasukkan sumber belajar, permainan/fun games bahkan pembelajaran interaktif yang berpusat pada murid bisa terwujud.

            Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin), menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya tanpa terperintah oleh orang lain. Menuntun murid sesuai kodrat alam akan membawa kita untuk memenuhi kebutuhan individu murid sesuai kodrat alamnya.  Pada kurikulum merdeka ini pembelajaran diferensiasi dan penggunaan smartphone ini bagi saya adalah salah satu solusinya.

 

Tantangan

            Kita menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak merasa selamat dan bahagia. Setiap murid yang duduk di kelas adalah individu yang unik dan seharusnya menjadi dasar dari praktik pembelajaran yang dilakukan di kelas, di sekolah, serta menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi praktik pembelajaran kita.

                SMPN 1 Mojoagung ini adalah sekolah tua dengan guru-guru yang sudah senior dan juga sekolah besar dengan rombel banyak. Inilah yang menjadi tantangan terwujudnya pembelajaran diferensiasi di sekolah kami. Seperti yang tadi disampaikan bahwa smartphone digunakan sebagai media interaktif dalam proses pembelajaran yang didalamnya menerapkan pembelajaran diferensiasi.

            Tantangan pertama adalah menentukan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar, minat belajar atau profil belajar. Di sekolah kami kesiapan belajar yang dihubungkan pada gaya belajar (audio, visual dan kinestetik) sudah dikelompokkan di awal pembelajaran berdasarkan tes gaya belajar. Sehingga dalam satu kelas sudah memiliki gaya belajar yang sama. Saya dalam memenuhi kebutuhan belajar murid menggunakan aspek minat belajar. Gaya belajar murid yang sama bisa juga mempunyai minat belajar yang berbeda.

            Tantangan kedua, saya harus bisa membuat ide kreatif dan inovatif dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi agar kebutuhan murid terpenuhi. Saya  akan mengintegrasikan antara pembelajaran diferensiasi menggunakan media padlet dengan pembelajaran sosial dan emosional yang paling sederhana dengan menggunakan teknik STOP agar minat belajar murid dapat meningkat.

Aksi

Saya mulai membuat rancangan pembelajaran/skenario pembelajaran yang didalamnya terdapat implementasi pembelajaran diferensiasi menggunakan media padlet berintegrasi dengan pembelajaran sosial dan emosional menggunakan teknik STOP sehingga meningkatkan minat belajar khususnya dalam pembelajaran IPA.

Saya memilih dan menganalisa materi apa yang sesuai pada rancangan pembelajaran diatas? Materi tata surya tentang satelit yang saya dipilih. Langkah pertama adalah memasuki kelas dengan menyapa hangat semua murid dengan menanyakan kabar dan mengecek kehadiran murid. Saya sudah menyiapkan beberapa alternatif jika murid tidak konsentrasi ketika pembelajaran berlangsung. Pembelajaran IPA di kelas VII-B ini mendapatkan jadwal setelah olah raga sehingga hal ini membuat murid menjadi sulit di ajak belajar di dalam kelas. Saya mengajak murid untuk melakukan teknik STOP sebagai berikut : murid diminta meletakkan barang yang dipegang, mengambil posisi duduk yang nyaman, tangan di atas meja atau di atas pangkuan kemudian mata dipejamkan. Saya mengajak menarik nafas dan mengeluarkan nafas secara berlahan dan penuh perasaan kemudian bisa diulang sampai 3x. Mata dibuka kembali dan beberapa murid diminta untuk menyampaikan perasaannya setelah melakukan teknik STOP ini.

Saya memberikan pertanyaan pemantik dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu. Disinilah pembelajaran diferensiasi berpihak pada murid dimulai yaitu memberikan kebebasan murid dalam memilih sumber belajar yang berupa buku paket, tampilan PPT, artikel dan juga video. Semua sumber bisa diakses dengan mudah oleh murid. Saya mengirimkan link padlet yang berisi tentang sumber belajar untuk materi satelit. Murid mencari tahu sendiri tentang satelit sesuai tujuan pembelajarannya. Guru hanya sebagai fasilitator jika ada yang bertanya atau kesulitan. Bisa juga murid mengakses artikel atau video youtube lainnya. Tetap diarahkan untuk mempelajari materi satelit dengan pilihan sumber belajar sesuai dengan minatnya. Murid boleh mencari tempat yang nyaman dalam belajarnya tetapi masih di sekitar kelas dan membuat catatan kecil. Disampaikan kepada murid setelah mempelajari materi tersebut murid  akan menuliskan/ menyampaikan pemahamannya melalui hasil yang juga sesuai dengan minatnya. Misalkan melalui tulisan pendek, mind map, poster bahkan juga boleh membuat rekaman suara dan rekaman video.

Setelah murid menyelesaikan tugasnya sesuai dengan waktu yang ditentukan maka murid menyampaikan hasil belajarnya didepan kelas dengan penuh tanggung jawab. Hingga akhir presentasi, murid membuat kesimpulan dan guru memberikan penguatan. Murid diminta melakukan refleksi secara lisan atau tertulis. Karena saya memanfaatkan media padlet maka sekarang murid bisa menuliskan refleksinya langsung pada link padlet yang dikirimkan.

Memberi waktu 5-7 menit untuk menyaksikan video inspirasi atau motivasi diri bersama agar murid bisa mengenali diri sendiri serta menata managemen sosialnya. Di akhir pembelajaran murid terlihat gembira dan tidak ada rasa terbebani sehingga proses pembelajaran bisa terlaksana dengan baik.

Ketika ditanya, “Bagaimana perasaanmu setelah memgikuti pembelajaran hari ini?”

Salah satu siswa bernama Nadine menjawab, “ Pelajaran IPA hari ini begitu beda Bu….”. Saya kembali bertanya, “ Apa bedanya?”

Dan Nadine langsung menjawab, “ Bedanya tidak ada rasa bosan atau sulit karena Bu Dwi menyampaikan materinya sangat menyenangkan dan saya merasa seperti bermain tetapi sebenarnya belajar.”

Saya merasa termotivasi untuk lebih meningkatkan penggunaan smartphone secara bervariasi dalam pembelajaran.

Perubahan

Pembelajaran berdiferensiasi menggunakan media padlet terintegrasi dengan pembelajaran sosial dan emosional sudah terlaksana. Semua yang sudah dilakukan pasti mempunyai dampak atau perubahan. Dampak ini juga dirasakan murid diantaranya merasa bahagia, minat dan prestasi meningkat, bisa mengenali emosi diri dan managemen sosial serta dan yang paling utama adalah murid bisa lebih bijak dalam menggunakan smartphone dalam pembelajaran.

Dampak bagi guru menjadi lebih kreatif, inovatif untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan tetap berpihak pada murid, menjadi reflektif untuk evaluasi berikutnya.

Dampak bagi sekolah yaitu lingkungan yang nyaman bagi murid, lebih berwarna menggunakan smartphone dengan bijak, bisa mewujudnya profil pelajar pancasila serta berprestasi dalam kegiatan lomba.

Hal yang sebenarnya banyak orang menggangap ini adalah sepele, bagi saya dengan perubahan sekecil apapun akan membuat perubahan yang besar pada pendidikan di Indonesia. Tulisan ini juga saya sampaikan kepada rekan sejawat pada komunitas praktisi sekolah dan marilah kita perlahan melakukan perubahan yang kecil untuk mewujudkan Negara Indonesia yang berbudaya Pacasila.


Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.