Anak SMA merupakan tahap dari remaja menuju dewasa. Tidak semua anak memiliki pemikiran awal yang luas untuk meraih yang diimpikannya. Sebagai guru harus memberikan support agar mimpi mereka dapat terwujud.
Anak SMA merupakan tahap dari remaja menuju dewasa. Tidak semua anak memiliki pemikiran awal yang luas untuk meraih yang diimpikannya. Sebagai guru harus memberikan support agar mimpi mereka dapat terwujud.
Setiap sekolah memiliki ciri khas atau keunikan ditinjau dari beberapa faktor. Mungkin dari segi kedisiplinannya, kebersihannya, prestasinya, keasriannya dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan sekolah kami. Sekolah yang terletak tidak juga di pedalaman, namun bukan juga di tengah kota metropolitan, namun memiliki ciri kedisiplinan yang tidak diragukan oleh masyarakat sekitar.
Kedisiplinan tergambar dari aktivitas mulai masuk gerbang sekolah, pelaksanaan pembelajaran, hingga keluar dari gerbang sekolah. Bagi sebagian warga sekolah kondisi tersebut ternyata bukan hal yang diidamkan. Karena dampak dari kedisiplinan yang diterapkan ternyata mengekang kreatifitas dan inovasi baik guru maupun muridnya.
Sebenarnya nilai kedisiplinan yang diterapkan di Sekolah sudah sangat baik, namun dari segi pemberdayaan potensi anak untuk belajar hingga menembus ruang kelas belum dapat terfasilitasi, dengan asumsi bahwa anak harus belajar cukup sesuai kompetensi yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum. Pemikiran kepala sekolah dan sebagian besar guru masih terbelenggu dengan konsep belajar yang belum merdeka. Akibatnya anak-anak yang memiliki potensi lebih di bidang non akademik belum dapat berkiprah menunjukkan eksistensi dan kepiawaiannya. Dan hal ini sangat merugikan anak karena ruang geraknya dibatasi hanya untuk mereka yang punya potensi di bidang akademik saja.
Tiba saat diluncurkan kurikulum merdeka bersamaan dengan terjadinya pergantian kepala sekolah, membawa angin segar pembaharuan pendidikan di sekolah kami. Selera kepala sekolah yang baru sangat jauh berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. Kepala sekolah yang baru lebih humanis dan mau duduk bersama serta mau mendengar aspirasi, baik dari guru maupun dari murid. Hal ini tentunya disambut baik oleh murid dan juga guru-guru.
Bertepatan dengan pergantian kurikulum dan pergantian kepala sekolah pada waktu yang bersamaan juga, marak berbagai kegiatan kesiswaan yang menantang anak-anak untuk dapat menunjukkan kiprahnya. Baik kegiatan tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. Dan kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu oleh anak yang memiliki bakat di bidang non akademik untuk dapat mengikutinya.
Kepala sekolah memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan bakatnya mengikuti berbagai lomba yang bernuansa kebangsaan, kebugaran maupun hal lainnya yang bernilai positif sesuai visi sekolah yaitu “menjadikan murid yang berprestasi di bidang science, attitude, talent maupun unity di tingkat Nasional maupun Internasional”
Alhamdulillah berkat kegigihan dan niat yang kuat serta support dari guru dan pihak sekolah terdapat salah seorang anak kami yang dapat menembus batas ruang kelas. Tubuhnya memang tidak sebesar mimpinya, begitu juga sebaliknya mimpinya tidak sekecil tubunnya. Anak tersebut dapat menorehkan karir sejak dini, disaat teman-temannya tidak sepemikiran dengannya. Dia menyadari kemampuannya dan berusaha untuk mewujudkan mimpinya, sehingga satu mimpi dan mimpi yang lainnya menjadi nyata dan mengharumkan nama, bukan hanya nama sekolah SMAN 1 Sanggau, namun juga membawa harum nama kabupaten Sanggau dan juga provinsi Kalimantan Barat. Dialah Glorie si kecil bertubuh mungil namun punya mimpi yang tidak kecil.
Contoh tersebut adalah satu dari sekian prestasi yang berhasil diraih sejak pergantian kepala sekolah dan diberlakukannya kurikulum merdeka. Bangga tentunya kami sebagai warga sekolah memiliki murid yang berbakat dan juga disiplin. Dan tentunya hal ini menjadi catatan perubahan bagi anak-anak di kemudian hari untuk juga dapat berkiprah menembus batas ruang kelas untuk meraih mimpi agar menjadi nyata.
Yang kami lakukan untuk anak yang memiliki bakat besar baik di bidang public speaking, wawasan kebangsaan, kebugaran dan bidang lain yang bernilai positif, kita beri kesempatan mereka untuk meraih mimpinya dan menembus ruang kelas. Tidak membebani mereka dengan tugas-tugas yang akan dilupakan dalam waktu singkat. Memberi kesempatan mereka menorehkan prestasi yang tidak setiap orang punya rasa untuk menikmatinya. Memberi mereka ruang mengembangkan potensi yang dimilikinya sejak dini. Dan memberi keyakinan pada mereka bahwa dengan prestasi yang ditorehnya, maka profesi yang diidamkannya akan datang menghampirinya.
Anak SMA merupakan tahap dari remaja menuju dewasa. Tidak semua anak memiliki pemikiran awal yang luas untuk meraih yang diimpikannya. Sebagai guru harus memberikan support agar mimpi mereka dapat terwujud.
Setiap sekolah memiliki ciri khas atau keunikan ditinjau dari beberapa faktor. Mungkin dari segi kedisiplinannya, kebersihannya, prestasinya, keasriannya dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan sekolah kami. Sekolah yang terletak tidak juga di pedalaman, namun bukan juga di tengah kota metropolitan, namun memiliki ciri kedisiplinan yang tidak diragukan oleh masyarakat sekitar.
Kedisiplinan tergambar dari aktivitas mulai masuk gerbang sekolah, pelaksanaan pembelajaran, hingga keluar dari gerbang sekolah. Bagi sebagian warga sekolah kondisi tersebut ternyata bukan hal yang diidamkan. Karena dampak dari kedisiplinan yang diterapkan ternyata mengekang kreatifitas dan inovasi baik guru maupun muridnya.
Sebenarnya nilai kedisiplinan yang diterapkan di Sekolah sudah sangat baik, namun dari segi pemberdayaan potensi anak untuk belajar hingga menembus ruang kelas belum dapat terfasilitasi, dengan asumsi bahwa anak harus belajar cukup sesuai kompetensi yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum. Pemikiran kepala sekolah dan sebagian besar guru masih terbelenggu dengan konsep belajar yang belum merdeka. Akibatnya anak-anak yang memiliki potensi lebih di bidang non akademik belum dapat berkiprah menunjukkan eksistensi dan kepiawaiannya. Dan hal ini sangat merugikan anak karena ruang geraknya dibatasi hanya untuk mereka yang punya potensi di bidang akademik saja.
Tiba saat diluncurkan kurikulum merdeka bersamaan dengan terjadinya pergantian kepala sekolah, membawa angin segar pembaharuan pendidikan di sekolah kami. Selera kepala sekolah yang baru sangat jauh berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. Kepala sekolah yang baru lebih humanis dan mau duduk bersama serta mau mendengar aspirasi, baik dari guru maupun dari murid. Hal ini tentunya disambut baik oleh murid dan juga guru-guru.
Bertepatan dengan pergantian kurikulum dan pergantian kepala sekolah pada waktu yang bersamaan juga, marak berbagai kegiatan kesiswaan yang menantang anak-anak untuk dapat menunjukkan kiprahnya. Baik kegiatan tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. Dan kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu oleh anak yang memiliki bakat di bidang non akademik untuk dapat mengikutinya.
Kepala sekolah memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan bakatnya mengikuti berbagai lomba yang bernuansa kebangsaan, kebugaran maupun hal lainnya yang bernilai positif sesuai visi sekolah yaitu “menjadikan murid yang berprestasi di bidang science, attitude, talent maupun unity di tingkat Nasional maupun Internasional”
Alhamdulillah berkat kegigihan dan niat yang kuat serta support dari guru dan pihak sekolah terdapat salah seorang anak kami yang dapat menembus batas ruang kelas. Tubuhnya memang tidak sebesar mimpinya, begitu juga sebaliknya mimpinya tidak sekecil tubunnya. Anak tersebut dapat menorehkan karir sejak dini, disaat teman-temannya tidak sepemikiran dengannya. Dia menyadari kemampuannya dan berusaha untuk mewujudkan mimpinya, sehingga satu mimpi dan mimpi yang lainnya menjadi nyata dan mengharumkan nama, bukan hanya nama sekolah SMAN 1 Sanggau, namun juga membawa harum nama kabupaten Sanggau dan juga provinsi Kalimantan Barat. Dialah Glorie si kecil bertubuh mungil namun punya mimpi yang tidak kecil.
Contoh tersebut adalah satu dari sekian prestasi yang berhasil diraih sejak pergantian kepala sekolah dan diberlakukannya kurikulum merdeka. Bangga tentunya kami sebagai warga sekolah memiliki murid yang berbakat dan juga disiplin. Dan tentunya hal ini menjadi catatan perubahan bagi anak-anak di kemudian hari untuk juga dapat berkiprah menembus batas ruang kelas untuk meraih mimpi agar menjadi nyata.
Yang kami lakukan untuk anak yang memiliki bakat besar baik di bidang public speaking, wawasan kebangsaan, kebugaran dan bidang lain yang bernilai positif, kita beri kesempatan mereka untuk meraih mimpinya dan menembus ruang kelas. Tidak membebani mereka dengan tugas-tugas yang akan dilupakan dalam waktu singkat. Memberi kesempatan mereka menorehkan prestasi yang tidak setiap orang punya rasa untuk menikmatinya. Memberi mereka ruang mengembangkan potensi yang dimilikinya sejak dini. Dan memberi keyakinan pada mereka bahwa dengan prestasi yang ditorehnya, maka profesi yang diidamkannya akan datang menghampirinya.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Setiap sekolah memiliki ciri khas atau keunikan ditinjau dari beberapa faktor. Mungkin dari segi kedisiplinannya, kebersihannya, prestasinya, keasriannya dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan sekolah kami. Sekolah yang terletak tidak juga di pedalaman, namun bukan juga di tengah kota metropolitan, namun memiliki ciri kedisiplinan yang tidak diragukan oleh masyarakat sekitar.
Kedisiplinan tergambar dari aktivitas mulai masuk gerbang sekolah, pelaksanaan pembelajaran, hingga keluar dari gerbang sekolah. Bagi sebagian warga sekolah kondisi tersebut ternyata bukan hal yang diidamkan. Karena dampak dari kedisiplinan yang diterapkan ternyata mengekang kreatifitas dan inovasi baik guru maupun muridnya.
Sebenarnya nilai kedisiplinan yang diterapkan di Sekolah sudah sangat baik, namun dari segi pemberdayaan potensi anak untuk belajar hingga menembus ruang kelas belum dapat terfasilitasi, dengan asumsi bahwa anak harus belajar cukup sesuai kompetensi yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum. Pemikiran kepala sekolah dan sebagian besar guru masih terbelenggu dengan konsep belajar yang belum merdeka. Akibatnya anak-anak yang memiliki potensi lebih di bidang non akademik belum dapat berkiprah menunjukkan eksistensi dan kepiawaiannya. Dan hal ini sangat merugikan anak karena ruang geraknya dibatasi hanya untuk mereka yang punya potensi di bidang akademik saja.
Tiba saat diluncurkan kurikulum merdeka bersamaan dengan terjadinya pergantian kepala sekolah, membawa angin segar pembaharuan pendidikan di sekolah kami. Selera kepala sekolah yang baru sangat jauh berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. Kepala sekolah yang baru lebih humanis dan mau duduk bersama serta mau mendengar aspirasi, baik dari guru maupun dari murid. Hal ini tentunya disambut baik oleh murid dan juga guru-guru.
Bertepatan dengan pergantian kurikulum dan pergantian kepala sekolah pada waktu yang bersamaan juga, marak berbagai kegiatan kesiswaan yang menantang anak-anak untuk dapat menunjukkan kiprahnya. Baik kegiatan tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. Dan kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu oleh anak yang memiliki bakat di bidang non akademik untuk dapat mengikutinya.
Kepala sekolah memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan bakatnya mengikuti berbagai lomba yang bernuansa kebangsaan, kebugaran maupun hal lainnya yang bernilai positif sesuai visi sekolah yaitu “menjadikan murid yang berprestasi di bidang science, attitude, talent maupun unity di tingkat Nasional maupun Internasional”
Alhamdulillah berkat kegigihan dan niat yang kuat serta support dari guru dan pihak sekolah terdapat salah seorang anak kami yang dapat menembus batas ruang kelas. Tubuhnya memang tidak sebesar mimpinya, begitu juga sebaliknya mimpinya tidak sekecil tubunnya. Anak tersebut dapat menorehkan karir sejak dini, disaat teman-temannya tidak sepemikiran dengannya. Dia menyadari kemampuannya dan berusaha untuk mewujudkan mimpinya, sehingga satu mimpi dan mimpi yang lainnya menjadi nyata dan mengharumkan nama, bukan hanya nama sekolah SMAN 1 Sanggau, namun juga membawa harum nama kabupaten Sanggau dan juga provinsi Kalimantan Barat. Dialah Glorie si kecil bertubuh mungil namun punya mimpi yang tidak kecil.
Contoh tersebut adalah satu dari sekian prestasi yang berhasil diraih sejak pergantian kepala sekolah dan diberlakukannya kurikulum merdeka. Bangga tentunya kami sebagai warga sekolah memiliki murid yang berbakat dan juga disiplin. Dan tentunya hal ini menjadi catatan perubahan bagi anak-anak di kemudian hari untuk juga dapat berkiprah menembus batas ruang kelas untuk meraih mimpi agar menjadi nyata.
Yang kami lakukan untuk anak yang memiliki bakat besar baik di bidang public speaking, wawasan kebangsaan, kebugaran dan bidang lain yang bernilai positif, kita beri kesempatan mereka untuk meraih mimpinya dan menembus ruang kelas. Tidak membebani mereka dengan tugas-tugas yang akan dilupakan dalam waktu singkat. Memberi kesempatan mereka menorehkan prestasi yang tidak setiap orang punya rasa untuk menikmatinya. Memberi mereka ruang mengembangkan potensi yang dimilikinya sejak dini. Dan memberi keyakinan pada mereka bahwa dengan prestasi yang ditorehnya, maka profesi yang diidamkannya akan datang menghampirinya.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.