Sakusari untuk meningkatkan Student Agency Dalam Giat Literasi
SDN Brudu adalah tempat saya mengabdi sebagai guru, terletak di kota Jombang. Masih terngiang-ngiang di kepala saya mengenai apa yang disampaikan Kepala Sekolah saya saat repat dewan guru kemarin, hasil nilai literasi pada rapot pendidikan rendah. Sebagai guru saya merasa sedih. Padahal saya pikir selama ini anak-anak waktunya cukup untuk pembiasaan literasi di sekolah dengan sepuluh menit membaca buku sebelum memulai pembelajaran. Ternyata pembiasaan membaca 10 menit tersebut belum mampu meningkatkan nilai literasi pada rapot pendidikan di SDN Brudu
Saya merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kembali giat literasi di SDN Brudu. Saya ingin anak-anak terlibat dalam peningkatan literasi sekolah. Baik membaca, menulis, menyimak maupun bercerita. Saya ingin mengembangkan keterampilan murid untuk mewujudkan student agency. Melalui giat literasi harapa saya anak-anak dapat menyampaikan ide atau gagasan mereka
Untuk mengawali giat literasi, saya mengajak anak-anak untuk berdiskusi dengan harapan dapat mengetahui suara dan pilihan mereka . Saya mengajak diskusi santai dengan anak-anak. Alhamdulillah dengan diskusi santai anak-anak merasa lebih nyaman menyampaikan gagasan mereka. Meskipun ada beberapa anak yang sambil bermain. Ada juga anak yang pendiam yang perlu dipancing dengan beberapa pertanyaan, baru mau berpendapat dengan malu-malu.
Saya memberikan beberapa gambaran kegiatan literasi. Saya mencoba menunjukkan video kegiatan literasi seperti membaca, menulis cerita, menulis puisi dan bercerita.
“Bu, itu menulis puisi ya?” tanya Mira, salah satu murid saya.
“Betul nak,”
“Kalau kita menulis puisi tapi Bahasa jawa apa boleh Bu lalu di buat buku seperti di video itu?”
“Karena saya kalau berbicara dengan teman-teman menggunakan Bahasa Jawa, jadi lebih mudah jika membuat puisi dengan Bahasa jawa,” lanjutnya
“Iya Bu terbiasa pakai Bahasa Jawa,” sahut Iqbal, teman Mira
“Boleh anak-anak, puisi dalam Bahasa jawa namanya geguritan,” jawab saya
“Bu saya tidak bisa menulis geguritan, kenapa kita tidak bikin poster saja dengan canva bagus seperti minggu lalu,” sahut Edo, anak yang paling jago TIK di kelas.
“Bagaiman kalau kita buat geguritan di masukkan di canva, kalau dicetak kan bagus, bisa ya Bu!” ujar Nina
“Wah ide bagus anak-anak, Edo nanti bu guru minta tolong didesainkan cover bukunya ya!” jawab saya
“Siap Bu,”
“Tapi nanti saya diajari buat geguritannya ya teman-teman,”pinta Edo
“Iya nanti dibantu,” jawab Mira
Dari hasil diskusi santai, anak-anak mulai besok lusa menulis satu geguritan satelah pembiasaan membaca. Jam pembiasaan literasi yang biasanya sepuluh menit kini ditambah menjadi setengah jam. Hasil diskusi tersebut didukung oleh Kepala Sekolah. Keesokan harinya Kepala Sekolah mengadakan sosialisasi kepada walimurid mengenai gagasan anak-anak. Alhamdulillah walimurid mendukung kegiatan tersebut
Setelah mendapat dukungan dari walimurid dan Kepala Sekolah, anak-anak mulai membuat geguritan saat pembiasaan literasi pagi. Beberapa anak yang sudah selesai membuat geguritan ditunjukkan pada saya untuk didiskusikan. Ada penggunaan ejaan yang kurang betul dan mesti diperbaiki. Anak-anak merevisi hasil karyanya. Saya terus mendampingi anak-anak menulis geguritan sampai proses revisi karya mereka selesai. Geguritan anak-anak yang ditulis dengan tulisan tangan mereka yang sudah direvisi semua akan di masukkan canva. Edo, anak yang jago mendesain di Canva saya beri tugas untuk membuat link Canva yang berisi slide sejumlah teman-temannya. Link tersebut dibagikan pada grup Whatshap kelas untuk di akses teman-temannya.
Di SDN Brudu kebetulan mendapat beberapa chromebook yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis TIK. Anak-anak mengetikkan geguritannya pada canva menggunakan chromebook. Mereka juga mendesain slide mereka sesuai keinginan mereka. Anak-anak di SDN Brudu memang sudah mengenal aplikasi canva baik di android maupun pada chromebook sebelumnya baik untuk membuat poster maupun infografis mendukung pembelajaran.
Setelah anak-anak selesai mengetikkan geguritan pada slide dan mendesain secantik mungkin, saya mengecek satu persatu barangkali ada yang perlu diperbaiki. Beberapa anak kesulitan mendesain karena terkendala jaringan, sehingga dilanjutkan hari berikutnya. Di sekolah saya wifinya memang terbatas jadi mesti bergantian penggunaannya.
“Bu, belum bisa mendesain slide dari tadi loading,” kata Fian
“ Sabar anak-anak ya, bisa bergantian menggunakannya,”
Setelah bergantian menggunakan wifi, akhirnya selesai juga slide geguritan anak-anak. Saya mengecek kembali link canva. Saya takjub dengan karya anak-anak, desain mereka bagus-bagus. Ternyata anak-anak jaman sekarang lebih jago TIKnya.
Saya cek kembali link Canva yang sudah mereka buat. Cover buku pun sudah dibuatkan Edo murid saya. Saya kembali terpesona dengan karya murid-murid saya. Kumpulan geguritan yang mengandung pesan moral yang berjudul “Gegayuhan”. Gegayuhan dalam Bahasa Indonesia artinya harapan atau cita-cita. Mereka sendiri yang memilih temanya. Tentunya berkaitan dengan mimpi mereka. Selanjutnya saya mengirim link tersebut ke penerbit untuk di cetak menjadi sebuah buku.
Satu minggu kemudian pihak penerbit mengirim buku kumpulan geguritan karya anak-anak. Mereka senang sekali karya mereka dibukukan. Mereka semakin bersemangat menulis. Saat pembiasaan literasi anak-anak menjadi lebih semangat membaca, menulis, bercerita maupun menyimak.
Mendampingi anak-anak berkarya memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Pertama, guru harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk murid agar murid nyaman menyampaikan gagasan mereka sehingga Student Agency (Kepemimpinan Murid) makin berkembang. Kedua, melalui Giat Literasi SakuSari (Satu Buku Satu Geguritan), murid semakin percaya diri berkarya. Ketiga, ketika kita fokus dan konsisten pada proses dengan kegiatan yang telah disepakati bersama, maka kita akan menghargai setiap pencapaian murid apapun itu. Kita juga akan lebih banyak introspeksi diri dan memperbaiki diri untuk menjadi guru yang lebih berpihak pada murid
Sakusari untuk meningkatkan Student Agency Dalam Giat Literasi
SDN Brudu adalah tempat saya mengabdi sebagai guru, terletak di kota Jombang. Masih terngiang-ngiang di kepala saya mengenai apa yang disampaikan Kepala Sekolah saya saat repat dewan guru kemarin, hasil nilai literasi pada rapot pendidikan rendah. Sebagai guru saya merasa sedih. Padahal saya pikir selama ini anak-anak waktunya cukup untuk pembiasaan literasi di sekolah dengan sepuluh menit membaca buku sebelum memulai pembelajaran. Ternyata pembiasaan membaca 10 menit tersebut belum mampu meningkatkan nilai literasi pada rapot pendidikan di SDN Brudu
Saya merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kembali giat literasi di SDN Brudu. Saya ingin anak-anak terlibat dalam peningkatan literasi sekolah. Baik membaca, menulis, menyimak maupun bercerita. Saya ingin mengembangkan keterampilan murid untuk mewujudkan student agency. Melalui giat literasi harapa saya anak-anak dapat menyampaikan ide atau gagasan mereka
Untuk mengawali giat literasi, saya mengajak anak-anak untuk berdiskusi dengan harapan dapat mengetahui suara dan pilihan mereka . Saya mengajak diskusi santai dengan anak-anak. Alhamdulillah dengan diskusi santai anak-anak merasa lebih nyaman menyampaikan gagasan mereka. Meskipun ada beberapa anak yang sambil bermain. Ada juga anak yang pendiam yang perlu dipancing dengan beberapa pertanyaan, baru mau berpendapat dengan malu-malu.
Saya memberikan beberapa gambaran kegiatan literasi. Saya mencoba menunjukkan video kegiatan literasi seperti membaca, menulis cerita, menulis puisi dan bercerita.
“Bu, itu menulis puisi ya?” tanya Mira, salah satu murid saya.
“Betul nak,”
“Kalau kita menulis puisi tapi Bahasa jawa apa boleh Bu lalu di buat buku seperti di video itu?”
“Karena saya kalau berbicara dengan teman-teman menggunakan Bahasa Jawa, jadi lebih mudah jika membuat puisi dengan Bahasa jawa,” lanjutnya
“Iya Bu terbiasa pakai Bahasa Jawa,” sahut Iqbal, teman Mira
“Boleh anak-anak, puisi dalam Bahasa jawa namanya geguritan,” jawab saya
“Bu saya tidak bisa menulis geguritan, kenapa kita tidak bikin poster saja dengan canva bagus seperti minggu lalu,” sahut Edo, anak yang paling jago TIK di kelas.
“Bagaiman kalau kita buat geguritan di masukkan di canva, kalau dicetak kan bagus, bisa ya Bu!” ujar Nina
“Wah ide bagus anak-anak, Edo nanti bu guru minta tolong didesainkan cover bukunya ya!” jawab saya
“Siap Bu,”
“Tapi nanti saya diajari buat geguritannya ya teman-teman,”pinta Edo
“Iya nanti dibantu,” jawab Mira
Dari hasil diskusi santai, anak-anak mulai besok lusa menulis satu geguritan satelah pembiasaan membaca. Jam pembiasaan literasi yang biasanya sepuluh menit kini ditambah menjadi setengah jam. Hasil diskusi tersebut didukung oleh Kepala Sekolah. Keesokan harinya Kepala Sekolah mengadakan sosialisasi kepada walimurid mengenai gagasan anak-anak. Alhamdulillah walimurid mendukung kegiatan tersebut
Setelah mendapat dukungan dari walimurid dan Kepala Sekolah, anak-anak mulai membuat geguritan saat pembiasaan literasi pagi. Beberapa anak yang sudah selesai membuat geguritan ditunjukkan pada saya untuk didiskusikan. Ada penggunaan ejaan yang kurang betul dan mesti diperbaiki. Anak-anak merevisi hasil karyanya. Saya terus mendampingi anak-anak menulis geguritan sampai proses revisi karya mereka selesai. Geguritan anak-anak yang ditulis dengan tulisan tangan mereka yang sudah direvisi semua akan di masukkan canva. Edo, anak yang jago mendesain di Canva saya beri tugas untuk membuat link Canva yang berisi slide sejumlah teman-temannya. Link tersebut dibagikan pada grup Whatshap kelas untuk di akses teman-temannya.
Di SDN Brudu kebetulan mendapat beberapa chromebook yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis TIK. Anak-anak mengetikkan geguritannya pada canva menggunakan chromebook. Mereka juga mendesain slide mereka sesuai keinginan mereka. Anak-anak di SDN Brudu memang sudah mengenal aplikasi canva baik di android maupun pada chromebook sebelumnya baik untuk membuat poster maupun infografis mendukung pembelajaran.
Setelah anak-anak selesai mengetikkan geguritan pada slide dan mendesain secantik mungkin, saya mengecek satu persatu barangkali ada yang perlu diperbaiki. Beberapa anak kesulitan mendesain karena terkendala jaringan, sehingga dilanjutkan hari berikutnya. Di sekolah saya wifinya memang terbatas jadi mesti bergantian penggunaannya.
“Bu, belum bisa mendesain slide dari tadi loading,” kata Fian
“ Sabar anak-anak ya, bisa bergantian menggunakannya,”
Setelah bergantian menggunakan wifi, akhirnya selesai juga slide geguritan anak-anak. Saya mengecek kembali link canva. Saya takjub dengan karya anak-anak, desain mereka bagus-bagus. Ternyata anak-anak jaman sekarang lebih jago TIKnya.
Saya cek kembali link Canva yang sudah mereka buat. Cover buku pun sudah dibuatkan Edo murid saya. Saya kembali terpesona dengan karya murid-murid saya. Kumpulan geguritan yang mengandung pesan moral yang berjudul “Gegayuhan”. Gegayuhan dalam Bahasa Indonesia artinya harapan atau cita-cita. Mereka sendiri yang memilih temanya. Tentunya berkaitan dengan mimpi mereka. Selanjutnya saya mengirim link tersebut ke penerbit untuk di cetak menjadi sebuah buku.
Satu minggu kemudian pihak penerbit mengirim buku kumpulan geguritan karya anak-anak. Mereka senang sekali karya mereka dibukukan. Mereka semakin bersemangat menulis. Saat pembiasaan literasi anak-anak menjadi lebih semangat membaca, menulis, bercerita maupun menyimak.
Mendampingi anak-anak berkarya memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Pertama, guru harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk murid agar murid nyaman menyampaikan gagasan mereka sehingga Student Agency (Kepemimpinan Murid) makin berkembang. Kedua, melalui Giat Literasi SakuSari (Satu Buku Satu Geguritan), murid semakin percaya diri berkarya. Ketiga, ketika kita fokus dan konsisten pada proses dengan kegiatan yang telah disepakati bersama, maka kita akan menghargai setiap pencapaian murid apapun itu. Kita juga akan lebih banyak introspeksi diri dan memperbaiki diri untuk menjadi guru yang lebih berpihak pada murid