Matematika memang seharusnya menyenangkan. Tapi, apakah menyenanangkan saja sudah cukup?
Matematika memang seharusnya menyenangkan. Tapi, apakah menyenanangkan saja sudah cukup?
AWAL
Matematika sering menjadi mata pelajaran yang ditakuti. Hal ini telah terjadi dari generasi ke generasi. Ketakutan orangtua yang tanpa sadar diekspresikan dengan kepanikan dalam memutuskan sesuatu, seperti memberikan anak jam tambahan untuk les atau berlatih Matematika dengan mati-matian, sambil memunculkan cerita mental bahwa Sang Anak tidak akan sukses jika tidak bisa ber-Matematika.
Namun, mata rantai ketakutan pada Matematika ini tidak akan sirna jika penyedia jasa pendidikan tidak serta merta melakukan perubahan. Sekolah yang diharapkan dapat membantu anak, memerdekakan anak, mendampingi anak, malah sebagian besar masih menjadi salah satu agen yang mengulang juga mendukung ketakutan dan kekalutan ber-Matematika.
Kemampuan matematis pun sekarang ini dimaktubkan dengan literasi numerasi yang sarat dengan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari.
Ya, memang seharusnya Matematika bukan sekedar rangkaian rumus-rumus yang perlu dihafalkan, bukan juga sekedar untaian soal-soal yang tak sarat makna, bukan kemampuan berhitung saja layaknya kalkulator berjalan.
Matematika seharusnya bisa membuat anak lebih mudah memahami jalan dan aturan permainan yang sedang dimainkannya, mampu membantu mereka memecahkan masalah yang sedang dihadapinya, melakukan perencanaan, memiliki kesadaran spasial dan masih banyak lagi.
TANTANGAN
Sayangnya, masih banyak anak yang belum pernah jatuh cinta pada Matematika. Mereka masih terjebak dalam cerita-cerita masa lalu bahwa Matematika menakutkan, sulit ditaklukan dan membuat kepala pening. Tak jarang, orangtua juga mengambil peran dalam ketakutan ini dengan memberikan tekanan belajar Matematika, bahwa semakin dini semakin baik, semakin banyak latihan dan banyak mengambil jam bermain mereka, akan membuat mereka mau tak mau cinta pada Matematika. Apa benar bisa?
Banyak juga yang menganggap bahwa belajar Matematika jika tidak bisa mengerjakan soal, maka lainnya tidak dianggap belajar. Pertanyaannya, soal-soal yang bagaimana?
Di abad 21 tak sulit melawan asumsi dan mitos pembelajaran Matematika ini. Ada banyak sumber belajar, pendekatan, referensi dan juga kurikulum yang merdeka membantu guru/fasilitator untuk menghadirkan Matematika yang lebih bersahabat, lebih kontekstual dan sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Tak perlu memberikan tantangan yang muluk-muluk saat berkegiatan bersama anak. Tak perlu menghadirkan sesuatu yang kompleks tentang angka-angka yang mereka belum mampu memaknainya atau merelasikannya dengan kebutuhan mereka sehari-hari.
AKSI
Keseharian anak perlu direfleksikan oleh penyusun kurikulum dan fasilitator. Kesadaran apa yang perlu mereka miliki terlebih dahulu?
Ternyata kesadaran bilangan dan relasi antar bilangan 1 hingga 10 secara konseptual dan kontekstual memegang peranan penting. Saat anak dapat memahami relasi antar bilangan, mereka juga akan memiliki dasar yang baik saat bilangan tersebut nilainya semakin besar. Adalah keliru jika anak hanya diberikan latihan untuk menulis simbol bilangan (menulis angka) kemudian kita menyatakan bahwa mereka telah memahami konsep bilangan.
Selain itu, pendekatan kontekstual yang digunakan para pembelajar Matematika, tidak akan membuat mereka merasa bahwa mereka sedang ber-Matematika.
Membaca resep masakan, merencanakan apa yang harus dibelanjakan, membawa mereka ke pasar tradisional dan melakukan transaksi jual beli secara mandiri, merupakan contoh kegiatan yang telah kami integrasikan di PKBM EduHouse untuk belajar Matematika. Pendekatan kontekstual cukup efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran Matematika. Pendekatan kontekstual dalam belajar Matematika memberikan sebuah pengalaman yang lebih relevan dan terintegrasi dengan dunia nyata sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman murid serta memotivasi mereka dalam mempelajari Matematika. Hal ini juga membantu mereka dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual dapat diberikan melalui studi kasus untuk mengilustrasikan konsep Matematika dalam konteks kehidupan nyata. Dengan memunculkan proyek kolaboratif, kegiatan ini juga dapat mengajak anak mengaplikasikan konsep berpikir logis dan sistematis untuk mengatasi masalah yang lebih kompleks dan memerlukan relasi antar bidang kehidupan. Dengan banyaknya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mereka pun dapat melihat relasi Matematika dengan ilmu lainnya seperti Fisika, Ekonomi, Sains dan Sosial.
Dengan pendekatan kontekstual, anak tak perlu merasa gagal, tak perlu merasa takut salah dan tak perlu gugup saat mengikuti kegiatan Matematika. Ketika anak dihadapkan dengan kesulitan atau kesalahan dalam memahami dan menerapkan konsep matematika, pendekatan kontekstual mendorong anak untuk melihat kegagalan sebagai sebuah peluang. Dengan menerima kegagalan, anak memiliki naluri untuk mengidentifikasi kesalahan, analisis penyebab dan memperbaiki pemahaman mereka. Saat menghitung berapa uang yang telah mereka belanjakan, terjadi kesalahan penghitungan. Mereka bahkan dapat mengidentifikasi secara mandiri bahwa hasil yang mereka hitung tidak sesuai dengan uang kembalian yang mereka terima. Kemudian, tanpa peringatan keras dan coretan merah dari fasilitator, anak pun secara mandiri menyadari kesalahannya dan mengulang penghitungan dari awal. Kegagalan bukanlah akhir dari proses belajar melainkan sebuah langkah awal untuk berporoses, menuju pemahaman yang lebih mendalam. Dengan bersikap positif dalam menghadapi kegagalan, anak dapat mengurangi rasa takut yang mungkin saja timbul selama proses belajar. Dengan demikian, menerima kegagalan mendorong anak untuk tetap gigih dan berusaha lebih keras dalam menyelesaikan kasus serupa yang dapat muncul di kemudian hari.
PERUBAHAN
Dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Matematika, anak menyatakan bahwa mereka suka, menanti-nantikan kegiatan Matematika dan termotivasi saat melaksanakan kegiatannya. Kami melakukan survei kecil dengan menanyakan kepada beberapa orangtua dari anak yang menyatakan jatuh cinta pada Matematika, dan mereka masih menyatakan bahwa mereka merasa gagal, sulit, tidak suka pada Matematika. Dengan pendekatan kontekstual, saya merasakan bahwa anak sudah jatuh cinta pada Matematika dengan parameter interaksi dan mengevaluasi umpan balik anak (feedback). Hal ini juga tampak pada asesmen formatif dan sumatif yang telah dilakukan pada seluruh kelas Primary.
Pendekatan kontekstual membantu fasilitator untuk membawa sebuah kemerdekaan dan menyajikan sebenar-benarnya dunia nyata ke dalam kelas pembelajaran. Pendekatan ini juga memberikan kesempatan reflektif bahwa kehidupan bukanlah sebuah dimensi yang terkotak-kotak, mata pelajaran per mata pelajaran, namun kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lain, dan juga beberapa pengetahuan yang terintegrasi.
Matematika memang seharusnya menyenangkan. Tapi, apakah menyenanangkan saja sudah cukup?
AWAL
Matematika sering menjadi mata pelajaran yang ditakuti. Hal ini telah terjadi dari generasi ke generasi. Ketakutan orangtua yang tanpa sadar diekspresikan dengan kepanikan dalam memutuskan sesuatu, seperti memberikan anak jam tambahan untuk les atau berlatih Matematika dengan mati-matian, sambil memunculkan cerita mental bahwa Sang Anak tidak akan sukses jika tidak bisa ber-Matematika.
Namun, mata rantai ketakutan pada Matematika ini tidak akan sirna jika penyedia jasa pendidikan tidak serta merta melakukan perubahan. Sekolah yang diharapkan dapat membantu anak, memerdekakan anak, mendampingi anak, malah sebagian besar masih menjadi salah satu agen yang mengulang juga mendukung ketakutan dan kekalutan ber-Matematika.
Kemampuan matematis pun sekarang ini dimaktubkan dengan literasi numerasi yang sarat dengan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari.
Ya, memang seharusnya Matematika bukan sekedar rangkaian rumus-rumus yang perlu dihafalkan, bukan juga sekedar untaian soal-soal yang tak sarat makna, bukan kemampuan berhitung saja layaknya kalkulator berjalan.
Matematika seharusnya bisa membuat anak lebih mudah memahami jalan dan aturan permainan yang sedang dimainkannya, mampu membantu mereka memecahkan masalah yang sedang dihadapinya, melakukan perencanaan, memiliki kesadaran spasial dan masih banyak lagi.
TANTANGAN
Sayangnya, masih banyak anak yang belum pernah jatuh cinta pada Matematika. Mereka masih terjebak dalam cerita-cerita masa lalu bahwa Matematika menakutkan, sulit ditaklukan dan membuat kepala pening. Tak jarang, orangtua juga mengambil peran dalam ketakutan ini dengan memberikan tekanan belajar Matematika, bahwa semakin dini semakin baik, semakin banyak latihan dan banyak mengambil jam bermain mereka, akan membuat mereka mau tak mau cinta pada Matematika. Apa benar bisa?
Banyak juga yang menganggap bahwa belajar Matematika jika tidak bisa mengerjakan soal, maka lainnya tidak dianggap belajar. Pertanyaannya, soal-soal yang bagaimana?
Di abad 21 tak sulit melawan asumsi dan mitos pembelajaran Matematika ini. Ada banyak sumber belajar, pendekatan, referensi dan juga kurikulum yang merdeka membantu guru/fasilitator untuk menghadirkan Matematika yang lebih bersahabat, lebih kontekstual dan sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Tak perlu memberikan tantangan yang muluk-muluk saat berkegiatan bersama anak. Tak perlu menghadirkan sesuatu yang kompleks tentang angka-angka yang mereka belum mampu memaknainya atau merelasikannya dengan kebutuhan mereka sehari-hari.
AKSI
Keseharian anak perlu direfleksikan oleh penyusun kurikulum dan fasilitator. Kesadaran apa yang perlu mereka miliki terlebih dahulu?
Ternyata kesadaran bilangan dan relasi antar bilangan 1 hingga 10 secara konseptual dan kontekstual memegang peranan penting. Saat anak dapat memahami relasi antar bilangan, mereka juga akan memiliki dasar yang baik saat bilangan tersebut nilainya semakin besar. Adalah keliru jika anak hanya diberikan latihan untuk menulis simbol bilangan (menulis angka) kemudian kita menyatakan bahwa mereka telah memahami konsep bilangan.
Selain itu, pendekatan kontekstual yang digunakan para pembelajar Matematika, tidak akan membuat mereka merasa bahwa mereka sedang ber-Matematika.
Membaca resep masakan, merencanakan apa yang harus dibelanjakan, membawa mereka ke pasar tradisional dan melakukan transaksi jual beli secara mandiri, merupakan contoh kegiatan yang telah kami integrasikan di PKBM EduHouse untuk belajar Matematika. Pendekatan kontekstual cukup efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran Matematika. Pendekatan kontekstual dalam belajar Matematika memberikan sebuah pengalaman yang lebih relevan dan terintegrasi dengan dunia nyata sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman murid serta memotivasi mereka dalam mempelajari Matematika. Hal ini juga membantu mereka dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual dapat diberikan melalui studi kasus untuk mengilustrasikan konsep Matematika dalam konteks kehidupan nyata. Dengan memunculkan proyek kolaboratif, kegiatan ini juga dapat mengajak anak mengaplikasikan konsep berpikir logis dan sistematis untuk mengatasi masalah yang lebih kompleks dan memerlukan relasi antar bidang kehidupan. Dengan banyaknya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mereka pun dapat melihat relasi Matematika dengan ilmu lainnya seperti Fisika, Ekonomi, Sains dan Sosial.
Dengan pendekatan kontekstual, anak tak perlu merasa gagal, tak perlu merasa takut salah dan tak perlu gugup saat mengikuti kegiatan Matematika. Ketika anak dihadapkan dengan kesulitan atau kesalahan dalam memahami dan menerapkan konsep matematika, pendekatan kontekstual mendorong anak untuk melihat kegagalan sebagai sebuah peluang. Dengan menerima kegagalan, anak memiliki naluri untuk mengidentifikasi kesalahan, analisis penyebab dan memperbaiki pemahaman mereka. Saat menghitung berapa uang yang telah mereka belanjakan, terjadi kesalahan penghitungan. Mereka bahkan dapat mengidentifikasi secara mandiri bahwa hasil yang mereka hitung tidak sesuai dengan uang kembalian yang mereka terima. Kemudian, tanpa peringatan keras dan coretan merah dari fasilitator, anak pun secara mandiri menyadari kesalahannya dan mengulang penghitungan dari awal. Kegagalan bukanlah akhir dari proses belajar melainkan sebuah langkah awal untuk berporoses, menuju pemahaman yang lebih mendalam. Dengan bersikap positif dalam menghadapi kegagalan, anak dapat mengurangi rasa takut yang mungkin saja timbul selama proses belajar. Dengan demikian, menerima kegagalan mendorong anak untuk tetap gigih dan berusaha lebih keras dalam menyelesaikan kasus serupa yang dapat muncul di kemudian hari.
PERUBAHAN
Dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Matematika, anak menyatakan bahwa mereka suka, menanti-nantikan kegiatan Matematika dan termotivasi saat melaksanakan kegiatannya. Kami melakukan survei kecil dengan menanyakan kepada beberapa orangtua dari anak yang menyatakan jatuh cinta pada Matematika, dan mereka masih menyatakan bahwa mereka merasa gagal, sulit, tidak suka pada Matematika. Dengan pendekatan kontekstual, saya merasakan bahwa anak sudah jatuh cinta pada Matematika dengan parameter interaksi dan mengevaluasi umpan balik anak (feedback). Hal ini juga tampak pada asesmen formatif dan sumatif yang telah dilakukan pada seluruh kelas Primary.
Pendekatan kontekstual membantu fasilitator untuk membawa sebuah kemerdekaan dan menyajikan sebenar-benarnya dunia nyata ke dalam kelas pembelajaran. Pendekatan ini juga memberikan kesempatan reflektif bahwa kehidupan bukanlah sebuah dimensi yang terkotak-kotak, mata pelajaran per mata pelajaran, namun kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lain, dan juga beberapa pengetahuan yang terintegrasi.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
AWAL
Matematika sering menjadi mata pelajaran yang ditakuti. Hal ini telah terjadi dari generasi ke generasi. Ketakutan orangtua yang tanpa sadar diekspresikan dengan kepanikan dalam memutuskan sesuatu, seperti memberikan anak jam tambahan untuk les atau berlatih Matematika dengan mati-matian, sambil memunculkan cerita mental bahwa Sang Anak tidak akan sukses jika tidak bisa ber-Matematika.
Namun, mata rantai ketakutan pada Matematika ini tidak akan sirna jika penyedia jasa pendidikan tidak serta merta melakukan perubahan. Sekolah yang diharapkan dapat membantu anak, memerdekakan anak, mendampingi anak, malah sebagian besar masih menjadi salah satu agen yang mengulang juga mendukung ketakutan dan kekalutan ber-Matematika.
Kemampuan matematis pun sekarang ini dimaktubkan dengan literasi numerasi yang sarat dengan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari.
Ya, memang seharusnya Matematika bukan sekedar rangkaian rumus-rumus yang perlu dihafalkan, bukan juga sekedar untaian soal-soal yang tak sarat makna, bukan kemampuan berhitung saja layaknya kalkulator berjalan.
Matematika seharusnya bisa membuat anak lebih mudah memahami jalan dan aturan permainan yang sedang dimainkannya, mampu membantu mereka memecahkan masalah yang sedang dihadapinya, melakukan perencanaan, memiliki kesadaran spasial dan masih banyak lagi.
TANTANGAN
Sayangnya, masih banyak anak yang belum pernah jatuh cinta pada Matematika. Mereka masih terjebak dalam cerita-cerita masa lalu bahwa Matematika menakutkan, sulit ditaklukan dan membuat kepala pening. Tak jarang, orangtua juga mengambil peran dalam ketakutan ini dengan memberikan tekanan belajar Matematika, bahwa semakin dini semakin baik, semakin banyak latihan dan banyak mengambil jam bermain mereka, akan membuat mereka mau tak mau cinta pada Matematika. Apa benar bisa?
Banyak juga yang menganggap bahwa belajar Matematika jika tidak bisa mengerjakan soal, maka lainnya tidak dianggap belajar. Pertanyaannya, soal-soal yang bagaimana?
Di abad 21 tak sulit melawan asumsi dan mitos pembelajaran Matematika ini. Ada banyak sumber belajar, pendekatan, referensi dan juga kurikulum yang merdeka membantu guru/fasilitator untuk menghadirkan Matematika yang lebih bersahabat, lebih kontekstual dan sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Tak perlu memberikan tantangan yang muluk-muluk saat berkegiatan bersama anak. Tak perlu menghadirkan sesuatu yang kompleks tentang angka-angka yang mereka belum mampu memaknainya atau merelasikannya dengan kebutuhan mereka sehari-hari.
AKSI
Keseharian anak perlu direfleksikan oleh penyusun kurikulum dan fasilitator. Kesadaran apa yang perlu mereka miliki terlebih dahulu?
Ternyata kesadaran bilangan dan relasi antar bilangan 1 hingga 10 secara konseptual dan kontekstual memegang peranan penting. Saat anak dapat memahami relasi antar bilangan, mereka juga akan memiliki dasar yang baik saat bilangan tersebut nilainya semakin besar. Adalah keliru jika anak hanya diberikan latihan untuk menulis simbol bilangan (menulis angka) kemudian kita menyatakan bahwa mereka telah memahami konsep bilangan.
Selain itu, pendekatan kontekstual yang digunakan para pembelajar Matematika, tidak akan membuat mereka merasa bahwa mereka sedang ber-Matematika.
Membaca resep masakan, merencanakan apa yang harus dibelanjakan, membawa mereka ke pasar tradisional dan melakukan transaksi jual beli secara mandiri, merupakan contoh kegiatan yang telah kami integrasikan di PKBM EduHouse untuk belajar Matematika. Pendekatan kontekstual cukup efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran Matematika. Pendekatan kontekstual dalam belajar Matematika memberikan sebuah pengalaman yang lebih relevan dan terintegrasi dengan dunia nyata sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman murid serta memotivasi mereka dalam mempelajari Matematika. Hal ini juga membantu mereka dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual dapat diberikan melalui studi kasus untuk mengilustrasikan konsep Matematika dalam konteks kehidupan nyata. Dengan memunculkan proyek kolaboratif, kegiatan ini juga dapat mengajak anak mengaplikasikan konsep berpikir logis dan sistematis untuk mengatasi masalah yang lebih kompleks dan memerlukan relasi antar bidang kehidupan. Dengan banyaknya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mereka pun dapat melihat relasi Matematika dengan ilmu lainnya seperti Fisika, Ekonomi, Sains dan Sosial.
Dengan pendekatan kontekstual, anak tak perlu merasa gagal, tak perlu merasa takut salah dan tak perlu gugup saat mengikuti kegiatan Matematika. Ketika anak dihadapkan dengan kesulitan atau kesalahan dalam memahami dan menerapkan konsep matematika, pendekatan kontekstual mendorong anak untuk melihat kegagalan sebagai sebuah peluang. Dengan menerima kegagalan, anak memiliki naluri untuk mengidentifikasi kesalahan, analisis penyebab dan memperbaiki pemahaman mereka. Saat menghitung berapa uang yang telah mereka belanjakan, terjadi kesalahan penghitungan. Mereka bahkan dapat mengidentifikasi secara mandiri bahwa hasil yang mereka hitung tidak sesuai dengan uang kembalian yang mereka terima. Kemudian, tanpa peringatan keras dan coretan merah dari fasilitator, anak pun secara mandiri menyadari kesalahannya dan mengulang penghitungan dari awal. Kegagalan bukanlah akhir dari proses belajar melainkan sebuah langkah awal untuk berporoses, menuju pemahaman yang lebih mendalam. Dengan bersikap positif dalam menghadapi kegagalan, anak dapat mengurangi rasa takut yang mungkin saja timbul selama proses belajar. Dengan demikian, menerima kegagalan mendorong anak untuk tetap gigih dan berusaha lebih keras dalam menyelesaikan kasus serupa yang dapat muncul di kemudian hari.
PERUBAHAN
Dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Matematika, anak menyatakan bahwa mereka suka, menanti-nantikan kegiatan Matematika dan termotivasi saat melaksanakan kegiatannya. Kami melakukan survei kecil dengan menanyakan kepada beberapa orangtua dari anak yang menyatakan jatuh cinta pada Matematika, dan mereka masih menyatakan bahwa mereka merasa gagal, sulit, tidak suka pada Matematika. Dengan pendekatan kontekstual, saya merasakan bahwa anak sudah jatuh cinta pada Matematika dengan parameter interaksi dan mengevaluasi umpan balik anak (feedback). Hal ini juga tampak pada asesmen formatif dan sumatif yang telah dilakukan pada seluruh kelas Primary.
Pendekatan kontekstual membantu fasilitator untuk membawa sebuah kemerdekaan dan menyajikan sebenar-benarnya dunia nyata ke dalam kelas pembelajaran. Pendekatan ini juga memberikan kesempatan reflektif bahwa kehidupan bukanlah sebuah dimensi yang terkotak-kotak, mata pelajaran per mata pelajaran, namun kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lain, dan juga beberapa pengetahuan yang terintegrasi.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.