Praktik baik di kelas 4 SD Negeri Mawas Kota Makassar. Salah satu upaya untuk menguatkan karakter disiplin dan gotong royong. Mendapatkan respon positif dari peserta didik dan wali murid.
Praktik baik di kelas 4 SD Negeri Mawas Kota Makassar. Salah satu upaya untuk menguatkan karakter disiplin dan gotong royong. Mendapatkan respon positif dari peserta didik dan wali murid.
Ketika pandemi covid menerpa, aktivitas pembelajaran semua dilakukan secara online sehingga tidak ada aktivitas tatap muka sama sekali. Pada masa pandemi itu banyak yang mengeluhkan ingin segera belajar secara tatap muka karena bosan pembelajaran hanya melalui HP. Ketika pandemi telah berlalu, sekolah kembali dibuka. Aktivitas pembelajaran kembali dilaksanakan secara tatap muka langsung namun terbatas.
Di awal sekolah tatap muka terbatas, pembelajaran berlangsung dengan lancar. Peserta didik juga tampak antusias dalam mengikuti pelajaran. Namun semakin hari, proses pembelajaran semakin tidak efektif, terutama menjelang jam pelajaran terakhir. Biasanya peserta didik mulai gelisah. Perilaku dan sikap belajar selama di kelas semakin ribut. Banyak peserta didik yang menampakkan perilaku yang kurang baik, seperti keluar masuk kelas atau mengganggu teman lainnya. Ada beberapa peserta didik yang bahkan memasuki kelas lain dan mengganggu pembelajaran di kelas lain. Mereka mengabaikan aturan-aturan di sekolah dan tampak tidak menghormati gurunya. Melihat fenomena ini, saya sangat prihatin terhadap perilaku siswa tersebut. Saya lantas tergerak untuk memperbaiki perilaku tersebut dengan melakukan suatu program kegiatan yang dilaksanakan bersama oleh peserta didik dimulai dari kelas 4 dimana saya menjadi wali kelas.
Upaya yang kami lakukan dalam memperbaiki situasi dan kondisi peserta didik agar kembali stabil dan nyaman adalah dengan kembali melaksanakan program sholat zuhur berjamaah di kelas. Mengapa kami melaksanakan di ruang kelas? Karena sarana mushola di sekolah kami belum memadai sehingga kami memanfaatkan ruang kelas sebagai tempat sholat zuhur berjamaah di setiap akhir pembelajaran. Untuk mempersiapkan sholat dzuhur berjamaah, peserta didik dibagi menjadi dua kelompok: laki-laki untuk menyapu dulu di ruang kelas dan perempuan terlebih dahulu berwudhu. Setelah laki-laki selesai menyapu dan perempuan telah berwudhu maka kemudian bergantian perempuan yang sudah berwudhu mengepel lantai tempat sholat. Selanjutnya, setiap hari secara bergiliran salah satu peserta didik laki-laki maju bertugas untuk melaksanakan adzan terlebih dahulu dan siswa lain mengumandangkan iqomat, sisanya harus menyimak dengan tenang, tidak boleh membuat keributan. Disini anak-anak dilatih untuk menumbuhkan rasa percaya diri ketika adzan dan iqomat karena banyak siswa yang masih malu-malu dan kurang percaya diri ketika adzan dan iqomat.
Reaksi siswa beragam di awal pembiasaan salat zuhur berjamaah ini. Ada yang menolak ketika diminta adzan karena pernah melakukan kesalahan dan ditertawakan temannya. Ada juga yang ketika sholat bermain-main atau mengganggu teman. Maka di sini saya meluruskan bahwa ini semua adalah proses belajar. Tidak boleh ada yang menertawakan temannya karena semua merupakan bagian dari usaha agar bisa lebih baik lagi. Saya juga mengingatkan bahwa ini adalah aktivitas ibadah kepada Tuhan sehingga harus khusyuk.
Saya terus menyampaikan kepada mereka bahwa ini demi kebaikan mereka. Bahwa pada proses persiapan, seperti merapikan buku dan barang-barang lainnya setelah belajar, lalu merapikan meja dan kursi agar dapat digunakan menjadi tempat salat, kemudian menyapu dan mengepel secara bergantian, latihan adzan dan iqomat sampai pelaksanaan sholat zuhur berjamaah secara khusyuk adalah untuk melatih kedisiplinan dan gotong-royong satu sama lain. Setelah berjamaah kemudian guru memberikan nasehat kepada para peserta didik terkait dengan sopan santun sebagai siswa di sekolah serta sebagai anak di rumah untuk senantiasa belajar dengan sungguh-sungguh serta menaati dan mematuhi orang tuanya.
Sedikit demi sedikit mulai terlihat kebaikan dan kesungguhan peserta didik dalam menjalankan ibadah. Selain itu, sekolah juga membangun kebiasaan sholat dhuha berjamaah di hari Jumat pagi di halaman sekolah. Mereka yang di rumah jarang bahkan tidak pernah sholat berjamaah menjadi senang sholat karena banyak temannya. Ada pula orang tua yang merasa sangat berterimakasih karena anaknya mendapatkan bimbingan sholat berjamaah di sekolah.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan sholat zuhur berjamaah di kelas yaitu mengajarkan kedisiplinan waktu serta mengajarkan gotong royong dalam mempersiapkan pelaksanaan sholat zuhur berjamaah di kelas. Terutama pada bagian merapikan kelas lalu menyapu dan mengepel lantai bersama-sama. Selain itu, ini juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi yang ditunjuk menjadi petugas adzan dan iqomah. Jika kegiatan sholat zuhur berjamaah di kelas 4 ini rutin dilaksanakan maka nilai-nilai yang ada pada kegiatan tersebut dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, baik di sekolah maupun di rumah serta di tengah-tengah masyarakat sebagai sebagai warga negara yang baik.
Praktik baik di kelas 4 SD Negeri Mawas Kota Makassar. Salah satu upaya untuk menguatkan karakter disiplin dan gotong royong. Mendapatkan respon positif dari peserta didik dan wali murid.
Ketika pandemi covid menerpa, aktivitas pembelajaran semua dilakukan secara online sehingga tidak ada aktivitas tatap muka sama sekali. Pada masa pandemi itu banyak yang mengeluhkan ingin segera belajar secara tatap muka karena bosan pembelajaran hanya melalui HP. Ketika pandemi telah berlalu, sekolah kembali dibuka. Aktivitas pembelajaran kembali dilaksanakan secara tatap muka langsung namun terbatas.
Di awal sekolah tatap muka terbatas, pembelajaran berlangsung dengan lancar. Peserta didik juga tampak antusias dalam mengikuti pelajaran. Namun semakin hari, proses pembelajaran semakin tidak efektif, terutama menjelang jam pelajaran terakhir. Biasanya peserta didik mulai gelisah. Perilaku dan sikap belajar selama di kelas semakin ribut. Banyak peserta didik yang menampakkan perilaku yang kurang baik, seperti keluar masuk kelas atau mengganggu teman lainnya. Ada beberapa peserta didik yang bahkan memasuki kelas lain dan mengganggu pembelajaran di kelas lain. Mereka mengabaikan aturan-aturan di sekolah dan tampak tidak menghormati gurunya. Melihat fenomena ini, saya sangat prihatin terhadap perilaku siswa tersebut. Saya lantas tergerak untuk memperbaiki perilaku tersebut dengan melakukan suatu program kegiatan yang dilaksanakan bersama oleh peserta didik dimulai dari kelas 4 dimana saya menjadi wali kelas.
Upaya yang kami lakukan dalam memperbaiki situasi dan kondisi peserta didik agar kembali stabil dan nyaman adalah dengan kembali melaksanakan program sholat zuhur berjamaah di kelas. Mengapa kami melaksanakan di ruang kelas? Karena sarana mushola di sekolah kami belum memadai sehingga kami memanfaatkan ruang kelas sebagai tempat sholat zuhur berjamaah di setiap akhir pembelajaran. Untuk mempersiapkan sholat dzuhur berjamaah, peserta didik dibagi menjadi dua kelompok: laki-laki untuk menyapu dulu di ruang kelas dan perempuan terlebih dahulu berwudhu. Setelah laki-laki selesai menyapu dan perempuan telah berwudhu maka kemudian bergantian perempuan yang sudah berwudhu mengepel lantai tempat sholat. Selanjutnya, setiap hari secara bergiliran salah satu peserta didik laki-laki maju bertugas untuk melaksanakan adzan terlebih dahulu dan siswa lain mengumandangkan iqomat, sisanya harus menyimak dengan tenang, tidak boleh membuat keributan. Disini anak-anak dilatih untuk menumbuhkan rasa percaya diri ketika adzan dan iqomat karena banyak siswa yang masih malu-malu dan kurang percaya diri ketika adzan dan iqomat.
Reaksi siswa beragam di awal pembiasaan salat zuhur berjamaah ini. Ada yang menolak ketika diminta adzan karena pernah melakukan kesalahan dan ditertawakan temannya. Ada juga yang ketika sholat bermain-main atau mengganggu teman. Maka di sini saya meluruskan bahwa ini semua adalah proses belajar. Tidak boleh ada yang menertawakan temannya karena semua merupakan bagian dari usaha agar bisa lebih baik lagi. Saya juga mengingatkan bahwa ini adalah aktivitas ibadah kepada Tuhan sehingga harus khusyuk.
Saya terus menyampaikan kepada mereka bahwa ini demi kebaikan mereka. Bahwa pada proses persiapan, seperti merapikan buku dan barang-barang lainnya setelah belajar, lalu merapikan meja dan kursi agar dapat digunakan menjadi tempat salat, kemudian menyapu dan mengepel secara bergantian, latihan adzan dan iqomat sampai pelaksanaan sholat zuhur berjamaah secara khusyuk adalah untuk melatih kedisiplinan dan gotong-royong satu sama lain. Setelah berjamaah kemudian guru memberikan nasehat kepada para peserta didik terkait dengan sopan santun sebagai siswa di sekolah serta sebagai anak di rumah untuk senantiasa belajar dengan sungguh-sungguh serta menaati dan mematuhi orang tuanya.
Sedikit demi sedikit mulai terlihat kebaikan dan kesungguhan peserta didik dalam menjalankan ibadah. Selain itu, sekolah juga membangun kebiasaan sholat dhuha berjamaah di hari Jumat pagi di halaman sekolah. Mereka yang di rumah jarang bahkan tidak pernah sholat berjamaah menjadi senang sholat karena banyak temannya. Ada pula orang tua yang merasa sangat berterimakasih karena anaknya mendapatkan bimbingan sholat berjamaah di sekolah.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan sholat zuhur berjamaah di kelas yaitu mengajarkan kedisiplinan waktu serta mengajarkan gotong royong dalam mempersiapkan pelaksanaan sholat zuhur berjamaah di kelas. Terutama pada bagian merapikan kelas lalu menyapu dan mengepel lantai bersama-sama. Selain itu, ini juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi yang ditunjuk menjadi petugas adzan dan iqomah. Jika kegiatan sholat zuhur berjamaah di kelas 4 ini rutin dilaksanakan maka nilai-nilai yang ada pada kegiatan tersebut dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, baik di sekolah maupun di rumah serta di tengah-tengah masyarakat sebagai sebagai warga negara yang baik.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Ketika pandemi covid menerpa, aktivitas pembelajaran semua dilakukan secara online sehingga tidak ada aktivitas tatap muka sama sekali. Pada masa pandemi itu banyak yang mengeluhkan ingin segera belajar secara tatap muka karena bosan pembelajaran hanya melalui HP. Ketika pandemi telah berlalu, sekolah kembali dibuka. Aktivitas pembelajaran kembali dilaksanakan secara tatap muka langsung namun terbatas.
Di awal sekolah tatap muka terbatas, pembelajaran berlangsung dengan lancar. Peserta didik juga tampak antusias dalam mengikuti pelajaran. Namun semakin hari, proses pembelajaran semakin tidak efektif, terutama menjelang jam pelajaran terakhir. Biasanya peserta didik mulai gelisah. Perilaku dan sikap belajar selama di kelas semakin ribut. Banyak peserta didik yang menampakkan perilaku yang kurang baik, seperti keluar masuk kelas atau mengganggu teman lainnya. Ada beberapa peserta didik yang bahkan memasuki kelas lain dan mengganggu pembelajaran di kelas lain. Mereka mengabaikan aturan-aturan di sekolah dan tampak tidak menghormati gurunya. Melihat fenomena ini, saya sangat prihatin terhadap perilaku siswa tersebut. Saya lantas tergerak untuk memperbaiki perilaku tersebut dengan melakukan suatu program kegiatan yang dilaksanakan bersama oleh peserta didik dimulai dari kelas 4 dimana saya menjadi wali kelas.
Upaya yang kami lakukan dalam memperbaiki situasi dan kondisi peserta didik agar kembali stabil dan nyaman adalah dengan kembali melaksanakan program sholat zuhur berjamaah di kelas. Mengapa kami melaksanakan di ruang kelas? Karena sarana mushola di sekolah kami belum memadai sehingga kami memanfaatkan ruang kelas sebagai tempat sholat zuhur berjamaah di setiap akhir pembelajaran. Untuk mempersiapkan sholat dzuhur berjamaah, peserta didik dibagi menjadi dua kelompok: laki-laki untuk menyapu dulu di ruang kelas dan perempuan terlebih dahulu berwudhu. Setelah laki-laki selesai menyapu dan perempuan telah berwudhu maka kemudian bergantian perempuan yang sudah berwudhu mengepel lantai tempat sholat. Selanjutnya, setiap hari secara bergiliran salah satu peserta didik laki-laki maju bertugas untuk melaksanakan adzan terlebih dahulu dan siswa lain mengumandangkan iqomat, sisanya harus menyimak dengan tenang, tidak boleh membuat keributan. Disini anak-anak dilatih untuk menumbuhkan rasa percaya diri ketika adzan dan iqomat karena banyak siswa yang masih malu-malu dan kurang percaya diri ketika adzan dan iqomat.
Reaksi siswa beragam di awal pembiasaan salat zuhur berjamaah ini. Ada yang menolak ketika diminta adzan karena pernah melakukan kesalahan dan ditertawakan temannya. Ada juga yang ketika sholat bermain-main atau mengganggu teman. Maka di sini saya meluruskan bahwa ini semua adalah proses belajar. Tidak boleh ada yang menertawakan temannya karena semua merupakan bagian dari usaha agar bisa lebih baik lagi. Saya juga mengingatkan bahwa ini adalah aktivitas ibadah kepada Tuhan sehingga harus khusyuk.
Saya terus menyampaikan kepada mereka bahwa ini demi kebaikan mereka. Bahwa pada proses persiapan, seperti merapikan buku dan barang-barang lainnya setelah belajar, lalu merapikan meja dan kursi agar dapat digunakan menjadi tempat salat, kemudian menyapu dan mengepel secara bergantian, latihan adzan dan iqomat sampai pelaksanaan sholat zuhur berjamaah secara khusyuk adalah untuk melatih kedisiplinan dan gotong-royong satu sama lain. Setelah berjamaah kemudian guru memberikan nasehat kepada para peserta didik terkait dengan sopan santun sebagai siswa di sekolah serta sebagai anak di rumah untuk senantiasa belajar dengan sungguh-sungguh serta menaati dan mematuhi orang tuanya.
Sedikit demi sedikit mulai terlihat kebaikan dan kesungguhan peserta didik dalam menjalankan ibadah. Selain itu, sekolah juga membangun kebiasaan sholat dhuha berjamaah di hari Jumat pagi di halaman sekolah. Mereka yang di rumah jarang bahkan tidak pernah sholat berjamaah menjadi senang sholat karena banyak temannya. Ada pula orang tua yang merasa sangat berterimakasih karena anaknya mendapatkan bimbingan sholat berjamaah di sekolah.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan sholat zuhur berjamaah di kelas yaitu mengajarkan kedisiplinan waktu serta mengajarkan gotong royong dalam mempersiapkan pelaksanaan sholat zuhur berjamaah di kelas. Terutama pada bagian merapikan kelas lalu menyapu dan mengepel lantai bersama-sama. Selain itu, ini juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi yang ditunjuk menjadi petugas adzan dan iqomah. Jika kegiatan sholat zuhur berjamaah di kelas 4 ini rutin dilaksanakan maka nilai-nilai yang ada pada kegiatan tersebut dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, baik di sekolah maupun di rumah serta di tengah-tengah masyarakat sebagai sebagai warga negara yang baik.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.