Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa
Jenis Kelas
[custom_field field="jenis_kelas"]
Status Kurasi
[custom_field field="status_kurasi"]
Ringkasan
Tulisan ini merupakan naskah cerita praktik baik tentang Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa. Telah dilakukan oleh penulis di SMKN 3 Buduran
Dengan teknik ini telah membuat siswa merasa nyaman karena peniadaan metode hukuman yang seringkali menimbulkan sakit hati. Selain itu teknik ini juga menumbuhkan kemandirian karena siswa mengambilalih sendiri penyelesaian permasalahannya tanpa intervensi guru
Elaborasi Praktik Baik
NASKAH CERITA PRAKTIK BAIK – TPN X SIDOARJO 2023
“Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa”
Daniel Yudha Kumoro – BK SMKN 3 Buduran
Topik:
Coaching
Judul:
Penerapan Teknik Segitiga Restitutusi dalam Menangani Permasalahan Siswa
Penulis:
Daniel Yudha Kumoro
Situasi:
Siapapun tidak luput dari masalah. Termasuk siswa. Di sekolah sering mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran tata tertib-peraturan sekolah. Maka sudah selayaknya tugas guru melayani-membantu menyelesaikan-meluruskan permasalahan mereka tersebut
Tantangan :
Sayangnya, kebanyakan guru di sekolah manapun masih-sering menggunakan teknik hukuman untuk menyelesaikan masalah siswa yang terkait kesalahan-pelanggaran tata tertib-peraturan sekolah. Alih-alih merasa dibantu-dilayani-diselesaikan-diluruskan, hukuman justru membuat siswa merasa disakiti, marah, sedih, diabaikan, rendah diri, mengasingkan diri, dendam, merusak hubungan komunikasi, dan lain sebagainya
Aksi :
1. Mengambil contoh siswa yang melakukan pelanggaran seperti sering datang terlambat dan memakai topi yang bukan atribut sekolah. Mengundang siswa tersebut di ruang pertemuan untuk dilakukan coaching dengan menerapkan teknik segitiga restitusi
2. Teknik pertama yaitu menstabilkan identitas. Dimana setelah mengkonfirmasi masalah dan menanyakan perasaan, penulis menstabilkannya dengan mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Ini akan membuat siswa merasa didengarkan dan dipahami. Disini rasa percaya terbangun dan hubungan mulai diperbaiki
3. Teknik kedua yaitu validasi tindakan yang salah. Dimana penulis menanyakan apa alasan sebenarnya ia melakukan kesalahan tersebut. Disini penulis tidak menghakimi. Justru melanjutkan dengan pertanyaan terbuka tentang solusi apa yang siswa akan lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Tanpa mengarahkan atau ikut mencarikan pemecahahan, bahkan tidak untuk menasehati. Selain membangun kepercayaan dan memperbaiki hubungan murid-guru, teknik ini akan membuat siswa merasa dihargai terutama untuk mencari solusinya sendiri-mandiri
4. teknik ketiga yaitu menanyakan keyakinan. Siswa diajak untuk berefleksi mulai dari permasalahan yang ia hadapi hingga solusi yang akan ia ambil. Disini siswa dilatih untuk mengambil hikmah-pelajaran dengan menyimpulkan nilai-nilai apa yang telah ia dapat dari awal kejadian hingga akhir diskusi dengan guru
Hasil:
Awalnya siswa takut ketika penulis mengajak diskusi restitusi. Karena telah tertanam image atau mindset bahwa siswa akan dimarahi-dihukum setiap melakukan kesalahan. Namun setelah mendapatkan coaching dengan teknik segitiga restitusi siswa tersebut menyatakan bahwa perasaan di awal tadi telah hilang dan berganti dengan rasa nyaman
Refleksi/Dampak Diri:
terdapat tanda-tanda perubahan pada diri siswa yang memiliki masalah dalam hal pelanggaran aturan-tata tertib sekolah. Ini dapat diketahui dari wawancara dengan siswa sebelum, sesaat, dan sesudah proses coaching dengan teknik segitiga restitusi.
siswa yang awalnya takut dengan guru, pada akhirya merasa nyaman. hal ini karena siswa merasa dimengerti-dipahami dan diberi kesempatan untuk memecahkan masalahnya sendiri.
ini menunjukkan bahwa hukuman tidaklah diperlukan, karena justru akan merusak hubungan komunikasi antara murid dan guru serta tidak memandirikan siswa sepenuhnya
Profil Penulis
Daniel Yudha Kumoro
Bimbingan dan Konseling
SMKN 3 Buduran, Sidoarjo
Catatan Kurator
[custom_field field="catatan_kurator"]
Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa
Jenis Kelas
[custom_field field="jenis_kelas"]
Status Kurasi
[custom_field field="status_kurasi"]
Ringkasan
Tulisan ini merupakan naskah cerita praktik baik tentang Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa. Telah dilakukan oleh penulis di SMKN 3 Buduran
Dengan teknik ini telah membuat siswa merasa nyaman karena peniadaan metode hukuman yang seringkali menimbulkan sakit hati. Selain itu teknik ini juga menumbuhkan kemandirian karena siswa mengambilalih sendiri penyelesaian permasalahannya tanpa intervensi guru
Elaborasi Praktik Baik
NASKAH CERITA PRAKTIK BAIK – TPN X SIDOARJO 2023
“Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa”
Daniel Yudha Kumoro – BK SMKN 3 Buduran
Topik:
Coaching
Judul:
Penerapan Teknik Segitiga Restitutusi dalam Menangani Permasalahan Siswa
Penulis:
Daniel Yudha Kumoro
Situasi:
Siapapun tidak luput dari masalah. Termasuk siswa. Di sekolah sering mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran tata tertib-peraturan sekolah. Maka sudah selayaknya tugas guru melayani-membantu menyelesaikan-meluruskan permasalahan mereka tersebut
Tantangan :
Sayangnya, kebanyakan guru di sekolah manapun masih-sering menggunakan teknik hukuman untuk menyelesaikan masalah siswa yang terkait kesalahan-pelanggaran tata tertib-peraturan sekolah. Alih-alih merasa dibantu-dilayani-diselesaikan-diluruskan, hukuman justru membuat siswa merasa disakiti, marah, sedih, diabaikan, rendah diri, mengasingkan diri, dendam, merusak hubungan komunikasi, dan lain sebagainya
Aksi :
1. Mengambil contoh siswa yang melakukan pelanggaran seperti sering datang terlambat dan memakai topi yang bukan atribut sekolah. Mengundang siswa tersebut di ruang pertemuan untuk dilakukan coaching dengan menerapkan teknik segitiga restitusi
2. Teknik pertama yaitu menstabilkan identitas. Dimana setelah mengkonfirmasi masalah dan menanyakan perasaan, penulis menstabilkannya dengan mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Ini akan membuat siswa merasa didengarkan dan dipahami. Disini rasa percaya terbangun dan hubungan mulai diperbaiki
3. Teknik kedua yaitu validasi tindakan yang salah. Dimana penulis menanyakan apa alasan sebenarnya ia melakukan kesalahan tersebut. Disini penulis tidak menghakimi. Justru melanjutkan dengan pertanyaan terbuka tentang solusi apa yang siswa akan lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Tanpa mengarahkan atau ikut mencarikan pemecahahan, bahkan tidak untuk menasehati. Selain membangun kepercayaan dan memperbaiki hubungan murid-guru, teknik ini akan membuat siswa merasa dihargai terutama untuk mencari solusinya sendiri-mandiri
4. teknik ketiga yaitu menanyakan keyakinan. Siswa diajak untuk berefleksi mulai dari permasalahan yang ia hadapi hingga solusi yang akan ia ambil. Disini siswa dilatih untuk mengambil hikmah-pelajaran dengan menyimpulkan nilai-nilai apa yang telah ia dapat dari awal kejadian hingga akhir diskusi dengan guru
Hasil:
Awalnya siswa takut ketika penulis mengajak diskusi restitusi. Karena telah tertanam image atau mindset bahwa siswa akan dimarahi-dihukum setiap melakukan kesalahan. Namun setelah mendapatkan coaching dengan teknik segitiga restitusi siswa tersebut menyatakan bahwa perasaan di awal tadi telah hilang dan berganti dengan rasa nyaman
Refleksi/Dampak Diri:
terdapat tanda-tanda perubahan pada diri siswa yang memiliki masalah dalam hal pelanggaran aturan-tata tertib sekolah. Ini dapat diketahui dari wawancara dengan siswa sebelum, sesaat, dan sesudah proses coaching dengan teknik segitiga restitusi.
siswa yang awalnya takut dengan guru, pada akhirya merasa nyaman. hal ini karena siswa merasa dimengerti-dipahami dan diberi kesempatan untuk memecahkan masalahnya sendiri.
ini menunjukkan bahwa hukuman tidaklah diperlukan, karena justru akan merusak hubungan komunikasi antara murid dan guru serta tidak memandirikan siswa sepenuhnya
Profil Penulis
Daniel Yudha Kumoro
Bimbingan dan Konseling
SMKN 3 Buduran, Sidoarjo
Catatan Kurator
[custom_field field="catatan_kurator"]
Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa
Praktik baik Sebelum Direvisi
[revisi_terbaru]
Elaborasi Praktik Baik
NASKAH CERITA PRAKTIK BAIK – TPN X SIDOARJO 2023
“Penerapan Teknik Segitiga Restitusi dalam Menangani Permasalahan Siswa”
Daniel Yudha Kumoro – BK SMKN 3 Buduran
Topik:
Coaching
Judul:
Penerapan Teknik Segitiga Restitutusi dalam Menangani Permasalahan Siswa
Penulis:
Daniel Yudha Kumoro
Situasi:
Siapapun tidak luput dari masalah. Termasuk siswa. Di sekolah sering mereka melakukan kesalahan atau pelanggaran tata tertib-peraturan sekolah. Maka sudah selayaknya tugas guru melayani-membantu menyelesaikan-meluruskan permasalahan mereka tersebut
Tantangan :
Sayangnya, kebanyakan guru di sekolah manapun masih-sering menggunakan teknik hukuman untuk menyelesaikan masalah siswa yang terkait kesalahan-pelanggaran tata tertib-peraturan sekolah. Alih-alih merasa dibantu-dilayani-diselesaikan-diluruskan, hukuman justru membuat siswa merasa disakiti, marah, sedih, diabaikan, rendah diri, mengasingkan diri, dendam, merusak hubungan komunikasi, dan lain sebagainya
Aksi :
1. Mengambil contoh siswa yang melakukan pelanggaran seperti sering datang terlambat dan memakai topi yang bukan atribut sekolah. Mengundang siswa tersebut di ruang pertemuan untuk dilakukan coaching dengan menerapkan teknik segitiga restitusi
2. Teknik pertama yaitu menstabilkan identitas. Dimana setelah mengkonfirmasi masalah dan menanyakan perasaan, penulis menstabilkannya dengan mengatakan bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Ini akan membuat siswa merasa didengarkan dan dipahami. Disini rasa percaya terbangun dan hubungan mulai diperbaiki
3. Teknik kedua yaitu validasi tindakan yang salah. Dimana penulis menanyakan apa alasan sebenarnya ia melakukan kesalahan tersebut. Disini penulis tidak menghakimi. Justru melanjutkan dengan pertanyaan terbuka tentang solusi apa yang siswa akan lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Tanpa mengarahkan atau ikut mencarikan pemecahahan, bahkan tidak untuk menasehati. Selain membangun kepercayaan dan memperbaiki hubungan murid-guru, teknik ini akan membuat siswa merasa dihargai terutama untuk mencari solusinya sendiri-mandiri
4. teknik ketiga yaitu menanyakan keyakinan. Siswa diajak untuk berefleksi mulai dari permasalahan yang ia hadapi hingga solusi yang akan ia ambil. Disini siswa dilatih untuk mengambil hikmah-pelajaran dengan menyimpulkan nilai-nilai apa yang telah ia dapat dari awal kejadian hingga akhir diskusi dengan guru
Hasil:
Awalnya siswa takut ketika penulis mengajak diskusi restitusi. Karena telah tertanam image atau mindset bahwa siswa akan dimarahi-dihukum setiap melakukan kesalahan. Namun setelah mendapatkan coaching dengan teknik segitiga restitusi siswa tersebut menyatakan bahwa perasaan di awal tadi telah hilang dan berganti dengan rasa nyaman
Refleksi/Dampak Diri:
terdapat tanda-tanda perubahan pada diri siswa yang memiliki masalah dalam hal pelanggaran aturan-tata tertib sekolah. Ini dapat diketahui dari wawancara dengan siswa sebelum, sesaat, dan sesudah proses coaching dengan teknik segitiga restitusi.
siswa yang awalnya takut dengan guru, pada akhirya merasa nyaman. hal ini karena siswa merasa dimengerti-dipahami dan diberi kesempatan untuk memecahkan masalahnya sendiri.
ini menunjukkan bahwa hukuman tidaklah diperlukan, karena justru akan merusak hubungan komunikasi antara murid dan guru serta tidak memandirikan siswa sepenuhnya
Profil Penulis
Daniel Yudha Kumoro
Bimbingan dan Konseling
SMKN 3 Buduran, Sidoarjo
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.