PEMBELAJARAN BERDIFFERENSIASI
UNTUK KEMERDEKAAN MURID
With : Alia Yovica, S.Pd
Middle School 29 Sijunjung
Saya merupakan seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 29 Sijunjung, Sumatera Barat. Sebuah sekolah yang terletak tidak jauh dari pusat Kabupaten Sijunjung. Sehari – hari saya mengajar di kelas 7 And 9 dengan jumalah total 150 students. Murid di sekolah saya rata – rata adalah anak petani karet dan memiliki beragam keunikan dan moda belajar yang berbeda. Ada beberapa anak yang kinestetik, visual, dan audio. Ada murid yang suka bergerak kemana –mana, tidak bisa diam. Ada anak yang butuh perhatian dan kegembiraan dalam belajar, kurang antusias dalam belajar, motivasi rendah, keberanian masih kurang untuk berbicara Bahasa Inggris, mereka masih takut salah. Menurut mereka Bahasa Inggris itu bahasa yang sulit dimengerti. Mereka berkata “ Bahasa Indonesia kami masih terbata – bata Ma’am apalagi Bahasa Inggris yang tertulis beda yang dibaca lain”. Ketika saya menerangkan konsep materi serta pada saat memberikan petunjuk pengerjaan tugas, masih ada yang mengobrol dan tidak mendengarkan. Sudah saya gunakan strategi “diam sejenak dan menatap mereka” tetap tidak digubris. Ada pula murid yang tidur disaat proses pembelajaran terjadi, trus ada juga sering keluar kelas minta izin ke toilet. Saya berpikir dan merenung, kelas apa ini? kok anak – anak tidak betah di kelas saya? What’s wrong?
Ini sebuah tantangan bagi saya bagaimana supaya murid di kelas ini memiliki kompetensi berkomunikasi dalam Bahasa Inggris baik itu secara tertulis maupun lisan. Saya yakin ada suatu cara untuk mengatasinya. Melalui kegiatan Temu Pendidik Daerah ( TPD) year 2022 kemaren yang diadakan oleh di Komunitas Guru Belajar Nusantara ( KGBN ) Sijunjung dan saya juga sebagai panitia dalam kegiatan tersebut. Kami mengambil topik untuk kelas Kompetensi adalah pembelajaran berdifferensiasi. Saya jadi turut belajar tentang materi tersebut. Kemudian pada program Pendidikan guru penggerak angkatan 6 Kabupaten Sijunjung tahun 2022 saya juga menjadi salah satu Guru Penggeraknya. Dalam pendidikan tersebut saya memahami tentang pembelajaran berdifferensiasi. Saya meyakinkan diri saya bahwa saya mampu membantu murid saya dengan menerapkan pembelajaran berdifferensiasi ini.
Lalu tibalah waktunya saya beraksi dan mencoba menerapkannya. Saya sudah tahu moda belajar anak – anak saya melalui assesmen diagnostik non kognitif yang saya lakukan. Kemudian saya merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) berbasis differensiasi. Untuk kelas 7 materi yang saya akan ajarkan adalah benda – benda yang ada di rumah, materi ini ada di bab IV. Untuk satu kali pertemuan saya mengambil differensiasi proses dan differensiasi konten. Untuk differensiasi produk saya rasa tidak akan cukup waktu dalam 2 jam pembelajaran yang saya laksanakan. Differensiasi proses yang saya rancang adalah dengan melakukan permainan, mengamati video, mengisi LKPD.
Assesmen Sumatif saya gunakan scan barcode untuk menjadikan mereka antusias dalam pembelajaran. Pada differensiasi konten saya merencanakan saat menyelesaikan LKPD setiap kelompok saya berikan materi yang berbeda, juga di saat asssesmen sumatif, saya tempelkan kertas barcode sebanyak 20 buah di dalam dan luar kelas. Saya buat kesepakatan berapa soal yang akan mereka kerjakan. Setelah sampai di kelas tahapan demi tahapan pembelajaran saya lakukan. Mulai dari kegiatan pendahuluan inti dan penutup. Dalam tahapan demi tahapan membuat anak penasaran. Mereka menunggu aktifitas apa yang akan mereka lakukan berikutnya dan itu membuat saya merasa lega.
Dampak dari pembelajaran berdifferensiasi yang saya lakukan, anak – anak tidak tidur lagi, tidak ada yang izin keluar kelas secara terus menerus. Ketika saya memberikan instruksi, mereka menyimak. Ketika menonton video mereka memperhatikan dengan seksama. Ketika bertemu di pertemuan berikutnya mereka bertanya “. Duh senangnya. Pelajaran yang saya ambil, ketika kita ingin hasil maksimal tentu perlu kerja keras dan semangat untuk mengerjakan sesuatu. Ide kreatif juga diperlukan bagi seorang guru. Kita sebaiknya tidak menggunakan cara- cara lama yang tidak sesuai lagi dengan anak – anak zaman sekarang. Akhirnya saya dapat mengakomodasi kebutuhan murid saya yang beragam dan mereka jadi bahagia.