Awal keresahan saya ketika melihat murid saat belajar di kelas seperti kurang menikmatinya, mulai dari pemahaman materi, proses pembelajaran, hingga pembuatan produk. Saat pembuatan produk beberapa murid mengatakan bu “ saya tidak bisa menggambar”. Murid lain mengatakan: “Bu, malasku menulis” Bu, saya tidak bisa menyanyi, dan lain sebagainya. Apa yang kita lakukan sebagai guru ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu? Apakah kita hanya diam ataukah memaksa murid untuk melakukannya? Saya sangat ingin saat pembelajaran, murid menikmati prosesnya dengan bahagia.
Kendala yang saya hadapi saat proses pembelajaran berlangsung adalah murid lambat memahami konten pembelajaran,karena mereka tidak asyik dalam menerima konten. Produk akhir yang dibuat asal-asalan, kurang kreatif, dalam artian “yang penting selesai”.
Saya menggunakan Strategi belajar yang bisa memenuhi kebutuhan belajar murid, yaitu Strategi Pembelajaran Berdifferensiasi. Pertama yang saya lakukan adalah melakukan assessment diagnostik berdasarkan minat dan bakat murid. Model assessment diagnostiknya adalah assessment diagnostik langsung, Setelah selesai melakukan assessment diagnostik saya membuat kelompok berdasarkan minat dan bakatnya tadi. Jadi disini jumlah anggota kelompoknya berbeda-beda tergantung minat dan bakatnya. Awal kegiatan pembelajaran saya menyediakan konten yang berbeda, ada dalam bentuk video you tube dan bahan bacaan. Setelah murid selesai memahami konten, saya memberikan pilihan tugas yang berbeda disesuaikan dengan minat dan bakatnya.
Setelah menerapkan strategi Pembelajaran Berdifferensiasi murid saya terlihat lebih menikmati dan bahagia mengikuti proses pembelajaran. Bakat dan potensi yang dimiliki murid juga semakin meningkat. Kata murid saya Fahry al juhri: “Saya bahagia saat mengikuti Pembelajaran, karena prosesnya disesuaikan dengan minat dan bakat saya”, sehingga bakat saya bisa berkembang.