Mewujudkan Generasi Berprofil Pelajar Pancasila Bersama POLISI (Program Literasi Seminggu Berisi)
Penulis : ELVADENI,SPd (GURU SDN 09 NILAU KEC. BASA AMPEK BALAI, KAB. PESSEL)
[email protected]
Semangat Merdeka Belajar yang sedang dicanangkan saat ini memperkuat tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Kedua semangat ini yang kemudian memunculkan sebuah pedoman, sebuah penunjuk arah yang konsisten, dalam pendidikan di Indonesia. Pedoman tersebut dikenal dengan istilah Profil Pelajar Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebhinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif.
Sembilan puluh persen dari murid saya tidak memiliki kemampuan sesuai dengan profil pelajar pancasila, mulai dari keberanian berbicara di depan kelas, tidak adanya kepercayaan diri, belum mampu mengemukakan pendapat, tidak mau menanyakan banyak hal (berfikir kritis), tidak memilki inisiatif dari diri sendiri dalam banyak hal, belum mandiri, karakter yang mulai terkikis dan keterampilan lainnya
Padahal kemampuan tersebut selayaknya sudah dimiliki oleh murid-murid kami di Sekolah Dasar yang menjadi pondasi utama dalam menanamkan karakter dan budaya positif di lingkungan sekolah dan mewujudkan pelajar berjiwa pancasila.
Saat itu, saya tengah mengikuti sebuah pelatihan dari kementrian yaitu Calon Guru Penggerak. Dimana saya tengah menggeluti sebuah modul Nilai dan Peran Guru Penggerak. “Untuk bisa mewujudkan Profil Pelajar Pancasila tersebut, dibutuhkan pendidik yang terampil dan berkompeten sehingga mampu berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan profil tersebut”. Begitulah sepenggal kalimat yang tertangkap di otak saya dari sekian banyak penjelasannya, Maka sayapun tertantang untuk membuat sebuah program yang mampu mewujudkan profil tersebut setiap harinya, kenapa? Agar saya dapat membangun karakter murid saya di ruang belajar kami yang lebih kecil dan mewujudkan budaya positif pada lingkup sekolah yang lebih luas dari kelas.
Program harian yang saya buat adalah kegitan literasi yang saya namakan dengan “POLISI” yang artinya Program Literasi Seminggu Berisi. Setelah saya sosialisasikan program tersebut kepada murid di kelas, maka sayapun mempraktekkannya setiap hari. Detail dari programnya adalah :
- SKETSA = Senin Ceria Keterampilan Berbicara.
Program setiap hari Senin ini, berjudul sketsa. Program ini memicu dan memacu keterampilan berbicara murid secara bergilirian setiap seninnya, mulai dari menceritakan hobinya, aktivitas ataupun benda kesayangannya serta cerita lainnya yang mereka suka. Jika sering mereka berbicara, maka kepercayaan diripun akan datang nanti dengan sendirinya. Saya yakin dan percaya, kemampuan itu tidak instan, namun di asah setiap harinya.
- MISS YOU = Menulis Itu Bikin Candu
Program ini saya namakan misyu, yang mana murid saya minta untuk menulis setiap hari selasanya dengan tema yang berbeda. Mulai dari dua kalimat sampai satu paragraf, karena kemampuan mereka dalam menulis masih jauh dari standar murid kelas lima yang diharapkan seperti penggunaan huruf Kapital yang masih berantakan, belum mampu mengeluarkan ide-ide dalam tulisan dan lainnya serta sasaran saya di akhir semester nanti, kami bisa mempunyai sebuah buku karya kolaborasi. Harapan sebuah literasi dari sebuah program menulis yang berharap bisa terealisasi.
- LITER = Literasi Karakter
Program saya setiap rabu ini fokus kepada perbaikan sikap dan akhlaq sang murid. Karena sering merasa kecewa melihat tingkah laku mereka, ketika berpapasan dengan seorang murid yang bertemu ditempat keramaian, sang murid tersebut tidak mau menyapa, entah karna malu atau mungkin tidak terbiasa. Maka munculah program ini, dengan memberikan sebuah kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar sikap apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan permintaan soal.
- KAMIS SERU yang VIRAL = Tahfidz juz 30 dihafal
Minimnya hafalan siswa terutama pada hafalan surat-surat pendek yang berada di juz 30 ini, ketika saya ketahui saat kami sholat dhuha bersama di mushola sekolah. Hal ini membuat saya tergerak untuk menambah hafalan mereka agar terwujud generasi hafidz pada profil pancasila yang pertama.
- JUM’AT SIAGA BERSAMA JURUS = JUM’AT TADARUS
- Tak lupa program andalan saya untuk meningkatkan iman dan taqwa mereka lewat sholat Dhuha berjama”ah setiap Selasa-Jum”at setiap paginya di mushola sekolah.
Alhamdulillah, sekian bulan program dilaksanakan, ternyata ada perubahan-perubahan kecil yang saya dapatkan dan perlahan membuat perubahan yang lebih besar dari kelas saya dan menjadi budaya positif di lingkungan sekolah. Sholat dhuha berjama”ah yang biasa kami lakukan di kelas dicontoh oleh kelas lainnya, bahkan diadakan secara massal berjama”ah dilapangan sekolah mulai dari kelas empat sampai kelas enam. Sekali seminggu saja setelah kegiatan santapan rohani jum”at paginya. Serta menyampaikan program ini kepada kelas-kelas lainnya, melalui Kepala Sekolah. Ternyata para guru memberikan respon yang baik untuk mencoba di kelasnya. Perubahan lainnya karakter murid saya perlahan mulai baik, dari yang tidak terbiasa menyapa, yang tidak membungkukkan badan lewat di depan guru, sekarang sudah bisa menyapa dengan ramah dan membungkukkan badan meminta izin jika lewat di depan guru-guru yang banyak di kantor guru serta perubahan-perubahan lainnya.
Refleksi yang juga saya dapatkan adalah, menjadi guru merdeka itu butuh kolaborasi, tidak bisa sendiri, selalu berkolaborasi dengan semua pihak dan semua stakeholder pendidikan mewujudkan profil pelajar pancasila dan buadaya positif di lingkungan sekolah.