Archipelago Educators Meeting XIII

Select Language

Meramu Pembelajaran Menghadapi Murid Autis Kinestetik

Good practice before revised

[Revision_teru]

Good practice elaboration

Early

Pada saat penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) terlihat seorang remaja laki-laki sedang berusaha mencari dokumen ditasnya. Saat ia tahu dokumen yang dicari tertinggal, remaja itu menangis meraung-raung. Petugas penasaran dengan remaja itu. Setelah dicek remaja itu bisa lolos karena nilainya yang memang bagus. Petugas penerimaan dokumen baru mengerti setelah orangtuanya memohon maaf dan menjelaskan bahwa kondisi anaknya autis. Orangtuanya sengaja meminta anaknya yang langsung menghadapi guru untuk melihat sejauh mana pembelajaran berinteraksi hari itu. Orangtuanya menjelaskan anaknya siap untuk menerima pembelajaran yang sama dengan teman-teman lainnya.

Kepala Sekolah memberi informasi bahwa sekolah harus siap menghadapi siswa autis yang sudah diterima sebagai murid di SMA kami. Hak dan kewajibannya sama dengan murid lain. Murid tersebut mendapatkan kesempatan belajar yang sama dalam memenuhi kebutuhan belajarnya. Saya adalah orang yang beruntung karena menjadi walikelasnya.

Sebagai seorang guru saya memiliki keinginan agar murid-murid dapat belajar dengan baik dan interaksi dengan sesama teman juga berlangsung baik, sehingga kondisi kelas menjadi kondusif untuk belajar. Dari survei yang saya lakukan, murid autis tersebut sewaktu-waktu berteriak histeris, dan diwaktu lain ia bisa duduk manis sambil memainkan ponselnya. Kondisi ini yang menyebabkan murid lain harus berbesar hati memaklumi keadaan, sementara sebenarnya masing-masing murid mempunyai permasalahan sendiri, seperti orang tuanya yang kurang harmonis, kondisi ekonomi yang kurang mampu, murid yang sudah masuk daftar guru BK karena sering bermasalah, and others. Kondisi ini membuat suasana kelas kurang nyaman.

CHALLENGE

Setelah diobservasi ternyata murid autis kinestetik perlu mendapat perhatian lebih, namun penanganannya harus dipikirkan dengan baik. keberagaman gaya belajar murid lain yang harus diperhatikan. Bagaimana cara menangani murid kinestetik yang ada, sementara kondisi murid-murid lain perlu diperhatikan mengingat mereka juga mempunyai permasalahannya sendiri?

Saya berupaya bekerjasama dengan orangtua dan guru-guru lain dalam menangani murid autis tersebut. Saya mencari tahu hal yang membuatnya marah dan gembira. Guru BK memanggil murid autis tersebut untuk berbincang-bincang, sementara kami di kelas berdiskusi tentang teman autis yang ada diantara murid di kelas. Setelah diberi pemahaman, murid lain mau berusaha dan sepakat memahami kondisi yang ada.

https://drive.google.com/file/d/1V7kicnZmSGrf1xy8l0qiTK4tMer4a_7t/view?u

ACTION

Saya mulai mencari cara agar murid yang autis dapat memperbaiki tingkah lakunya dengan kesadaran sendiri, menghargai temannya, dan bisa bersosialisasi. Langkah yang saya lakukan sebelumnya adalah mencoba berbincang-bincang dengannya diluar pelajaran, menanyakan hobi atau kesukaannya, bagaimana keluarganya, apa yang sering diakukan di rumah dan lain-lain. Selain itu saya juga rajin melakukan komunikasi dengan orangtuanya. Langkah selanjutnya mengajak murid lain bersama-sama membangun kreatifitas, bukan memperbesar masalah yang ada.

Suatu ketika saat masuk materi dengan tema ‘Keluarga’ dalam pembelajaran bahasa Jepang, saya mengajak murid untuk membuat kelompok dengan beragam kesukaan. Sebelum masuk materi, mereka ditugaskan melakukan wawancara di sekitar rumah, khususnya dengan orang terdekat.

Pertemuan pertama pada materi itu, mendiskusikan hasil wawancara . Kemudian dari hasil wawancara mereka membuat kesimpulan tentang kekurangan apa yang paling banyak dirasakan. Pada saat ada kelompok yang mewawancarai hasilnya lebih banyak yang lemah dalam pendengaran, mereka merencanakan membuat inovasi bagi yang kekurangan dalam pendengaran. Semua kesimpulan dimasukkan dalam tulisan disebuah karton yang ditempel didinding. Ada murid yang menggambar, write, mewarnai tulisan pada karton, ada pula yang membuat kalimat penyemangat menyambut tamu. Ada juga murid yang mencari informasi tentang orangtua yang hidup di Jepang. Berikutnya kegiatan moving. Dua orang menunggu di pos, yang lain mencari informasi pada kelompok lain. Selanjutnya mereka berkumpul lagi dalam kelompoknya untuk membahas apa saja informasi yang sudah didapat dari luar kelompok. Murid autis terlihat aktiv sekali. Selanjutnya dilakukan pembahasan materi tema ‘Keluarga’ dengan menyebut anggota keluarga , jumlah keluarga, juga usia dalam bahasa Jepang. Murid-murid terlihat begitu bersemangat mengikuti pelajaran dengan menyebut, mengulang ucapan dan melakukan roleplay sesuai contoh percakapan.

Pada pertemuan kedua, murid membawa kertas koran, lakban/isolatip untuk membungkus tangan, kaki dan badan. Isolasi untuk jemari tangan, kacamata renang yang dioles handbody. Satu orang dalam kelompok akan menjadi orangtua dengan kondisi lemah untuk jalan/bergerak ataupun melihat. Setelah itu teman lain mewawancarai apa yang dirasakan dengan kondisi seperti itu. Dengan merasakan seperti itu ternyata hati mereka tergerak untuk lebih mengasihi/menyayangi orangtua. Hasil diskusi kelompok diucapkan oleh perwakilan kelompok. Selanjutnya masuk materi tentang kondisi kesehatan keluarga. Murid diperkenalkan tentang kondisi kesehatan dengan menyebut macam-macam penyakit .

Pada pertemuan ketiga murid membawa jenis makanan ada tulisan Jepangnya. Murid mencari kandungan dalam makanan, yang membuat mereka mengetahui yang makanan yang sebaiknya dikonsumsi dan yang kurang baik untuk dikonsumsi.

Dari hasil testimoni, murid-murid yang mempunyai suatu masalah, merasakan ternyata ada yang lebih berat lagi yang dialami orang lain. Murid-murid juga merasakan menjaga kesehatan lebih baik dari pada mengobati penyakit. Selain itu mereka menjadi lebih menghargai diri sendiri dengan membuat kebaikan. Pembelajaran bisa diikuti dengan menyenangkan dan bermakna.

Pada kelas ini kegiatan memang lebih banyak dilakukan diawali dengan praktik. Kemudian pada pertemuan materi selanjutnya saya melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi proses dengan membagi kelompok. Murid bisa masuk kekelompok sesuai dengan bakat minatnya. Konten yang diberikan juga beragam. Ada gambar, text, juga video. Pembelajaran di kelas diupayakan sesuai dengan kebutuhan murid. Pada saat menemukan masalah, mereka diminta menghadapi dengan penyelesaian secara berkelompok. Selanjutnya dilakukan diferensiasi produk. Ada kelompok murid yang memaparkan dengan gambar, ada yang dengan paparan, dengan lagu yang diciptakan dan lain-lain.

LESSON

Dari pertemuan dan kegiatan yang dilakukan di kelas, semakin terlihat kekuatan diri murid autis dan murid yang lain. Murid-murid mulai saling mengingatkan tentang perbuatan baik dan apa yang seharusnya dilakukan. Tak disangka murid autis tersebut mulai berusaha mengendalikan emosi, berpikir memperbaiki diri dengan kesadaran sendiri dan mulai tidak membuat keonaran di sekolah, diikuti murid lain. Mereka mulai mengenali perilaku temannya dengan menerima dan memaklumi kekurangannya.

Dari curahan hati murid autis kepada teman-temannya diketahui bahwa jika tiba-tiba ia berteriak, sebenarnya ia mengingat kejadian saat ia bertengkar dengan kakaknya di rumah. Memori kejadian di rumah, tiba-tiba terlintas dalam ingatannya di sekolah. Pernyataan ini ia berikan di depan kelas sambil meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Selanjutnya saat teriakan terdengar dari murid autis, teman lain memahami, dan ada yang berusaha menenangkan.

Saya sebagai guru, ikut merasakan betapa tidak nyamannya kondisi yang dialami murid autis. Keadaan seperti ini menimbulkan rasa empati yang besar untuk memahami murid dalam segala kondisi.

If you experience problems scrolling, scroll outside of the area Live Chat which is black.