Praktik baik ini di sampaikan kepada rekan guru di SMPN 2 Bojongpicung awal tahun pelajaran 2022/2023, setelah belajar mandiri di PMM tentang merdeka belajar.
Praktik baik ini di sampaikan kepada rekan guru di SMPN 2 Bojongpicung awal tahun pelajaran 2022/2023, setelah belajar mandiri di PMM tentang merdeka belajar.
MEMAKNAI MERDEKA BELAJAR GURU DALAM MENGAJAR
Oleh :
Wawan Heryawan, S.Pd.Fis
Pengawas SMP Kab.Cianjur
Paradigma bahwa guru adalah sebagai pusat belajar telah melekat pada pandangan dunia pendidikan di Indonesia bahwa ada ungkapan guru adalah sosok yang harus di gugu (dalam bahasa sunda) artinya di ikuti segala titahnya dan di tiru, guru memiliki ke istimewaan kedudukan karena ilmu dan kharisma yang di miliki sehingga apapun yang di ungkapkan dan di sampaikannya dianggap paling baik dan benar, sehingga guru dijadikan sebagai pusat sumber belajar.
Kurang aktif dan percaya dirinya peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang misalnya tidak berani bertanya, menjawab, memberikan pendapat atau solusi serta kreativitas menuangkan ide dan gagasan keterampilan, sehingga mayoritas peserta didik hanya menunggu intruksi dan solusi yang di berikan oleh guru, takut salah dalam menjawab, sikap siswa yang tampak bosan dalam belajar, hal ini yang menyebabkan perkembangan kompetensi dalam pendidikan bergerak lambat dan tertinggal oleh bangsa lain dari produk hasil pendidikan dan pengembangannya terutama pada bidang teknologi dan informasi sebagai perkembangan peradaban modern yang dikenal kecakapan abad 21.
Sikap mengormati dan menghargai sebagai bagian dari toleransi memang harus terus dipupuk melalui pendidikan pada generasi sepanjang hayat sebagai makhluk sosial yang tergantung kepada orang lain, alam dan lingkungan melalui penerapan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara momong, among dan ngemong yang dikenal dengan ing ngarsa sungtulada, ingmadya mangun karsa, tutwuri handayani agar terdapat keseimbangan antara pendidikan dan pengajaran, yang berdampak kepada tercapainya harapan, keselamatan dan kebahagiaan peserta didik sebagai bagian dari masyarakat.
Dalam Praktik baik pemahaman merdeka belajar memiliki tujuan supaya guru dapat memahami, memaknai, melaksanakan merdeka belajar pada kegiatan mengajarnya, seluruh peserta didik mendapatkan kemerdekaan belajarnya, sehingga tercapai apa yang di harapkan dari tujuan belajarnya.
Tantangan yang muncul bagaimana mengajak dan memotivasi rekan pendidik lain mengikuti kegiatan deseminasi dan menentukan waktu pelaksanaan, pengalaman mengajar serta praktik pengajaran rekan guru yang terjadi saat ini adalah terbiasanya guru melakukan metoda pembelajaran yang berpusat kepada guru tidak adanya kesempatan evaluasi dan refleksi oleh siswa, kurangnya dorongan guru untuk meningkatkan pengembangan kompetensi pedagogik, dan profesional secara masif, model pembelajaran yang berpusat kepada guru dalam arti guru telah merasa cukup dan nyaman dengan kebiasaan mengajar sehingga merasa yakin bahwa yang dikerjakannya tidak ada masalah, dan hal lain adalah membutuhkan waktu serta energi dalam adaftasi transformasi pembelajaran.
Untuk menjawab tujuan yang diharapkan tentang apa dan bagaimana merdeka belajar maka pemahaman awal guru tentang makna merdeka belajar harus dipahamkan sebagai pondasi dalam melakukan tindak lanjut pengajarannya, adapun strategi yang harus di laksanakan yaitu :
Kegiatan aksi yang dilakukan di harapkan agar rekan guru mendapatkan pemahaman baru tentang pentingya merdeka belajar di lakukan pada kegiatan pengajarannya dikelas atau pun diluar kelas serta kegiatan lainnya yang mendukung proses belajar kognitif, apektif dan keterampilan yang membawa dampak positif.
Hasil refleksi rekan guru setelah mengikuti kegiatan menggambarkan merdeka belajar harus dirasakan dan dilaksanakan oleh murid, guru menuntun murid dalam pencapaian tujuan belajar, pendidik membantu tumbuh kembangnya tahapan belajar, guru menerapkan filosofi pendidikan dan pengajaran Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
Praktik baik ini di sampaikan kepada rekan guru di SMPN 2 Bojongpicung awal tahun pelajaran 2022/2023, setelah belajar mandiri di PMM tentang merdeka belajar.
MEMAKNAI MERDEKA BELAJAR GURU DALAM MENGAJAR
Oleh :
Wawan Heryawan, S.Pd.Fis
Pengawas SMP Kab.Cianjur
Paradigma bahwa guru adalah sebagai pusat belajar telah melekat pada pandangan dunia pendidikan di Indonesia bahwa ada ungkapan guru adalah sosok yang harus di gugu (dalam bahasa sunda) artinya di ikuti segala titahnya dan di tiru, guru memiliki ke istimewaan kedudukan karena ilmu dan kharisma yang di miliki sehingga apapun yang di ungkapkan dan di sampaikannya dianggap paling baik dan benar, sehingga guru dijadikan sebagai pusat sumber belajar.
Kurang aktif dan percaya dirinya peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang misalnya tidak berani bertanya, menjawab, memberikan pendapat atau solusi serta kreativitas menuangkan ide dan gagasan keterampilan, sehingga mayoritas peserta didik hanya menunggu intruksi dan solusi yang di berikan oleh guru, takut salah dalam menjawab, sikap siswa yang tampak bosan dalam belajar, hal ini yang menyebabkan perkembangan kompetensi dalam pendidikan bergerak lambat dan tertinggal oleh bangsa lain dari produk hasil pendidikan dan pengembangannya terutama pada bidang teknologi dan informasi sebagai perkembangan peradaban modern yang dikenal kecakapan abad 21.
Sikap mengormati dan menghargai sebagai bagian dari toleransi memang harus terus dipupuk melalui pendidikan pada generasi sepanjang hayat sebagai makhluk sosial yang tergantung kepada orang lain, alam dan lingkungan melalui penerapan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara momong, among dan ngemong yang dikenal dengan ing ngarsa sungtulada, ingmadya mangun karsa, tutwuri handayani agar terdapat keseimbangan antara pendidikan dan pengajaran, yang berdampak kepada tercapainya harapan, keselamatan dan kebahagiaan peserta didik sebagai bagian dari masyarakat.
Dalam Praktik baik pemahaman merdeka belajar memiliki tujuan supaya guru dapat memahami, memaknai, melaksanakan merdeka belajar pada kegiatan mengajarnya, seluruh peserta didik mendapatkan kemerdekaan belajarnya, sehingga tercapai apa yang di harapkan dari tujuan belajarnya.
Tantangan yang muncul bagaimana mengajak dan memotivasi rekan pendidik lain mengikuti kegiatan deseminasi dan menentukan waktu pelaksanaan, pengalaman mengajar serta praktik pengajaran rekan guru yang terjadi saat ini adalah terbiasanya guru melakukan metoda pembelajaran yang berpusat kepada guru tidak adanya kesempatan evaluasi dan refleksi oleh siswa, kurangnya dorongan guru untuk meningkatkan pengembangan kompetensi pedagogik, dan profesional secara masif, model pembelajaran yang berpusat kepada guru dalam arti guru telah merasa cukup dan nyaman dengan kebiasaan mengajar sehingga merasa yakin bahwa yang dikerjakannya tidak ada masalah, dan hal lain adalah membutuhkan waktu serta energi dalam adaftasi transformasi pembelajaran.
Untuk menjawab tujuan yang diharapkan tentang apa dan bagaimana merdeka belajar maka pemahaman awal guru tentang makna merdeka belajar harus dipahamkan sebagai pondasi dalam melakukan tindak lanjut pengajarannya, adapun strategi yang harus di laksanakan yaitu :
Kegiatan aksi yang dilakukan di harapkan agar rekan guru mendapatkan pemahaman baru tentang pentingya merdeka belajar di lakukan pada kegiatan pengajarannya dikelas atau pun diluar kelas serta kegiatan lainnya yang mendukung proses belajar kognitif, apektif dan keterampilan yang membawa dampak positif.
Hasil refleksi rekan guru setelah mengikuti kegiatan menggambarkan merdeka belajar harus dirasakan dan dilaksanakan oleh murid, guru menuntun murid dalam pencapaian tujuan belajar, pendidik membantu tumbuh kembangnya tahapan belajar, guru menerapkan filosofi pendidikan dan pengajaran Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
MEMAKNAI MERDEKA BELAJAR GURU DALAM MENGAJAR
Oleh :
Wawan Heryawan, S.Pd.Fis
Pengawas SMP Kab.Cianjur
Paradigma bahwa guru adalah sebagai pusat belajar telah melekat pada pandangan dunia pendidikan di Indonesia bahwa ada ungkapan guru adalah sosok yang harus di gugu (dalam bahasa sunda) artinya di ikuti segala titahnya dan di tiru, guru memiliki ke istimewaan kedudukan karena ilmu dan kharisma yang di miliki sehingga apapun yang di ungkapkan dan di sampaikannya dianggap paling baik dan benar, sehingga guru dijadikan sebagai pusat sumber belajar.
Kurang aktif dan percaya dirinya peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang misalnya tidak berani bertanya, menjawab, memberikan pendapat atau solusi serta kreativitas menuangkan ide dan gagasan keterampilan, sehingga mayoritas peserta didik hanya menunggu intruksi dan solusi yang di berikan oleh guru, takut salah dalam menjawab, sikap siswa yang tampak bosan dalam belajar, hal ini yang menyebabkan perkembangan kompetensi dalam pendidikan bergerak lambat dan tertinggal oleh bangsa lain dari produk hasil pendidikan dan pengembangannya terutama pada bidang teknologi dan informasi sebagai perkembangan peradaban modern yang dikenal kecakapan abad 21.
Sikap mengormati dan menghargai sebagai bagian dari toleransi memang harus terus dipupuk melalui pendidikan pada generasi sepanjang hayat sebagai makhluk sosial yang tergantung kepada orang lain, alam dan lingkungan melalui penerapan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara momong, among dan ngemong yang dikenal dengan ing ngarsa sungtulada, ingmadya mangun karsa, tutwuri handayani agar terdapat keseimbangan antara pendidikan dan pengajaran, yang berdampak kepada tercapainya harapan, keselamatan dan kebahagiaan peserta didik sebagai bagian dari masyarakat.
Dalam Praktik baik pemahaman merdeka belajar memiliki tujuan supaya guru dapat memahami, memaknai, melaksanakan merdeka belajar pada kegiatan mengajarnya, seluruh peserta didik mendapatkan kemerdekaan belajarnya, sehingga tercapai apa yang di harapkan dari tujuan belajarnya.
Tantangan yang muncul bagaimana mengajak dan memotivasi rekan pendidik lain mengikuti kegiatan deseminasi dan menentukan waktu pelaksanaan, pengalaman mengajar serta praktik pengajaran rekan guru yang terjadi saat ini adalah terbiasanya guru melakukan metoda pembelajaran yang berpusat kepada guru tidak adanya kesempatan evaluasi dan refleksi oleh siswa, kurangnya dorongan guru untuk meningkatkan pengembangan kompetensi pedagogik, dan profesional secara masif, model pembelajaran yang berpusat kepada guru dalam arti guru telah merasa cukup dan nyaman dengan kebiasaan mengajar sehingga merasa yakin bahwa yang dikerjakannya tidak ada masalah, dan hal lain adalah membutuhkan waktu serta energi dalam adaftasi transformasi pembelajaran.
Untuk menjawab tujuan yang diharapkan tentang apa dan bagaimana merdeka belajar maka pemahaman awal guru tentang makna merdeka belajar harus dipahamkan sebagai pondasi dalam melakukan tindak lanjut pengajarannya, adapun strategi yang harus di laksanakan yaitu :
Kegiatan aksi yang dilakukan di harapkan agar rekan guru mendapatkan pemahaman baru tentang pentingya merdeka belajar di lakukan pada kegiatan pengajarannya dikelas atau pun diluar kelas serta kegiatan lainnya yang mendukung proses belajar kognitif, apektif dan keterampilan yang membawa dampak positif.
Hasil refleksi rekan guru setelah mengikuti kegiatan menggambarkan merdeka belajar harus dirasakan dan dilaksanakan oleh murid, guru menuntun murid dalam pencapaian tujuan belajar, pendidik membantu tumbuh kembangnya tahapan belajar, guru menerapkan filosofi pendidikan dan pengajaran Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.