Manbalim atau pemanfaatan limbah adalah salah satu praktik baik yang pernah dilakukan untuk meningkatkan kraeatifitas murid dalam membuat produk dari limbah kantong kresek yang bernilai jual.
Manbalim atau pemanfaatan limbah adalah salah satu praktik baik yang pernah dilakukan untuk meningkatkan kraeatifitas murid dalam membuat produk dari limbah kantong kresek yang bernilai jual.
Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih adalah impian warga sekolah SDN 36 Biring Ere yang di dukung oleh lingkungan sekolah yang terletak diantara daerah persawahan, pegunungan dan sungai sehingga memiliki udara yang bersih bebas dari polusi. Perananan saya sebagai guru tentunya ingin memberikan pelayanan yang terbaik kepada murid dengan memberikan lngkungan belajar yang sehat, bersih nyaman dan menyenangkan. Padatnya penduduk dan sekolah yang berbatasan langsung dengan sungai ternyata memberikan suatu masalah yang berdampak pada lingkungan yang tidak sehat dan bersih sehingga proses pembelajaran yang nyaman tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Pemandangan sampah yang tepat berada di depan sekolah dan sekitar sekolah sangat menganggu proses pembelajaran yang nyaman.
Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih , nyaman dan menyenangkan murid ternyata tidak dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan kerena memiiliki beberapa tantangan. Tantangan tersebut diantaranya di sebabkan karena banyaknya sampah seperti sampah plastik. Masih tingginya kebutuhan masyarakat dalam penggunaan kantong kresek, kurangnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan bersih bebas dari sampah, kurangnya pemahaman masyarakat dan warga sekoah khususnya bahwa sampah yang paling sulit terurai dan membutuhkan waktu lama adalah sampah plastic seperti kantong kresek, dan minimnya dana sekolah untuk membiayai jasa kebersihan lingkungan sekolah.
Sebagai guru tentu menjadi permasalahan yang harus di atasi, maka dari itu saya menelaah kembali tema yang ada dalam P5 dengan melihat potensi yang ada di lingkunngan sekolah dan menjadikan kelemahan menjadi sebuah asset. Saya pun menyusun agenda dengan rincian kegiatan yaitu pertama-tama saya mngajak murid berdiskusi terkait sampah yang ada dilingkungan sekitar, kedua menampung ide-ide yang dikemukakan murid dalam mengatasi sampah, ketiga bersama-sama murid mencari informasi baik itu melalui buku-buku referensi maupun berselancar di dunia maya dengan mencari tau di youtube ataupun google, keempat menarik kesimpulan berdasarkan diskusi dengan murid terkait pemanfaatan sampah plastic, kelima merancang P5 dengan memanfaatkan sampah plastic menjadi sebuah produk yang bernilai jual dan hasil penjualannya dimanfaatkan untuk kepentingan sekolah dan murid yang sebelumnnya sudah di sepakati bersama dengan murid, keenam melibatkan stakeholder sekolah, murid, orang tua, komite dalam menanamkan pentingnnya kesadaran untuk menjaga lingkungan tetap bersih utamanya lingkungan sekolah, serta menanamkan nilai –nilai Lisa (lihat, ambil sampah ). dan ternyata murid antusias untuk menjaga lingkungan sekitar untuk tidak membuang sampah utamanya di sungai karena bukan hanya memberikan dampak negatife pada kebersihan lingkungan sekolah akan tetapi memberikan dampak yang dapat merugikan masyarakat seperti terjadinya banjir.
Setelah melihat situasi dan dikaitkan dengan tantangan yang ada maka saya melakukan kegiatan p5 dengan memanfaatkan sampah menjadi suatu produk yang hasilnya dapat di jual dan dipasarkan sendiri oleh murid baik itu dipasarkan secara langsung ataupun melalui medsos( instagram, youtube, FB, tiktok dll) . Alhamdulllah anak-anak sangat antusias untuk membuat suatu produk yang nantinya di jual dan hasil penjualannya di gunakan untuk penataan kelas dan gelar karya yang dilaksanakan dengan berkolaborasi denga orang tua murid dan komite, terlihat dari banyakya produk yang dihasilkan dan kemudian dipasarkan. Selain itu murid sangat senang berwirausaha dan dapat berkreasi membuat desain produk melalui canva dan capcup serta memasarkanya. Adapun pelajaran yang saya proleh dari praktik baik yang saya lakukan adalah pentingnnya untuk selalu berkolaborasi dengan rekan sejawat dan orang tua Murid, serta kepala sekolah. Pelaksanaan proyek p5 yang dilakukan dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat sehingga murid nyaman dan dapat belajar baik.
penulis
Andi Irma, S. Pd., M. Pd.
Manbalim atau pemanfaatan limbah adalah salah satu praktik baik yang pernah dilakukan untuk meningkatkan kraeatifitas murid dalam membuat produk dari limbah kantong kresek yang bernilai jual.
Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih adalah impian warga sekolah SDN 36 Biring Ere yang di dukung oleh lingkungan sekolah yang terletak diantara daerah persawahan, pegunungan dan sungai sehingga memiliki udara yang bersih bebas dari polusi. Perananan saya sebagai guru tentunya ingin memberikan pelayanan yang terbaik kepada murid dengan memberikan lngkungan belajar yang sehat, bersih nyaman dan menyenangkan. Padatnya penduduk dan sekolah yang berbatasan langsung dengan sungai ternyata memberikan suatu masalah yang berdampak pada lingkungan yang tidak sehat dan bersih sehingga proses pembelajaran yang nyaman tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Pemandangan sampah yang tepat berada di depan sekolah dan sekitar sekolah sangat menganggu proses pembelajaran yang nyaman.
Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih , nyaman dan menyenangkan murid ternyata tidak dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan kerena memiiliki beberapa tantangan. Tantangan tersebut diantaranya di sebabkan karena banyaknya sampah seperti sampah plastik. Masih tingginya kebutuhan masyarakat dalam penggunaan kantong kresek, kurangnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan bersih bebas dari sampah, kurangnya pemahaman masyarakat dan warga sekoah khususnya bahwa sampah yang paling sulit terurai dan membutuhkan waktu lama adalah sampah plastic seperti kantong kresek, dan minimnya dana sekolah untuk membiayai jasa kebersihan lingkungan sekolah.
Sebagai guru tentu menjadi permasalahan yang harus di atasi, maka dari itu saya menelaah kembali tema yang ada dalam P5 dengan melihat potensi yang ada di lingkunngan sekolah dan menjadikan kelemahan menjadi sebuah asset. Saya pun menyusun agenda dengan rincian kegiatan yaitu pertama-tama saya mngajak murid berdiskusi terkait sampah yang ada dilingkungan sekitar, kedua menampung ide-ide yang dikemukakan murid dalam mengatasi sampah, ketiga bersama-sama murid mencari informasi baik itu melalui buku-buku referensi maupun berselancar di dunia maya dengan mencari tau di youtube ataupun google, keempat menarik kesimpulan berdasarkan diskusi dengan murid terkait pemanfaatan sampah plastic, kelima merancang P5 dengan memanfaatkan sampah plastic menjadi sebuah produk yang bernilai jual dan hasil penjualannya dimanfaatkan untuk kepentingan sekolah dan murid yang sebelumnnya sudah di sepakati bersama dengan murid, keenam melibatkan stakeholder sekolah, murid, orang tua, komite dalam menanamkan pentingnnya kesadaran untuk menjaga lingkungan tetap bersih utamanya lingkungan sekolah, serta menanamkan nilai –nilai Lisa (lihat, ambil sampah ). dan ternyata murid antusias untuk menjaga lingkungan sekitar untuk tidak membuang sampah utamanya di sungai karena bukan hanya memberikan dampak negatife pada kebersihan lingkungan sekolah akan tetapi memberikan dampak yang dapat merugikan masyarakat seperti terjadinya banjir.
Setelah melihat situasi dan dikaitkan dengan tantangan yang ada maka saya melakukan kegiatan p5 dengan memanfaatkan sampah menjadi suatu produk yang hasilnya dapat di jual dan dipasarkan sendiri oleh murid baik itu dipasarkan secara langsung ataupun melalui medsos( instagram, youtube, FB, tiktok dll) . Alhamdulllah anak-anak sangat antusias untuk membuat suatu produk yang nantinya di jual dan hasil penjualannya di gunakan untuk penataan kelas dan gelar karya yang dilaksanakan dengan berkolaborasi denga orang tua murid dan komite, terlihat dari banyakya produk yang dihasilkan dan kemudian dipasarkan. Selain itu murid sangat senang berwirausaha dan dapat berkreasi membuat desain produk melalui canva dan capcup serta memasarkanya. Adapun pelajaran yang saya proleh dari praktik baik yang saya lakukan adalah pentingnnya untuk selalu berkolaborasi dengan rekan sejawat dan orang tua Murid, serta kepala sekolah. Pelaksanaan proyek p5 yang dilakukan dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat sehingga murid nyaman dan dapat belajar baik.
penulis
Andi Irma, S. Pd., M. Pd.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih adalah impian warga sekolah SDN 36 Biring Ere yang di dukung oleh lingkungan sekolah yang terletak diantara daerah persawahan, pegunungan dan sungai sehingga memiliki udara yang bersih bebas dari polusi. Perananan saya sebagai guru tentunya ingin memberikan pelayanan yang terbaik kepada murid dengan memberikan lngkungan belajar yang sehat, bersih nyaman dan menyenangkan. Padatnya penduduk dan sekolah yang berbatasan langsung dengan sungai ternyata memberikan suatu masalah yang berdampak pada lingkungan yang tidak sehat dan bersih sehingga proses pembelajaran yang nyaman tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Pemandangan sampah yang tepat berada di depan sekolah dan sekitar sekolah sangat menganggu proses pembelajaran yang nyaman.
Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih , nyaman dan menyenangkan murid ternyata tidak dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan kerena memiiliki beberapa tantangan. Tantangan tersebut diantaranya di sebabkan karena banyaknya sampah seperti sampah plastik. Masih tingginya kebutuhan masyarakat dalam penggunaan kantong kresek, kurangnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan bersih bebas dari sampah, kurangnya pemahaman masyarakat dan warga sekoah khususnya bahwa sampah yang paling sulit terurai dan membutuhkan waktu lama adalah sampah plastic seperti kantong kresek, dan minimnya dana sekolah untuk membiayai jasa kebersihan lingkungan sekolah.
Sebagai guru tentu menjadi permasalahan yang harus di atasi, maka dari itu saya menelaah kembali tema yang ada dalam P5 dengan melihat potensi yang ada di lingkunngan sekolah dan menjadikan kelemahan menjadi sebuah asset. Saya pun menyusun agenda dengan rincian kegiatan yaitu pertama-tama saya mngajak murid berdiskusi terkait sampah yang ada dilingkungan sekitar, kedua menampung ide-ide yang dikemukakan murid dalam mengatasi sampah, ketiga bersama-sama murid mencari informasi baik itu melalui buku-buku referensi maupun berselancar di dunia maya dengan mencari tau di youtube ataupun google, keempat menarik kesimpulan berdasarkan diskusi dengan murid terkait pemanfaatan sampah plastic, kelima merancang P5 dengan memanfaatkan sampah plastic menjadi sebuah produk yang bernilai jual dan hasil penjualannya dimanfaatkan untuk kepentingan sekolah dan murid yang sebelumnnya sudah di sepakati bersama dengan murid, keenam melibatkan stakeholder sekolah, murid, orang tua, komite dalam menanamkan pentingnnya kesadaran untuk menjaga lingkungan tetap bersih utamanya lingkungan sekolah, serta menanamkan nilai –nilai Lisa (lihat, ambil sampah ). dan ternyata murid antusias untuk menjaga lingkungan sekitar untuk tidak membuang sampah utamanya di sungai karena bukan hanya memberikan dampak negatife pada kebersihan lingkungan sekolah akan tetapi memberikan dampak yang dapat merugikan masyarakat seperti terjadinya banjir.
Setelah melihat situasi dan dikaitkan dengan tantangan yang ada maka saya melakukan kegiatan p5 dengan memanfaatkan sampah menjadi suatu produk yang hasilnya dapat di jual dan dipasarkan sendiri oleh murid baik itu dipasarkan secara langsung ataupun melalui medsos( instagram, youtube, FB, tiktok dll) . Alhamdulllah anak-anak sangat antusias untuk membuat suatu produk yang nantinya di jual dan hasil penjualannya di gunakan untuk penataan kelas dan gelar karya yang dilaksanakan dengan berkolaborasi denga orang tua murid dan komite, terlihat dari banyakya produk yang dihasilkan dan kemudian dipasarkan. Selain itu murid sangat senang berwirausaha dan dapat berkreasi membuat desain produk melalui canva dan capcup serta memasarkanya. Adapun pelajaran yang saya proleh dari praktik baik yang saya lakukan adalah pentingnnya untuk selalu berkolaborasi dengan rekan sejawat dan orang tua Murid, serta kepala sekolah. Pelaksanaan proyek p5 yang dilakukan dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat sehingga murid nyaman dan dapat belajar baik.
penulis
Andi Irma, S. Pd., M. Pd.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.