Lompat ke konten utama

Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Kreator Digital Cilik, Strategi Diferensiasi Mengoptimalkan Potensi Murid

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Pembelajaran agama di sekolah tidak bisa diabaikan karena merupakan salah satu penunjang pembentukan karakter manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahwa tujuan pendidikan Nasional dalam undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menyatakan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia. Maka, belajar agama di sekolah adalah hal penting karena menjadi dasar dan prinsip kita dalam bertindak kepada diri maupun orang lain, menghadapi segala tantangan hidup, dan menyalurkan berbagai potensi yang diberikan Tuhan.

 

Anak-anak yang belajar di Sekolah Cikal penuh keberagaman latar belakang, suku dan agama memiliki tantangannya tersendiri. Keberagaman adalah anugerah dan kasih sayang Tuhan agar kita bisa saling melengkapi. Dalam bersikap dan bertindak anak-anak harus memiliki dan bertanggung jawab terhadap prinsip yang dipegang juga bertoleransi terhadap perbedaan. 

 

Kegiatan belajar agama dengan waktu yang terbatas di sekolah membuat beberapa anak merasa kesulitan apalagi jika ada ayat-ayat yang bertuliskan bahasa Arab atau penyampaian guru yang hanya memiliki metode ceramah dan diskusi saja menjadi faktor yang membuat anak bosan belajar agama dan mencari cara untuk menghindar ketika pembelajaran berlangsung. Dikhawatirkan dalam menghadapi era digitalisasi yang mudah menemukan berbagai konten dan informasi serta degradasi moral. Anak-anak terpengaruh dan mencontoh perilaku tersebut dalam kehidupannya. Dengan demikian, sebagai pendidik harus dapat menghadapi segala tantangan agar anak-anak menyenangi belajar Islam, mengetahui setiap makna yang diajarkan guru di dalam kelas serta anak-anak dapat termotivasi sendiri untuk melakukan kebermanfaatan bagi diri dan lingkungannya sebagai bentuk pengamalan terhadap pembelajaran agamanya. 

 

Saya dan tim berdiskusi dan mencari inspirasi agar dapat mewadahi kebutuhan anak-anak dalam belajar Islam sehingga kami membuat assessment summative kegiatan yang menjadi penentu hasil akumulasi proses pembelajaran murid di kelas. Kreator digital muslim cilik adalah assessment summative yang digunakan untuk mengetahui kemampuan dan ketercapaian tujuan  anak-anak dalam belajar agama di kelas 4 sekolah dasar cikal yakni menjadi Muslim yang mengikuti petunjuk Allah melalui Al-Quran sehingga melaksanakan Shalat, Zakat Fitrah, Puasa sunnah dan selalu diiringi dengan dzikir serta doa. Asesmen ini menggunakan strategi diferensiasi dimana anak-anak bisa memilih produk sesuai dengan kemauan dan keahliannya masing-masing. Asesmen ini juga mengintegrasikan dengan teknologi karena membagikan produk yang dibuat ke media sosial yang beragam. 

 

Adapun secara spesifik instruksi strategi ini adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan tujuan dan peran (Menjadi Kreator Digital Muslim Cilik)
  2. Menentukan saran (Orang tua, murid, guru dan teman-teman media sosial)
  3. Menentukan situasi dengan membayangkan mereka menjadi kreator digital zaman now yang membuat konten kebaikan dari ilmu yang sudah dipelajari
  4. Menyampaikan standarisasi penilaian kepada anak-anak dengan rinci
  5. Memberikan pilihan produk yakni Vlog, Poster, Podcast, flyer, video, reels instagram, gambar manual yang diunggah ke instagram.
  6. Merancang brief bersama dalam draft yang sudah disediakan oleh guru
  7. Membagikan hasil projectnya ke instagram dengan menambahkan “Kolaborasi” ig @islamicstudies_serpong

 

Anak-anak bersemangat dan antusias karena mereka diberi pilihan materi yang paling mereka kuasai juga memilih media beragam untuk menyampaikan materi tersebut. Dalam membuat draft sebelum mereka membuat konten anak-anak harus diberi instruksi yang jelas dan guru harus siap membimbing anak-anak yang perlu memahami sesuatu dengan proses yang lama. Dalam pembuatannya, anak-anak mengunggah ke Gdrive dan media sosial dengan sangat cepat. Kemudian, anak-anak bisa saling mengetahui karya yang telah dibuatnya karena ditonton bersama di kelas. Anak-anak saling memberikan feedback dan tepuk tangan terhadap usaha yang mereka lakukan. Dalam melakukan assesmen ini saya dapat mengobservasi bahwa ternyata potensi anak-anak bisa diberdayakan dari kecil bahkan kita sebagai pendidik jadi mengetahui bakat anak yang jarang dan belum pernah show off di kelas. Ketika saya refleksi proses dan summative pembelajaran semester 2 ini lebih baik daripada semester sebelumnya dapat dilihat dari hasil akhir dan refleksi dari anak-anak. 8 orang mendapatkan penilaian bridging over (Nilai tinggi 90-100) dan 16 expanding (76-89) tidak ada yang beginning atau developing. Kemudian feedback yang didapatkan dari murid yaitu: 

 

Aktivitas yang paling disukai saat pembelajaran Islam ? “Pada saat membuat video tentang berdakwah”, “I said i liked making my poster”

“Aktivitas yang menantang saat pembelajaran Islam ? “Making video about al-quran sebagai petunjuk”.

 

Perubahan yang terjadi setelah proses refleksi, terlihat dari jurnal, keseharian dan media sosial salah satu anak. Walaupun bersekolah dengan lingkungan yang beragam dan masih kelas 4 SD. Mereka mencoba melakukan puasa sunnah Senin dan Kamis, puasa sunnah Syawal 4 hari, dan  shalat dhuha di mushola sekolah sambil menyumbangkan uangnya ke kotak sedekah sekolah. Ada juga anak-anak yang bisa mengambil makna dari ayat Quran dengan berpendapat “Walaupun kita banyak ujian, kita tetap harus bersabar dan memaafkan agar menang dan mendapatkan pahala dari Allah”, ada anak-anak yang ingin terus melanjutkan bacaan Al-Quran “Bu Rahma, semester depan aku mau lanjut Quranic”, dan anak-anak yang memulai memberdayakan media sosial dengan membuat animasi doraemon yang diiringi cerita Nabi Musa. 

 

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.