keinginan guru supaya murid memahami apa yang menjadi tugas mereka seperti belajar untuk mengerjakan tugas rumah mereka. kebanyakan pemikiran orang tua juga menyerahkan tugas anaknya ke guru les.
keinginan guru supaya murid memahami apa yang menjadi tugas mereka seperti belajar untuk mengerjakan tugas rumah mereka. kebanyakan pemikiran orang tua juga menyerahkan tugas anaknya ke guru les.
Saya adalah guru les privat yang datang ke rumah. Murid saya sering tidak tersenyum, tidak semangat, dan apabila ditanya hanya menjawab singkat, atau tidak menjawab. Saya sedih dengan keadaan seperti itu dan bermimpi suatu hari mereka senang dan bersemangat saat belajar bersama saya.
Sikap murid saat belajar terkadang seenaknya sendiri, seperti belajar sambil tiduran, izin mengambil minum, makan jajan saat belajar, banyak bercerita, atau bermain sendiri. Motivasi murid mengikuti les karena disuruh orang tuanya. Oleh karena itu banyak alasan menunda jam les yang sebenarnya hanya satu jam. Kemudian ada tuntutan dari orangtua mereka bahwa semua beban PR juga dikerjakan dengan guru les. Boleh dikatakan bahwa tugas utama guru les adalah membantu murid mengerjakan PR bukan mendampingi belajar. Orangtua melihat nilai di rapor sebagai hasil belajar murid sehingga menjadi beban tersendiri ketika tidak ada perubahan nilai yang berarti.
Aksi pertama yang saya coba untuk menaikkan semangat belajar adalah dengan mengganti lokasi belajar. Namun beberapa tempat favorit murid di rumah belum menjadi lokasi belajar yang menyenangkan. Lokasi kedua adalah rumah saya tetapi kurang memberi dampak. Lokasi belajar baru hanya mampu menyemangati selama 2-3 hari saja, selebihnya kembali ke kebiasaan lama.
Akhirnya mengkomunikasikan kondisi ini dengan orangtua mereka. Saya minta izin untuk membuat kesepakatan dengan murid. Sebagai contoh saya membuat kesepakatan dengan seorang anak. Kami sepakat bahwa sebelum belajar dimulai dia harus sudah sholat dan makan malam. Buku sesuai jadwal pelajaran besok sudah disiapkan. Selama proses belajar ada waktu untuk istirahat selama 5 menit. Kami menyepakati ada istirahat untuk minum atau kekamar mandi. Kemudian saya mengubah metode mengajar seperti sedang mengobrol santai agar tidak seperti les.
Dari beberapa poin kesepakatan tersebut, hanya satu yang terlaksana dengan baik sampai sekarang. Murid saya sudah menunaikan sholat dan makan malam sebelum belajar dengan saya. Sampai sekarang saya tetep memcari mencari cara agar murid memahami kebutuhan belajar dan tanggung jawabnya.
keinginan guru supaya murid memahami apa yang menjadi tugas mereka seperti belajar untuk mengerjakan tugas rumah mereka. kebanyakan pemikiran orang tua juga menyerahkan tugas anaknya ke guru les.
Saya adalah guru les privat yang datang ke rumah. Murid saya sering tidak tersenyum, tidak semangat, dan apabila ditanya hanya menjawab singkat, atau tidak menjawab. Saya sedih dengan keadaan seperti itu dan bermimpi suatu hari mereka senang dan bersemangat saat belajar bersama saya.
Sikap murid saat belajar terkadang seenaknya sendiri, seperti belajar sambil tiduran, izin mengambil minum, makan jajan saat belajar, banyak bercerita, atau bermain sendiri. Motivasi murid mengikuti les karena disuruh orang tuanya. Oleh karena itu banyak alasan menunda jam les yang sebenarnya hanya satu jam. Kemudian ada tuntutan dari orangtua mereka bahwa semua beban PR juga dikerjakan dengan guru les. Boleh dikatakan bahwa tugas utama guru les adalah membantu murid mengerjakan PR bukan mendampingi belajar. Orangtua melihat nilai di rapor sebagai hasil belajar murid sehingga menjadi beban tersendiri ketika tidak ada perubahan nilai yang berarti.
Aksi pertama yang saya coba untuk menaikkan semangat belajar adalah dengan mengganti lokasi belajar. Namun beberapa tempat favorit murid di rumah belum menjadi lokasi belajar yang menyenangkan. Lokasi kedua adalah rumah saya tetapi kurang memberi dampak. Lokasi belajar baru hanya mampu menyemangati selama 2-3 hari saja, selebihnya kembali ke kebiasaan lama.
Akhirnya mengkomunikasikan kondisi ini dengan orangtua mereka. Saya minta izin untuk membuat kesepakatan dengan murid. Sebagai contoh saya membuat kesepakatan dengan seorang anak. Kami sepakat bahwa sebelum belajar dimulai dia harus sudah sholat dan makan malam. Buku sesuai jadwal pelajaran besok sudah disiapkan. Selama proses belajar ada waktu untuk istirahat selama 5 menit. Kami menyepakati ada istirahat untuk minum atau kekamar mandi. Kemudian saya mengubah metode mengajar seperti sedang mengobrol santai agar tidak seperti les.
Dari beberapa poin kesepakatan tersebut, hanya satu yang terlaksana dengan baik sampai sekarang. Murid saya sudah menunaikan sholat dan makan malam sebelum belajar dengan saya. Sampai sekarang saya tetep memcari mencari cara agar murid memahami kebutuhan belajar dan tanggung jawabnya.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Saya adalah guru les privat yang datang ke rumah. Murid saya sering tidak tersenyum, tidak semangat, dan apabila ditanya hanya menjawab singkat, atau tidak menjawab. Saya sedih dengan keadaan seperti itu dan bermimpi suatu hari mereka senang dan bersemangat saat belajar bersama saya.
Sikap murid saat belajar terkadang seenaknya sendiri, seperti belajar sambil tiduran, izin mengambil minum, makan jajan saat belajar, banyak bercerita, atau bermain sendiri. Motivasi murid mengikuti les karena disuruh orang tuanya. Oleh karena itu banyak alasan menunda jam les yang sebenarnya hanya satu jam. Kemudian ada tuntutan dari orangtua mereka bahwa semua beban PR juga dikerjakan dengan guru les. Boleh dikatakan bahwa tugas utama guru les adalah membantu murid mengerjakan PR bukan mendampingi belajar. Orangtua melihat nilai di rapor sebagai hasil belajar murid sehingga menjadi beban tersendiri ketika tidak ada perubahan nilai yang berarti.
Aksi pertama yang saya coba untuk menaikkan semangat belajar adalah dengan mengganti lokasi belajar. Namun beberapa tempat favorit murid di rumah belum menjadi lokasi belajar yang menyenangkan. Lokasi kedua adalah rumah saya tetapi kurang memberi dampak. Lokasi belajar baru hanya mampu menyemangati selama 2-3 hari saja, selebihnya kembali ke kebiasaan lama.
Akhirnya mengkomunikasikan kondisi ini dengan orangtua mereka. Saya minta izin untuk membuat kesepakatan dengan murid. Sebagai contoh saya membuat kesepakatan dengan seorang anak. Kami sepakat bahwa sebelum belajar dimulai dia harus sudah sholat dan makan malam. Buku sesuai jadwal pelajaran besok sudah disiapkan. Selama proses belajar ada waktu untuk istirahat selama 5 menit. Kami menyepakati ada istirahat untuk minum atau kekamar mandi. Kemudian saya mengubah metode mengajar seperti sedang mengobrol santai agar tidak seperti les.
Dari beberapa poin kesepakatan tersebut, hanya satu yang terlaksana dengan baik sampai sekarang. Murid saya sudah menunaikan sholat dan makan malam sebelum belajar dengan saya. Sampai sekarang saya tetep memcari mencari cara agar murid memahami kebutuhan belajar dan tanggung jawabnya.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.