Seorang guru harus mampu menjadi Agen perubahan, juga menjadi agen perubahan dalam meningkatkan minat baca dan tulis siswa. Guru harus mampu menjadi contoh dalam dunia literasi, dan guru harus mampu membuat karya tulis ilmiah, PTK, Buku atau karya tulis lainnya. Saya sebagai kepala sekolah sangat berharap agar guru dapat menjadi teladan bagi siswa dalam megembangkan minat baca dan tulis ini.
Tantangan yang saya hadapi sebagai kepala sekolah adalah minat baca dan menulis siswa-siswi di sekolah kami masih sangat rendah. Hal ini tampak dalam keinginan siswa untuk membaca dan juga menulis. Rendahnya minat baca dan menulis ini ternyata tidak hanya terjadi pada siswa, namun juga dialami oleh guru.
Langkah pertama yang kami lakukan adalah memberi pelatihan kepada guru agar guru mampu menjadi penulis, memberi pembekalan. Kami menggerakan guru agar guru menghasilkan karya tulis dan mencetak menjadi sebuah buku. selanjutnya Agar dapat meningkatkan minat baca dan tulis siswa, kami mengadakan kegiatan literasi setiap hari kepada siswa-siswi. Hal ini kami lakukan selama 15 menit setiap pagi. Siswa membaca buku 15 menit setiap hari dan didampingi oleh guru. The result, guru mengarahkan dan mendampingi siswa untuk menulis sebuah karya, baik puisi, kata-kata bijak, atau rangkuman dari hasil bacaan tersebut dan dipajang di madding kelas.
Dalam setahun, siswa-siswi diwajibkan menulis sebuah puisi dan menulis cerpen untuk dijadikan sebuah buku. Tidak hanya siswa, guru juga kami arahkan untuk menulis sebuah karya ilmiah dan dijadikan sebuah buku.
Untuk meningkatkan minat baca dan menulis siswa dan guru tidaklah mudah. Guru harus mampu menjadi Motor atau agen perubahan dalam mengembangkan minat baca dan menulis. Siswa akan lebih tergerak jika guru menjadi teladan dalam membaca dan menulis. Dan dalam tiga tahun terakhir ini, sekolah kami mampu mencetah lima buah buku yang sudah ber-ISBN, yaitu satu buku Guru dan empat buku karya siswa. And, minat baca dan tulis siswa juga sangat berkembang.