Pelaksanaan proses pembelajaran di kelas mengalami banyak kendala karena minat belajar peserta didik semakin menurun, salah satu penyebabnya adalah nilai-nilai keagamaan yang membentuk karakter murid semakin terabaikan, tergilas oleh pengaruh kemodernan, dan ini bedampak pada moralitas murid-murid . Pemberitaan dari berbagai media terdapat banyak kasus-kasus prilaku menyimpang terjadi dikalangan murid, seperti bolos masuk sekolah, merokok, tawuran antar pelajar, narkotika, minuman keras dan pergaulan bebas.
Sekolah sebagai tempat pendidikan dan pendidikan merupakan elemen terpenting dalam membangun suatu bangsa harus menyusun program-program andalan sebagai langkah pembenahan dengan melirik model-model pendidikan berbasis keagamaan melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan, dengan menghadirkan pembiasaan-pembiasaan pesantren di sekolah umum, untuk mengatasi dekadensi moral murid-murid di sekolah, yang disebut dengan istilah SENTER yaitu sekolah umum berbasis pesantren.
Dalam menerapkan internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui program SENTER dalam rangka mengatasi dekadensi moral murid di sekolah, dan berdampak pada pembelajaran minat belajar di kelas, ada banyak tantangan yang kami hadapi, salah satunya kehadiran murid diluar sekolah lebih lama dari pada di lingkungan sekolah sehingga untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan tidak maksimal penerapannya, diakibatkan pengaruh pembiasaan diluar lingkungan sekolah masih dominan. Tantangan lain yang kami hadapi dalam menerapkan program SENTER adalah masih ada beberapa pembina yang tidak peduli dengan program ini karena menganggap penanaman nilai-nilai keagamaan adalah tanggung jawab guru agama, Tantangan yang ketiga adalah masalah penjadwalam.
Pererapan internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui program SENTER dapat dilakukan dengan berbagai bentuk-bentuk kegiatan pembiasaan peribadah diantaranya sebagai berikut:
- Literasi Kitab suci
Kegiatan literasi kitab suci dilaksanakan secara turin setiap hari mengawali pembelajaran secara serentak di kelas masing-masing dipandu oleh guru mapel jam pertama atau wali kelas. Kegiatan ini membimbing siswa agar lebih lancar membaca al-Qur’an, adapun nilai-nilai yang ditanamkan dalam kegiatan ini adalah mendekatkan peserta didik dengan al-Qur’an agar mendapatkan cahaya kehidupan.
- Blessed Friday
Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari jum’at dengan cara, setiap siswa menyisihkan sebagian uang sakunya ketemannya yang diberi tugas mengedar sumbangan, kemudia hasil sumbangan dikumpulkan lalu dibagikan kembali kepada siswa yang kurang mampu yang dikoordinir oleh wali kelas. Kegiatan ini mengajarkan siswa melakukan sifat terpuji yaitu beramal dan saling berbagi.
- Muatan lokal Agama.
Muatan lokal agama dikemas dalam bentuk eskul, materinya mengkhusus pada pemantapan bacaan al- Qur,an, peserta didik diklasifikasi berdasarkan kemampuan bacaan. Terdiri dari empat kelompok pembelajaran yaitu, buta huruf hijaiyah akan diberi pelajaran buku iqro’ 1, 2, 3, yang terbata-bata bacaanya diberi pelajaran iqro’ 4, 5, 6, yang sudah lancar namun tidak sesuai kaidah ilmu tajwid diberi pelajaran hukum2 tajwid dan yang sudah bagus bacaannya menghafal juz 30. Setiap kali sebulan adakan kegiatan tadabbur al-Qur’an Tujuan dari kegiatan ini adalah pemberantasan buta huruf hijaiyah dan membumikan al-Quran, yang dikoordinir oleh bagian kesiswaan.
- Shalat Berjamaan.
Kegiatan shalat dhuhur dilaksanakan secara berjamaah di masjid sekolah oleh seluruh warga sekolah, baik siswa, pegawai, guru maupun kepala sekolah, apabila ada siswa yang tidak ikut akan mendapat sanksi. Antara azan dan iqamat diisi kegiatan kultum yang dilaksanakan oleh siswa secara bergiliran, yang dikordinir semua guru yang mengajar pada hari itu.
- Tahfiz
Tahfiz adalah menghafal al-Qur’an. Kegiatan tahfiz dikemas dalam bentuk daring dan luring. Daring dilaksanakan 4 hari diluar jam pelajarang/sepulang sekolah pada hari senin-kamis dan luring dilaksanakan pada hari jumat pada saat jam eskul.
- Kajian Remaja Muslim
Kajian remaja muslim dilaksanaka pada hari jumat saat murid laki-laki melaksanakan shalat jumat, siswa perempuan dikumpulkan di panggung cemara untuk melaksanakan diskusi keagamaan yang dikordinir oleh semua guru perempuan.
Progrem SENTER ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik karena dapat berkarakter, menghargai guru-gurnya dengan memiliki minat belajar dan perhatian terhadap pelajaran di kelas, menghargai teman-temannya dengan aktif dalam pembelajaran serta tidak melakukan tindakan dengan menimbulkan keributan, sebagaimana ajaran Islam mengatakan orang yang patuh pada Tuhannya akan patuh pada gurunya.
Internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui program SENTER yang dilaksanakan SMAN 4 menampakkan perubahan karakter pada murid yang berdamak pada pelaksanaan proses pembelajaran dikelas dan ini membuktikan bahwa penanaman nilai-nilai keagamaan dapat menjadi perisai terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Pembiasaan-pembiasaan beragama dan diintegrasikan oleh sluruh guru mata pelajaran akan menjadi tradisi sehingga mempersempit ruang prilaku dan aktivitas yang tidak bermafaat bagi peserta didik.