HARMONI BELAJAR DAN KEHIDUPAN
DENGAN ASESMEN NON KOGNITIF
Building a Culture Class Merdeka Learning
[ 𝐀𝐰𝐚𝐥 ]
Pada suatu pagi di awal tahun ajaran, terlihat sebuah kelas yang berbeda dari yang biasa. Hari pertama dimulai, murid-murid masuk dengan penuh rasa penasaran, antusias murid untuk belajar membuat mereka gugup, murid kelihatan tegang, suasana kelas mencekam seperti akan mendengarkan cerita horor, mereka seperti ketakutan dan penuh tanda tanya apa yang akan diberikan oleh gurunya, saya pun sebagai guru merasa aneh, apakah saya ini menakutkan?, atau terlihat seperti hewan buas yang mau menerkam?, tentu saja dengan kondisi seperti itu saya tidak akan bisa memulai pembelajaran dengan baik, oleh karena itu saya mulai membuat percakapan untuk murid saya “Halo…. , apakabarnya , Selamat datang di kelas inovatif , anak -anak. Di sini, kita akan bersenang – senang untuk belajar, ayo kita bangun kelas kita dengan penuh kecerian, kita tidak hanya akan belajar dari buku, akan tetapi juga dari dunia nyata di sekitar kita.” Suasana kelas mulai berubah, sedikit mulai mencair, dan tujuan saya sebagai seorang guru, ingin agar murid dapat belajar berdampingan dengan kehidupan di sekitarnya, mempelajari langsung materi yang diberikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Diharapkan mereka benar-benar bisa merasakan dan mengalami pengalaman utuh tentang materi yang dipelajari serta menemukan solusi dari permasalahan yang akan dihadapinya.
[ 𝐓𝐚𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 ]
However, disetiap proses belajar pasti ada beberapa tantangan. Kali ini, motivasi dan kesadaran murid yang belum sepenuhnya terbangun menjadi tembok penghalang pertama. Mereka belum mengerti alasan mereka bersekolah di sini , kenapa memilih jurusan ini. kenapa mereka rela bangun pagi dan jauh – jauh datang ke sekolah ini, apa yang mereka inginkan dan harapkan?, dari sini saya sebagai guru mulai mencari tau bagaimana saya dapat mengetahui berbagai latar belakang murid, gaya belajar seperti apa yang harus saya gunakan untuk bisa mengaitkan mata pelajaran informatika ini dikehidupan mereka, bagaimana belajar mata pelajaran informatika bisa relefan dengan kebiasan murid.
[ 𝗔𝗸𝘀𝗶 ]
Saya mulai belajar dan mencari tau berbagai asesmen pada platform merdeka belajar, dari komuntas guru belajar, dan rekan – rekan guru dari berbagai lintas jenjang dan daerah. Saya pun mencoba mengawali pembelajaran dengan asesmen diagnostik non-kognitif. Menentukan dan membuat instrumen asesmen dari berbagai literatur, saya mencoaba mulai merancang instrumen tersebut agar murid mudah mengakses dan cepat untuk diketahui hasilnya. Saya mempertanyakan bagaimana perasaan murid dari no. 1 – 10 dimana setiap nomer mempunyai arti, dari angka 1 berarti bahagia dan siap untuk belajar , no. 5 banyak tugas dan siap belajar, samapai no. 10 lagi banyak masalah dan siap belajar, mereka saya minta untuk memilih angka yang mewakili perasanya saat itu, selanjutnya murid saya suruh untuk membentuk kelompok kecil dengan cara berhitung 1 – 6, mereka mulai mengelompok dan menentukan mana yang sebagi no. 1 , no. 2, no. 3, no. 4, no. 5 dan mana yang sebagai no. 6, setelah mereka memilih dan mengetahui no yang didapat, saya memperlihatkan gambar dari arti no. 1 until 6 dimana nomor tersebut memiliki arti ( juru kemudi, juru tulis, juru waktu dan dokumentasi, logistik, juru sorak dan konten, dan juru bicara ) Kondisi kelas terlihat langsung berubah, ketika saya mulai menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan kebiasan murid kelihatan penuh semangat, enthusiastic, dan perhatian. dari situ saya mulai memberikan pertanyaan yang bisa mengukur asesmen non kognitif mereka, sehingga dari hasil asesmen tersebut saya mengetahui gaya belajar, kesiapan belajar, latar belakang sosial, kecerdasan majemuk murid, sebagai langkah awal saya untuk menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan menyenangkan bagi murid. Sehingga mempermudah saya dalam mengaitkan materi yang akan diberikan dengan kehidupan yang dialami oleh murid
[ 𝗣𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 ]
Dengan memberikan sedikit waktu tersebut, murid dapat mengalami perubahan yang signifikan. Mereka belajar dengan antusias, penuh kesadaran dan motivasi yang tinggi, sehingga apa yang mereka pelajari bisa berkaitan langsung dengan kehidupan mereka. The hope, murid akan menjadi pembelajar yang berkelanjutan dan penuh makna dalam setiap proses yang mereka alami. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih berarti dan bermakna.
Peningkatan pemahaman murid tentang bagaimana lingkungan, hobi, dan cita-cita dapat terkait dengan materi pelajaran menjadi nyata memberikan perubahan mendalam bagi para murid. Dampak lainnya adalah terangsangnya keinginan murid untuk berkolaborasi dan saling memahami, sehingga tumbuhlah pembelajaran sosial di antara mereka. Saling menginspirasi, berbagi pengetahuan, dan mendukung satu sama lain dalam eksplorasi minat pribadi menjadi kekuatan nyata yang tumbuh. Semua hal ini memberikan perubahan dan memperkaya pengalaman belajar mereka secara keseluruhan.
Melihat perubahan signifikan pada murid setelah memberikan waktu dan kesadaran dalam pembelajaran merupakan hal yang membanggakan sebagai seorang guru. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang relevan dan menyenangkan dalam mengajar dapat memberikan dampak positif bagi proses belajar-mengajar.
@much_amin_maezun_tb