Praktik baik ini dilaksanakan di masa pandemi antara tahun 2020
Praktik baik ini dilaksanakan di masa pandemi antara tahun 2020
Praktik Baik Model ATAP
Tahun 2021 kala itu menjadi tahun-tahun yang sulit bagi dunia pendidikan pada umumnya di Indonesia, saya teringat kala itu dimana terjadi lost learning di dunia Pendidikan terlebih khusus di Kota Makassar terutama di UPT SPF SD Inpres Pampang II Kota Makassar, dimana saat itu saya menyadari betul terjadinya penurunan semangat dan motivasi belajar di kelas saya, yaitu di kelas VIA. Murid belajar sejenak dan selebihnya asiek dengan main gadget, dan yang paling membuat saya gusar adalah tugas yang masuk lewat Google Classroom hanya beberapa orang saja padahal jumlah murid saya ada 29 orang sementara yang masuk hanya 5 orang sampai 10 orang tidak mencapai 50 % dari jumlah seluruhnya, dengan kondisi demikian memaksa saya untuk berfikir keras bagaimana menghadirkan murid saya hadir di pembelajaran virtual dengan menggunakan flatform Google Meeting dan Zoom Meeting.
Ternyata dengan menggunakan flatform diatas juga tak mempengaruhi persentase kehadiran siswa dalam mengikuti kelas saya, sehingga dengan kondisi tersebut membuat saya untuk berinisiatif untuk mendatangi rumah mereka agar mereka tetap merasa di perhatikan dan saya sebagai guru merasa terpanggil dan memberikan layanan di dalam memberikan akses pembelajaran bagi mereka sehingga lost learning tadi tidak malah menimbulkan gep yang terlampau jauh dengan preferensi tujuan pembelajaran yang ada.
Berkaca dengan analisa saya diatas ternyata tidak mudah untuk menjewantahkan pola pikir saya dan inovasi yang saya lakukan sebab jarak rumah mereka jauh satu sama lain, di tambah lagi dengan kultur sosial yang membuat saya was-was untuk datang mengajar kerumah mereka,tantangan lain yang saya hadapi adalah lorong-lorong kecil dan sejumlah aturan protokol kesehatan yang tetap kami harus jaga sesuai anjuran pemerintah untuk senantiasa
menghindari mobilisasi dan kontak fisik secara langsung, juga penggunaan masker yang kadang membuat saya ngap-ngapan di dalam memberikan materi pelajaran nantinya di rumah mereka.
Dengan Program yang saya buat yaitu “Guling” Guru berkeliling, mula-mula strategi yang saya gunakan adalah menyampaikan niat baik saya kepada pemangku jabatan dalam hal ini Kepala Sekolah sebagai Penanggung jawab di UPT SPF SD Inpres Pampang II. Saya sebagai guru kelas VIA menyampaikan kegelisahan, kegundahan yang saya rasakan di kelas saya bahwa motivasi belajar dan pemahaman mereka terjadi perubahan signifikansi antara keinginan untuk belajar dan bermain gadget sepanjang hari.
Setelah saya menyampaikan ide “guling” tersebut ternyata kepala sekolah sangat setuju dan mengapresiasi apa yang saya lakukan ini, dengan sebuah catatan untuk juga meminta ijin kepada orangtua siswa yang ingin di kunjungi rumahnya untuk belajar bersama dengan siswa lain di masa pandemi Covid-19. Setelah argumen tersebut maka saya membuka sesi dialog dengan orang tua siswa kelas VIA dengan flatfoarm Zoom Meeting untuk saya sampaikan ide Guling tersebut dan ternyata orang tua siswa kami juga sangat mengapresiasi ide guling tersebut.
Setelah semua setuju baik dari segi Kepala Sekolah maupun dari segi pandangan orangtua siswa maka saya buatlah jadwal kunjungan kerumah siswa saya dengan estimasi waktu 6 hari waktu efektif belajar dengan durasi jam belajar dua jam. Dimana saya akan mulai mengunjungi rumah siswa tepat jam 08:00 Wita s.d jam 12:00 WITA, dengan rincian sebagai berikut :
★ Rumah Ariqa
Rumah Ariqa saya kunjungi di hari Senin mulai Pukul 08:00 WITA – 10:00 WITA. Di rumah tersebut antara lain ada : Ariqa, Laura. Iftiyah, dan Viola. Awal Mulanya Guling ini terasa asing bagi mereka sebab saya selaku guru mendatangi rumah Ariqah untuk belajar bersama. Dari Pertemuan pertama Guling itu terjadilah Dialog antara saya selaku Guru dan Ariqah sebagai siswa.
Ariqah : Pak, Kenapa kita harus belajar dengan seperti ini pak.
Guru : Kita belajar seperti ini nak karena situasi dan kondisi yang kita alami saat ini yaitu pandemic Covid-19 dan kita dilarang untuk berkumpul dulu.
Ariqa : Sampai kapan pak kita harus mendatangi rumah saya dan rumah teman-teman yang lain pak.
Guru : Bapak akan datang kerumah kalian sampai kalian semua ikut ujian akhir sekolah di tahun akademik 2020-2021.
Ariqa : Apakah bapak tidak capek dengan kegiatan seperti ini yach pak.
Guru : ini sudah menjadi tanggung jawab bapak untuk mencerdaskan kalian nak, Bapak tidak ingin kalian larut dalam kesedihan dan hilang motivasi belajar hanya karena Pandemi Covid-19 dan bermain hape seharian.
Ariqah : Terimah kasih pa katas segala kepedulian bapak kepada kami. Guru : Sama-sama nak.
Setelah dialog itu kami berdo’a lalu belajar bersama memulai jam pelajaran untuk pertemuan pertama. Setelah pukul 10:00 WITA pembelajaran pun selesai dan saya bergeser ke rumah selanjutnya. Rumah selanjutnya saya berkunjung kerumah yang kedua yaitu di rumah Alvin, di rumah tersebut yang hadir adalah kelompoknya Alvin, Milda, Yunita, Andi dan Chaca. Begitulah rutinitas saya setiap hari Senin sampai dengan hari sabtu didalam menjalankan guling ini sebagai bagian pertanggung jawaban moril kepada anak-anak kelas VIA.
Dari kegiatan “Guling” tersebut saya mendapatkan rasa bangga, rasa senang, rasa bahagia teramat dalam tentang partisipasi mereka dan kolaborasi mereka menyambut baik program “Guling” tersebut. Meski pada awalnya terasa sulit dan berat akan tetapi jika kita memiliki kemauan yang tulus serta panggilan jiwa maka pekerjaan tersebut akan terasa ringan untuk kita kerjakan.
Dari Guling tersebut saya juga berhasil membawa, mengangkat motivasi dan keinginan mereka untuk kembali ke bangku sekolah belajar lebih giat lagi bersama teman-temannya yang lain. Mereka sangat senang bahagia belajar bersama teman-temannya yang lain di rumah meskipun mereka hanya berlima saja dengan teman-temannya.
Dari Guling tersebut para siswa saya merasa diperhatikan merasa mendapatkan pengalaman baru guru berkeliling mereka seakan mendapatkan kasih sayang dari gurunya,beda ketika mereka diajar oleh orangtua mereka seakan mereka mendapatkan tekanan dari orang tua mereka dan seakan mereka terjajah oleh orangtua mereka sendiri sehingga dengan Guling ini mereka semangat untuk belajar kembali.
Praktik baik ini dilaksanakan di masa pandemi antara tahun 2020
Praktik Baik Model ATAP
Tahun 2021 kala itu menjadi tahun-tahun yang sulit bagi dunia pendidikan pada umumnya di Indonesia, saya teringat kala itu dimana terjadi lost learning di dunia Pendidikan terlebih khusus di Kota Makassar terutama di UPT SPF SD Inpres Pampang II Kota Makassar, dimana saat itu saya menyadari betul terjadinya penurunan semangat dan motivasi belajar di kelas saya, yaitu di kelas VIA. Murid belajar sejenak dan selebihnya asiek dengan main gadget, dan yang paling membuat saya gusar adalah tugas yang masuk lewat Google Classroom hanya beberapa orang saja padahal jumlah murid saya ada 29 orang sementara yang masuk hanya 5 orang sampai 10 orang tidak mencapai 50 % dari jumlah seluruhnya, dengan kondisi demikian memaksa saya untuk berfikir keras bagaimana menghadirkan murid saya hadir di pembelajaran virtual dengan menggunakan flatform Google Meeting dan Zoom Meeting.
Ternyata dengan menggunakan flatform diatas juga tak mempengaruhi persentase kehadiran siswa dalam mengikuti kelas saya, sehingga dengan kondisi tersebut membuat saya untuk berinisiatif untuk mendatangi rumah mereka agar mereka tetap merasa di perhatikan dan saya sebagai guru merasa terpanggil dan memberikan layanan di dalam memberikan akses pembelajaran bagi mereka sehingga lost learning tadi tidak malah menimbulkan gep yang terlampau jauh dengan preferensi tujuan pembelajaran yang ada.
Berkaca dengan analisa saya diatas ternyata tidak mudah untuk menjewantahkan pola pikir saya dan inovasi yang saya lakukan sebab jarak rumah mereka jauh satu sama lain, di tambah lagi dengan kultur sosial yang membuat saya was-was untuk datang mengajar kerumah mereka,tantangan lain yang saya hadapi adalah lorong-lorong kecil dan sejumlah aturan protokol kesehatan yang tetap kami harus jaga sesuai anjuran pemerintah untuk senantiasa
menghindari mobilisasi dan kontak fisik secara langsung, juga penggunaan masker yang kadang membuat saya ngap-ngapan di dalam memberikan materi pelajaran nantinya di rumah mereka.
Dengan Program yang saya buat yaitu “Guling” Guru berkeliling, mula-mula strategi yang saya gunakan adalah menyampaikan niat baik saya kepada pemangku jabatan dalam hal ini Kepala Sekolah sebagai Penanggung jawab di UPT SPF SD Inpres Pampang II. Saya sebagai guru kelas VIA menyampaikan kegelisahan, kegundahan yang saya rasakan di kelas saya bahwa motivasi belajar dan pemahaman mereka terjadi perubahan signifikansi antara keinginan untuk belajar dan bermain gadget sepanjang hari.
Setelah saya menyampaikan ide “guling” tersebut ternyata kepala sekolah sangat setuju dan mengapresiasi apa yang saya lakukan ini, dengan sebuah catatan untuk juga meminta ijin kepada orangtua siswa yang ingin di kunjungi rumahnya untuk belajar bersama dengan siswa lain di masa pandemi Covid-19. Setelah argumen tersebut maka saya membuka sesi dialog dengan orang tua siswa kelas VIA dengan flatfoarm Zoom Meeting untuk saya sampaikan ide Guling tersebut dan ternyata orang tua siswa kami juga sangat mengapresiasi ide guling tersebut.
Setelah semua setuju baik dari segi Kepala Sekolah maupun dari segi pandangan orangtua siswa maka saya buatlah jadwal kunjungan kerumah siswa saya dengan estimasi waktu 6 hari waktu efektif belajar dengan durasi jam belajar dua jam. Dimana saya akan mulai mengunjungi rumah siswa tepat jam 08:00 Wita s.d jam 12:00 WITA, dengan rincian sebagai berikut :
★ Rumah Ariqa
Rumah Ariqa saya kunjungi di hari Senin mulai Pukul 08:00 WITA – 10:00 WITA. Di rumah tersebut antara lain ada : Ariqa, Laura. Iftiyah, dan Viola. Awal Mulanya Guling ini terasa asing bagi mereka sebab saya selaku guru mendatangi rumah Ariqah untuk belajar bersama. Dari Pertemuan pertama Guling itu terjadilah Dialog antara saya selaku Guru dan Ariqah sebagai siswa.
Ariqah : Pak, Kenapa kita harus belajar dengan seperti ini pak.
Guru : Kita belajar seperti ini nak karena situasi dan kondisi yang kita alami saat ini yaitu pandemic Covid-19 dan kita dilarang untuk berkumpul dulu.
Ariqa : Sampai kapan pak kita harus mendatangi rumah saya dan rumah teman-teman yang lain pak.
Guru : Bapak akan datang kerumah kalian sampai kalian semua ikut ujian akhir sekolah di tahun akademik 2020-2021.
Ariqa : Apakah bapak tidak capek dengan kegiatan seperti ini yach pak.
Guru : ini sudah menjadi tanggung jawab bapak untuk mencerdaskan kalian nak, Bapak tidak ingin kalian larut dalam kesedihan dan hilang motivasi belajar hanya karena Pandemi Covid-19 dan bermain hape seharian.
Ariqah : Terimah kasih pa katas segala kepedulian bapak kepada kami. Guru : Sama-sama nak.
Setelah dialog itu kami berdo’a lalu belajar bersama memulai jam pelajaran untuk pertemuan pertama. Setelah pukul 10:00 WITA pembelajaran pun selesai dan saya bergeser ke rumah selanjutnya. Rumah selanjutnya saya berkunjung kerumah yang kedua yaitu di rumah Alvin, di rumah tersebut yang hadir adalah kelompoknya Alvin, Milda, Yunita, Andi dan Chaca. Begitulah rutinitas saya setiap hari Senin sampai dengan hari sabtu didalam menjalankan guling ini sebagai bagian pertanggung jawaban moril kepada anak-anak kelas VIA.
Dari kegiatan “Guling” tersebut saya mendapatkan rasa bangga, rasa senang, rasa bahagia teramat dalam tentang partisipasi mereka dan kolaborasi mereka menyambut baik program “Guling” tersebut. Meski pada awalnya terasa sulit dan berat akan tetapi jika kita memiliki kemauan yang tulus serta panggilan jiwa maka pekerjaan tersebut akan terasa ringan untuk kita kerjakan.
Dari Guling tersebut saya juga berhasil membawa, mengangkat motivasi dan keinginan mereka untuk kembali ke bangku sekolah belajar lebih giat lagi bersama teman-temannya yang lain. Mereka sangat senang bahagia belajar bersama teman-temannya yang lain di rumah meskipun mereka hanya berlima saja dengan teman-temannya.
Dari Guling tersebut para siswa saya merasa diperhatikan merasa mendapatkan pengalaman baru guru berkeliling mereka seakan mendapatkan kasih sayang dari gurunya,beda ketika mereka diajar oleh orangtua mereka seakan mereka mendapatkan tekanan dari orang tua mereka dan seakan mereka terjajah oleh orangtua mereka sendiri sehingga dengan Guling ini mereka semangat untuk belajar kembali.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Praktik Baik Model ATAP
Tahun 2021 kala itu menjadi tahun-tahun yang sulit bagi dunia pendidikan pada umumnya di Indonesia, saya teringat kala itu dimana terjadi lost learning di dunia Pendidikan terlebih khusus di Kota Makassar terutama di UPT SPF SD Inpres Pampang II Kota Makassar, dimana saat itu saya menyadari betul terjadinya penurunan semangat dan motivasi belajar di kelas saya, yaitu di kelas VIA. Murid belajar sejenak dan selebihnya asiek dengan main gadget, dan yang paling membuat saya gusar adalah tugas yang masuk lewat Google Classroom hanya beberapa orang saja padahal jumlah murid saya ada 29 orang sementara yang masuk hanya 5 orang sampai 10 orang tidak mencapai 50 % dari jumlah seluruhnya, dengan kondisi demikian memaksa saya untuk berfikir keras bagaimana menghadirkan murid saya hadir di pembelajaran virtual dengan menggunakan flatform Google Meeting dan Zoom Meeting.
Ternyata dengan menggunakan flatform diatas juga tak mempengaruhi persentase kehadiran siswa dalam mengikuti kelas saya, sehingga dengan kondisi tersebut membuat saya untuk berinisiatif untuk mendatangi rumah mereka agar mereka tetap merasa di perhatikan dan saya sebagai guru merasa terpanggil dan memberikan layanan di dalam memberikan akses pembelajaran bagi mereka sehingga lost learning tadi tidak malah menimbulkan gep yang terlampau jauh dengan preferensi tujuan pembelajaran yang ada.
Berkaca dengan analisa saya diatas ternyata tidak mudah untuk menjewantahkan pola pikir saya dan inovasi yang saya lakukan sebab jarak rumah mereka jauh satu sama lain, di tambah lagi dengan kultur sosial yang membuat saya was-was untuk datang mengajar kerumah mereka,tantangan lain yang saya hadapi adalah lorong-lorong kecil dan sejumlah aturan protokol kesehatan yang tetap kami harus jaga sesuai anjuran pemerintah untuk senantiasa
menghindari mobilisasi dan kontak fisik secara langsung, juga penggunaan masker yang kadang membuat saya ngap-ngapan di dalam memberikan materi pelajaran nantinya di rumah mereka.
Dengan Program yang saya buat yaitu “Guling” Guru berkeliling, mula-mula strategi yang saya gunakan adalah menyampaikan niat baik saya kepada pemangku jabatan dalam hal ini Kepala Sekolah sebagai Penanggung jawab di UPT SPF SD Inpres Pampang II. Saya sebagai guru kelas VIA menyampaikan kegelisahan, kegundahan yang saya rasakan di kelas saya bahwa motivasi belajar dan pemahaman mereka terjadi perubahan signifikansi antara keinginan untuk belajar dan bermain gadget sepanjang hari.
Setelah saya menyampaikan ide “guling” tersebut ternyata kepala sekolah sangat setuju dan mengapresiasi apa yang saya lakukan ini, dengan sebuah catatan untuk juga meminta ijin kepada orangtua siswa yang ingin di kunjungi rumahnya untuk belajar bersama dengan siswa lain di masa pandemi Covid-19. Setelah argumen tersebut maka saya membuka sesi dialog dengan orang tua siswa kelas VIA dengan flatfoarm Zoom Meeting untuk saya sampaikan ide Guling tersebut dan ternyata orang tua siswa kami juga sangat mengapresiasi ide guling tersebut.
Setelah semua setuju baik dari segi Kepala Sekolah maupun dari segi pandangan orangtua siswa maka saya buatlah jadwal kunjungan kerumah siswa saya dengan estimasi waktu 6 hari waktu efektif belajar dengan durasi jam belajar dua jam. Dimana saya akan mulai mengunjungi rumah siswa tepat jam 08:00 Wita s.d jam 12:00 WITA, dengan rincian sebagai berikut :
★ Rumah Ariqa
Rumah Ariqa saya kunjungi di hari Senin mulai Pukul 08:00 WITA – 10:00 WITA. Di rumah tersebut antara lain ada : Ariqa, Laura. Iftiyah, dan Viola. Awal Mulanya Guling ini terasa asing bagi mereka sebab saya selaku guru mendatangi rumah Ariqah untuk belajar bersama. Dari Pertemuan pertama Guling itu terjadilah Dialog antara saya selaku Guru dan Ariqah sebagai siswa.
Ariqah : Pak, Kenapa kita harus belajar dengan seperti ini pak.
Guru : Kita belajar seperti ini nak karena situasi dan kondisi yang kita alami saat ini yaitu pandemic Covid-19 dan kita dilarang untuk berkumpul dulu.
Ariqa : Sampai kapan pak kita harus mendatangi rumah saya dan rumah teman-teman yang lain pak.
Guru : Bapak akan datang kerumah kalian sampai kalian semua ikut ujian akhir sekolah di tahun akademik 2020-2021.
Ariqa : Apakah bapak tidak capek dengan kegiatan seperti ini yach pak.
Guru : ini sudah menjadi tanggung jawab bapak untuk mencerdaskan kalian nak, Bapak tidak ingin kalian larut dalam kesedihan dan hilang motivasi belajar hanya karena Pandemi Covid-19 dan bermain hape seharian.
Ariqah : Terimah kasih pa katas segala kepedulian bapak kepada kami. Guru : Sama-sama nak.
Setelah dialog itu kami berdo’a lalu belajar bersama memulai jam pelajaran untuk pertemuan pertama. Setelah pukul 10:00 WITA pembelajaran pun selesai dan saya bergeser ke rumah selanjutnya. Rumah selanjutnya saya berkunjung kerumah yang kedua yaitu di rumah Alvin, di rumah tersebut yang hadir adalah kelompoknya Alvin, Milda, Yunita, Andi dan Chaca. Begitulah rutinitas saya setiap hari Senin sampai dengan hari sabtu didalam menjalankan guling ini sebagai bagian pertanggung jawaban moril kepada anak-anak kelas VIA.
Dari kegiatan “Guling” tersebut saya mendapatkan rasa bangga, rasa senang, rasa bahagia teramat dalam tentang partisipasi mereka dan kolaborasi mereka menyambut baik program “Guling” tersebut. Meski pada awalnya terasa sulit dan berat akan tetapi jika kita memiliki kemauan yang tulus serta panggilan jiwa maka pekerjaan tersebut akan terasa ringan untuk kita kerjakan.
Dari Guling tersebut saya juga berhasil membawa, mengangkat motivasi dan keinginan mereka untuk kembali ke bangku sekolah belajar lebih giat lagi bersama teman-temannya yang lain. Mereka sangat senang bahagia belajar bersama teman-temannya yang lain di rumah meskipun mereka hanya berlima saja dengan teman-temannya.
Dari Guling tersebut para siswa saya merasa diperhatikan merasa mendapatkan pengalaman baru guru berkeliling mereka seakan mendapatkan kasih sayang dari gurunya,beda ketika mereka diajar oleh orangtua mereka seakan mereka mendapatkan tekanan dari orang tua mereka dan seakan mereka terjajah oleh orangtua mereka sendiri sehingga dengan Guling ini mereka semangat untuk belajar kembali.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.