Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya kompetensi guru dalam mencapai kualitas pendidikan. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan empat standar kompetensi yang harus dipenuhi oleh guru. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan kompetensi pedagogik, profesional, personal dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut harus dipenuhi oleh guru selama menjadi guru. Kompetensi pedagogic yang kurang berdampak dari Kurangnya kreativitas guru dalam menciptakan bahan ajar yang disesuaikan dengan kondisi siswa dapat berdampak pada kegiatan pembelajaran yang tidak efektif bagi siswa.
Pada Pelaksanaannya dalam meningkatan kompetnsi guru dengan metode yang digunakan saya adalah service learning yang terbagi menjadi dua kegiatan yaitu pelatihan (synchronous) dan pendampingan (asynchronous). Pelatihan terdiri atas penyampaian materi, sedangkan pendampingan berupa bimbingan pembuatan bahan ajar. Peserta kegiatan yang terdiri dari 32 guru matematika di seluruh Kabupaten Cianjur.
Tantangan yang saya hadapi dalam membuat perencanaan pelatihan dan pendampingan untuk guru, waktu, biaya dan kondisi guru-guru matematika. Tantangan yang dihadapi selanjutnya, saya aktif mencari informasi dari berbagai sumber topik untuk pelatihan secara teoritis dan praktis untuk guru. Menyesuaikan jadwa guru menjadi tantangan saya berikutnya dalam mengumpulkan guru matematika diberbagai sekolah untuk ikut serta dalam pelatihan. Untuk melihat kondisi awal guru dalam mendesain e-didaktik melaui bahan ajar sebelumnya menjadi awal dalam memberikan pelatihan dan pendampingan yang sesuai. Para guru diberikan link google form untuk mengisi identitas, masalah yang dihadapi dikelas, RPP dan Bahan Ajar yang digunakan untuk menjadi dasar saya dalam memberikan pelatihan yang sesuai. Pada kondisi awal guru-guru matematika memang tidak pernah menggunakan desain e-didaktik melalui bahan ajar menggunakan konteks budaya.
Para guru diberikan pelatihan secara teoritis dan praktis bagimana pentingnya dalam mendesain e-didakti melalui bahan ajar berbasis budaya bagi siswa. Guru-guru sangat antusias menerima materi pelatihan ini. Pada akhir pelatihan para guru diberikan gambaran desain e-didaktik melaui bahan ajar berbasis budaya. Para guru juga difasilitasi untuk berdiskusi secara berkemlompok dengan temanan guru yang satu daerah untuk dapat mengidentifikasi budaya yang ada dilingkungan sekolahnya. Proses guru mengidentifikasi budaya ini didampingi untuk bisa mengarahkan para guru pada desain e-didaktik yang bersesuain dengan konten matematika.
Pada pelaksanaan pelatihan dan pendampingan menghasilkan produk sebanyak 9 buah bahan ajar. Hasil pelaksanaa ini berupa desain rencana pelaksanaan pembelajaran dan desain bahan ajar. Selain itu, diperoleh tingkat keberterimaan kegiatan pelatihan yang dominan berada pada kategori “Sangat Baik”. Para guru merasakan peningkatan soft skill-nya terutama pada kompetensi pedagogik.