Praktik baik dalam mengajak murid berefleksi.
Pada bulan Februari 2021, pembelajaran di kelas masih lewat percakapan grup WA sudah bisa melibatkan semua murid kelas 6 dananak-anak bisa tetap berada di grup.Namun saat sudah mulai pembelajaran tatap muka terbataskelas PJJ saya mulai dengan sapaan, hanya 1-2 orang yang merespon bahkan terkadang tidak direspon sama sekali. Percakapan diskusi hampir berjalan 1 arah hanya saya yang berkomentar sendiri.
Ketika pembelajarantidak direspon di kelas, saya merasa seperti anak-anak tidak ada yang memahami pelajaran yang saya berikan. Anak-anak hadir di kelas namun seakan-akan pikiran mereka tidak berada di kelas.
Saat saya bertanya tentang pelajaran, anak-anak banyak yang diam. Anak-anak memang belum akrab dengan guru dan juga karena efek dari lamanya PJJ.
Saya ingin pembelajaran di kelas aktif, murid-murid aktif menyampaikan pendapat dan diskusi di kelas bisa berjalan dengan meriah.
Namun, tantangan yang saya hadapi dalam kelas enam ini berupa anak terkesan pasif dan tidak memperhatikan pembelajaran.Kelas terasa sepi dan hanya saya yang bicara sendirian. Saya tidak mengetahui siapa saja murid yang sudah paham atau justru belum paham dengan pembelajaran.
Saya merasakan bahwa percakapan kelas sulit untuk dikembangkan karena anak-anak tidak begitu merespon pantikan dan sapaan saya. Banyak anak yang tidak merespon saat diskusi mengaku belum paham saat asesmen diberikan. Saya harus mengulang-ulang menjelaskan elaborasi informasi yang sudah didiskusikan sejak awal pembelajaran untuk anak tersebut.
Saya melihat anak-anak masih belum memahami alur pembelajaran karena terlalu lama PJJ dan sekarang sudah memulai PTM terbatas. Anak-anak mulai tidak terbiasa untuk mengutarakan pendapatnya secara langsung.
Merespon masalah dan tantangan, saya mencoba membuka aspirasi untuk kesepakatan alur pembelajaran. Saya memfasilitasi murid-murid untuk mebuat refleksi tiap selesai pembelajaran:
Saya mengajarkan murid untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan, mereka pahami dan apa yang murid-murid inginkan dalam pembelajaran.
Untuk memotivasi anak-anak dalam merespon diskusi, saya selalu menanggapi komentar mereka dengan umpan balik sesegera mungkin. Umpan balik yang saya berikan berupa pujian positif.
Murid-murid ternyata memiliki banyak pemikiran dalam benak mereka. Saat murid-murid menuliskan di sticky note, ternyata mereka bisa memberikan pendapat. Saya jadi tahu apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan maupun apa yang mereka pahami. Karena kadang apa yang tidak bia diucapkan dengan kata-kata bisa dituliskan dengan baik oleh murid.
Banyak komentar positif yang saya dapatkan dari anak-anak. “saya senang menulis di sticky note bu”, kata Nazif. “Belajar seperti ini asyik. Saya juga tahu apa yang dirasakan teman-teman”, kata Rayna. “Asyik. Baru kali ini ada guru yang menyuruh kami menulis apa yang kami rasakan dan apa yang kai inginkan”, kata Debora.
Saya rasa murid mulai perlahan belajar cara membuat refleksi terhadap apa yang mereka pahami. Apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan. Saya masih ingin meningkatkan kemampuan murid-murid dalam berefleksi, karena seperti kata pepatah “belajar tanpa refleksi adalah sia-sia, refleksi tanpa belajar itu berbahaya”.
Praktik baik dalam mengajak murid berefleksi.
Pada bulan Februari 2021, pembelajaran di kelas masih lewat percakapan grup WA sudah bisa melibatkan semua murid kelas 6 dananak-anak bisa tetap berada di grup.Namun saat sudah mulai pembelajaran tatap muka terbataskelas PJJ saya mulai dengan sapaan, hanya 1-2 orang yang merespon bahkan terkadang tidak direspon sama sekali. Percakapan diskusi hampir berjalan 1 arah hanya saya yang berkomentar sendiri.
Ketika pembelajarantidak direspon di kelas, saya merasa seperti anak-anak tidak ada yang memahami pelajaran yang saya berikan. Anak-anak hadir di kelas namun seakan-akan pikiran mereka tidak berada di kelas.
Saat saya bertanya tentang pelajaran, anak-anak banyak yang diam. Anak-anak memang belum akrab dengan guru dan juga karena efek dari lamanya PJJ.
Saya ingin pembelajaran di kelas aktif, murid-murid aktif menyampaikan pendapat dan diskusi di kelas bisa berjalan dengan meriah.
Namun, tantangan yang saya hadapi dalam kelas enam ini berupa anak terkesan pasif dan tidak memperhatikan pembelajaran.Kelas terasa sepi dan hanya saya yang bicara sendirian. Saya tidak mengetahui siapa saja murid yang sudah paham atau justru belum paham dengan pembelajaran.
Saya merasakan bahwa percakapan kelas sulit untuk dikembangkan karena anak-anak tidak begitu merespon pantikan dan sapaan saya. Banyak anak yang tidak merespon saat diskusi mengaku belum paham saat asesmen diberikan. Saya harus mengulang-ulang menjelaskan elaborasi informasi yang sudah didiskusikan sejak awal pembelajaran untuk anak tersebut.
Saya melihat anak-anak masih belum memahami alur pembelajaran karena terlalu lama PJJ dan sekarang sudah memulai PTM terbatas. Anak-anak mulai tidak terbiasa untuk mengutarakan pendapatnya secara langsung.
Merespon masalah dan tantangan, saya mencoba membuka aspirasi untuk kesepakatan alur pembelajaran. Saya memfasilitasi murid-murid untuk mebuat refleksi tiap selesai pembelajaran:
Saya mengajarkan murid untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan, mereka pahami dan apa yang murid-murid inginkan dalam pembelajaran.
Untuk memotivasi anak-anak dalam merespon diskusi, saya selalu menanggapi komentar mereka dengan umpan balik sesegera mungkin. Umpan balik yang saya berikan berupa pujian positif.
Murid-murid ternyata memiliki banyak pemikiran dalam benak mereka. Saat murid-murid menuliskan di sticky note, ternyata mereka bisa memberikan pendapat. Saya jadi tahu apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan maupun apa yang mereka pahami. Karena kadang apa yang tidak bia diucapkan dengan kata-kata bisa dituliskan dengan baik oleh murid.
Banyak komentar positif yang saya dapatkan dari anak-anak. “saya senang menulis di sticky note bu”, kata Nazif. “Belajar seperti ini asyik. Saya juga tahu apa yang dirasakan teman-teman”, kata Rayna. “Asyik. Baru kali ini ada guru yang menyuruh kami menulis apa yang kami rasakan dan apa yang kai inginkan”, kata Debora.
Saya rasa murid mulai perlahan belajar cara membuat refleksi terhadap apa yang mereka pahami. Apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan. Saya masih ingin meningkatkan kemampuan murid-murid dalam berefleksi, karena seperti kata pepatah “belajar tanpa refleksi adalah sia-sia, refleksi tanpa belajar itu berbahaya”.
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Pada bulan Februari 2021, pembelajaran di kelas masih lewat percakapan grup WA sudah bisa melibatkan semua murid kelas 6 dananak-anak bisa tetap berada di grup.Namun saat sudah mulai pembelajaran tatap muka terbataskelas PJJ saya mulai dengan sapaan, hanya 1-2 orang yang merespon bahkan terkadang tidak direspon sama sekali. Percakapan diskusi hampir berjalan 1 arah hanya saya yang berkomentar sendiri.
Ketika pembelajarantidak direspon di kelas, saya merasa seperti anak-anak tidak ada yang memahami pelajaran yang saya berikan. Anak-anak hadir di kelas namun seakan-akan pikiran mereka tidak berada di kelas.
Saat saya bertanya tentang pelajaran, anak-anak banyak yang diam. Anak-anak memang belum akrab dengan guru dan juga karena efek dari lamanya PJJ.
Saya ingin pembelajaran di kelas aktif, murid-murid aktif menyampaikan pendapat dan diskusi di kelas bisa berjalan dengan meriah.
Namun, tantangan yang saya hadapi dalam kelas enam ini berupa anak terkesan pasif dan tidak memperhatikan pembelajaran.Kelas terasa sepi dan hanya saya yang bicara sendirian. Saya tidak mengetahui siapa saja murid yang sudah paham atau justru belum paham dengan pembelajaran.
Saya merasakan bahwa percakapan kelas sulit untuk dikembangkan karena anak-anak tidak begitu merespon pantikan dan sapaan saya. Banyak anak yang tidak merespon saat diskusi mengaku belum paham saat asesmen diberikan. Saya harus mengulang-ulang menjelaskan elaborasi informasi yang sudah didiskusikan sejak awal pembelajaran untuk anak tersebut.
Saya melihat anak-anak masih belum memahami alur pembelajaran karena terlalu lama PJJ dan sekarang sudah memulai PTM terbatas. Anak-anak mulai tidak terbiasa untuk mengutarakan pendapatnya secara langsung.
Merespon masalah dan tantangan, saya mencoba membuka aspirasi untuk kesepakatan alur pembelajaran. Saya memfasilitasi murid-murid untuk mebuat refleksi tiap selesai pembelajaran:
Saya mengajarkan murid untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan, mereka pahami dan apa yang murid-murid inginkan dalam pembelajaran.
Untuk memotivasi anak-anak dalam merespon diskusi, saya selalu menanggapi komentar mereka dengan umpan balik sesegera mungkin. Umpan balik yang saya berikan berupa pujian positif.
Murid-murid ternyata memiliki banyak pemikiran dalam benak mereka. Saat murid-murid menuliskan di sticky note, ternyata mereka bisa memberikan pendapat. Saya jadi tahu apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan maupun apa yang mereka pahami. Karena kadang apa yang tidak bia diucapkan dengan kata-kata bisa dituliskan dengan baik oleh murid.
Banyak komentar positif yang saya dapatkan dari anak-anak. “saya senang menulis di sticky note bu”, kata Nazif. “Belajar seperti ini asyik. Saya juga tahu apa yang dirasakan teman-teman”, kata Rayna. “Asyik. Baru kali ini ada guru yang menyuruh kami menulis apa yang kami rasakan dan apa yang kai inginkan”, kata Debora.
Saya rasa murid mulai perlahan belajar cara membuat refleksi terhadap apa yang mereka pahami. Apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan. Saya masih ingin meningkatkan kemampuan murid-murid dalam berefleksi, karena seperti kata pepatah “belajar tanpa refleksi adalah sia-sia, refleksi tanpa belajar itu berbahaya”.
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.