Lompat ke konten utama

Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Belajar Toleransi di Panti Asuhan

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Mengajar di SD Negeri dengan siswa yang bermacam-macam memberikan pengalaman kepada saya berbeda-beda setiap tahunnya. Saya adalah guru mata pelajaran Agama Islam. Tugas saya tentu mengajarkan dasar-dasar agama islam dan membimbing para siswa muslim agar mengenal dan mempertahankan jati dirinya sebagai seorang muslim. Pada suatu kesempatan, saya mendapati seorang murid yang tampak lesu Ketika belajar Agama Islam. Saya lalu mendekatinya secara pribadi. Dia menceritakan bahwa dia adalah salah satu anak yang tinggal di Panti Asuhan. Panti Asuhan itu tidak terlalu jauh dari sekolah. Sebenarnya, dia tinggal sangat jauh dari kota Makassar. Tepatnya di salah satu daerah terpencil di Malino, Kabupaten Gowa.

Dia mulai mengisahkan bahwa dirinya sebenarnya pemeluk agama Islam. Keluarganya semuanya islam. Tapi dia masuk di Panti Asuhan yang ternyata dikelola oleh non-muslim. Ia sebenarnya terpaksa masuk ke panti asuhan semata-mata karena sangat ingin mengenyam pendidikan. Ditambah lagi, selama ini sudah banyak bantuan-bantuan yang diberikan kepada keluarganya. la baru menyadari bahwa ternyata pihak Panti Asuhan telah mengubah identitas murid ini menjadi non-muslim saat mendaftar sebagai murid pindahan di sekolah kami.

Setelah mendengar keluh kesah murid ini, saya mulai memikirkan cara agar dapat membantunya kembali ke jati dirinya sendiri sebagai seorang muslim. Namun saya juga menekankan bahwa ia juga harus mengormati agama lain walaupun itu berbeda dengannya. Ia tetap harus mengikuti aturan yang dibuat di panti asuhan selama tidak memaksanya untuk beribadah dengan ibadah agama lain. Di situlah awal perjuangan saya dimulai. Jika saya terlalu jauh mencampuri masalah pribadi murid tersebut, saya khawatir akan berakibat buruk pada masa depannya. Saya mulai menanyakan aturan dan kebiasaan murid di panti asuhan, apakah memungkinkan jika dia dibimbing di luar jam sekolah untuk mengenal kembali agamanya sendiri.  Ternyata hal itu tidak mungkin, sebab anak panti asuhan dilarang keluar, kecuali hanya untuk mengikuti kegiatan sekolah.

Saya tidak putus harapan. Saya terus berusaha mengajari murid tersebut untuk beribadah sholat dan mengaji ketika jam istirahat. Ia juga sangat bersemangat belajar namun waktu istirahat sangat terbatas. Saya kemudian merancang kegiatan ekstra kurikuler. Maka muncullah ide dengan membuat klub sepak bola selain olahraga mereka juga mendapat siraman Rohani sesuai agama islam. Setelah bermain sepak bola, mereka beristirahat lalu dilanjutkan dengan belajar sholat dan mengaji.

Tidak terasa, 3 tahun saya bersama murid tersebut dari kelas 4 hingga kelas 6. Jika ada jadwal ibadah agama nonmuslim di panti asuhannya, murid ini selalu berusaha menghindar meskipun selalu diliputi rasa takut. Sehingga saya menghibur dengan mengajaknya pergi ke mall lalu melaksanakan ibadah sesuai agama islam di masjid terdekat dari lokasi mall. Selain murid laki-laki ini ternyata juga ada murid perempuan yang mengalami ujian serupa. Tetapi mereka tetap ingin mempertahankan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia pun pernah mengungkapkan bahwa sebenarnya ingin mengenakan kerudung yang menutup auratnya. Namun saya mengatakan, “Sabar dulu. Saat ini keadaannya belum memungkinkan. Nanti kalau kamu sudah umur 17 tahun, tidak ada yang bisa menghalangi kamu untuk mengungkapkan jati dirimu sendiri”. Murid perempuan ini pun mengangguk. Saya melihat sudut matanya berkaca-kaca.

Waktupun berlalu. Saya masih terus mendoakan agar murid-murid muslim di panti asuhan tidak kehilangan jati dirinya. Dalam sebuah kesempatan, saya berjumpa dengan murid perempuan itu. Pada saat itu ia sudah duduk di bangku SMP kelas 3. Ternyata ia sudah keluar dari panti asuhan karena diadopsi oleh seorang ibu. Mulanya ibu tersebut nonmuslim. Tapi karena meninggal suaminya, dia diperistri lagi oleh seorang laki-laki muslim. Maka ibu tersebut dan anak dari panti asuhan tadi masuk islam. Saya sangat bersyukur mendengar kabar itu. Apalagi dia juga telah mengenakan identitasnya yaitu kerudung. Dia tampak bahagia.

Di kesempatan yang lain, saya sedang membantu seorang tetangga dari kampung yang sedang berurusan di salah satu bank. Tiba-tiba seorang satpam bank menghampiri saya. Dia mencium tangan saya dengan penuh penghormatan. Saya tidak mengenalinya. Tapi ia merasa sangat mengenali saya. Satpam itu lalu menyebut bahwa ia adalah murid yang dulu di panti asuhan. Dia menyampaikan rasa terima kasih yang sangat mendalam karena berkat kesabaran saya mendampinginya, ia tetap bisa menjaga identitas dirinya. Meski demikian, ia tidak dendam kepada pihak panti asuhan, bahkan ia tetap berterima kasih. Karena dengan pengalaman tersebut, ia juga belajar toleransi dengan agama lain dan tetap menghormati pemeluknya sebagaimana mestinya.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.