Berawal dari keresahan saya akan kemampuan literasi murid, saya mencoba menerapkan pembelajaran literasi menggunakan POLES, untuk mengembangkan imajinasi, creativity, dan keaksaraan mereka
Berawal dari keresahan saya akan kemampuan literasi murid, saya mencoba menerapkan pembelajaran literasi menggunakan POLES, untuk mengembangkan imajinasi, creativity, dan keaksaraan mereka
KEGIATAN LITERASI BERSAMA POLES
Rohmah Azizah
Menjadi keresahan bagi saya, ketika melihat murid-murid memiliki banyak pengetahuan kata tapi kesulitan dalam mengungkapkannya. Saya mendapati murid lebih suka diam dengan buku atau gambar yang di pegangnya, Beberapa murid hanya diam menunggu dibacakan cerita. Beberapa lagi lebih suka mengucapkan bahasa asing dalam menyebutkan benda.
Berpijak dari keresahan tersebut, saya membuat program POLES (Pojok Literasi Sekolah) untuk membantu murid dalam mengembangkan imajinasi, creativity, komunikasi dan keaksaraanya.
Dalam menjalankan program tersebut, ada beberapa tantangan yang saya hadapi. Saya mengalami kesulitan dalam mengendalikan murid saat menjalankan kegiatan pembelajaran menggunakan Pojok Literasi. Mereka saling berebut buku. Beberapa menangis karena tidak mendapatkan buku. Bahkan beberapa buku robek karena ditarik murid. Anak bertanya tentang gambar yang dilihat di buku secara bersamaan. Sehingga kelas menjadi riuh dan kurang kondusif.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya membuat kesepakatan belajar dengan murid. Dalam kesepakatan itu kami menyetujui beberapa ragam kegiatan.:
Dalam pojok literasi di sediakan buku-buku cerita dan dongeng anak dengan gambar yang sesuai usia mereka, mereka bebas memilih buku serta bebas mengarang cerita sesuai imajinasi mereka berdasarkan gambar yang ada dalam buku tersebut. Murid boleh menyampaikan gagasan cerita mereka melalui lisan atau coretan gambar.
Dalam pojok literasi di sediakan toples transparan berisi gulungan-gulungan kertas, seperti undian. Di dalam gulungan kertas tersebut terdapat sebuah gambar, misalkan gambar semut. Maka anak boleh menceritakan apa yang ada dalam kertas tersebut secara lisan, atau boleh menggambar ulang di sticky note yang telah disediakan
Di pojok literasi ada sebuah kantong, terbuat dari piring kertas yang di temple sedemikian rupa menyerupai gerumbulan daun. Setiap kantong bertuliskan pertanyaan, misalkan “hewan kesukaanku adalah…”. Jika anak kesulitan dalam membaca pertanyaan, ada bantuan symbol di kantong tersebut, misalkan symbol sendok dan garpu. Anak bisa menuangkan jawabannya secara lisan atau menggambarnya di sticky note yang telah disediakan
Di pojok literasi, ada kantung yang berisi kemasan produk bekas, misalkan kemasan odol, sabun, teh, jajanan dll. Anak boleh memilih salah satu dan menyampaikan gagasannya melalui lisan, guru bisa memberi dukungan dalam hal keaksaraan yang muncul pada kemasan tersebut.
Melalui ragam kegiatan yang menarik tersebut, pengkondisian murid lebih baik. Murid bergantian dan aktivitas teratur. Melalui upaya pengembangan literasi ini, murid semakin mudah dalam mengungkapkan gagasan, tahu bagaimana cara bertanya, komunikasi terjalin secara spontan, pembendaharaan kata meningkat, dan imajinasi mereka berkembang. Peningkatan kemampuan murid tersampaikan baik secara lisan atau coretan.
Berawal dari keresahan saya akan kemampuan literasi murid, saya mencoba menerapkan pembelajaran literasi menggunakan POLES, untuk mengembangkan imajinasi, creativity, dan keaksaraan mereka
KEGIATAN LITERASI BERSAMA POLES
Rohmah Azizah
Menjadi keresahan bagi saya, ketika melihat murid-murid memiliki banyak pengetahuan kata tapi kesulitan dalam mengungkapkannya. Saya mendapati murid lebih suka diam dengan buku atau gambar yang di pegangnya, Beberapa murid hanya diam menunggu dibacakan cerita. Beberapa lagi lebih suka mengucapkan bahasa asing dalam menyebutkan benda.
Berpijak dari keresahan tersebut, saya membuat program POLES (Pojok Literasi Sekolah) untuk membantu murid dalam mengembangkan imajinasi, creativity, komunikasi dan keaksaraanya.
Dalam menjalankan program tersebut, ada beberapa tantangan yang saya hadapi. Saya mengalami kesulitan dalam mengendalikan murid saat menjalankan kegiatan pembelajaran menggunakan Pojok Literasi. Mereka saling berebut buku. Beberapa menangis karena tidak mendapatkan buku. Bahkan beberapa buku robek karena ditarik murid. Anak bertanya tentang gambar yang dilihat di buku secara bersamaan. Sehingga kelas menjadi riuh dan kurang kondusif.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya membuat kesepakatan belajar dengan murid. Dalam kesepakatan itu kami menyetujui beberapa ragam kegiatan.:
Dalam pojok literasi di sediakan buku-buku cerita dan dongeng anak dengan gambar yang sesuai usia mereka, mereka bebas memilih buku serta bebas mengarang cerita sesuai imajinasi mereka berdasarkan gambar yang ada dalam buku tersebut. Murid boleh menyampaikan gagasan cerita mereka melalui lisan atau coretan gambar.
Dalam pojok literasi di sediakan toples transparan berisi gulungan-gulungan kertas, seperti undian. Di dalam gulungan kertas tersebut terdapat sebuah gambar, misalkan gambar semut. Maka anak boleh menceritakan apa yang ada dalam kertas tersebut secara lisan, atau boleh menggambar ulang di sticky note yang telah disediakan
Di pojok literasi ada sebuah kantong, terbuat dari piring kertas yang di temple sedemikian rupa menyerupai gerumbulan daun. Setiap kantong bertuliskan pertanyaan, misalkan “hewan kesukaanku adalah…”. Jika anak kesulitan dalam membaca pertanyaan, ada bantuan symbol di kantong tersebut, misalkan symbol sendok dan garpu. Anak bisa menuangkan jawabannya secara lisan atau menggambarnya di sticky note yang telah disediakan
Di pojok literasi, ada kantung yang berisi kemasan produk bekas, misalkan kemasan odol, sabun, teh, jajanan dll. Anak boleh memilih salah satu dan menyampaikan gagasannya melalui lisan, guru bisa memberi dukungan dalam hal keaksaraan yang muncul pada kemasan tersebut.
Melalui ragam kegiatan yang menarik tersebut, pengkondisian murid lebih baik. Murid bergantian dan aktivitas teratur. Melalui upaya pengembangan literasi ini, murid semakin mudah dalam mengungkapkan gagasan, tahu bagaimana cara bertanya, komunikasi terjalin secara spontan, pembendaharaan kata meningkat, dan imajinasi mereka berkembang. Peningkatan kemampuan murid tersampaikan baik secara lisan atau coretan.
Good practice before revised
Good practice elaboration
KEGIATAN LITERASI BERSAMA POLES
Rohmah Azizah
Menjadi keresahan bagi saya, ketika melihat murid-murid memiliki banyak pengetahuan kata tapi kesulitan dalam mengungkapkannya. Saya mendapati murid lebih suka diam dengan buku atau gambar yang di pegangnya, Beberapa murid hanya diam menunggu dibacakan cerita. Beberapa lagi lebih suka mengucapkan bahasa asing dalam menyebutkan benda.
Berpijak dari keresahan tersebut, saya membuat program POLES (Pojok Literasi Sekolah) untuk membantu murid dalam mengembangkan imajinasi, creativity, komunikasi dan keaksaraanya.
Dalam menjalankan program tersebut, ada beberapa tantangan yang saya hadapi. Saya mengalami kesulitan dalam mengendalikan murid saat menjalankan kegiatan pembelajaran menggunakan Pojok Literasi. Mereka saling berebut buku. Beberapa menangis karena tidak mendapatkan buku. Bahkan beberapa buku robek karena ditarik murid. Anak bertanya tentang gambar yang dilihat di buku secara bersamaan. Sehingga kelas menjadi riuh dan kurang kondusif.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya membuat kesepakatan belajar dengan murid. Dalam kesepakatan itu kami menyetujui beberapa ragam kegiatan.:
Dalam pojok literasi di sediakan buku-buku cerita dan dongeng anak dengan gambar yang sesuai usia mereka, mereka bebas memilih buku serta bebas mengarang cerita sesuai imajinasi mereka berdasarkan gambar yang ada dalam buku tersebut. Murid boleh menyampaikan gagasan cerita mereka melalui lisan atau coretan gambar.
Dalam pojok literasi di sediakan toples transparan berisi gulungan-gulungan kertas, seperti undian. Di dalam gulungan kertas tersebut terdapat sebuah gambar, misalkan gambar semut. Maka anak boleh menceritakan apa yang ada dalam kertas tersebut secara lisan, atau boleh menggambar ulang di sticky note yang telah disediakan
Di pojok literasi ada sebuah kantong, terbuat dari piring kertas yang di temple sedemikian rupa menyerupai gerumbulan daun. Setiap kantong bertuliskan pertanyaan, misalkan “hewan kesukaanku adalah…”. Jika anak kesulitan dalam membaca pertanyaan, ada bantuan symbol di kantong tersebut, misalkan symbol sendok dan garpu. Anak bisa menuangkan jawabannya secara lisan atau menggambarnya di sticky note yang telah disediakan
Di pojok literasi, ada kantung yang berisi kemasan produk bekas, misalkan kemasan odol, sabun, teh, jajanan dll. Anak boleh memilih salah satu dan menyampaikan gagasannya melalui lisan, guru bisa memberi dukungan dalam hal keaksaraan yang muncul pada kemasan tersebut.
Melalui ragam kegiatan yang menarik tersebut, pengkondisian murid lebih baik. Murid bergantian dan aktivitas teratur. Melalui upaya pengembangan literasi ini, murid semakin mudah dalam mengungkapkan gagasan, tahu bagaimana cara bertanya, komunikasi terjalin secara spontan, pembendaharaan kata meningkat, dan imajinasi mereka berkembang. Peningkatan kemampuan murid tersampaikan baik secara lisan atau coretan.
If you experience problems scrolling, scroll outside of the area Live Chat which is black.