Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan karakteristik individu murid
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan karakteristik individu murid
Seorang pendidik sejak tahun 1995, menulis tentang pengajaran yang mempertimbangkan perbedaan individu murid dalam sebuah buku berjudul “How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classrooms”. Konsep tersebut kemudian dikenal dengan istilah pembelajaran diferensiasi atau pembelajaran terdiferensiasi (Tomlinson, 1999). Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru mengajarkan materi dengan mempertimbangkan tingkat kesiapan, interest, dan gaya belajar murid. Guru juga dapat mengubah isi pelajaran, proses pembelajaran, produk atau hasil pembelajaran yang diajarkan, dan lingkungan belajar di mana murid belajar.
Kenyataan yang terjadi, saat proses pembelajaran masih terulang pembelajaran berpusat kepada guru dan tetap menggunakan model konvensional, pada proses pembelajaran saya sadar masih menerapkan aturan yaitu suasana kelas ditekankan tenang, rapi dan tertib, tidak boleh gaduh dan ribut, serta murid harus menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada mereka, sehingga murid merasa jenuh dan terbelenggu dengan aturan dan akhirnya mereka tidak termotivasi untuk belajar, padahal tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar memenuhi kebutuhan murid.
Belajar dari kesalahan, saya berupaya dalam proses pembelajaran tidak menggunakan lagi metode yang merampas hak kemerdekaan murid. Dalam proses belajar mengubah lingkungan dan iklim belajar berdasarkan profil murid. Dalam perubahan itu saya mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif dan menarik. Setelah mengetahui karakteristik setiap murid, maka dalam proses pembelajaran saya menggunakan beberapa metode belajar sesuai dengan gaya belajar murid, yaitu gaya belajar audio, gaya belajar visual, gaya belajar audio visual, dan gaya belajar kinestetik.
Berdasarkan gaya belajar murid, mereka dikelompokkan secara homogen artinya mengelompokkan sesuai dengan gaya belajar murid, agar tercipta suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan, murid diberi kemerdekaan untuk memilih duduk dalam kelompok besar atau kelompok kecil, dan mereka juga dapat bekerja secara individu atau berpasangan. Pada hakekatnya saya harus menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi murid agar mereka merasa aman, comfortable, dan tenang saat belajar karena kebutuhannya terpenuhi.
Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti memberikan perlakuan yang berbeda bagi setiap murid, tetapi lebih tentang memberikan dukungan dan pendekatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid. guru secara aktif memahami keberagaman individual siswa baik dalam gaya belajar, tingkat pemahaman, interest, ability, dan kebutuhan khusus, dan tujuan utamanya adalah untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan asyik bagi murid.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan karakteristik individu murid
Seorang pendidik sejak tahun 1995, menulis tentang pengajaran yang mempertimbangkan perbedaan individu murid dalam sebuah buku berjudul “How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classrooms”. Konsep tersebut kemudian dikenal dengan istilah pembelajaran diferensiasi atau pembelajaran terdiferensiasi (Tomlinson, 1999). Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru mengajarkan materi dengan mempertimbangkan tingkat kesiapan, interest, dan gaya belajar murid. Guru juga dapat mengubah isi pelajaran, proses pembelajaran, produk atau hasil pembelajaran yang diajarkan, dan lingkungan belajar di mana murid belajar.
Kenyataan yang terjadi, saat proses pembelajaran masih terulang pembelajaran berpusat kepada guru dan tetap menggunakan model konvensional, pada proses pembelajaran saya sadar masih menerapkan aturan yaitu suasana kelas ditekankan tenang, rapi dan tertib, tidak boleh gaduh dan ribut, serta murid harus menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada mereka, sehingga murid merasa jenuh dan terbelenggu dengan aturan dan akhirnya mereka tidak termotivasi untuk belajar, padahal tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar memenuhi kebutuhan murid.
Belajar dari kesalahan, saya berupaya dalam proses pembelajaran tidak menggunakan lagi metode yang merampas hak kemerdekaan murid. Dalam proses belajar mengubah lingkungan dan iklim belajar berdasarkan profil murid. Dalam perubahan itu saya mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif dan menarik. Setelah mengetahui karakteristik setiap murid, maka dalam proses pembelajaran saya menggunakan beberapa metode belajar sesuai dengan gaya belajar murid, yaitu gaya belajar audio, gaya belajar visual, gaya belajar audio visual, dan gaya belajar kinestetik.
Berdasarkan gaya belajar murid, mereka dikelompokkan secara homogen artinya mengelompokkan sesuai dengan gaya belajar murid, agar tercipta suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan, murid diberi kemerdekaan untuk memilih duduk dalam kelompok besar atau kelompok kecil, dan mereka juga dapat bekerja secara individu atau berpasangan. Pada hakekatnya saya harus menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi murid agar mereka merasa aman, comfortable, dan tenang saat belajar karena kebutuhannya terpenuhi.
Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti memberikan perlakuan yang berbeda bagi setiap murid, tetapi lebih tentang memberikan dukungan dan pendekatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid. guru secara aktif memahami keberagaman individual siswa baik dalam gaya belajar, tingkat pemahaman, interest, ability, dan kebutuhan khusus, dan tujuan utamanya adalah untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan asyik bagi murid.
Good practice before revised
Good practice elaboration
Seorang pendidik sejak tahun 1995, menulis tentang pengajaran yang mempertimbangkan perbedaan individu murid dalam sebuah buku berjudul “How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classrooms”. Konsep tersebut kemudian dikenal dengan istilah pembelajaran diferensiasi atau pembelajaran terdiferensiasi (Tomlinson, 1999). Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru mengajarkan materi dengan mempertimbangkan tingkat kesiapan, interest, dan gaya belajar murid. Guru juga dapat mengubah isi pelajaran, proses pembelajaran, produk atau hasil pembelajaran yang diajarkan, dan lingkungan belajar di mana murid belajar.
Kenyataan yang terjadi, saat proses pembelajaran masih terulang pembelajaran berpusat kepada guru dan tetap menggunakan model konvensional, pada proses pembelajaran saya sadar masih menerapkan aturan yaitu suasana kelas ditekankan tenang, rapi dan tertib, tidak boleh gaduh dan ribut, serta murid harus menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada mereka, sehingga murid merasa jenuh dan terbelenggu dengan aturan dan akhirnya mereka tidak termotivasi untuk belajar, padahal tujuan dari pembelajaran berdiferensiasi adalah menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar memenuhi kebutuhan murid.
Belajar dari kesalahan, saya berupaya dalam proses pembelajaran tidak menggunakan lagi metode yang merampas hak kemerdekaan murid. Dalam proses belajar mengubah lingkungan dan iklim belajar berdasarkan profil murid. Dalam perubahan itu saya mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif dan menarik. Setelah mengetahui karakteristik setiap murid, maka dalam proses pembelajaran saya menggunakan beberapa metode belajar sesuai dengan gaya belajar murid, yaitu gaya belajar audio, gaya belajar visual, gaya belajar audio visual, dan gaya belajar kinestetik.
Berdasarkan gaya belajar murid, mereka dikelompokkan secara homogen artinya mengelompokkan sesuai dengan gaya belajar murid, agar tercipta suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan, murid diberi kemerdekaan untuk memilih duduk dalam kelompok besar atau kelompok kecil, dan mereka juga dapat bekerja secara individu atau berpasangan. Pada hakekatnya saya harus menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi murid agar mereka merasa aman, comfortable, dan tenang saat belajar karena kebutuhannya terpenuhi.
Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti memberikan perlakuan yang berbeda bagi setiap murid, tetapi lebih tentang memberikan dukungan dan pendekatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid. guru secara aktif memahami keberagaman individual siswa baik dalam gaya belajar, tingkat pemahaman, interest, ability, dan kebutuhan khusus, dan tujuan utamanya adalah untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan asyik bagi murid.
If you experience problems scrolling, scroll outside of the area Live Chat which is black.