Awal
Saya adalah seorang Kepala Sekolah SDN 17 SP 1 Nobal yang terdiri dari 250 murid dan 10 guru. Di desa transmigrasi, kami memiliki keadaan murid yang beragam yang dipengaruhi oleh faktor suku, agama, cara hidup, tata krama, tingkat kesejahteraan dan pendapatan, dan lain-lain.
Keberagaman tersebut tentu saja bisa dijadikan pembelajaran dan peluang yang sangat bagus untuk memperkaya dan mengenali masing-masing murid, baik dari segi toleransi, empati, berbagi, memahami, dan menambah literatur keberagaman.
Namun, melalui keberagaman tersebut, terkadang membuat guru merasa tidak mampu mendekati dan mengenal murid seutuhnya, sehingga guru masih belum melakukan asesmen dan menganggap murid hanya belajar dengan gaya guru tanpa mempertimbangkan sisi dan kebutuhan belajar murid.
Tantangan
Keberagaman menimbulkan cara hidup dan cara belajar yang berbeda, bahkan sosial murid juga berbeda. Hal ini menjadi tantangan bagi guru dalam mengajar sebuah kelas yang klasikal yang terdiri dari keberagaman yang mencolok tersebut. Ada kelompok siswa yang berteman hanya dari daerahnya saja. Ada yang berteman hanya karena hoby yang sama. Dan pada proses pembelajaran, murid masih terkesan memilih teman yang sesuai dengan kemauannya.
Hampir disetiap minggu guru-guru melerai dan memarahi murid yang berkelahi, menganggu teman, bahkan sampai pada tahapan bullying. Guru masih belum dibekali cara dalam merestitusi dan menasihati siswa. Tak hanya itu, beberapa kasus dalam 5 tahun terakhir pernah di lakukan oleh orang tua untuk menuntut hak adat / memberikan sanksi adat kepada murid yang lain maupun kepada guru.
Aksi
Diawal tahun ajaran baru 2023/2024, saya mengajak setiap guru untuk rapat bersama orang tua / wali murid disetiap kelas. Di hari senin rapat di kelas 1, hari selasa rapat bersama orang tua di kelas 2, begitu juga seterusnya. Di awal rapat, kami berbicara dan menyepakati bahwa perilaku dan perkembangan anak merupakan tanggung jawab bersama, dan kami juga bersepakat bahwa siswa tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga pada sikap dan keterampilan. Dalam rapat tersebut kami mencari solusi bersama-sama agar keberagaman tersebut dapat menyatu, sehingga kami membangun kesepakatan-kesepakatan positif yang sangat berguna untuk kemajuan sekolah.
Disetiap rapat perkelas, kami juga membentuk paguyupan kelas, yang tujuannya untuk menjadi mitra kolaborasi untuk bersama-sama memajukan ruang kelas dan meminimalisir perundungan.
Kami juga merencanakan beberapa program kegiatan keagamaan, refreshing bersama orang tua, gotong royong untuk memberikan teladan langsung kepada murid, dan kegiatan yang lainnya.
Dan di akhir rapat, guru mulai melakukan tanya jawab secara klasikal kepada orangtua, misalnya dengan pertanyaan
- Siapakah anak-anak yang sudah mengenal huruf?
- Siapa anak-anak yang sudah mulai bisa mengeja?
- Siapa yang suka menonton youtube dirumah?
- Siapa murid yang masih tidur Bersama orang tuanya?
- Apa yang disukai oleh murid dan apa yang tidak di sukainya?
- Apakah anak sering mengganggu temannya, apakah anak sering mengalami perundungan?
- Dan pertanyaan yang lainnya
Lalu gurupun memberikan kertas yang berisi instrument diagnostik agar diisikan oleh anak yang berkolaborasi dengan orangtuanya secara jujur.
Pembelajaran
Hal yang menarik adalah bahwa orangtua merasa didekatkan kembali dengan anaknya. Orangtua mengatakan bahwa ini adalah bentuk kolaborasi tangguh yang terjadi antara sekolah dan orangtua, sehingga orang tua di rumah akan lebih intens dalam mengawasi anak-anaknya dan mereka juga merasa memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.
Contoh sederhana yang terbangun adalah bahwa orang tua di group WA sudah menggunakan bahasa tulis yang sopan dan sesuai dengan kaidah tata bahasa.
Disamping itu, proses dalam mengenali muridpun menjadi lebih bermakna.
Kata kunci yang bisa dipetik adalah bahwa untuk harus ada 1 tujuan mengembangkan murid bersama-sama, yang dilakukan oleh sekolah, murid, orang tua, dan lingkungan.