- Pada awal semester satu, biasanya guru-guru di Sekolah Islam Umar Harun menggali minat murid untuk pembelajaran yang berbasis riset. Even, sebelum guru menggali minat, beberapa murid berinisiatif menyampaikan minatnya. Seperti murid-murid kelas 6, mereka menyampaikan keinginan atau minatnya untuk melakukan study tour ke luar kota bersama. I am, sebagai guru kelas 6, menggali apa yang melatarbelakangi keinginan tersebut.
“Apa yang membuat kalian ingin melakukan study tour?” tanya saya memandu diskusi.
“Karena kami ingin jalan-jalan bersama satu kelas sebelum lulus, This. Kami ingin ada kenangan kebersamaan,” jawab salah satu murid, disetujui satu kelas.
Saya dan rekan guru kelas 6 yang lain memandu diskusi murid tentang tujuan dari proyek yang mereka inginkan. Saya memantik dengan memberi pertanyaan-pertanyaan. Harapan saya, murid-murid bisa menemukan tujuan dari keinginannya, tumbuh komitmen terhadap tujuan, dan mandiri menentukan cara belajar mereka
Berangkat dari dan mempertimbangkan suara murid, saya dan rekan guru kelas 6 merancang alur pembelajaran riset yang berkaitan dengan study tour. Kami punya harapan bahwa keinginan mereka bisa dijadikan pembelajaran riset bermakna, di mana ada tujuan-tujuan pembelajaran (literacy, numeration, IPAS, PKN, atau PAI) yang terkait.
Pada awal perencanaan proyek study tour, kami mengajak murid-murid kelas 6 untuk berpikir dan melihat fakta bahwa dalam melakukan perjalanan, butuh biaya yang harus disiapkan sesuai kebutuhan.
Then, murid-murid melakukan pencarian kota-kota tujuan study tour dan menghitung perkiraan biayanya. Dalam proses tersebut, murid-murid belajar tentang numerasi. Mereka dapat menyimpulkan bahwa semakin jauh kota yang akan dikunjungi, semakin membutuhkan biaya yang banyak. Nah, dari kesimpulan tersebut, murid-murid (dengan difasilitasi guru) memutuskan sendiri kota mana yang akan dikunjungi dengan mempertimbangkan biaya.
Kota Rembang menjadi pilihan mereka atas pertimbangan yang matang. Rencananya, mereka akan mengunjungi situs-situs wisata di sekitar Kabupaten Rembang serta mempelajarinya.
Murid-murid juga berencana membuat video dokumenter dan ebook yang menceritakan perjalanan belajar mereka. Itu akan dibuat setelah study tour.
Then, muncul ide menghasilkan uang sendiri untuk biaya study tour supaya tidak memberatkan orang tua.
From these challenges, murid-murid kami ajak untuk mencari cara menghasilkan uang secara mandiri. Banyak yang sepakat untuk membayar iuran setiap pekan.
However, itu masih minta uang kepada orang tua.
Murid-murid kemudian mengamati lingkungan di keluarganya dan masyarakat sekitar. Setelah pengamatan, mereka menemukan cara untuk menghasilkan uang secara mandiri, yaitu dengan berjualan.
Oleh karena proyek study tour merupakan keinginan bersama satu kelas, kegiatan berjualan dilakukan dengan berkolaborasi satu kelas. Dalam kolaborasi tersebut, setiap murid berkontribusi lewat riset individu, seperti membuat makanan untuk dijadikan produk jualan, menyusun strategi berdagang, fotografi, dan menggambar untuk proses marketing produk.
Setelah adanya perencanaan dan membuat timeline dengan matang, murid-murid kelas 6 melakukan peran masing-masing. Mereka melakukan serangkaian uji coba, seperti membuat makanan tahu krispi, bolu kering, dan puding sampai akhirnya layak dijual. Dalam waktu kurang lebih 1 month, murid-murid (dengan ditemani guru) mulai beraksi menjual produk makanan mereka di kantin sekolah. Mereka menganalisis dan mempelajari konsep-konsep literasi dan numerasi yang terkait, seperti belajar persen dan pecahan.
Dalam perjalanannya, kami mengajak murid-murid untuk merefleksikan proses kegiatan dan melihat progres jualannya. Sepanjang merefleksikan proses jualan, murid-murid banyak menemukan pelajaran. Ternyata yang laris adalah bolu kering yang ditambah susu dan meses, sedangkan puding yang tidak banyak diminati.
Besides that, kami juga menghitung keuntungan dan kerugian yang didapat. Dari proses berjualan ini, murid-murid bisa jadi belajar tentang realita bahwa dalam dunia usaha atau bisnis akan ada keuntungan dan kerugian. Sesuai kesepakatan, laba bersih ditabung atas nama uang kelas untuk proyek study tour.
Sepanjang refleksi, murid-murid secara mandiri menaksir apakah dana yang terkumpul akan mencapai target dengan beberapa kali menjual produk makanan di kantin sekolah. Dari taksiran mereka (dan dibantu guru untuk menghitungnya), beberapa murid mengusulkan agar mereka tidak hanya mengandalkan laba dari jualan, tetapi juga menabung melalui kas kelas agar punya dana yang cukup study tour.
Dari proyek study tour murid-murid kelas 6, saya mendapatkan pelajaran bahwa dengan memberdayakan murid (untuk menyampaikan minat belajar, menentukan tujuan dan cara belajar, dan melakukan refleksi atas temuan-temuan belajarnya) komitmen, independence, dan tanggung jawab mereka tumbuh berkembang sepanjang proses belajar. Even, beberapa murid bersemangat mendalami konsep menghitung persentase karena belajar dari temuan mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari.