Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Dicari 600

Empowered

Teacher

Jadi Pembicara di Puncak Temu Pendidik Nusantara XII

 

Jum’at – Sabtu, 20-21 November 2026

Sekolah Cikal Lebak Bulus, Jakarta Selatan

 

Yuk selesaikan misi berikut dan jadi pembicara!

Pilih & klik misi di bawah ini

Anda bisa mengerjakan lebih dari 1 Misi Belajar.

Segera kerjakan misi belajar untuk menjadi pembicara.
Pengumuman pembicara akan dilakukan secara berkala sejak September-Oktober 2026.

Batas akhir untuk mengerjakan misi belajar adalah:
30 September 2026

Belajar dari persoalan nyata di sekitar murid

Pembelajaran tentang Lingkungan Hidup & Kualitas Air

Hari itu, Bu Astri mengajak murid-muridnya belajar dari sungai di belakang sekolah. Di tepi sungai, mereka melihat air yang kehitaman, berbau, dan dipenuhi sampah rumah tangga.

“Apa yang kalian lihat? Apa yang paling menarik perhatian kalian?” tanya Bu Astri.

Murid-murid menyebutkan satu per satu. Airnya kotor. Banyak sampah plastik. Sungainya berbau.

Bu Astri lalu menunjuk aliran air. Ia bertanya apakah dampak air kotor itu berhenti di tempat mereka berdiri, atau justru mengalir ke daerah lain. Ia juga mengajak murid membayangkan apakah ada warga di tempat lain yang bergantung pada sungai itu untuk hidup sehari-hari.

Selama dua jam berikutnya, Bu Astri memfasilitasi murid membaca sungai lebih dalam. Mereka diajak mengamati siapa saja yang mungkin terdampak, apakah semua orang merasakan dampak yang sama, serta mengapa sungai bisa menjadi kotor. Murid mulai membicarakan kebiasaan warga, perubahan lingkungan, dan waktu panjang yang membuat kondisi ini terjadi.

Perlahan, murid memahami bahwa sungai tidak berdiri sendiri. Mereka juga bagian dari kehidupan di sekitarnya, baik sebagai pengguna maupun sebagai pihak yang ikut memengaruhi kondisinya.

Di akhir kegiatan, Bu Astri menutup dengan satu pertanyaan sederhana, “Menurut kalian, hal kecil apa yang masuk akal bisa kita lakukan bersama?”

Hari itu, sungai menjadi ruang belajar. Murid belajar melihat keterhubungan dan menyadari bahwa tindakan kecil di satu tempat dapat berdampak pada kehidupan orang lain di tempat lain.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Astri?

Bila YA, yuk bantu Bu Astri, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Astri?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Pembelajaran tentang Ketahanan Pangan Lokal

Bu Lina mengajak murid-murid berjalan ke sawah di belakang desa. Mereka melihat petani sedang menyiangi padi, sebagian lahan sudah menguning dan siap panen.

“Menurut kalian,” tanya Bu Lina, “padi di sawah ini nantinya akan ke mana saja?”

“Ke pasar, Bu.”
“Jadi beras,” jawab yang lain.

Bu Lina melanjutkan, “Kalau panen di sini gagal, menurut kalian dampaknya berhenti di desa ini saja, atau bisa sampai ke tempat lain?”

Murid mulai menghubungkan sawah dengan beras di rumah, warung di desa, hingga orang-orang di daerah lain yang juga bergantung pada hasil panen dari wilayah seperti ini. Perlahan mereka memahami bahwa satu sawah kecil adalah bagian dari rantai pangan yang panjang dan saling terhubung.

Di akhir kunjungan, Bu Lina menutup dengan pertanyaan terbuka,
“Dalam kondisi seperti ini, pilihan apa yang sebenarnya kita punya agar pangan di sekitar kita tetap terjaga dan bisa dinikmati bersama?”

Hari itu, sawah menjadi ruang belajar kewargaan. Murid belajar melihat bahwa pangan bukan sekadar makanan di piring, melainkan hasil keputusan dan kerja bersama yang dampaknya bisa dirasakan jauh melampaui desa mereka.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Lina?

Bila YA, yuk bantu Bu Lina, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Lina?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Pembelajaran tentang Gaya Hidup Transportasi dan Polusi Udara

Pak Dedi mengajak murid-murid berdiri di halte sekolah yang menghadap jalan raya. Motor dan truk melintas tanpa henti. Suara bising dan bau asap knalpot memenuhi udara.

“Setiap pagi kalian menghirup udara seperti ini,” katanya. “Menurut kalian, ini biasa saja atau ada yang perlu kita pikirkan bersama?”

“Biasa, Pak. Namanya juga jalan raya,” jawab seorang murid.

Pak Dedi tidak menutup percakapan di situ. Ia mengajak murid mengamati kebiasaan di sekitar mereka. Siapa yang datang naik motor, siapa yang jaraknya sebenarnya dekat, dan bagaimana kondisi jalan setiap pagi. Ia tidak memberi kesimpulan, hanya membantu murid membaca pola dari pengalaman mereka sendiri.

“Kalau satu orang naik motor, asapnya mungkin sedikit,” lanjutnya. “Tapi menurut kalian, apa yang terjadi kalau hampir semua orang di sekitar kita melakukan hal yang sama setiap hari?”

Dari situ, murid mulai mengaitkan pilihan transportasi dengan udara yang mereka hirup dan kesehatan orang-orang di sekitar. Beberapa gagasan muncul, seperti berjalan kaki bersama, berbagi tumpangan, atau mematikan motor saat menunggu di depan sekolah. Semua dicatat sebagai kemungkinan, bukan keharusan.

Menjelang akhir, Pak Dedi menutup dengan satu pertanyaan sederhana. “Tidak semua orang punya pilihan yang sama. Dari yang kita lihat hari ini, kebiasaan kecil apa yang mungkin bisa mulai kita ubah di lingkungan kita sendiri?”

Hari itu, jalan raya di depan sekolah menjadi ruang belajar. Murid belajar melihat keterhubungan antara pilihan sehari-hari, ruang hidup bersama, dan dampaknya bagi orang lain tanpa harus diberi jawaban siap pakai.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Dedi?

Bila YA, yuk bantu Pak Dedi, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Dedi?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Membaca dunia: literasi informasi dan sudut pandang

Pembelajaran tentang Literasi Media dalam Isu Sosial

Pak Agus menyalakan proyektor di awal pelajaran. Di layar terpampang judul berita yang sedang ramai dibagikan, “Harga Beras Naik Drastis, Petani Dirugikan.”

“Siapa yang sempat melihat berita ini?” tanyanya. Beberapa murid mengangguk. Ada yang membaca di koran, ada yang hanya melihat judulnya di televisi.

“Menurut kalian, siapa yang paling dirugikan?” lanjut Pak Agus.

“Petani, Pak.”

“Pembeli juga,” sahut yang lain.

Pak Agus tidak menilai jawaban. Ia justru mengajak murid menunda kesimpulan. Ia lalu membagikan tiga potongan berita dari sumber yang berbeda, media nasional, blog opini, dan pernyataan organisasi petani. Murid diminta membaca perlahan, membandingkan cara setiap sumber memilih kata, menyusun alasan, dan menempatkan pihak-pihak yang terlibat.

Melalui diskusi, murid mulai melihat bahwa satu peristiwa dapat dipahami dari sudut pandang yang berbeda. Mereka juga menyadari bahwa informasi tidak pernah sepenuhnya netral. Murid belajar membedakan data dan pendapat, serta memahami bahwa cara sebuah berita ditulis dapat memengaruhi cara orang menilai persoalan.

“Kalau kita langsung percaya satu berita saja,” tanya Pak Agus pelan, “keputusan apa yang mungkin kita ambil? Dan siapa yang bisa terdampak?”

Kelas hening sejenak. Seorang murid kemudian berkata, “Berarti salah paham kita bisa berdampak ke orang lain juga, Pak. Bukan cuma ke diri sendiri.”

Hari itu, murid tidak hanya belajar membaca teks. Mereka belajar membaca dunia, memahami bahwa informasi membawa kepentingan, sudut pandang, dan dampak bagi kehidupan bersama.

Di akhir pelajaran, Pak Agus meninggalkan satu pertanyaan terbuka. Di dunia yang informasinya bergerak cepat, sikap apa yang perlu kita latih agar cara kita membaca dan menyebarkan berita tidak ikut memperbesar ketidakadilan?

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Agus?

Bila YA, yuk bantu Pak Agus, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Agus?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Pembelajaran tentang Akses dan Keadilan Informasi Digital

Suatu pagi, Ibu Helena mengajak murid-muridnya membaca sebuah cerita pendek dari berita lokal. Cerita itu mengisahkan seorang anak seusia mereka yang membantu orang tua berjualan ikan di pasar sebelum berangkat sekolah.

“Menurut kalian,” tanya Ibu Helena, “kenapa anak ini harus bekerja?”

“Karena orang tuanya miskin, Bu,” jawab seorang murid.

Ibu Helena tidak berhenti pada jawaban itu. Ia mengajak murid membaca cerita tersebut lebih pelan dan lebih dalam. Dari mana berita ini berasal? Sudut pandang siapa yang paling menonjol? Informasi apa yang tidak dimasukkan? Diskusi kemudian bergerak ke kondisi kerja orang tua, jarak rumah ke sekolah, fluktuasi harga ikan, hingga bagaimana keputusan ekonomi dan kebijakan di luar keluarga memengaruhi kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita hanya membaca dari satu sisi,” kata Ibu Helena, “apa yang bisa kita salah pahami?”

“Mungkin kita akan mengira orang miskin karena malas,” ujar seorang murid pelan, “padahal belum tentu.”

Dari percakapan itu, murid belajar bahwa membaca dunia berarti memeriksa informasi dan konteks di balik cerita, bukan sekadar menerima narasi di permukaan. Kemiskinan tidak dipahami sebagai kegagalan individu, melainkan sebagai persoalan kesempatan, lingkungan, dan struktur sosial.

Hari itu, murid tidak diminta mencari jawaban benar. Mereka sedang berlatih literasi informasi dan kewargaan paling dasar: melihat berbagai sudut pandang, mengenali batas cerita, dan menjaga diri agar tidak mudah menghakimi atau diperalat oleh narasi yang menyederhanakan kenyataan.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Helena?

Bila YA, yuk bantu Bu Helena, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Helena?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Berunding, bersuara, dan mengambil keputusan bersama

Pembelajaran tentang Pengambilan Keputusan Kolektif di Lingkungan Sekolah

Bu Ni Made menuliskan satu kalimat di papan tulis. “Kegiatan akhir semester akan ditentukan bersama.”

Kelas langsung riuh. “Study tour, Bu.” “Pameran karya.” “Bakti sosial saja.”

Bu Made tidak langsung memilih. Ia membagi kelas ke dalam kelompok kecil dan meminta setiap kelompok menuliskan usulan beserta alasannya.

“Setiap usulan harus dipikirkan dampaknya,” kata Bu Made. “Siapa yang diuntungkan. Siapa yang mungkin keberatan.”

Saat diskusi berlangsung, perbedaan mulai terasa. “Kita tidak semua mampu ikut study tour,” ujar seorang murid pelan. “Tapi pameran juga butuh biaya,” sahut yang lain.

Bu Made mengamati. Selama ini ia sering mengambil keputusan demi efisiensi. Hari itu ia memilih memberi ruang agar murid mengalami sendiri proses berunding.

Setelah setiap kelompok menyampaikan pandangannya, kelas mencoba mencari titik temu. Mereka menimbang biaya, waktu, tenaga, dan manfaat bagi semua.

“Kalau kita gabungkan,” kata seorang murid, “pameran karya di sekolah, tapi hasilnya bisa untuk kegiatan sosial.”

Kelas mengangguk. Tidak semua usulan terakomodasi sepenuhnya, tetapi semua suara didengar.

Sepulang sekolah, Bu Made merenung. Ruang kelas hari itu terasa seperti desa kecil. Perbedaan kepentingan hadir, keputusan harus diambil, dan dampaknya dirasakan bersama.

Ia bertanya dalam hati. Jika murid belajar berunding dan mengambil keputusan hari ini di kelas, bagaimana pengalaman ini menyiapkan mereka menjadi warga yang mampu berdialog dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama hari ini dan nanti?

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Ni Made?

Bila YA, yuk bantu Bu Ni Made, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Ni Made?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Belajar berkontribusi, bukan sekadar menyelesaikan tugas

Pembelajaran tentang Kontribusi untuk Pengelolaan Sampah Pasar

Bu Dewi mengajak murid-muridnya mengunjungi pasar tradisional di dekat sekolah. Sampah menumpuk di sudut-sudut pasar—sisa sayuran, plastik pembungkus, dan kardus bercampur tanpa pemilahan.

Bu Dewi tidak memulai dengan ceramah. Ia bertanya,
“Menurut kalian, sampah di pasar ini paling banyak berasal dari apa?”
“Dan ke mana perginya setelah diangkut?”

Dari pengamatan awal itu, murid mulai membaca persoalan sebagai sebuah sistem: kebiasaan pedagang, keterbatasan fasilitas, dan alur pengelolaan yang belum rapi. Bu Dewi lalu menyampaikan bahwa ini bukan kunjungan sekali selesai, melainkan awal dari proses belajar bersama yang akan berlangsung selama enam bulan ke depan.

Selama proses itu, murid bekerja sama dengan komunitas peduli lingkungan dan pemerintah daerah. Mereka ikut menata pemilahan sampah sederhana, membuat penanda yang mudah dipahami pedagang, serta mencatat respons yang muncul di lapangan. Murid mengamati apa yang berjalan, apa yang tidak, dan alasan di baliknya. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memahami.

Setiap kunjungan kembali ke pasar menjadi bahan diskusi dan refleksi di kelas. Murid membandingkan temuan mereka dari waktu ke waktu: perubahan kecil yang bertahan, kebiasaan lama yang sulit diubah, serta dukungan apa saja yang sebenarnya dibutuhkan pedagang dan pengelola pasar.

Dari proses itu, murid mulai menyusun catatan bersama: pola sampah yang paling dominan, kendala di lapangan, dan kemungkinan perbaikan yang realistis. Catatan tersebut kemudian dirangkai menjadi rekomendasi kebijakan sederhana yang ditujukan kepada pemerintah daerah—berdasarkan data lapangan, pengalaman pendampingan, dan dialog dengan warga pasar.

Di akhir pertemuan pertama, Bu Dewi menutup dengan satu pertanyaan, “Kalau temuan dan rekomendasi kalian benar-benar dipakai untuk pengambilan keputusan, kebijakan lain apa lagi yang menurut kalian bisa diperbaiki lewat cara belajar seperti ini?”

Proyek ini tidak bertujuan menyelesaikan masalah sampah pasar. Ia menjadi ruang belajar kewargaan, tempat murid belajar bahwa berkontribusi berarti memahami persoalan secara utuh, hadir dalam prosesnya, dan ikut menawarkan arah kebijakan yang berpijak pada kenyataan hidup warga.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Dewi?

Bila YA, yuk bantu Bu Dewi, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Dewi?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Pembelajaran tentang Kontribusi untuk Keanekaragaman Hayati

Bu Maria mengajak murid-muridnya masuk ke hutan di sekitar wilayah mereka. Di sana, mereka tidak hanya melihat pepohonan, tetapi juga mendengar suara burung, melihat jejak hewan, dan mengenali beragam tanaman yang tumbuh di sekitarnya.

Bu Maria mengajak murid mencatat apa yang mereka temui: tanaman yang bisa dimakan, yang digunakan sebagai obat, dan yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat setempat, juga hewan-hewan yang hidup dan ikut menjaga keseimbangan hutan.

Sebagian pengetahuan murid diperoleh dari buku dan pengamatan sederhana. Sebagian lain datang dari cerita orang tua dan tetua kampung—tentang tanaman dan satwa yang dijaga turun-temurun karena penting bagi kehidupan bersama.

Dalam diskusi lanjutan, Bu Maria mengajak murid membandingkan hutan yang beragam dengan lahan yang hanya ditanami satu jenis tanaman. Murid melihat perbedaannya: ketika tanaman berkurang, satwa kehilangan tempat hidup, dan pengetahuan yang menyertainya ikut menghilang.

Bu Maria lalu mengajak murid berpikir lebih jauh,
“Kalau hutan ini diganti dengan satu jenis tanaman saja, tanaman dan satwa apa yang tidak lagi punya tempat? Dan apa dampaknya bagi kehidupan kita dan anak-cucu kita?”

Selama beberapa bulan, murid mendokumentasikan tanaman, satwa, dan cerita yang menyertainya. Mereka belajar bahwa merawat keanekaragaman hayati berarti menjaga alam, pengetahuan, dan kehidupan bersama agar tetap lestari.

Hari itu, hutan menjadi ruang belajar, tempat murid memahami bahwa pilihan hari ini ikut menentukan masa depan bumi dan manusia lintas generasi.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Maria?

Bila YA, yuk bantu Bu Maria, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Maria?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Menghubungkan aksi lokal dengan tujuan global (SDGs)

Pembelajaran tentang Menghubungkan Kesetaraan dengan Tujuan SDGs

Suatu pagi, Pak Raka mengajak murid-murid mengamati hal-hal sederhana di sekitar mereka: siapa yang paling sering mengurus adik sebelum sekolah, siapa yang diminta memimpin kegiatan kelas, dan siapa yang dianggap paling pantas bekerja jauh dari rumah.

Tanpa diskusi panjang, pola itu mulai terlihat. Banyak tugas perawatan dilekatkan pada perempuan, sementara keputusan dan pekerjaan di ruang publik lebih sering diasosiasikan dengan laki-laki. Bukan karena aturan tertulis, tetapi karena kebiasaan yang sudah lama diterima sebagai “wajar”.

Pak Raka lalu bertanya singkat,
“Kalau peran-peran ini terus kita ulang, siapa yang punya lebih banyak pilihan hidup?”

Pertanyaan itu membawa murid melihat lebih jauh. Mereka mulai memahami bahwa pembagian peran di rumah dan sekolah ikut memengaruhi siapa yang punya kesempatan belajar, bekerja, dan menentukan masa depan. Pola serupa juga dialami kelompok lain: mereka yang berasal dari keluarga miskin, memiliki disabilitas, atau tinggal jauh dari pusat layanan.

Pak Raka menutup pelajaran tanpa memberi kesimpulan. Ia hanya mengajak murid mencatat satu kebiasaan kecil di sekitar mereka yang mungkin perlu dipikirkan ulang agar lebih adil bagi semua.

Hari itu, murid belajar bahwa kesetaraan bukanlah gagasan yang jauh atau abstrak. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Keputusan yang, jika terjadi di banyak tempat, terhubung dengan upaya global untuk membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan sejahtera bersama.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Raka?

Bila YA, yuk bantu Pak Raka, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Raka?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Pembelajaran tentang Menghubungkan Akses Kesehatan dengan Tujuan SDGs

Bu Ayu mengajak murid-muridnya berjalan ke puskesmas pembantu di desa mereka. Bangunannya kecil, hanya buka di jam tertentu, dan tidak selalu ada tenaga kesehatan.

Di perjalanan, murid diminta mencatat hal-hal sederhana: jarak tempuh dari rumah mereka masing-masing, siapa yang biasanya menemani saat sakit, dan apa yang dilakukan keluarga jika puskesmas tutup.

Di kelas, murid menyusun peta sederhana. Dari peta itu terlihat perbedaan yang nyata. Ada murid yang bisa berjalan kaki sepuluh menit ke layanan kesehatan. Ada yang harus menunggu ayah pulang kerja untuk diantar motor hampir satu jam. Ada yang orang tuanya bisa langsung membeli obat. Ada juga yang menunggu sampai sakitnya dianggap cukup parah baru dibawa berobat.

Bu Ayu lalu meminta murid melihat catatan itu kembali.

Ia menunjuk satu kasus: seorang ibu yang harus menemani anaknya ke puskesmas di hari kerja. Artinya, warungnya tutup setengah hari. Di kasus lain, seorang murid bercerita pernah tidak masuk sekolah beberapa hari karena menunggu jadwal layanan berikutnya.

“Kalau kondisinya seperti ini,” kata Bu Ayu pelan, “siapa yang paling sering menunda berobat? Dan apa yang harus mereka korbankan supaya bisa sembuh?”

Murid mulai melihat bahwa keterlambatan layanan bukan soal pilihan pribadi, tetapi soal jarak, waktu, biaya, dan siapa yang punya akses lebih dulu.

Selama beberapa bulan, murid mengumpulkan cerita serupa dari warga sekitar. Mereka tidak mencari angka besar, tetapi pola yang berulang. Dari situ, mereka belajar bahwa akses kesehatan menentukan siapa yang bisa cepat pulih, siapa yang harus menunggu, dan siapa yang paling sering menanggung dampaknya.

Hari itu, murid tidak sedang belajar tentang kesehatan sebagai topik pelajaran. Mereka sedang belajar membaca ketimpangan dan memahami bahwa apa yang terjadi di desa mereka terhubung dengan persoalan akses kesehatan di banyak tempat lain di dunia.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Ayu?

Bila YA, yuk bantu Bu Ayu, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Ayu?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Pembelajaran tentang Pekerjaan dan Kesejahteraan Ekonomi dan Tujuan SDGs

Bu Tari mengajak murid-muridnya mengamati dan mewawancarai warga di sekitar desa dan pasar kecamatan selama satu minggu. Bukan untuk mencari profesi impian, tetapi untuk mencatat jenis pekerjaan yang mereka temui setiap hari: di rumah, di sawah, di laut, di kios kecil, dan di jalan.

Di kelas, temuan itu disusun bersama. Ada orang dengan jam kerja tetap dan kontrak jelas, seperti pegawai toko dan staf penginapan. Ada yang bekerja bergantian shift. Ada pula yang penghasilannya bergantung pada cuaca, pesanan harian, musim panen, atau jumlah wisatawan.

Bu Tari lalu mengajukan satu pertanyaan sederhana, “Kalau penghasilan tidak selalu pasti, apa saja dalam hidup yang ikut menjadi tidak pasti?”

Dari diskusi, murid mulai melihat keterkaitannya: biaya sekolah, akses layanan kesehatan, waktu bersama keluarga, hingga rencana masa depan. Beberapa murid menyadari bahwa di keluarga mereka, satu orang harus mengerjakan lebih dari satu jenis pekerjaan. Yang lain melihat bagaimana pekerjaan tertentu sulit diakses oleh perempuan, penyandang disabilitas, atau warga tanpa modal dan informasi.

Selama beberapa bulan, murid mengumpulkan cerita dan data sederhana: lama jam kerja, jarak tempuh, jenis kesepakatan kerja, dan siapa yang menanggung risiko ketika pekerjaan berhenti. Mereka tidak diminta menyimpulkan siapa yang salah, tetapi membaca pola yang muncul.

Bu Tari menutup rangkaian belajar itu dengan satu pertanyaan, “Kalau kesejahteraan sangat dipengaruhi oleh akses ke pekerjaan, kebijakan atau dukungan apa yang seharusnya ada agar lebih banyak orang bisa hidup dengan layak?”

Melalui proses itu, murid memahami bahwa pekerjaan bukan hanya urusan individu. Ia terhubung dengan sistem ekonomi, perlindungan sosial, dan tujuan global tentang kerja layak dan kesejahteraan bersama yang dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari, dekat dengan mereka.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Tari?

Bila YA, yuk bantu Bu Tari, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Tari?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Refleksi sebagai praktik kewargaan

Membangun Budaya Refleksi sebagai Warga 1

Setelah beberapa kali belajar di luar kelas, Bu Titis mengajak murid duduk melingkar. Tidak ada buku yang dibuka dan tidak ada tugas baru yang dibagikan.

Ia hanya meminta murid mengingat kembali kegiatan yang sudah mereka lakukan bersama, mengamati lingkungan sekitar, berbincang dengan warga, dan mencoba memahami persoalan yang mereka temui.

“Dari semua kegiatan itu,” tanya Bu Titis, “apa satu hal yang paling kalian ingat?”

Beberapa murid menyebutkan pengalaman yang berbeda. Ada yang teringat orang yang mereka temui, ada yang teringat kondisi lingkungan, dan ada juga yang teringat perasaan mereka sendiri saat melihat suatu masalah.

Bu Titis lalu melanjutkan, “Menurut kalian, kegiatan kita kemarin berdampak ke siapa saja?”

Diskusi berjalan sederhana. Murid menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya tentang belajar di sekolah, tetapi juga menyentuh orang lain, meski kecil.

Di akhir kegiatan, Bu Titis tidak meminta jawaban yang sempurna. Ia hanya menutup dengan satu pertanyaan ringan, “Setelah melihat dan mengalami sendiri, hal apa yang ingin kalian perhatikan atau lakukan dengan lebih baik mulai sekarang?”

Hari itu, murid belajar satu hal penting. Menjadi warga bukan hanya soal bertindak, tetapi juga soal berhenti sejenak, memikirkan dampaknya, dan belajar dari pengalaman sendiri.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Bu Titis?

Bila YA, yuk bantu Bu Titis, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Bu Titis?
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Membangun Budaya Refleksi sebagai Warga 2

Setelah beberapa bulan belajar dari berbagai persoalan seperti sungai, pangan, sampah, pekerjaan, dan kesejahteraan, Pak Firman tidak menutup pembelajaran dengan tes atau rangkuman materi.

Ia mengajak murid membuka kembali catatan mereka, hasil pengamatan, pertanyaan yang pernah muncul, perubahan kecil yang sempat dicoba, dan hal-hal yang ternyata lebih rumit dari perkiraan.

Pak Firman lalu berkata, “Kita sudah melakukan banyak hal. Sekarang mari kita berhenti sebentar dan bertanya, apa yang sebenarnya berubah di sekitar kita dan di cara kita melihat persoalan?”

Murid diminta menulis dan berbagi refleksi sederhana, siapa saja yang terdampak dari tindakan mereka, suara siapa yang sempat terdengar atau terlewat, dan pilihan apa yang masih perlu dipikirkan ulang.

Dalam diskusi, muncul kesadaran baru. Ada tindakan yang terasa kecil tetapi berdampak nyata. Ada juga niat baik yang belum berjalan karena tidak melibatkan pihak yang tepat. Murid belajar bahwa refleksi bukan mencari benar atau salah, melainkan memahami tanggung jawab sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Di akhir, Pak Firman mengajukan satu pertanyaan penutup, “Setelah melihat dampak dari pilihan kita, tanggung jawab apa yang ingin kita lanjutkan sebagai warga meski pembelajaran ini sudah selesai?”

Hari itu, refleksi tidak menjadi kegiatan tambahan. Ia menjadi latihan kewargaan, ruang untuk menimbang dampak, memperbaiki arah, dan menyiapkan langkah berikutnya dalam kehidupan nyata.

Apakah Anda pernah menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh Pak Firman?

Bila YA, yuk bantu Pak Firman, tulislah curhatan hati Anda berdasarkan pengalaman Anda. klik 👉 di sini

Bila TIDAK, apakah Anda ingin mencari solusi dari tantangan Pak Firman
Ayo berkolaborasi menyelesaikan misi ini. Pelajari Panduan Rencana Aksi, klik 👉 di sini

Ajak & tantang rekan guru!
Sebarkan!
klik tombol di bawah ini

Pertanyaan yang sering diajukan/FAQ

Masing-masing challenge bisa dikerjakan lebih dari satu kali dengan jawaban yang berbeda-beda

Untuk mengerjakan Misi Belajar, Anda tidak harus memiliki kondisi yang sama persis dengan masalah yang diangkat dalam soal misi. Selama substansi masalah/tantangannya serupa (ada kesamaan kata kunci) dan pengalaman Anda relevan substansi masalahnya, Anda bisa mengerjakan Misi Belajar.

Jawaban yang Anda tulis adalah menceritakan pengalaman nyata yang pernah Anda alami ketika menghadapi masalah serupa, bukan seperti memberi saran yang normatif dan abstrak.

Cari soal Misi Belajar yang paling mendekati. Misalnya, pengalaman Anda tentang Disiplin Positif, tetapi Anda tidak menemukan soal spesifik tentang tema tersebut, Anda bisa mengambil misi tentang Manajemen Kelas. Perlu menjadi catatan, soal Misi Belajar umumnya dibuat lebih general sehingga dapat mencakup berbagai pengalaman dan situasi yang dialami guru.

Anda bisa menggunakan bantuan Panduan Rencana Aksi jika pengalaman belum sesuai misi.

Untuk keperluan sebagai pembicara TPN XI, panitia TPN akan melaporkan data misi yang lolos kepada panitia daerah. Jadi, panitia daerah akan menghubungi penulis misi yang lolos, apakah bersedia menjadi pembicara di TPN XI daerah atau tidak. Untuk keperluan publikasi di Surat Kabar Guru Belajar, tim redaksi akan mengirim undangan ke penulis misi yang lolos untuk menulis cerita lebih lengkap sesuai ketentuan redaksi. Namun, ke depan tim kami akan memberikan keterangan LOLOS atau TIDAK pada website Misi Belajar.

1. Lakukan registrasi di portal tpn.gurubelajar.org

2. Klik Misi (maka akan tertampil beragam pilihan misi).

3. Pilih misi yang sesuai atau relevan dengan tantangan yang pernah Anda alami.

4. Ceritakan pengalaman Anda maksimal 200 kata.

5. Jika cerita Anda pernah dipublikasikan di media tertentu, Anda juga bisa menyertakan tautan publikasinya.

Ketika Anda mengerjakan Misi Belajar, Anda berkesempatan untuk menjadi narasumber di Temu Pendidik Nusantara, baik di salah satu dari 50 Daerah pada Juni-Juli dan atau di Puncak pada 2-3 November 2024 di Jakarta.

Selain itu, Anda juga berkesempatan diundang untuk menulis di Surat Kabar Guru Belajar. Tim kurator akan menghubungi Anda untuk menulis cerita yang lebih utuh.

Jika praktik baik Anda dapat memberi solusi bagi banyak orang, Anda juga berkesempatan untuk berbagi praktik baik di banyak forum-forum pendidikan, mengembangkan karier, dan memperluas dampak bagi komunitas pendidik yang lebih luas.

Boleh, apabila Anda pernah mengalami situasi tersebut berkali-kali dan mengatasinya dengan cara berbeda, Anda dapat mengirim tulisan secara terpisah untuk masing-masing cara yang sudah dilakukan.

Papan poin menampilkan 600 guru, 120 guru berkarier, 120 pemimpin pendidikan yang teraktif mengerjakan misi. Yuk, kerjakan lagi Misi Belajar, untuk mendapat kesempatan muncul di papan poin.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.