Lompat ke konten utama

Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

MEMBANGUN KESADARAN GURU UNTUK BELAJAR MANDIRI DI ERA DIGITAL MELALUI PLATFORM MERDEKA MENGAJAR

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

MEMBANGUN KESADARAN GURU UNTUK BELAJAR MANDIRI DI ERA DIGITAL MELALUI PLATFORM MERDEKA MENGAJAR

 

Menjadi seorang kepala sekolah di era digitalisasi,  saya  ingin guru-guru saya  menjadi guru yang mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi zaman sekarang ini. Bukan guru yang masih menggunakan cara-cara lama dalam melaksanakan proses pembelajaran yaitu hanya menggunakan metode ceramah dan menyuruh murid mencatat di buku catatan. Saya ingin guru-guru di sekolah saya mengikuti perkembangan zaman di dunia pendidikan seperti mampu menggunakan perangkat teknologi, merubah pola pembelajaran, melakukan pembelajaran berdiferensiasi dan memberikan kesempatan belajar kepada murid sesuai minat dan bakatnya.

Jika dilihat kondisi saat ini di sekolah yang saya pimpin, dari jumlah guru kelas, ada 6 orang, guru bidang studi 4 orang, yang sesuai kompetensinya dengan yang saya inginkan hanya 3 orang yaitu 2 orang guru kelas dan 1 orang guru bidang studi. Dari 7 orang yang kompetensinya memang kurang dalam menggunakan IT, ada 2 orang yang selalu menjadikan umur sebagai alas an untuk tidak mau belajar. Hal tersebut membuat saya sebagai kepala sekolah harus bekerja keras untuk membangun kesadaran para guru agar mereka mau belajar untuk merubah pola pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas tidak lagi dimonopoli oleh guru. Saya ingin guru-guru saya mengajar dengan pola pembelajaran yang membuat murid-murid senang dalam belajar.

Untuk mewujudkan keinginan tersebut saya mencoba membangun kesadaran guru-guru saya dengan cara (1) menyampaikan bahwa saat ini sekolah sudah menggunakan Kurikulum Merdeka, (2) mengajak para guru untuk mempelajari dan memahami apa itu Kurikulum Merdeka dengan cara belajar secara mandiri di Platform Merdeka Mengajar (PMM), (3) membantu para guru membuka PMM untuk memilih topik-topik yang tepat untuk dipelajari, (4) mengontrol dan mengevaluasi kegiatan para guru, sejauh mana progres mereka berselancar di PMM. Selain itu saya juga mendatangkan narasumber yang kompeten untuk melatih para guru  menggunakan canva sebagai media pembelajaran. Untuk melancarkan kegiatan tersebut, saya sebagai kepala sekolah meminjamkan perangkat chroombook kepada para guru dan membelikan paket internet orbit agar jaringan internetnya lancar jika para guru bekerja di sekolah. Selain meminjamkan chroombook dan membelikan paket internet, saya juga hadir bersama para guru di sekolah menemani mereka dalam bekerja. Kebersamaan seperti ini terus saya bangun dengan harapan para guru di sekolah yang saya pimpin mampu mengambil pelajaran dari video-video inspirasi yang mereka tonton di PMM sebagai solusi dari permasalahan yang dihadapi dalam menyajikan pembelajaran di sekolah. Setelah mereka memahami pesan dari video yang ada di PMM, mereka juga mampu menyajikan pembelajaran dengan menggunakan media canva.

Tidak mudah membangun kesadaran guru untuk mau belajar secara mandiri di PMM. Namun sebagai kepala sekolah saya tidak boleh mudah menyerah. Berbagai usaha terus saya lakukan. Saya membentuk komunitas belajar di sekolah. Dalam kegiatan komunitas belajar, saya menunjuk salah satu orang guru yang berkompeten sebagai kordinator sekaligus penanggung jawab. Kegiatan komunitas belajar difokuskan pada bagaimana para guru mau membuka fitur-fitur PMM untuk melakukan aksi nyata dan mengambil pembelajaran dari materi di PMM tersebut. Secara bertahap para guru sudah mulai membuka dan belajar mandiri melalui PMM dan menyajikan pembelajaran di kelas sudah menggunakan media Canva sehingga pembelajaran menarik bagi para murid.

 

 

RINA MELATI

Kepala SDN 22 Tanah Keras

Kecamatan Bayang – Kabupaten Pesisir Selatan.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.