Aksi
Selama ini yang sering terjadi dalam kerja kelompok, anggotanya harus heterogen baik dalam jenis kelamin-nya maupun dalam tingkat akademiknya. Harapannya adalah siswa yang sudah paham membimbing atau mengajari temannya yang belum paham. Namun yang sering terjadi adalah didalam satu kelompok itu tidak semua orang bekerja/belajar, hanya yang pintar/paham yang bekerja teman temannya yang lain hanya numpang nama dalam kelompok tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Misalnya si anak yang sudah paham tidak sabar dalam mengajari, komunikasi yang terjalin dalam kelompok juga kurang efektif karena ada rasa superior dari yang pintar dan rasa rendah diri dan tidak percaya diri dari anak yang belum paham untuk menyatakan pendapatnya.
Tantangan
Situasi di atas menjadi sebuah tantangan bagi saya untuk membentuk kelompok yang sehat, yang komunikasinya berjalan dua arah sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
Aksi
Lalu saya membuat 3 jenis kelompok yakni kelompok mandiri (tanpa bimbingan guru), kelompok scavolding sedang yakni guru memfasilitasi siswa sesekali bertanya jika ada hal yang kurang paham dan kelompok scavolding penuh. Pada kelompok scavolding penuh guru mefasilitasi secara utuh dimulai dari mengulang materi yang belum dipahami sampai pada mengajari mengerjakan soal. Dengan kata lain guru duduk bersama dengan kelompok pada scavolding penuh,mengajari dan berdiskusi bersama sampai akhirnya mereka mempresentasikan hasil yang mereka dapatkan atau sampai tujuan pembelajaran tercapai.
Adapun cara saya dalam pengelompokan ini terlebih dahulu dengan melakukan asesmen dari pembelajaran sebelumnya atau juga dengan penilaian diri sendiri siswa.
Perubahan.
Awalnya pelaksanaan kerja kelompok model ini banyak siswa yang malu karena berada dalam kelompok yang kurang mampu yang sering mereka cap dengan kelompok bodoh. Namun seiring dengan berjalanannya waktu mereka benar benar merasakan manfaat dari kerja kelompok model seperti ini. Komunikasi dalam kelompok berjalan dengan baik dikarenakan tidak ada rasa segan dalam hal bertanya ataupun menyampaikan pendapat karena secara psikologis mereka merasa pada level yang sama, kelompok mandiri semakin semangat dalam belajar, bersaing secara sportif dengan temannya sekelompok. Selain itu anak anak juga semakin pandai menilai diri sendiri dan tidak malu lagi berjalan ke kelompok yang membutuhkan scavolding sedang atau pun scavolding penuh. Hal ini di karenakan baik yang kelompok mandiri, kelompok scavodling sedang dan kelompok scavolding penuh sama sama berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran mereka. Hati senang, Belajar senang, hasilnya pun bikin senang.