Lompat ke konten utama

Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Kolaborasi Penilaian Ujian Praktik

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Kolaborasi Penilaian Ujian Praktik

Oleh Suryanti, S.Pd., M.Pd. (Guru SMP N 3 Sanggau)

 

Awal

Penilaian ujian praktik merupakan salah satu asesmen yang diterapkan pada Kurikulum 2013. Tidak semua mata pelajaran melaksanakan ujian praktik sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 104 tahun 2014. Adapun mata pelajaran yang melaksanakan ujian praktik terdiri dari  7 mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia; Pendidikan Agama dan Budi Pekerti; Bahasa Inggris; Ilmu Pengetahuan Alam; Seni dan Budaya; Pendidikan Jasmani, Olah raga, dan Kesehatan; dan Prakarya.

Terbayang betapa seorang murid dalam waktu tidak begitu lama harus mempersiapkan diri baik dari sisi konten, emosional, dan pendanaan karena tak jarang ujian praktik yang dilaksanakan memerlukan dana untuk membeli alat dan bahan. Belum lagi tingkat ke-stress-an dan kelelahan yang dialami anak.

Dari alasan inilah dan arahan dari Waka  Kurikulum untuk berkolaborasi beberapa mata pelajari melakukan ujian praktik, yaitu mata pelajaran Bahasa Inggris dan Prakarya. Tujuannya antara lain:

  • Efisiensi waktu pelaksanaan ujian yang seharusnya ada beberapa kali ujian menjadi sekali saja untuk ujian beberapa mata pelajaran;
  • Menghemat tenaga karena persiapan dan pelaksanaan pengambilan nilai ujian dilakukan bersama-sama guru lain;
  • Biaya untuk persiapan alat dan bahan lebih hemat karena pelaksanaan sekali ujian untuk nilai beberapa mata pelajaran.;
  • Terakhir yang tak kalah penting bermuara pada murid, yaitu tidak banyak ujian membuat anak tidak lelah dan

 

 

Tantangan

Dalam pelaksanaan ujiann praktik dengan berkolaborasi beberapa mata pelajaran tak lepas dari hambatan dan tantangan, antara lain:

  • Menentukan materi yang merupakan irisan dari beberapa mata pelajaran, ini mengharuskan kami, guru-guru untuk berdiskusi dan melepaskan egoisme masing-masing sehingga  menemukan materi yang merupakan salah satu kearifan lokal yaitu Membuat Kolak dari bahan-bahan yang banyak didapat Sanggau.
  • Membangun kimestri antara rekan kerja atau guru lain dalam persiapakan, pelaksanaan, dan penilaian, karena melibatkan guru lain di luar guru-guru mata pelajaran yang berkolaborasi sebagai juri atau tim penilai.
  • Mencari waktu yang tepat untuk pelaksanaan ujian sehingga dilakukan dua hari dimana setiap hari ada dua kelas yang melaksanakan ujian.
  • Menumbuhkembangkan rasa percaya diri murid melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris.

Aksi

Persiapan

Setelah menemukan tema ujian praktik “Membuat Kolak”, guru mata pelajaran Bahasa Inggris dan Prakarya membuat rubrik penilaian dan mensosialisasikan aspek penilaian serta mendiskusikan alat dan bahan yang diperlukan setiap kelompok. Murid juga dilatih public speaking dalam mempresentasikan pembuatan kolak  mereka masing-masing.

Pelaksanaan

Pada saat pelaksanaan, murid dibagi dalam kelompok-kelompok kecil antara 5 atau 6 orang anggota. Setiap murid mendapat bagian presentasi materinya, seperti salam pembuka atau penutup,  memperkenalkan alat yang digunakan, bahan yang dipakai, cara membuat, bahkan sampai menjawab pertanyaan dari Tim Penilaian mata pelajaran Bahasa Inggris.

Untuk mata pelajaran Prakarya, selain bahan dan alat, rasa, tekstur serta penyajian menjadi aspek yang dinilai. Ketepatan durasi memasak dan bahan mana yang dimasukan lebih dulu menjadi hal terpenting karena menentukan tekstur kolak. Guru yang tidak terlibat dalam Tim penilai juga mendapat mengundangan setiap kelompok 1 guru untuk makan bersama kelompoknya sebagai tamu. Guru tersebut akan memberi komentar dan refleksi atas masakan atau kolak yang dibuat tadi sehingga murid mendapat umpan balik dari hasil kerja mereka.

 

PELAJARAN/PERUBAHAN

Setelah kegiatan berlangsung, dari hasil refleksi diperoleh:

  • Guru-guru yang melakukan kolaborasi ujian praktik merasa senang karena tanggung jawab yang selama ini dilakukan sendiri menjadi ringan karena ada teman untuk berdiskusi dan memberi saran.
  • Murid merasa senang karena ujian Bahasa Inggris yang selama ini menegangkan secara individu menjadi berkelompok jadi dapat belajar bersama-sama.
  • Ibarat pepatah “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”, inilah yang telah dilakukan dengan berkolaborasi ujian praktik, sekali ujian dua mata pelajaran dapat nilainya. Ini menjadi konitmen beberapa guru mata pelajaran lain untuk ke depannya akan melakukan kolaborasi tidak hanya pada ujian praktik tapi juga pada pembelajaran sehari-hari.
  • Hal yang mengharukan dari kegiatan ini, guru Bimbingan Konseling mendapatkan seorang anak yang menangis kala makan bersama dengan guru tamu yang tak lain guru BK sendiri. Ketika dikomfirmasi ternyata murid tersebut terharu bisa makan bersama gurunya yang notabennya orang tua mereka di sekolah karena dia tidak pernah merasa hal tersebut di rumah. Hal juga dibenarkan murid lain. Ternyata makna yang terkandung dalam kegiatan ini tidak hanya kolaborasi yang terwujud antar guru tetapi juga kedekatan guru dan murid yang menciptakan suasana baik di sekolah.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.