Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Kesepakatan Kelas Melalui Disiplin Positif

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Kesepakatan Kelas Melalui Disiplin Positif

Sering kali kelas ramai, ribut, banyak yang membully teman menjadi masalah saat proses pembelajaran di kelas. Ditambah lagi sekolah yang saya ajar saat ini adalah siswa SMK dengan rata-rata siswa laki-laki yang susah diatur, selalu membuat onar, dan teriak-teriak saat di kelas.

Kelas yang saya ajar saat ini adalah jurusan listrik, mesin, otomotif, dan pengelasan yang rata-rata hampir semua penghuni kelasnya adalah siswa laki-laki. Pada saat awal pembelajaran saya buka forum diskusi yang isinya memberi pertanyaan terkait dengan “menurutmu pembelajaran bahasa Indonesia yang saya ajar akan kondusif dan menyenangkan jika?”

Hampir semua siswa menuliskan apa yang mereka mau satu per satu, ada yang menuliskan jamkos (jam kosong), gurunya rapat semua, pulang pagi, di kelas boleh membawa kasur, bantal, guling, gurunya sering telat masuk, ada pula yang pembelajaran serius tapi santai, bercanda, boleh makan di kelas, dan boleh minum, serta tidak ada pekerjaan rumah.

Saya tidak memarahi mereka saat mereka saling menuliskan apa saja yang mereka inginkan saat pembelajaran saya di kelas. Setelah masing-masing siswa menuliskan di papan tulis, kemudian saya meluruskan kembali niat mereka dengan mempertanyakan apa tujuan mereka setelah lulus dari sekolah, hampir sebagian besar diantaranya menjawab bekerja. Kemudian saya luruskan kembali ke prinsip DUDI (Dunia Usaha, Dunia Industri) dengan sistem rekruitmen 80% berasal dari skill dan 20% berasal dari etika. Setelah itu saya tanyakan, apakah dengan adanya jamkos dan gurunya tidak masuk skill-mu meningkat? Apa yang kamu dapatkan di sekolah?

Setelah itu, saya buka diskusi bersama terkait dengan sekolah jika jamkos terus apakah untung atau rugi? Saya membuka forum diskusi terkait dengan biaya yang mereka keluarkan saat bersekolah di SMK. Dimulai dari biaya SPP, uang gedung, uang jajan, bensin, dan uang kos dengan total kurang lebih 20 juta selama tiga tahun, jumlah yang tidak sedikit. Kemudian saya tanyakan ulang, kira-kira pekerjaan apa yang mampu kalian kerjakan agar bisa mengembalikan uang yang kalian keluarkan saat di SMK. Ada yang menjawab membuka usaha sendiri tapi kembalinya tidak cepat lama, lalu saya arahkan ke pekerjaan yang menjanjikan sebagai mekanik di tambang seperti PPA, BUMA, PAMA, SIS, THIESS, dan lain-lain, dengan gaji kurang lebih 10 juta tiap bulannya. Gaji ini sudah terbukti salah satu alumni dari SMKN 1 Singosari, murid yang dulu saya ajar gajinya di atas gurunya, kemudian mereka (siswa yang ada di kelas) mulai duduk tegap dan penasaran dengan kelanjutan cerita saya.

Apakah mereka punya orang dalam bu untuk masuk ke sana? Saya jawab tidak. Murni mereka tes dan mereka masuk kualifikasi 80% skill, dan 20% etika sehingga mereka lolos tes dan penempatan kerja. Diskusi tetap berlanjut seru, yang tadinya ngantuk dan kepalanya berada di atas meja mulai duduk tegap. Kemudian, ada pertanyaan lagi, terus kira-kira apakah kita bisa seperti yang lulus dan kerja di tambang?” Sangat bisa”. “Kita latihan terlebih dahulu melalui hal-hal kecil sebagaimana kalian kerja sesuai dengan SOP, jika tidak sesuai dengan SOP akibatnya apa?” “Mendapat sanksi bu”.

Mari kita belajar SOP dari permasalahan yang terjadi di kelas. Tadi kita diskusi bareng-bareng dan diskusinya sangat seru yang tadinya ada yang mau tidur tidak jadi tidur malah mendengarkan. Kelas seperti tadi nyaman tidak kalau saat pembelajaran diterapkan? “nyaman sekali bu”. Jika nyaman, kira-kira sikap apa yang dibutuhkan, sebagaimana sudah kalian lakukan saat diskusi tadi?” saling mendengarkan dan menghargai, jika ada yang tidak bisa mendengarkan dan menghargai sanksinya apa?” suruh push up saja bu!” jawab siswa kompak.

Kira-kira, jika ada temanmu yang ramai sendiri itu mengurangi waktu efektif di kelas tidak? “Iya bu” jawab siswa. Kalau waktunya terpotong maka dia yang mengurangi waktunya harus? “menambah”. Jadi besok jika ada yang gaduh saat pembelajaran di kelas maka dia harus tambah jam di akhir pelajaran saya. Sepakat? Tanya guru.  Sepakat bu” jawab siswa.

Kedua, masalah terkait dengan pengumpulan tugas, itu berhubungan dengan apa?” tanya guru. “Kedisiplinan” jawab siswa. Sekarang sekolah kita sudah full day dan pulang sore. Kemungkinan pembelajaran dan materi selesai langsung di kelas dan saya jarang sekali memberi pekerjaan rumah jika kondisi yang tidak memungkinkan maka pr itu diadakan, jika kondisi memungkinkan maka pr tidak ada. Nah, oleh karena itu tugas harus selesai dan dikumpulkan tepat waktu selesai jam pelajaran di kelas, nah jika ada yang belum mengumpulkan tugas tepat waktu maka konsekuensinya apa?” nilai dikurangi saja bu? Jawab siswa. “ dikurangi berapa?”, “dikurangi 5 saja bu” jawab siswa dengan metode musyawarah mufakat.

Terakhir berhubungan dengan penggunaan gawai saat pembelajaran di kelas. Seringkali ketika guru menjelaskan di kelas siswa SMK lebih banyak menunduk dan bermain game online akibatnya tidak fokus. Lalu saya menanyakan menggunakan Hp di kelas enaknya gmn?” tetap pakai bu, kalau ada yang main game? Disita saja bu, tapi dikembalikan saat pembelajaran di kelas selesai, tapi kalau diulangi dua kali untuk efek jeranya bagaimana?” disita sehari dan diambil orang tua saja bu biar kapok!” jawab salah satu siswa dan didukung dengan siswa yang lain.

Setelah mereka semua sepakat, kemudian ketua kelas menuliskan di kertas hasil kesepakatan di kelas dan ditandatangi bersama.

 

 

 

 

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.