Assalamualaikum selamat pagi. Perkenalkan saya Nurjanah Laila dari SDN Kalibata 04 Pagi. Penggerak KGBN Jakarta Selatan. Tema kali ini adalah Tumbuh Berkelanjutan Perubahan Pendidikan Melampaui Ruang Kelas. Pada kesempatan ini saya akan membawakan materi berjudul Asesmen Awal Pembelajaran Sebagai Sarana Mengenal Diferensiasi Siswa.
Kegiatan ini saya abadikan saat saya mengajar di kelas 5 pada tahun 2022 lalu. Sebagai guru di tahap awal masa MPLS tidak langsung memberikan materi pelajaran namun terlebih dahulu memberikan asesemen diagnostik. Asesmen diagnostik merupakan asesmen yang dilaksanakan secara spesifik. Adapun yang diidentifikasi guru adalah potensi kekuatan , kelemahan siswa dalam proses kegiatan belajar. Dengan dilakukan identifikasi tersebut guru dapat merancang kegiatan belajar sesuai dengan kondisi dan kompetensi siswa.
Awal :
Dalam penerapannya ,asesmen diagnostik dilakukan guru di awal kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru ingin melihat kompetensi dan memonitor perkembangan belajar siswa dari aspek kognitif maupun non kognitif. Hasil dari asesmen kognitif tersebut digunakan guru sebagai alat untuk memetakan kebutuhan belajar siswa. Dengan demikian guru dapat menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kompetensi siswa. Asesmen diagnostik terbagi dua yaitu asesmen diagnostik kognitif dan asesmen diagnostik non kognitif. Asesmen dalam belajar menjadi kunci dalam merawat kemerdekaan belajar. Asesmen sebagai belajar, atau disebut asesmen formatif, menjadi penting karena hasilnya menunjukkan kemajuan belajar bagi guru maupun bagi murid. Dengan pemahaman terhadap kemajuan belajar tersebut, guru dan murid dapat melakukan penyesuaian strategi belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar.
Tantangan :
Hal yang menjadi tantangan adalah bagaimana menyajikan materi dan metode pembelajaran yang menarik bagi siswa. Apalagi di awal pembelajaran di mana siswa belum siap sepenuhnya untuk belajar , maka perlu disajikan materi belajar yang menarik dan ringan tidak menuntut siswa untuk belajar yang berat. Asesmen awal pembelajaran bertujuan untuk mengidentifikasi kesiapan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan . Hasil digunakan pendidik sebagai rujukan dalam merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap kemampuan pembelajaran peserta didik. Tantangan ini menurut saya tidak mudah untuk menyajikan asesmen awal pembelajaran. Karena siswa lama tidak belajar di sekolah sekitar tiga minggu-an. Asesmen dalam pembelajaran tak mesti harus berupa soal yang harus diselesaikan oleh murid. Akan tetapi memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada murid untuk berpartispasi dalam pembelajaran secara aktif dan menyenangkan. Sehingga murid dapat menemukan sendiri konsep materi dan menyimpulkannya. Pada akhir kegiatan murid merasa puas karena mereka dapat melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajarnya.menurut saya tidak mudah dalam tantangan ini karena guru harus mempunyai metode mengajar yang menggugah rasa ingin tahu siswa mengenai semangat belajar.
Aksi :
Bagi saya aksi yang kami lakukan adalah menjadi solusi untuk menjawab tantangan bagaimana menyajikan asesmen awal pembelajaran yang menarik serta bermakna bagi siswa.
Saya mengambil contoh pada saat saya mengadakan asesmen awal pembelajaran. Ada siswa sibuk membolak-balikan botol sehingga kelas menjadi gaduh saat belajar. Akhirnya saya mengambil inisiatif dan mendapatkan ide. Siswa duduk di lantai menjadi empat barisan.ada botol plastik minuman air mineral di depan siswa. Saya memberikan siswa aba-aba. Semua siswa memperhatikan intruksi yang saya berikan. Saat itu saya katakan kalau saya bilang “ kepala “ para siswa langsung memegang kepalanya masing-masing. Kemudian saat saya bilang “pundak”, maka siswa harus memegang pundaknya sendiri. Lalu saat saya instruksikan siswa untuk memegang lutut , maka siswa memegang lutut. Kemudian saat saya bilang “ botol “ , maka siswa harus cepat-cepat memegang botol yamng yang ada di depan mereka agar tidak direbut oleh siswa lain. Memang situasi saat itu mengharuskan siswa untuk fokus pada perintah yang saya katakan. Peraturannya adalah yang mendapatkan botol lebih dahulu itulah yang menang. Lalu bagi yang kalah mendapatkan pertanyaan dan harus menjawab dengan benar. Yang tidak bisa menjawab tidak boleh ikut ke permainan selanjutnya.
Kemudian permainan “ Memegang Botol “ dilakukan dengan seru dan mengasikkan. Saya memperhatikan mereka bermain dengan gembira serta canda tawa. Saya pun jadi ikut merasakan keseruan dan kelucuan mereka. Walaupun disajikan dengan asik , tak terasa mereka sedang belajar. Saat itu adalah materi pelajaran Matematika Bangun Ruang.
Pembelajaran :
Hal yang saya pelajari adalah bahwa membuat asesmen pembelajaran tidak selalu berbentuk soal yang ditanyakan secara langsung atau dituliskan. Namun bisa dilakukan melalui permainan. Game edukasi sangat bermanfaat untuk mengurangi dan menghilangkan rasa bosan siswa saat mengikuti proses pembelajaran karena karakteristik game yang menyenangkan, memotivasi dan menghibur . Apalagi asesmen belajar ini memanfaatkan media pembelajaran yang sederhana namun menarik perhatian anak.