Mabit untuk Anak Usia Dini bertujuan untuk mengaplikasikan Profil Pelajar Pancasila terutama nilai Kemandirian yang diimplementasikan melalui sholat berjamaah, makan bersama, dongeng, nonton bareng, dan lain sebagainya
Mabit untuk Anak Usia Dini bertujuan untuk mengaplikasikan Profil Pelajar Pancasila terutama nilai Kemandirian yang diimplementasikan melalui sholat berjamaah, makan bersama, dongeng, nonton bareng, dan lain sebagainya
Malam Bina Taqwa (MABIT) untuk Anak Usia Dini
Rifka Irfainy
Unit Kerja : TK Islam Permata Bahari
Deskripsi : Mabit untuk Anak Usia Dini bertujuan untuk mengaplikasikan Profil
Pelajar Pancasila terutama nilai Kemandirian
Penyusunan Praktik Baik
Pendidikan Anak Usia Dini terutama pada masa golden age adalah periode emas untuk membentuk karakter anak. Berawal dari observasi terhadap bounding anak dan orang tua dalam beberapa kegiatan outing class sekolah, dimana ada beberapa orang tua yang cenderung ‘tak tega’ ketika anak melakukan aktivitas sendiri dan mengambil alih proses belajar anak dengan mengintervensi. Misalnya dalam buka pasang sepatu, membawakan bekal makan, menyuapi, dan lain sebagainya. Terutama bagi anak didik yang merupakan anak tunggal. Belum lah lagi jika yang anak lakukan tak sesuai keinginan orang tua, maka orang tua akan menegur dalam intonasi tinggi bahkan kadang disertai dengan cubitan. Hal ini tentunya dapat memungkinkan menjadi hal yang traumatis bagi anak sebab merasa dipermalukan didepan orang lain. Padahal sejak awal tahun ajaran baru di sekolah guru telah memulai pembiasaan pembiasaan baik seperti pakai sepatu sendiri, merapikan tempat makan, dll dengan harapan dapat berkesinambungan pula untuk diterapkan dirumah
Anak didik malah amat senang ketika wacana ini dengan tak sengaja dibahas selesai sesi sholat dhuha. Namun Ketika rencana Mabit kami sampaikan pada pertemuan rutin orang tua peserta didik yang diadakan setiap bulan, hal yang diduga terjadi. Orang tua menolak dengan alasan anak belum mandiri dan menganggap ‘terlalu kecil’ untuk anak menginap dalam lingkungan sekolah. Disamping itu menurut orang tua ada beberapa anak yang memiliki kebiasaan unik sebelum tidur dan dikhawatirkan akan menyulitkan anak untuk menginap. Meskipun telah ditekankan bahwa bisa disampaikan pada guru kelas misalnya untuk takaran susu, cemilan, dll namun ada beberapa orang tua yang mengindikasikan tak mengikutkan anak dalam kegiatan Mabit
Kegiatan Mabit dilaksanakan dalam lingkungan sekolah, 2 pekan setelah pertemuan bulanan rutin dengan orang tua. Ada 36 anak didik yang mendaftar kegiatan Mabit dari total keseluruhan sebanyak 52 anak. Acara mulai dilaksanakan sore hari pada pertengahan bulan Februari. Orang tua mengantar anak didik dengan perlengkapan menginap dan diizinkan berada dalam area sekolah hingga pukul 17.30 WITA sebab anak didik akan bersiap sholat maghrib berjamaah didahului dengan praktek wudhu dengan air.
Anak didik datang berbaju muslim dengan membawa perlengkapan sholat masing-masing juga iqro untuk kemudian mengaji bersama hingga waktu isya tiba dan kembali melaksanakan sholat isya berjamaah. Sekolah memanggil pendongeng dengan tema materi tentang kemandirian lalu dijeda dengan istirahat makan malam. Sekolah menyiapkan peralatan makan dan minum yang sama untuk seluruh anak dengan menu nasi goreng nugget. Menjelang tidur anak didik nonton bareng tentang kartun anak muslim yang ‘berbeda’ dari temannya sebab mengalami kelainan waktu kecil sehingga menggunakan kaki palsu. Anak belajar agar tak membeda-bedakan ciptaan Allah SWT melalui media audio visual. Anak yang membawa cemilan disilahkan untuk berbagi dengan temannya. Ada juga yang membawa mainan dan saling bergantian
Telah pukul 21.00 WITA anak didik bersiap untuk tidur. Anak berganti baju tidur dan sikat gigi sebelum tidur. Ruangan untuk laki-laki dan perempuan dipisah. Disinilah anak mulai mencari kebiasaan yang dilakukan dirumah seperti dielus punggung, dibelai rambut, dll. Bahkan ada yang sebenanrnya masih tidur menggunakan popok sekali pakai. Namun karena bermalam bersama teman, jadi malah malu sendiri memakai popok Ada juga yang minat pulang saja sedangkan menjelang tengah malam. Alhamdulillah ini pun menjadi tantangan bagi guru bagaimana membujuk anak dan mengingatkan tujuan awal untuk mandiri. Melalui drama panjang Alhamdulillah anak didik tidur seluruhnya pada pukul 01.00 Wita. Namun chat orang tua tak henti-henti meramaikan notifikasi whatsapp sekedar menanyakan kabar anak atau meminta dokumentasi baik foto atau video
Tibalah menjelang adzan subuh, anak didik dibangunkan perlahan pukul 04.30 WITA. Mengambil wudhu dan membentang sajadah Ketika adzan berkumandang juga dzikir hingga 05.30. Anak anak merapikan peralatan sholatnya dan bersiap olah raga pagi dengan berkeliling di sekitar sekolah. Setelah berkumpul kembali dihalaman, melakukan senam bersama dan sarapan bubur kacang ijo. Anak lalu merapikan peralatan makan lalu bersiap mandi pagi untuk pulang. Orang tua menjemput pukul 08.00 atau selesai ibadah sholat dhuha berjamaah
Respon Murid :
Masuk pada hari senin pekan berikutnya, anak sudah tak mengizinkan lagi orang tua mengantar hingga ke dalam kelas sebab merasa telah ‘berhasil’ menginap di sekolah tanpa ditemani olah orang tua. Bahkan ada anak yang meminta durasi menginap lebih lama lagi ( 1 hari jadi 1 pekan) sebab merasa sekolah memberi tempat untuk anak bereksplorasi proses belajar (pakaia sepatu sendiri, mandi sendiri, ganti baju sendiri, dll). Mungkin karena telah menginap bersama, frekuensi bertengkar anak didik berkurang dan menjadikan kisah menginap di sekolah itu sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk diceritakan berulang kali. Respon anak didik amat positif , membuat anak menjadi lebih percaya diri
Mabit untuk Anak Usia Dini bertujuan untuk mengaplikasikan Profil Pelajar Pancasila terutama nilai Kemandirian yang diimplementasikan melalui sholat berjamaah, makan bersama, dongeng, nonton bareng, dan lain sebagainya
Malam Bina Taqwa (MABIT) untuk Anak Usia Dini
Rifka Irfainy
Unit Kerja : TK Islam Permata Bahari
Deskripsi : Mabit untuk Anak Usia Dini bertujuan untuk mengaplikasikan Profil
Pelajar Pancasila terutama nilai Kemandirian
Penyusunan Praktik Baik
Pendidikan Anak Usia Dini terutama pada masa golden age adalah periode emas untuk membentuk karakter anak. Berawal dari observasi terhadap bounding anak dan orang tua dalam beberapa kegiatan outing class sekolah, dimana ada beberapa orang tua yang cenderung ‘tak tega’ ketika anak melakukan aktivitas sendiri dan mengambil alih proses belajar anak dengan mengintervensi. Misalnya dalam buka pasang sepatu, membawakan bekal makan, menyuapi, dan lain sebagainya. Terutama bagi anak didik yang merupakan anak tunggal. Belum lah lagi jika yang anak lakukan tak sesuai keinginan orang tua, maka orang tua akan menegur dalam intonasi tinggi bahkan kadang disertai dengan cubitan. Hal ini tentunya dapat memungkinkan menjadi hal yang traumatis bagi anak sebab merasa dipermalukan didepan orang lain. Padahal sejak awal tahun ajaran baru di sekolah guru telah memulai pembiasaan pembiasaan baik seperti pakai sepatu sendiri, merapikan tempat makan, dll dengan harapan dapat berkesinambungan pula untuk diterapkan dirumah
Anak didik malah amat senang ketika wacana ini dengan tak sengaja dibahas selesai sesi sholat dhuha. Namun Ketika rencana Mabit kami sampaikan pada pertemuan rutin orang tua peserta didik yang diadakan setiap bulan, hal yang diduga terjadi. Orang tua menolak dengan alasan anak belum mandiri dan menganggap ‘terlalu kecil’ untuk anak menginap dalam lingkungan sekolah. Disamping itu menurut orang tua ada beberapa anak yang memiliki kebiasaan unik sebelum tidur dan dikhawatirkan akan menyulitkan anak untuk menginap. Meskipun telah ditekankan bahwa bisa disampaikan pada guru kelas misalnya untuk takaran susu, cemilan, dll namun ada beberapa orang tua yang mengindikasikan tak mengikutkan anak dalam kegiatan Mabit
Kegiatan Mabit dilaksanakan dalam lingkungan sekolah, 2 pekan setelah pertemuan bulanan rutin dengan orang tua. Ada 36 anak didik yang mendaftar kegiatan Mabit dari total keseluruhan sebanyak 52 anak. Acara mulai dilaksanakan sore hari pada pertengahan bulan Februari. Orang tua mengantar anak didik dengan perlengkapan menginap dan diizinkan berada dalam area sekolah hingga pukul 17.30 WITA sebab anak didik akan bersiap sholat maghrib berjamaah didahului dengan praktek wudhu dengan air.
Anak didik datang berbaju muslim dengan membawa perlengkapan sholat masing-masing juga iqro untuk kemudian mengaji bersama hingga waktu isya tiba dan kembali melaksanakan sholat isya berjamaah. Sekolah memanggil pendongeng dengan tema materi tentang kemandirian lalu dijeda dengan istirahat makan malam. Sekolah menyiapkan peralatan makan dan minum yang sama untuk seluruh anak dengan menu nasi goreng nugget. Menjelang tidur anak didik nonton bareng tentang kartun anak muslim yang ‘berbeda’ dari temannya sebab mengalami kelainan waktu kecil sehingga menggunakan kaki palsu. Anak belajar agar tak membeda-bedakan ciptaan Allah SWT melalui media audio visual. Anak yang membawa cemilan disilahkan untuk berbagi dengan temannya. Ada juga yang membawa mainan dan saling bergantian
Telah pukul 21.00 WITA anak didik bersiap untuk tidur. Anak berganti baju tidur dan sikat gigi sebelum tidur. Ruangan untuk laki-laki dan perempuan dipisah. Disinilah anak mulai mencari kebiasaan yang dilakukan dirumah seperti dielus punggung, dibelai rambut, dll. Bahkan ada yang sebenanrnya masih tidur menggunakan popok sekali pakai. Namun karena bermalam bersama teman, jadi malah malu sendiri memakai popok Ada juga yang minat pulang saja sedangkan menjelang tengah malam. Alhamdulillah ini pun menjadi tantangan bagi guru bagaimana membujuk anak dan mengingatkan tujuan awal untuk mandiri. Melalui drama panjang Alhamdulillah anak didik tidur seluruhnya pada pukul 01.00 Wita. Namun chat orang tua tak henti-henti meramaikan notifikasi whatsapp sekedar menanyakan kabar anak atau meminta dokumentasi baik foto atau video
Tibalah menjelang adzan subuh, anak didik dibangunkan perlahan pukul 04.30 WITA. Mengambil wudhu dan membentang sajadah Ketika adzan berkumandang juga dzikir hingga 05.30. Anak anak merapikan peralatan sholatnya dan bersiap olah raga pagi dengan berkeliling di sekitar sekolah. Setelah berkumpul kembali dihalaman, melakukan senam bersama dan sarapan bubur kacang ijo. Anak lalu merapikan peralatan makan lalu bersiap mandi pagi untuk pulang. Orang tua menjemput pukul 08.00 atau selesai ibadah sholat dhuha berjamaah
Respon Murid :
Masuk pada hari senin pekan berikutnya, anak sudah tak mengizinkan lagi orang tua mengantar hingga ke dalam kelas sebab merasa telah ‘berhasil’ menginap di sekolah tanpa ditemani olah orang tua. Bahkan ada anak yang meminta durasi menginap lebih lama lagi ( 1 hari jadi 1 pekan) sebab merasa sekolah memberi tempat untuk anak bereksplorasi proses belajar (pakaia sepatu sendiri, mandi sendiri, ganti baju sendiri, dll). Mungkin karena telah menginap bersama, frekuensi bertengkar anak didik berkurang dan menjadikan kisah menginap di sekolah itu sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk diceritakan berulang kali. Respon anak didik amat positif , membuat anak menjadi lebih percaya diri
Praktik baik Sebelum Direvisi
Elaborasi Praktik Baik
Malam Bina Taqwa (MABIT) untuk Anak Usia Dini
Rifka Irfainy
Unit Kerja : TK Islam Permata Bahari
Deskripsi : Mabit untuk Anak Usia Dini bertujuan untuk mengaplikasikan Profil
Pelajar Pancasila terutama nilai Kemandirian
Penyusunan Praktik Baik
Pendidikan Anak Usia Dini terutama pada masa golden age adalah periode emas untuk membentuk karakter anak. Berawal dari observasi terhadap bounding anak dan orang tua dalam beberapa kegiatan outing class sekolah, dimana ada beberapa orang tua yang cenderung ‘tak tega’ ketika anak melakukan aktivitas sendiri dan mengambil alih proses belajar anak dengan mengintervensi. Misalnya dalam buka pasang sepatu, membawakan bekal makan, menyuapi, dan lain sebagainya. Terutama bagi anak didik yang merupakan anak tunggal. Belum lah lagi jika yang anak lakukan tak sesuai keinginan orang tua, maka orang tua akan menegur dalam intonasi tinggi bahkan kadang disertai dengan cubitan. Hal ini tentunya dapat memungkinkan menjadi hal yang traumatis bagi anak sebab merasa dipermalukan didepan orang lain. Padahal sejak awal tahun ajaran baru di sekolah guru telah memulai pembiasaan pembiasaan baik seperti pakai sepatu sendiri, merapikan tempat makan, dll dengan harapan dapat berkesinambungan pula untuk diterapkan dirumah
Anak didik malah amat senang ketika wacana ini dengan tak sengaja dibahas selesai sesi sholat dhuha. Namun Ketika rencana Mabit kami sampaikan pada pertemuan rutin orang tua peserta didik yang diadakan setiap bulan, hal yang diduga terjadi. Orang tua menolak dengan alasan anak belum mandiri dan menganggap ‘terlalu kecil’ untuk anak menginap dalam lingkungan sekolah. Disamping itu menurut orang tua ada beberapa anak yang memiliki kebiasaan unik sebelum tidur dan dikhawatirkan akan menyulitkan anak untuk menginap. Meskipun telah ditekankan bahwa bisa disampaikan pada guru kelas misalnya untuk takaran susu, cemilan, dll namun ada beberapa orang tua yang mengindikasikan tak mengikutkan anak dalam kegiatan Mabit
Kegiatan Mabit dilaksanakan dalam lingkungan sekolah, 2 pekan setelah pertemuan bulanan rutin dengan orang tua. Ada 36 anak didik yang mendaftar kegiatan Mabit dari total keseluruhan sebanyak 52 anak. Acara mulai dilaksanakan sore hari pada pertengahan bulan Februari. Orang tua mengantar anak didik dengan perlengkapan menginap dan diizinkan berada dalam area sekolah hingga pukul 17.30 WITA sebab anak didik akan bersiap sholat maghrib berjamaah didahului dengan praktek wudhu dengan air.
Anak didik datang berbaju muslim dengan membawa perlengkapan sholat masing-masing juga iqro untuk kemudian mengaji bersama hingga waktu isya tiba dan kembali melaksanakan sholat isya berjamaah. Sekolah memanggil pendongeng dengan tema materi tentang kemandirian lalu dijeda dengan istirahat makan malam. Sekolah menyiapkan peralatan makan dan minum yang sama untuk seluruh anak dengan menu nasi goreng nugget. Menjelang tidur anak didik nonton bareng tentang kartun anak muslim yang ‘berbeda’ dari temannya sebab mengalami kelainan waktu kecil sehingga menggunakan kaki palsu. Anak belajar agar tak membeda-bedakan ciptaan Allah SWT melalui media audio visual. Anak yang membawa cemilan disilahkan untuk berbagi dengan temannya. Ada juga yang membawa mainan dan saling bergantian
Telah pukul 21.00 WITA anak didik bersiap untuk tidur. Anak berganti baju tidur dan sikat gigi sebelum tidur. Ruangan untuk laki-laki dan perempuan dipisah. Disinilah anak mulai mencari kebiasaan yang dilakukan dirumah seperti dielus punggung, dibelai rambut, dll. Bahkan ada yang sebenanrnya masih tidur menggunakan popok sekali pakai. Namun karena bermalam bersama teman, jadi malah malu sendiri memakai popok Ada juga yang minat pulang saja sedangkan menjelang tengah malam. Alhamdulillah ini pun menjadi tantangan bagi guru bagaimana membujuk anak dan mengingatkan tujuan awal untuk mandiri. Melalui drama panjang Alhamdulillah anak didik tidur seluruhnya pada pukul 01.00 Wita. Namun chat orang tua tak henti-henti meramaikan notifikasi whatsapp sekedar menanyakan kabar anak atau meminta dokumentasi baik foto atau video
Tibalah menjelang adzan subuh, anak didik dibangunkan perlahan pukul 04.30 WITA. Mengambil wudhu dan membentang sajadah Ketika adzan berkumandang juga dzikir hingga 05.30. Anak anak merapikan peralatan sholatnya dan bersiap olah raga pagi dengan berkeliling di sekitar sekolah. Setelah berkumpul kembali dihalaman, melakukan senam bersama dan sarapan bubur kacang ijo. Anak lalu merapikan peralatan makan lalu bersiap mandi pagi untuk pulang. Orang tua menjemput pukul 08.00 atau selesai ibadah sholat dhuha berjamaah
Respon Murid :
Masuk pada hari senin pekan berikutnya, anak sudah tak mengizinkan lagi orang tua mengantar hingga ke dalam kelas sebab merasa telah ‘berhasil’ menginap di sekolah tanpa ditemani olah orang tua. Bahkan ada anak yang meminta durasi menginap lebih lama lagi ( 1 hari jadi 1 pekan) sebab merasa sekolah memberi tempat untuk anak bereksplorasi proses belajar (pakaia sepatu sendiri, mandi sendiri, ganti baju sendiri, dll). Mungkin karena telah menginap bersama, frekuensi bertengkar anak didik berkurang dan menjadikan kisah menginap di sekolah itu sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk diceritakan berulang kali. Respon anak didik amat positif , membuat anak menjadi lebih percaya diri
Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.