Membentuk Perilaku Murid yang Berkarakter
Oleh
Kurniati
UPT SPF SD INPRES LAIKANG MAKASSAR
Setiap hari di jam istirahat ketika anak – anak berada di luar kelas sering kali saya mendengar murid berkata kasar, bahkan mengucapkan kata-kata kotor yang semestinya tidak pantas di ucapkan oleh seorang murid. Dengan entengnya mereka berbicara kotor tanpa merasa malu dan takut seolah-olah apa yang di ucapkannya merupakan hal yang biasa. Ditambah lagi murid yang saya hadapi adalah murid kelas 6 yang sudah mulai memasuki masa pubertas dan mulai mengenal lawan jenisnya sehingga perlu untuk di arahkan dan di ingatkan agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Sekolah sebagai tempat untuk mendidik mengubah perilaku murid menjadi lebih baik bukan hanya pengetahuan dan keterampilan saja tetapi jauh lebih penting adalah memperbaiki karakter, moral dan akhlak murid.
Hal ini membuat saya tergerak dan terpanggil untuk mencari solusi agar murid dapat bersikap, berperilaku dan berkata yang santun serta mampu menjaga diri dari perbuatan yang dapat merugikan diri mereka sendiri.
Untuk dapat merubah dan memperbaiki akhlak murid tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu dan kesabaran untuk dapat merubah sikap dan perilaku murid yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengadakan rapat bersama orang tua/wali murid di mana kita ketahui bersama bahwa untuk memperbaiki akhlak murid orang tualah yang berperan penting dan bertanggung jawab. Begitu pula dengan lingkungan sekitar yang bisa memengaruhi sikap dan pergaulan anak-anak di luar sekolah. Saya menyadari bahwa tidak gampang untuk dapat mengumpulkan orang tua /wali murid. Namun saya tetap berusaha dan mengundang orang tua wali murid khusus di kelas saya untuk membentuk paguyuban kelas dan membuat program yang dapat berdampak baik pada murid. Salah satu program yang saya ajukan kepada orang tua/ wali murid adalah membuat kegiatan pengajian dengan mengundang penceramah dan mengharapkan orang tua/wali murid hadir mendampingi anak-anaknya dalam kegiatan tersebut. Awalnya beberapa orang tua/wali murid merasa tidak setuju dengan berbagai pertimbangan seperti ada orang tua/wali murid yang tidak bisa mendampingi karena bekerja, butuh dana untuk mengundang penceramah. serta butuh tempat yang cukup untuk bisa menampung murid dan orang tua/wali murid.
Hingga akhirnya terbentuklah pengurus paguyuban dengan semboyan “ Berat sama di pikul ringan sama dijinjing”. “ Bersatu kita teguh bercerai kita Runtuh” Mereka berembuk untuk menjadikan kegiatan pengajian sebagai solusi terbaik untuk membentuk karakter pada murid. Akhirnya disepakati bahwa kegiatan pengajian dilakukan minimal sekali sebulan, yang bertempat di rumah saya. Mengenai pendanaannya di sepakati untuk mengumpulkan sumbangan suka rela dari semua orang tua/wali murid. Setelah berjalan satu kali, ternyata banyak orang tua yang bersedia dan mendaftarkan diri untuk melaksanakan kegiatan pengajian di rumahnya dengan berbagai alasan dan motivasi. . Akhirnya kegiatan pengajian berjalan lancar bahkan dalam satu bulan pelaksanaan pengajian dilakukan dua kali. Antusias orang tua/ wali murid membuat saya bertambah semangat.
Setiap pengajian saya memberi tugas kepada murid. Ada yang bertugas sebagai pembawa acara, pembaca Al-quran, dan saritilawah. Saya juga memberi tugas kepada semua murid untuk mencatat hal-hal penting dari apa yang mereka dengarkan kemudian menceritakan kembali di depan kelas. Saya juga meminta kepada murid untuk berani bertanya kepada penceramah jika ada hal-hal yang kurang dipahami ataukah ada yang ingin mereka sampaikan.
Pelajaran yang bisa saya ambil bahwa dengan kegiatan pengajian, membentuk sikap dan perilaku murid menjadi lebih religius, berkarakter dan berakhlak mulia. Semua murid sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pengajian. Begitu pula dengan orang tua murid. Bahkan beberapa murid dan orang tua murid dari kelas yang berbeda juga ikut dalam kegiatan pengajian ini. Sekarang semua murid menyadari, bahwa selama ini perkataan yang mereka ucapkan sangat tercela dan tidak di benar. Mereka berjanji untuk tidak berkata kasar, berbicara kotor, dan saling menghargai serta saling menyayangi satu sama lain. Murid-murid meminta maaf kepada orang tuanya masing-masing, meminta maaf kepada bapak dan ibu guru, meminta maaf kepada teman-temannya. Mereka telah menyadari bahwa apa yang kita ucapkan dan yang kita lakukan sekecil apapun itu kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Mereka pula berjanji untuk saling mengingatkatkan dan saling menasihati jika ada teman yang berkata dan berbuat kesalahan. Tidak ada lagi kata-kata kotor dan kasar yang terdengar. Murid menjadi lebih berani dan percaya diri untuk tampil di depan umum. Untuk membentuk anak menjadi lebih baik, di butuhkan kolaborasi antara guru dan orang / wali murid, Dengan kegiatan ini juga akhirnya terjalin silaturrahmi antar orang tua/ wali murid. Mereka bartambah lebih akrab begitu pula kami sebagai guru. Saya merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi dengan orang tua/ wali murid.
Saya Menyadari bahwa sebagai pendidik kita harus selalu mengingatkan kepada murid apa bila ada yang berperilaku dan berkata yang tidak baik. Disamping itu kita sebagai pendidik hendaklah menjadi teladan yang baik bagi murid-murid kita baik dalam bertindak dan bertutur kata.