Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

MAKSIMALKAN DIFERENSIASI DENGAN PROJEK MODEL RENCANA AJAR

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

MAKSIMALKAN DIFERENSIASI DENGAN PROJEK MODEL RENCANA AJAR

By: Madya Giri Aditama

[Awal]

Dalam kegiatan pembelajaran sangat penting untuk membangun suasana yang menyenangkan dengan interaksi dan komunikasi yang kondusif serta tanpa melupakan tujuan dan esensi dari pembelajaran tersebut. Seorang guru haruslah mampu menciptakan situasi kelas yang kondusif dan bersinergi antara kondisi murid, lingkungan sekolah dan kurikulum pembelajaran yang diterapkan.

Universitas Muhammadiyah Kendal Batang, tempat saya bertugas sebagai pengajar, memiliki 2 program studi yang berfokus pada ilmu kependidikan yaitu Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ketika mahasiswa menginjak semester 3 mereka akan memulai kegiatan magang atau praktik lapangan sebagai guru di sekolah – sekolah mitra yang tersebar di Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal. Magang 1 dilaksanakan pada tingkat semester 3, magang 2 pada semester 4 dan magang 3 semester 5.

Pada kegiatan magang 1, mahasiswa ditugaskan sebagai asisten pengajar pada guru pamong yang telah ditunjuk untuk membimbing dan memberikan gambaran sebagai pamong di sekolah tempat tujuan pratik. Dalam kegiatan magang awal tersebut, mahaiswa calon guru bertugas mengamati, melakukan observasi, serta melakukan analisa terhadap suasana nyata di kelas dan bagaimana melakukan pembelajaran dai tahap persiapan, ekseskusi, asesmen, evaluasi sampai pelaporan.

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka saat ini, mahasiswa calon guru juga harus dapat memahami dan menerapkan dalam praktik mengajarnya nanti. Berbekal hasil pengamatan pada kegiatan magang 1, mahasiswa wajib mempersiapkan rancangan pembelajaran yang akan dibawakan pada saat kegiatan magang 2. Rancangan tersebut haruslah sesuai dengan kriteria murid dan tujuan pembelajaran yang dibawakan. Karenanya konsep pembelajaran diferensiasi harus dimaksimalkan dan pada masing – masing kriteria murid serta sekolah tersebut.

 

[Tantangan]

Dalam pembelajaran Bahasa Inggris dimana murid diharuskan menguasai 4 kemampuan dasar yaitu Berbicara (Speaking), Mendengar (Listening), Membaca (Reading), serta Menulis (Writing); akan sangat sulit sebagai guru untuk mengembangkan dan melatih sekian banyak individu sekaligus terlebih bagi para mahasiswa calon guru tersebut. Tingginya standar / kriteria yang harus dihadapi oleh generasi muda dalam era persaingan global 5.0 sekarang ini cukup berat, dimana setiap individu harus memiliki kompetensi unggul dalam berdaya saing. Kompetensi tersebut adalah 4C, yaitu berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), komunikasi (communication) dan kolaborasi (collaboration).

Terlebih di Indonesia, prasangka dan sugesti yang merebak pada kalangan murid tentang kesulitan belajar menggunakan Bahasa Inggris serta anggapan bahwa Bahasa Inggris sulit, menjadi momok tersendiri yang menjadi kendala dan halangan bagi murid untuk berkembang. Kesadaran akan kebutuhan Bahasa Inggris masih belum sepenuhnya disadari oleh generasi muda. Penggunaan metode dan media pembelajaran yang variatif, menarik, serta menginspirasi murid menjadi sangat diperlukan agar murid tertarik dan termotivasi untuk belajar dan menguasai Bahasa Inggris dengan baik.

Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi dan dilalui oleh mahasiswa semester 4 pada kedua program studi tersebut yang akan melakukan magang 2 sebagai sarana praktik lapangan serta diharuskan mempersiapkan rancangan pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan.

 

[Aksi]

Saya sebagai pengampu mata kuliah Pengembangan Materi (Material Development) serta Asessmen (Language Assessment) memulai kegiatan persiapan mahasiswa tersebut dengan melakukan analisa pada setiap hasil observasi dan asesmen diagnostik yang dilakukan mahasiswa dalam kegiatan Magang 1. Setiap mahasiswa di kelas Prodi PBI dan PGSD melakukan diskusi terbuka dengan secara bergantian memaparkan hasil temuan dan pengamatannya di depan teman sekelas.

Karena setiap individu melakukan magang di sekolah dan kelas yang berbeda maka pastilah hasil temuannya juga berbeda. Namun dengan berbagi dan memaparkan hasil pengamatan akan keadaan yang ditemui akan memberikan wawasan dan gambaran bahwa keadaan dan keunikan setiap murid dan sekolah pasti berbeda. Murid satu dengan yang lain pasti berbeda, kelas satu dengan kelas lain juga berbeda, apalagi sekolah sastu dengan yang lain sudah pasti berbeda. Dengan saling berdiskusi dan menyadari akan perbedaan keunikan tersebut, kita belajar bagaimana seorang guru harus dapat memfasilitasi dan memaksimalkan potensi murid yang memiliki berbagai keunikan, perbedaan latar belakang dan lingkungan tersebut.

Dengan menyadari keberagaman teesebut, mahasiswa menyadari kata dasar “berbeda” yang terdapat pada keadaan kondisi temuan tersebut. “Berbeda” yang dalam Bahasa Inggris “different”, saya mengenalkan mengenai konsep Diferensiasi dalam pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai guru. Terdapat 3 bentuk Diferensiasi yang dapat diterapkan kepada murid: 1) Diferensiasi Konten, meliputi kemauan belajar, minat murid dan profil belajar murid. Dalam diferensiasi Konten ini, guru membuat pemetaan kebutuhan pembelajaran dengan menggunakan indikator profil pembelajaran, yang dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajarkan metode pembelajaran yang diinginkan; 2) Diferensiasi Proses, dimana guru dituntut untuk memahami apakah murid belajar dalam kelompok atau sendiri. Pada proses ini, guru dapat memutuskan jumlah bantuan yang diberikan kepada murid dalam pembelajaran; dan 3) Diferensiasi Produk, dimana dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar murid sebelum memberikan tugas produk. Tugas produksi dirancang untuk membantu murid, secara individu atau kelompok, mendefinisikan kembali atau memperluas apa yang telah mereka pelajari selama periode waktu tertentu.

Berbekal hasil pengamatan di lapangan serta 3 metode diferensisasi yang dapat diterapkan, mahasiswa calon guru merancang pembelajaran yang mereka inginkan secara mandiri dan berkelompok. Persiapan perencanaan model pembelajaran dapat berupa rancangan Rencana Pembelajaran, instrument pembelajaran berupa alat peraga dan model ajar, serta rancangan metode ajar yang akan dilakukan. Setiap individu membuat projek rancangan tersebut dengan membayangkan dan melakukan simulasi bagaimana penerapannya nanti. Setelah selesai membuat rancangan pembelajaran beserta kelengkapannya, masing – masing mahasiswa melakukan praktik simulasi di depan kelas secara bergantian dengan teman – teman nya sebagai model murid. Setelah selesai, akan diberikan evaluasi, masukan, dan saran mengenai hal yang dapat dikembangkan dan ditambahkan dalam rancangan tersebut.

[Perubahan / Pelajaran]

Hasil dari kegiatan projek ini berupa berbagai bentuk model rencana ajar serta kelengkapannya yang akan diterapkan oleh mahasiswa ketika praktik di sekolah mitra. Dari total 59 mahasiswa (34 mahasiswa PGSD dan 25 mahasiswa PBI) yang mempersiapkan projek ini, terlihat 14 rancangan pembelajaran yang berfokus pada Diferensiasi Konten, 20 berfokus pada Diferensiasi Proses, 8 berfokus pada Diferensiasi Produk, serta 17 mengembangkan kombinasi Diferensiasi.

Dalam kegiatan penyiapan rencana ajar ini, mahasiswa menyadari bahwa keadaan di lapangan yang dihadapi oleh guru sangat bervariasi. Latar belakang sekolah, murid, lingkungan, budaya serta hal lain yang mempengaruhi kelangsungan pembelajaran dan kegiatan pendidikan menjadi temuan dan pembelajaran yang sangat berharga bagi para calon guru ini. Keunikan dan perbedaan tersebut menjadi tantangan yang menarik dan menyenangkan jika disikapi dengan cara yang tepat dan sesuai.

Kurangnya pengenalan lapangan, metode difensiasi serta pemahaman perkembangan kurikulum menjadi kekurangan yang cukup terlihat dalam pembuatan projek ini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta standar persasingan global yang dihadapi murid di Indonesia menjadi tantangan menarik bagi generasi muda para mahaiswa calon guru ini. Dengan kemampuan mengikuti perkembangan jaman, komunikasi dengan murid yang sesuai menjadikan pembelajaran menjadi santai dan menyenangkan.

Hasil akhir pada pembelajaran Bahasa Inggris adalah kemampuan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari – hari. Dengan memperbanyak praktik dan perbaikan secara berkelanjutan akan dapat menuntun dan memacu murid untuk terus berkembang. Dengan menerapkan model dan strategi pembelajaran yang sesuai dan memenuhi setiap kebutuhan serta keunikan murid akan dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan murid juga meningkatkan kompetensi pedagogi guru.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.