Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Diferensiasi dalam Belajar Satuan Berat

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Tujuan Pembelajaran : Peserta didik Mampu Memahami Satuan Berat dalam kehidupan sehari-hari. Materi Satuan berat cukup sulit dipahami apabila guru hanya menggunakan dengan satu metode yaitu ceramah. Mungkin anak² dengan gaya belajar auditori akan mudah memahami. Lalu bagaimana dengan anak dengan gaya belajar visual dan kinestetik? Hal ini dapat dibuktikan dari hasil belajar peserta didik saya dan ketika proses belajar-mengajar. Anak dengan gaya belajar visual tidak konsentrasi dan anak dengan gaya belajar kinestetik lebih memilih bermain² ketika saya menjelaskan materi. Biasanya peserta didik mengalami kesulitan dalam menentukan perubahan Satuan berat. Misalnya 1 gr berapa kg? Dan lainnya.

Untuk itulah guru membuat belajar Satuan berat secara diferensiasi.

1. Guru menyiapkan media Satuan berat dan ditempelkan dengan warna yang cukup menarik.

2. Guru meminta anak² membawa beberapa batu (contoh 1 batu kecil 100 gr dan satu batu besar 1 kg). Kemudian guru menyiapkan papan (miniatur timbangan) dan benda² di kelas yang akan ditimbang.

3. Guru menyiapkan audio dari speaker mengenai materi /metode ceramah.

4. Guru menjelaskan materi dengan metode ceramah dengan bantuan media. Setelah itu guru meminta anak² menimbang benda² seperti beberapa buku tulis, tumpukan batu dan barang lainnya. Guru akan meminta anak untuk menimbang barang tersebut. Misalnya buku. Ternyata berat buku adalah 500 gr (setara 5 batu kecil) kemudian guru akan meminta anak menunjukkan batu yang mempunyai nilai yang sama dengan 5 batu kecil tadi. Ternyata ada batu yang berukuran sedang yang nilainya sama dengan 0,5 kg (500 gr)

5. Kemudian guru meminta seluruh peserta didik mengerjakan soal/latihan.

 

Refleksi : Pada akhir pembelajaran Satuan berat, anak dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik memiliki hasil yang berbeda-beda. Anak  yang visual dan auditori lebih mudah memahami pembelajaran Satuan berat daripada kinestetik. Perlu diketahui bersama bahwa tidak ada satupun kepastian gaya belajar setiap anak. Untuk itu perlunya guru mengkombinasikan semua gaya belajar ketika di kelas.

Salah satu murid saya bernama Ibnu Haqqi mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dari sebelumnya karena media Satuan berat yang telah saya buat, sehingga ketika nilainya tinggi orang tuanya menghubungi saya karena ibunya tidak percaya mengapa si anak mampu menjawab soal dengan mudah. Hal ini juga didukung oleh pernyataan si anak “Ibnu mudah paham bu. Tinggal lihat ini aja (menunjuk media Satuan berat)” . Adapun kendala yang dihadapi oleh guru adalah motivasi belajar anak dan minat anak secara internal dan secara eksternal yaitu lingkungan belajar yang kurang nyaman seperti panas.

Tentunya ini menjadi evaluasi kedepannya bagi saya.

Saya menerapkan cara belajar yang sama seperti sebelumnya dan terus mengulang. Saya juga lebih memotivasi mengapa peserta didik harus mempelajari Satuan berat seperti menghubungkan dengan menimbang sayuran/buah, serta hubungan bahwa menimbang amal baik dan buruk akan terjadi di akhirat nanti.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.