“ Ting…tong…ting…tong… saatnya jam istirahat …!!!.
Bel sekolah berbunyi dengan lantang. Setelah saya akhiri pelajaran dengan salam, para siswa bergegas, seakan berlomba ingin menjadi yang pertama keluar kelas.
Sedangkan diri saya, masih diam termangu, kalut.
“Apa yang salah?..”, batin saya.
“Mengapa anak-anak seakan sulit mencerna pelajaran yang saya berikan?.. . Apakah metode mengajar saya yang kurang tepat?.. . Atau karena.. . . . . “.
Terus terang saya masih hanyut dalam pikiran saya sendiri, mengapa kemampuan anak dalam menyerap materi kali ini sangat rendah. Mereka cenderung pasif dalam pembelajaran. Pembelajaran kali ini kurang menarik bagi mereka. Pembelajaran yang kurang menarik, monoton dan berpusat pada guru membuat siswa merasa jenuh dan kurang bersemangat. Apalagi pada situasi seperti saat ini dimana siswa sudah melek digital. Mereka tertarik dengan video, permainan dan pengalaman yang mereka alami sendiri. Mereka cenderung suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Hp atau Gadget. Saya dituntut mampu memberikan pembelajaran yang menarik. Bukan hanya sekedar mendengarkan ceramah dan mengerjakan soal. Memang materi saat ini sangat banyak dan komplek. Kami sedang belajar Wujud Zat dan Perubahannya. Berbagai perubahan wujud zat kami pelajari, dari mencair hingga menyublim. Jika materi ini saya berikan dalam bentuk ceramah saja, saya yakin mereka akan bosan dan tidak tertarik. Materi akan mudah lenyap tergerus masa. Kegalauan ini yang memicu saya untuk berfikir keras. Hal apa yang bisa saya berikan agar mereka aktif dalam pembelajaran.
Sebagai Guru kelas IV di sekolah dasar yang mayoritas siswanya sudah tidak asing lagi dengan Gadget, saya berkeinginan memberikan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dapat mengaktifkan siswa, mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan. Saya ingin mereka mengenal sumber belajar melalui Handphone (HP) atau Notebook, karena melalui media inilah saya dapat menarik perhatian mereka.
Di lembaga kami sudah terdapat 20 buah Notebook yang merupakan bantuan dari Pemerintah Pusat. Kami ingin menggunakan semaksimal mungkin bantuan ini untuk peningkatan kompetensi siswa kami.
“Apa yang bisa saya lakukan dengan sarana ini agar saya dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi siswa saya?” pikir saya. Dari sarana inilah saya ingin merancang pembelajaran yang berkesan bagi mereka.
Siswa saya memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, beberapa anak menyukai gaya belajar visual dan auditorial. Namun lebih banyak anak yang memiliki gaya belajar kinestetik. Dimana mereka lebih suka mendapatkan pelajaran dengan gerak dan pengalaman yang baru. Startegi pembelajaran seperti apa yang harus saya berikan agar saya dapat memberikan pelajaran sesuai dengan gaya belajar mereka. Kegalaun ini saya utarakan kepada guru lain. Berbagai ide bermunculan. Sayapun tergerak kepada salah satu ide teman untuk menggunakan flash card berbarcode. Flash card berbarcode adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi dengan barcode yang dapat diakses melalui scan dari kamera HP. Dari ide tersebut, saya merancang flash card yang berisi petunjuk penggunaan, rangkuman materi, yuk bereksperimen, serta dilengkapi dengan latihan soal. Flash card merupakan hal baru bagi siswa saya, sehingga mereka tertarik dengan penggunaanya. Apalagi didalamnya berisi video materi, contoh percobaan yang bisa diakses melalui HP maupun Notebook. Media Flash Card Berbarcode mudah dibawa karena ukuran yang kecil dan dapat disimpan disaku atau tas, sehingga tidak membutuhkan ruang yang luas. Selain itu flash card saya buat dengan gambar dan warna yang menarik. Flash card ini dapat digunakan dimana saja, dikelas ataupun di luar kelas bahkan dirumah. Hal tersebut membantu siswa mengulangi pelajaran dirumah melalui flash card yang saya bagikan kepada siswa siswi saya.
Pada awal pelaksanaan pembelajaran, saya menjelaskan hal apa saja yang akan kita lakukan dan kita pelajari. Saya mengeluarkan kartu-kartu dari dalam tas untuk menarik perhatian siswa.
“Mau main kartu ya bu?” tanya Ahmad keras kepada saya.
Seketika kelas menjadi ramai menanyakan barang apa yang saya bawa.
Saya pun tersenyum sipu, rasa penasaran mereka muncul. Itulah yang saya harapkan, celoteh hati saya.
Akhirnya saya minta mereka berhitung dari 1 sampai 5. Setiap anak yang menyebutkan angka 1 akan berkumpul dengan anak-anak yang menyebut angka 1. Begitu seterusnya. Kegiatan ini kami lakukan untuk membentuk kelompok. Ada 5 kelompok dengan anggota 5-6 anak.
Saya bagikan 1 set flash card berbarcode dan Notebook pada masing-masing kelompok. Siswa melihat video bagaimana cara mengakses barcode melalui tayangan LCD. Selanjutnya mereka mengakses kartu petunjuk penggunaan flash card berbarcode tersebut. Kartu ini saya berikan pada awal pembelajaran agar mereka tidak lagi bingung bagaimana cara mengaksesnya. Flash Card berbarcode ini diakses melalui kamera google. Mereka menggali informasi awal materi perubahan wujud zat yang berupa video dengan mengscan barcode rangkuman materi. Mereka menyimak materi dengan fokus. Guru memberi penekanan dan tanya jawab tentang isi video.
Selanjutnya mereka melakukan percobaan dengan mengikuti video dari kartu yuk bereksperimen. Kami melakukan percobaan mencair hingga menyublim. Setiap perubahan wujud benda kami coba dengan menscan flash card tersebut. Setiap pertemuan kita isi dengan 2 percobaan. Mereka sangat antusias melakukan percobaan tersebut. Mereka mengetahui bagaimana perubahan wujud tersebut terjadi secara langsung bukan hanya melalui gambar.
Pembelajaran yang tadinya membosankan menjadi penuh kesan dan bermakna. Mereka tidak lagi menghafal namun benar benar mengalami bagaimana perubahan wujud zat dapat terjadi. Pembelajaran yang tadinya membosankan berubah jadi penuh semangat.
“ Bu, kita besok praktek apa lagi?” kata Yulianto.
“ Bu, besok kita akan scan kartu mana lagi?” tutur Aulin.
“ Bu, kartunya saya bawa pulang ya” pinta Khanza kepada saya.
“ Bu, saya suka sekali melihat kapur barus yang berubah menjadi kristal! ” Mei pun ikut menyuarakan pendapatnya.
“ Perubahan wujud zat apa itu?”. Saya berikan pertanyaan pancingan untuknya.
“ Mengkristal bu” jawabnya keras.
Kalimat-kalimat itulah yang terlontar dari siswa-siswa saya.
Perasaan kalut terjawab sudah. Inovasi dalam pembelajaran membantu saya menciptakan pembelajaran yang menarik. Dengan penggunaan flash card berbarcode ini pembelajaran menjadi terarah dan menyenangkan. Siswa terbuai dengan rasa penasaran, apa isi barcode dari setiap kartu tersebut. Mereka pun asyik melakukan percobaan bersama kelompoknya sehingga kerjasama, tanggung jawab dan sikap gotong royongnya muncul. Belajar perubahan wujud zat tak lagi membosankan, kami benar benar mengalami dan mengetahui dengan menscan flash card berbarcode.
Hendaknya guru mampu mengkombinasikan media flash card berbarcode dan mengemasnya menjadi media yang menarik serta membuat pembelajaran lebih bermakna. Selain itu, refleksi guru setelah pembelajaran berakhir memberikan kesadaran memperbaiki pembelajaran selanjutnya.
Kini sayapun belajar “Zona nyaman bagi guru adalah jurus untuk layu bersama”.