Mencermati hasil rapor Pendidikan tahun 2021 di UPT SMAN 6 Wajo menunjukkan bahwa kemampuan numerasi murid masih di bawah kompetensi minimum yaitu berada diangka 1,68. Berbeda dengan kemampuan literasi yang sudah berada pada capaian di atas kompetensi minimum, namun masih berada diangka 2,1. Tentu hal ini menjadi perhatian bagi stake holder sekolah. Sebagai guru, hasil asesmen menjadi refleksi saya terhadap proses pembelajaran yang berlansung di kelas. Murid yang belum terbiasa dengan model soal literasi dan numerasi merasa “kaget” ketika mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer. Soal-soal yang sering mereka dapatkan dalam proses pembelajaran hanyalah soal-soal rutin yang kadang berulang setiap tahunnya. Jadi, perlu pembiasaan bagi murid terhadap soal-soal kontekstual berbasis literasi dan numerasi. Disinilah peran guru dalam menciptakan habituasi tersebut, guru seharusnya merancang pembelajaran dan asesmen yang kontekstual dan beriorientasi literasi dan numerasi.
Asesmen pembelajaran diharapkan dapat mengukur aspek yang seharusnya diukur dan bersifat holistik. Asesmen sumatif dilakukan guru untuk memastikan ketercapaian dari seluruh tujuan pembelajaran. Inovasi ini adalah bentuk pembaruan dalam melakukan asesmen terhadap hasil belajar murid. Pelaksanaan asesmen sumatif disusun dengan menggunakan soal-soal konstekstual model literasi dan numerasi. Tantangan yang muncul adalah beberapa guru belum terbiasa dalam menyusun soal kontekstual model literasi dan numerasi. Selama ini, guru mata pelajaran hanya membuat soal-soal rutin baik bentuk pilihan ganda maupun essay. Olehnya itu, dilakukan workshop untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun soal non rutin dan berkolaborasi dengan beberapa guru mata pelajaran yang tujuan pembelajaranya bersesuaian untuk melakukan asesmen kolaborasi dengan menggunakan 1 naskah soal. Fokus asesmen berbasis kontekstual model literasi dan numerasi adalah mengukur keterampilan berpikir logis-sistematis, Keterampilan bernalar dengan menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari, Keterampilan memilah dan memilih serta mengolah informasi yang didapat berdasarkan tujuan pembelajaran dari mata pelajaran masing-masing.
Pada tahap persiapan dalam melakukan praktik baik Asesmen Sumatif Kolaboratif Berbasis Kontektual, Literasi, dan Numerasi di UPT SMAN 6 Wajo yaitu menyelenggarakan workshop penyusunan soal asesmen sumatif berbasis kontekstual model literasi numerasi yang bertujuan melatih guru dalam memahami kompetensi dan komponen soal literasi dan numerasi, serta guru mampu membuat soal kontekstual model literasi dan numerasi. Selanjutya, guru berdiskusi dan berkolaborasi dengan beberapa guru mata pelajaran lain dalam menyusun naskah soal asesmen. Dalam proses kolaborasi, terdiri dari dua, tiga atau lebih mata pelajaran menggunakan naskah soal (wacana) yang sama sehingga jumlah mata ujian yang diikuti murid tidak terlalu banyak. Walaupun masih ada mata pelajaran yang berdiri sendiri karena kesulitan dalam menemukan tujuan pembelajaran yang bersesuaian dengan mata pelajaran lain untuk dijadikan 1 naskah soal. Akan tetapi, soal yang disusun juga model literasi dan numerasi. Pada tahap pelaksanaan, setelah soal asesmen sudah siap maka selanjutnya menyusun jadwal Asesmen Sumatif Akhir Semester Ganjil Tahun Ajaran 2022/2023. Dari hasil kolaborasi guru mata pelajaran, khusus di jenjang kelas X beberapa naskah soal bersama diantaranya mata pelajaran Matematika, Fisika, Ekonomi, dan Bahasa Bugis dalam 1 naskah soal. Kimia, Sosiologi, dan Bahasa Indonesia juga dalam 1 naskah soal. Mata pelajaran PKn dan Sejarah dalam 1 naskah soal, serta Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam 1 naskah soal. Pada tahap akhir, praktik baik yang dilakukan selalu memerlukan refleksi untuk perbaikan tindak lanjut penyempurnaan. Kegiatan refleksi memberi ruang kepada kita untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, apa yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki. Salah satu murid memberi respon bahwa asesmen kali ini berbeda, tidak hanya memaksa murid untuk menghafal tapi melatih murid untuk berbikir memecahkan persoalan yang ada dalam soal asesmen.
Hasil yang diperoleh setelah melaksanakan praktik baik ini adalah murid mendapat pengalaman berbeda dalam mengikuti ujian, jika biasanya setiap mata pelajaran membuat soal sendiri-sendiri sehingga banyak mata ujian yang diikuti murid, maka pada asesmen kolaboratif ini menggunakan naskah soal bersama oleh 2 atau lebih mata pelajaran. Sehingga, jumlah mata ujian tidak terlalu banyak dan soal-soal yang disusun sifatnya kontekstual dengan kehidupan sehari-hari murid. Murid mengalami habituasi (pembiasaan) dalam menyelesaikan masalah kontekstual sehari-hari dengan kemampuan literasi dan numerasi sehingga ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi murid. Hal ini sejalan dengan Merdeka Belajar Episode ke – 22 yang dirilis Kemendikbud Ristek tentang transformasi seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Salah satu hal yang berubah adalah komponen soal Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) berupa Tes Skolastik yang mengukur 4 hal yaitu potensi kognitif, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia, dan literasi dalam bahasa Inggris. Selain itu, praktik baik ini juga meningkatkan kemampuan dan kolaborasi guru dalam menyusun soal kontekstual model literasi dan numerasi.